
Beberapa orang di depan gerbang rumah Argent perlahan bubar, tetapi masih ada yang keras kepala menunggu. Bahkan salah satunya berteriak memprovokasi sementara yang lain berbisik-bisik.
Jacob sudah cukup berpengalaman untuk mengetahui bagaimana sifat-sifat seseorang melalui pandangan mata dan sikap tubuh mereka. Sekali lihat saja, Jacob bisa mengerti apa yang dipikirkan oleh orang-orang itu. Ia tahu pemimpin aksinya bukan orang yang ribut berteriak atau berbisik, melainkan orang yang menatap lurus ke rumah Argent, yang wajahnya sama sekali tidak dimabuk perasaan apa pun.
Jacob berbisik pada salah seorang dari Clearwater, yang segera mengangguk dan berjalan kembali ke arah dalam rumah.
Ia menepuk kepala hitam Gus. "Kenapa berhenti menghitung?" tanyanya. "Enam. Ayo hitung."
"Enam!" jerit Gus dengan suara sember. Ia sudah terjatuh duduk ke tanah karena terlalu tegang.
"Lima, yang keras."
Gus tidak bisa mengatakan apa pun. Lidahnya kelu.
"Lima," Jacob masih menuntun dengan sabar. Ia tidak pernah buru-buru. Baginya, intimidasi hanya bisa efektif jika dibantu dengan waktu yang tepat. Ia membuka revolvernya, memasukkan kembali dua butir peluru dalam silinder, lalu menutup dan memutarnya. Bunyi klik klik putaran silinder menggantikan musik binatang malam. "Lima, Gus."
"Lima!" Gus berteriak.
Jacob menoleh pada pasukan Clearwater yang masih berjaga, mengedipkan sebelah mata sebagai tanda. Mematuhinya, orang-orang itu bergerak lebih dekat dengan posisi pedang terhunus. Suara derap langkap mereka memberi teror tersendiri, menggetarkan hati orang-orang di depan gerbang. Dalam sekejap batu-batu berjatuhan dalam bunyi debuk pasrah ke tanah dan tongkat-tongkat kayu juga dijatuhkan. Orang-orang di bagian depan sudah menyerah duluan.
"Kami menyerah!" kata mereka, nadanya mengiba. Menanggapi seruan kekalahan itu, orang-orang yang di belakang kebingungan dan justru merangsek maju. Kekacauan terjadi.
"Empat," Jacob berkata penuh penekanan, tidak terganggu dengan kericuhan yang terjadi. Ia justru senang melihat orang-orang itu saling tonjok satu sama lain. "Empat, Gus."
Gus belum sempat menjeritkan angka empat. Kerumunan di depan mereka mendadak jadi tenang dan terkuak membuka dengan rapi, seperti prajurit memberi jalan pada raja.
__ADS_1
Orang-orang Clearwater mengubah posisi menjadi siaga bertahan, bersiap pada serangan yang akan datang. Jacob mengerutkan kening, kemudian senyumnya terkembang lebar. Ia mengangkat dua jari dan menggerakkannya dalam isyarat yang sudah disepakati sebelumnya. Dengan rapi, pasukan Clearwater yang berada di belakang Jacob menurunkan ujung pedang ke tanah dan ikut membuka jalan ke arah pintu utama rumah.
Marco melangkah melewati kerumunan sipil di depan gerbang tanpa menoleh sedikit pun pada mereka. Di belakangnya berjalan berurutan Rolan dan Jose, Lady Chantall yang sudah menemukan sepatunya, kemudian lima puluh empat orang pekerja Argent yang mengawasi sekitar dengan garang.
"Jacob," Marco tersenyum padanya ketika sampai. "Bagaimana kabarmu? Maaf aku tidak sempat menyambutmu datang."
"Kabar baik, Paman." Jacob menunduk dengan sikap hormat. "Tidak perlu merisaukan urusan penyambutan. Kami sekeluarga di Delton selalu mendoakan kesehatan Paman." Ia menoleh pada Lady Chantall dan memberi salam dengan sopan, "Milady."
Lady Chantall balas mengangguk sopan. "Sire."
Marco menepuk ringan pundak Jacob, mengalihkan pandangan pada Gus yang bersimpuh di samping mereka dengan wajah berurai air mata. "Kenapa anak ini?"
"Anak itu tidak bersalah, Tuan!" seru ayahnya yang lehernya masih berada di ujung pedang salah seorang pengawal Clearwater. Darah menetes dari kulitnya yang sedikit tergores. "Kembalikan dia, kami akan pulang ke Jorm!"
Jorm adalah kota kecil yang letaknya bersebelahan persis dengan Bjork. Marco menoleh heran ke arah pria yang berteriak tadi. "Dan," katanya. "Untuk apa kalian berjalan jauh-jauh dari Jorm ke sini?"
"Karena orang hilang!" Gus akhirnya menyahut keras. "Ada yang bilang orang-orang miskin dan para petani hilang di Bjork karena disembunyikan Marquis jahat! Banyak orang juga jadi hilang di Jorm, pelakunya pasti sama! Dan kami datang dengan niat baik!"
Anak pintar, pikir Jacob ketika mendengar tutur kata yang tertata itu.
"Niat baik?" Marco menatap batu-batu dan tongkat di tanah. Pertanyaan itu diucapkan dengan nada heran yang murni, tetapi entah kenapa mendengarnya bisa membuat Gus dan banyak orang malu, seolah Marco sedang menelanjangi mereka dengan kritis. "Orang yang kami bawa dengan tandu di belakang sana," lanjutnya tenang, "adalah salah satu dari orang yang sempat hilang. Kami berhasil menemukannya. Aku melakukan investigasi bersama dengan Inspektur Bjork untuk menemukan di mana mereka berada. Kebanyakan dari mereka sudah ketemu dalam kondisi mengenaskan, kami memberi tahu keluarga mereka dan memakamkannya dengan layak. Beberapa yang lain belum ketemu. Orang yang bertanggung jawab atas hal ini adalah orang yang ingin menghalangiku bergerak, orang yang tidak ingin jejak mereka terendus. Bangkitlah Nak, dan katakan itu pada mereka semua." Ia menoleh pada Jacob. "Suruh pengawalmu sarungkan kembali pedangnya. Kita berhadapan dengan sipil di sini."
"Mereka ingin melempari rumah kita dengan batu dan memukuli kita dengan tongkat, Paman," sahut Jacob dingin. "Tidak sedikit yang membawa senjata tajam. Niat baik macam apa yang dilakukan dengan pergerakan massa yang membawa senjata? Bahkan tanpa malu anak-anak ditaruh di bagian paling depan sebagai perisai."
Ayah Gus diam saja. Wajahnya merah padam.
__ADS_1
"Kami cuma mau bicara dengan Marquis itu," kata Gus tersedu ketika dibantu bangkit oleh Rolan.
"Akulah Marquis yang kau maksud," sahut Marco tenang, tersenyum pada wajah kaget Gus. Jelas anak itu membayangkan wajah yang lebih keji dan menyeramkan, bukan sosok pria terhormat yang sudah tua seperti ini.
Marco menoleh pada orang-orang di depan gerbang dan berkata lebih keras, "Aku yang kalian cari! Dan menurut kalian, aku akan menculik orang-orang untuk apa? Aku sudah punya segalanya di sini tanpa perlu menindas orang lain. Tanyalah pada setiap orang di Bjork apa yang telah dilakukan Marquis Argent selama ini, dan kalian akan mendapat jawabannya."
Jawaban bahwa kau monster gila, ledek Rolan dalam hati. Ia menepuk-nepuk debu tanah dari tubuh Gus karena tidak tahu lagi apa yang bisa ia lakukan. Ia sudah hapal pada pola keluarga ini. Salah satu akan menggunakan kekerasan, yang lain menyusul dengan lembut. Teknik negosiasi dasar yang biasa digunakan oleh Argent. Mereka akan terus bertukar peran sebagai yang keras dan yang lembut, yang jahat dan yang baik, seperti dua sisi mata koin; sampai lawan lengah dan menyerah.
"Mereka menyerang rumah ini berdasar artikel picisan yang ditulis Hubbert!" Jacob berkata dengan nada merendahkan. "Hubbert! Hah! Dibohongi koran pembungkus gorengan!"
Marco melirik Lady Chantall, mengingatkan wanita itu mengenai diskusi mereka di toko Krip dua hari yang lalu. Lady Chantall mengangguk pelan dengan gerakan tak kentara.
"Kalau aku memang menculik orang-orang itu, tentulah aku tidak akan bekerja dengan para polisi," Marco meneruskan. "Kalian tahu bahwa koran-koran kuning semacam itu selalu mengejar sensasi. Kenapa membiarkan diri sendiri dipengaruhi tulisan seharga satu perunggu?" Ia menoleh pada Gus dan tersenyum ramah padanya. "Kembalilah pada ayahmu, kembali sana ke Jorm. Mintalah keadilan pada walikota kalian di sana mengenai orang-orang hilang di Jorm. Jangan padaku."
Rolan mendorong punggung Gus, yang segera berlari memeluk ayahnya. Kerumunan itu bubar perlahan. Seorang pengawal Clearwater datang dari luar gerbang, berbisik pada Jacob. Jacob meneruskan bisikan itu pada Marco, "Provokatornya sudah diciduk. Aku akan mengurusnya, dengan izin Paman."
Marco menggeleng, berniat menjadikan masalah ini diurus dalam lingkup sekecil mungkin. "Serahkan pada Rolan." Ia meminta Gerald mendekat dan memberi perintah dengan suara pelan, "pastikan mereka benar-benar kembali ke Jorm entah malam ini atau besok pagi. Salah satu saja ada yang bergerak mencurigakan, ikuti mereka."
Gerald mengangguk. Para pekerja dibubarkan. Dave dibawa ke ruang rawat, dan mereka semua masuk ke dalam manor setelah memastikan segala hal sudah aman. Untuk sementara, orang-orang Clearwater tetap disiagakan sampai pagi.
"Dan kau," Jacob menoleh garang pada adiknya yang masih ia cekal begitu mereka berada di dalam rumah. "Kita perlu bicara!"
Jose tidak menatapnya. Mata pemuda itu membola, tangannya terulur ke depan, menangkap Marco yang terhuyung jatuh. "Paman!" serunya.
Rolan terkesiap, merasa jantungnya sesaat berhenti berdetak.
__ADS_1
***
ps: psst ... untuk mendukung novel ini, kalian bisa update aplikasi MangaToon kalian biar bisa vote novel ini dengan poin dari MangaToon lho. Soalnya sekarang sudah bisa vote dg poin di MangaToon 💕