BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 173


__ADS_3

Xavier terbahak-bahak hingga air matanya mengalir. Ia bahkan sampai menepuk-nepuk pahanya karena begitu geli. "Argent," katanya sambil tersengal. "Kupikir saat kau menunjukkan talisman itu, kau akan mengatakan hal hebat! Andai aku tahu kau selucu ini, kita pasti sudah lama jadi teman."


Marco diam saja karena ia tidak sedang melucu dan merasa tidak mungkin berteman dengan seorang pemabuk.


"Kau sudah melihat golem itu. Kau tahu sedang berurusan dengan sesuatu yang magis. Sesuai katamu, kita berurusan dengan sihir." Xavier menghela napas, mengusap-usap perutnya yang kram karena terpingkal-pingkal. "Dan kau ingin melenyapkan Sir William dengan modal kekuatan manusia? Dengan mengepung dan menyerbunya, memberondongnya dengan peluru?"


"Peluru memang mahal," Marco mengakui, memikirkan berapa biaya yang diperlukan untuk menyewa senjata-senjata dari pasar gelap. Menyewa akan lebih murah dan tidak makan tempat daripada membeli. "Tapi anggaranku cukup."


"Bukan uang yang kupermasalahkan!" Xavier melotot gemas. "Dia itu iblis!"


"Golem itu juga bukan manusia, tapi aku bisa memusnahkannya. Yang dibutuhkan cuma sedikit keteguhan hati. Selama makhluk itu punya tubuh fisik, maka dia pasti bisa dihancurkan." Marco masih mencoba melihat segalanya dari sisi rasional.


Ia sebenarnya sempat ingin mengundang Jesuit untuk mencoba melakukan eksorsis, mengingat air suci yang dibawa Lady Chantall sedikit mujarab. Namun wanita itu memberi tahu bahwa mengundang tim eksorsis yang kredibel dari pastor-pastor Jesuit akan makan waktu. Mereka harus mengirim surat ke Vatikan, menunggu jawaban dari mereka, kemudian kalau diterima maka Vatikan akan mengirim dulu orang untuk memastikan apakah eksorsisme memang perlu dilakukan. Mereka perlu mengumpulkan bukti dan data yang cukup, lalu orang tadi akan kembali ke Vatikan untuk meminta izin. Proses itu bisa makan waktu setahun lebih sementara mereka tidak punya banyak waktu. Jose menyebut-nyebut soal gerhana dan Marco tahu itu pasti batas waktu mereka. Hanya empat hari.


"Dia bisa membuat Duke Ashington abadi. Kau tahu kenapa kami bisa menggunakan puri di gunung dengan bebas, kenapa kami punya aksesnya dan tahu setiap jebakan serta ruang rahasia di sana? Karena Duke Ashington sendiri yang mengizinkan kami!"


"Dan Duke Ashington ingin memusnahkan Sir William," sahut Marco tenang. "Aku benar?"


Xavier menatap pria itu dengan bola mata membelalak. Sekarang ia benar-benar kaget. "Sejauh mana yang kau tahu, Argent?"


"Aku yang bertanya di sini," sahut Marco dingin. "Ceritakan semua yang kau tahu. Mulai dari asal kalung ini, apa yang dilakukan Scholomance, juga siapa tumbal-tumbal sebelumnya."


Xavier melirik Tuan Stuart, menduga bahwa pria itu pasti yang menemukan banyak hal dan memberi tahu Marco. Dan sekarang, kedua pria di hadapannya ini sedang melakukan verifikasi, mencocokkan mana yang benar dan mana yang salah dari semua fakta yang tersedia.


"Bukan aku yang mendapatkan kalungnya, tapi Charles." Xavier merasa tidak punya pilihan. Ia akan mencoba semua jalan. "Kami bertemu Duke di Rumania. Kami tidak mengenalinya. Yah, kami memang tidak hapal wajah semua aristokrat lama, kan? Charles dan Duke itu bicara banyak, mereka cocok. Kemudian ketika kami kembali ke Bjork, Charles membawa kalung itu. Katanya, kalung itu bisa membuat kami kaya. Aku tidak tahu apa-apa soal kalung itu. Kupikir dia bercanda. Sampai ... sampai dia membuat golem dan memperkenalkan Scholomance." Rahang Xavier mengeras. Ekspresinya berubah marah. "Kalung itu milik iblis. Duke Ashington hanya memanfaatkan kami untuk menyembunyikan kalungnya dari iblis itu. 'Bawa ke Bjork,' katanya waktu itu. 'Aku punya puri di sana, sembunyikan kalung itu di sana selama tujuh tahun, maka kekayaan akan datang padamu!' Benar-benar omong kosong!"


"Dan Sir William adalah iblis itu?" tanya Marco hati-hati.


Xavier mengangguk mantap. "Dia mengejar kalungnya. Dia tiba-tiba datang dan bilang kalau aku mencuri kalungnya! Dia minta aku mengembalikannya! Dan aku ..." Ia memejamkan mata, masih bisa mendengar suara pekik dan jerit ratusan kepala dari mulut iblis yang dilihatnya. "Aku tidak punya pilihan."

__ADS_1


Marco mengetuk-ngetukkan jari ke lututnya, mencocokkan segala hal yang ia ketahui. "Kenapa harus tujuh tahun?" tanyanya. "Kenapa harus Bjork? Kenapa Sir William tidak mengambil sendiri kalungnya kalau dia memang sekuat itu?"


Xavier mengangkat bahu. "Aku tidak tahu soal pertanyaan lain. Mengenai tumbal, Scholomance baru melakukannya kali ini. Menurut Duke, ada syarat untuk bisa membuka pintu Eden, yaitu kurban. Kau tahu kan bagaimana Kristus wafat di kayu salib demi menebus dosa asal manusia?"


"Yah ... aku tahu kisah itu," sahut Marco, tak menyangka Xavier cukup religius untuk tahu isi kitab suci dan dogma. Tujuh dosa pokok yang diungkit jelas tujuh dosa pokok menurut Gereja. "Maksudmu tumbalnya adalah pengganti Kristus?"


"Semacam itu. Kristus adalah Anak Domba yang Tak Berdosa," Xavier meneruskan. "Tak berdosa, itu kuncinya. Karena itulah Scholomance menumbalkan manusia-manusia yang mewakili tujuh dosa pokok manusia, supaya mereka yang tertinggal diangkat dosanya dan diperkenankan masuk ke dalam Eden sebagai Yang Tak Bernoda."


"Dan yang dikurbankan hanya satu orang saja? Satu dosa saja?" Marco ingat bahwa Jose hanya melihat satu kurban pada satu masa dan waktu, bukan tujuh.


Xavier menggeleng. "Aku tidak tahu. Mungkin bagi Scholomance gampang menemukan setiap orang lain untuk enam dosa yang ada, tapi yang paling susah adalah Pride. Kurasa itulah kenapa kau disimpan."


Marco tergelak. "Jadi membunuh atas nama agama tidak menjadikanmu berdosa? Praktis sekali. Aku akan ingat untuk buat tanda salib dulu setiap kali akan menginjak remuk kepala orang."


Xavier memberi dengusan melecehkan. "Gerhana akan datang sebentar lagi. Dan kau akan tamat saat itu, Argent."


"Omong kosong," sahut Marco ketus. Ia bangkit dan berbalik pergi diikuti Tuan Stuart. "Aku yang akan menentukan sendiri kapan dan di mana hidupku akan tamat," katanya sebelum keluar kamar. "Bukan kau, bukan Sir William, bukan pula Tuhanmu yang bahkan tak mampu menyelamatkan kalian."


***


"Aku bahkan merasa telingaku membusuk mendengar itu," sahut Marco. Ia berhenti di tengah jalan dan mengernyit, mendadak merasa pusing dan sakit. "Keparat," gumamnya sambil mengusap pinggangnya yang luka. Ia harusnya melangkah lebih pelan.


"Kau butuh bantuan? Haruskah aku panggil pelayan?" Tuan Stuart memperhatikan dengan sebersit rasa cemas.


"Jangan," sahut Marco sambil menyandarkan punggung ke dinding, membiarkan rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya dalam cara yang menenangkan. Keringat muncul dalam titik-titik kecil di pelipisnya. Marco mencari sapu tangan dengan sia-sia, lupa bahwa ia memberikan miliknya pada Nolan. "Bagaimana kesimpulanmu mendengar itu tadi, Ray?"


Raymond Stuart berdehem. "Kita punya dua pihak yang berseteru di sini. Sir William dan Duke. Mari kita anggap bahwa semua yang kita tahu adalah benar—Duke Ashington memang masih hidup dan Sir William adalah iblis. Dari ceritanya, Duke mencuri kalung Sir William dan memberikannya pada Hastings untuk disembunyikan di Bjork. Itu fakta pertama."


"Fakta kedua," Marco meneruskan, berusaha memusatkan perhatian pada teka-teki supaya rasa sakitnya teralihkan. "Mereka sama-sama membutuhkan kurban untuk mengaktifkan kalung sialan ini. Jose melihat Sir William menumbalkan satu untuk setiap periode. Rolan menduga satu orang mewakili satu dosa pokok."

__ADS_1


"Dan kurasa itu benar." Tuan Stuart mengusap dagunya, berpikir. "Kita kembali dulu pada hukum transmutasi, yaitu pertukaran setara. Satu nyawa hanya bisa ditukar dengan satu nyawa. Aku curiga di balik panjang umurnya Duke Ashington ada nyawa yang dikorbankan untuknya. Keabadian itu mustahil. Mungkin setiap nyawa tumbal diserap olehnya?"


"Maksudmu, pintu Eden tidak benar-benar bisa dibuka? Tidak ada tangga menuju surga ke tempat buah keabadian?"


Tuan Stuart tertawa. "Mungkin saja itu hanya dusta untuk memancing orang agar tertarik bergabung. Aku tahu beberapa sekte yang pada akhirnya melakukan bunuh diri masal untuk bisa mencapai surga. Bisa saja di mata Duke Ashington mereka bukanlah umatnya, hanya stok nyawa. Dia membuat agama sebagai wadah ternak."


Marco meringis. "Lumayan masuk akal, tapi itu baru dugaan."


"Memang. Jujur saja aku benar-benar buta."


"Kita bisa meraba dalam gelap sampai menemukan bentuknya. Lanjut!"


"Mungkin tujuh tahun adalah batas waktu bagi Sir William untuk melanjutkan upacara kurbannya," Tuan Stuart kembali meneruskan. "Mungkin karena itu dia menyuruh Charles Hastings bersembunyi selama tujuh tahun. Tapi kenapa Bjork? Apa karena ada puri Ashington di sana?"


"Karena gunung Bjork adalah tempat sakral."


Baik Marco maupun Tuan Stuart spontan menoleh kaget ke arah suara, keduanya terlalu serius hingga tidak merasakan ada orang lain yang mendekat. Marco terutama disibukkan rasa sakitnya.


Di samping kiri mereka ada Dave. Tubuhnya kurus kering dan pipinya cekung. Pria itu masih lemah dan tak kuat berdiri sehingga Rolan mendorongnya di kursi roda.


"Lord Dominic," sapa Marco heran, melepaskan punggung dari tembok. "Bagaimana kondisimu?"


Dave menundukkan kepalanya dengan hormat. "Lebih baik berkat bantuan Anda, Marquis."


"Jose yang menolongmu," Marco berkata. Ia berdiri lebih tegak dan berjalan menghampiri lelaki itu. "Jika kau tidak keberatan, kita bisa melanjutkan diskusi ini di perpustakaan."


Perpustakaan ada di lantai satu. Marco sebenarnya lebih suka mereka bicara di kamar kerjanya di lantai dua, tetapi itu tidak mungkin dengan kondisi Dave sekarang.


"Dengan senang hati, my lord." Dave tersenyum dengan wajah pucatnya. "Saya akan mengatakan semua yang saya tahu."

__ADS_1


***


__ADS_2