
Marco mendesah. “Kau tahu, Jose? Jika kita berbaik hati sekali saja pada orang-orang seperti ini, tidak akan ada habisnya. Mereka akan terus datang dan datang lagi, tidak akan pernah berhenti. Awalnya mereka memang terlihat menyedihkan, memelas, patut dikasihani. Tapi berilah sedikit kemurahan hati, dalam sekejap semuanya akan berubah jadi vampir pengisap darah.”
Tatapan Marco terlihat dingin dan menusuk, membuat Jose menggigil pelan. Ia menggeleng mantap, memberi sebuah penegasan pada pamannya. “Nolan berbeda, dia temanku.”
Benarkah itu? Dalam hati Jose mengejek pernyataannya sendiri. Ia baru saja bertemu dengan perempuan itu—yang sempat dikiranya laki-laki—dan langsung menganggapnya teman. Padahal belum tentu Nolan menganggapnya sama. Dilihat dari nadanya bicaranya yang kasar, Nolan kelihatan membencinya. Nolan kelihatannya membenci semua orang kaya.
Jose mendesah, tidak sadar bahwa itu membuat pamannya tersenyum dengan cara yang licik.
“Tidak ada teman yang berkunjung pada malam hari,” ujar pria tua itu pelan-pelan. “Dan keluarga Argent tidak akan berteman dengan gelandangan dekil.”
Jose menatap pamannya dengan kesal. Sebenarnya Jose merasa kesal pada dirinya sendiri. Ia mengacaukan semuanya dengan bersikap menyebalkan di depan pamannya. Ia sudah salah sejak membantahnya di depan para pelayan. Seharusnya ia mengambil hati pamannya, merayunya, sehingga pria itu bisa menaruh kepercayaan padanya dan membebaskannya melakukan apa yang ia mau.
Tetapi Jose terlalu keras kepala, dan meski sebenarnya tahu bagaimana cara mendapatkan hati Marco, ia tidak mau melakukannya. Ia ingin hidup seperti angin, berjalan di jalan yang ia tentukan sendiri dan sesuai arah yang ia mau. Kalau menuruti keinginan Marco, hal itu jelas tidak akan bisa terjadi. Marco adalah mesin pengatur.
“Aku akan menemuinya,” putus Jose cepat, memberi tatapan yang ia harap akan terlihat tak terbantahkan. “Aku perlu tahu dia datang untuk apa, dan sekali lagi kukatakan pada Paman, bukan dia yang kulihat mengendus-endus di pon ... di tempat ini.” Matanya menatap pada meja Higgins yang ada di hadapan pamannya, seketika itu juga Jose bergidik.
Kenapa baru sadar sekarang? Ia bertanya dalam hati. Tempat inilah yang ia lihat dari jendela, di tempat inilah ia melihat orang aneh itu mengendus-endus seperti mencari sesuatu. Seluruh bulu kuduknya meremang, membuatnya tanpa sadar mengusap-usap lengan.
“Tenang saja.” Marco mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja. “Dia justru aman di gudang itu. Tiga orang pekerja menjaganya. Gudang jerami cukup dekat dari pondok ini. Kalau ada apa-apa kita pasti bisa mendengarnya.”
__ADS_1
Itu keterangan yang sederhana, tetapi cukup untuk membuat Jose mengurungkan niatnya ke luar dari pondok. Udara di luar benar-benar menggigit. Bahkan angin yang masuk dari jendela pondok sudah mampu membuat giginya gemeretakan karena kedinginan. Padahal nyala api di perapian sudah cukup besar. Jose ingin mendekat ke sana untuk berdiang, tetapi itu berarti harus melewati Marco. Saat ini ia sedang tidak ingin lebih mendekat lagi pada pamannya, bahkan meski itu demi membuat dirinya hangat.
Untuk mengalihkan perhatiannya, Jose mengangkat wajah, menatap ke luar melalui jendela depan yang terbuka lebar. Dari tempat ini ia bisa melihat sayap koridor kamarnya. Jendela kesembilan dari sebelah kiri. Jose menghitung dalam hati, kemudian kembali merinding ketika melihat tempatnya mengintip bisa dilihat cukup jelas.
Jendela-jendela itu berbingkai kaca, dengan bentuk melingkar di atas dan persegi di bawah. Penerangan temaram yang dinyalakan di sepanjang koridor membuat yang bisa dilihat Jose hanya gelap. Ia menyusurkan pandangannya melewati beberapa jendela lagi, memperhatikan tumbuhan sulur yang merambat di beberapa tempat. Tukang kebun mereka memang sengaja memelihara tumbuhan sulur itu demi keindahan. Saat musim panas, bunga-bunganya yang berwarna merah akan mekar, membuat rumah besar keluarga Argent tampak seperti taman bunga yang indah. Sejujurnya Jose merasa itu malah membuat rumahnya kelihatan seperti lampion, tetapi ia tidak pernah mengatakan apa pun.
Angin dingin berembus masuk, membuat Jose merapatkan mantelnya rapat-rapat. Ia sedikit menyesal karena tidak menyambar mantel yang lebih hangat.
Di langit, awan bergeser posisi karena angin, membiarkan bulan menumpahkan cahayanya ke rumah keluarga Argent. Ketika itulah Jose melihatnya. Bulu kuduknya meremang dan rambutnya seperti ditarik ke atas secara paksa.
“Paman,” bisiknya, hampir tidak bisa bernapas. Tangannya bergerak perlahan, melambai-lambai pada Marco yang berada agak di belakang. “Paman, kemarilah, aku melihat sesuatu,” lanjutnya tanpa bisa mengalihkan pandangan. Tepatnya, tidak mau mengalihkan pandangan.
Suara itu lebih mirip geraman, dan sebenarnya bisa saja membuat Jose takut dalam keadaan biasa. Tetapi ini situasi luar biasa. Ada yang lebih penting daripada suara geraman pamannya.
Mata Jose masih menatap ke arah sayap koridor kamarnya. “Paman lihat di koridor sebelah barat ... ada sesuatu di sana, di jendela ... aku melihatnya.”
“Apa?” Marco mendekat ke jendela sambil menyipitkan mata.
Saat itu bulan kembali tertutup awan. Yang bisa mereka lihat hanya keremangan.
__ADS_1
“Aku tidak melihat apa pun,” Marco menoleh pada Jose. Keningnya berkerut. “Di sebelah mana kau lihat?”
Jose mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, kemudian balas menatap dengan raut pucat. “Paman, orang itu ada di rumah kita! Dia di sayap kamarku! Dia di kamarku! Aku melihatnya barusan!”
Pemuda itu mengulurkan tangannya ke depan, mencekal tangan Marco dan mengguncang-guncangnya dengan kasar. Marco sampai hampir jatuh karena guncangan yang tiba-tiba itu.
“Tenang,” ucapnya, berusaha menenangkan ponakannya yang mulai panik. Ia bisa merasakan seluruh tubuh Jose gemetar. Telapak tangan Jose terasa dingin di lengannya, membuatnya tahu bahwa Jose tidak sedang main-main.
Pintu pondok dibuka, menampilkan Hans dan Sam yang membawa senapan panjang. “Kenapa, Tuan?” tanya mereka dengan pandangan menyelidik.
“Panggil para pekerja yang terdekat,” Marco segera memutuskan. “Kita kembali ke rumah, ada yang mencurigakan di sana. Suruh satu pelayan lari ke tempat Tuan dan Nyonya Argent, minta mereka mengunci pintu!”
“Tunggu, yang menjaga Nolan biarkan saja! Harus ada yang bersamanya!”
Marco memutar mata mendengar suara Jose barusan. Ponakannya memang penuh pertimbangan untuk beberapa hal yang menurutnya sangat tidak penting. Sambil melangkahkan kakinya ke luar pondok, memimpin jalan para pekerja.
"Kau memang melihatnya?" Ia menoleh pada Jose, keningnya berkerut.
“Aku memang melihatnya,” Jose bergumam pelan. Wajahnya tegang. Kedua tangannya yang terkepal erat bergerak kaku seiring dengan langkah kakinya. “Aku lihat dia, Paman. Bentuknya aneh sekali.”
__ADS_1
***