
ini adalah kisah hidup seorang gadis bernama stevani. sejak kecil ia tinggal bersama dengan seorang nenek dan kedua saudaranya karena ibunya sudah tiada sejak vani masih balita. sedangkan ayahnya sudah menikah lagi dan sekarang tinggal bersama ibu tirinya.
vani memiliki seorang kakak bernama aida dan seorang abang bernama rio.
saat ini aida dan rio sudah menikah namun keduanya masih terus membiayai hidup dan uang sekolah vani adik bungsu mereka.
sebagai saudara laki laki rio merasa sangat bertanggung jawab untuk menjaga adik perempuannya itu agar vani tidak merasa kesulitan terutama dalam hal pendidikan.
ia pun selalu bekerja keras untuk membiayai sekolah adiknya hingga lulus.
setelah lulus sekolah vani pun melanjutkan kuliah di kota karena ingin memiliki pendidikan bagus agar kelak bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus juga.
vani berpikir jika ia memiliki pekerjaan yang bagus maka secara otomatis dirinya juga akan mempunyai penghasilan yang besar sehingga dapat membantu perekonomian keluarganya.
mereka tinggal di sebuah desa terpencil, harus pergi ke kota jika ingin melanjutkan kuliah di sebuah universitas.
jika naik kendaraan umum maka jarak yang harus di tempuh dari desa ke kota sekitar tiga jam lebih perjalanan.
vani berpikir jika pergi dan pulang setiap hari naik angkot maka itu akan memakan waktu dan biaya lebih banyak untuk sekedar ongkos angkutan saja.
setelah menimbang akhirnya vani memutuskan untuk mencari rumah kontrakan kecil yang bisa di sewa setiap bulan agar meminimalisir pengeluaran saat tinggal di kota.
vani tidak akan tinggal sendirian di kota karena ia akan tinggal bersama yuli adik sepupunya.
sejak kecil hingga lulus sekolah mereka selalu bersama layaknya kakak beradik.
hanya saja setelah lulus sekolah yuli langsung bekerja di salah satu pabrik di kota dan tidak melanjutkan pendidikannya lagi.
awalnya yuli hanya tinggal sendirian di sebuah kosan kecil di dekat tempat kerjanya namun karena vani juga akan tinggal di kota mereka pun sepakat untuk mencari rumah yang bisa di sewa agar lebih nyaman untuk tinggal berdua.
saat ini usia vani sudah 21 tahun, ia merupakan seorang mahasiswi di salah satu universitas terbaik di kotanya.
selain kuliah vani juga bekerja paruh waktu di sebuah cafe milik kakak dari seorang teman baiknya untuk membantu biaya makan sehari hari karena tidak mungkin ia hanya berpangku tangan pada penghasilan abangnya yang juga tidak seberapa terlebih lagi saat ini rio sudah menikah dan memiliki tanggung jawab kepada istri dan anaknya.
di kampus vani di kenal sebagai mahasiswi yang cerdas dan baik. ia juga memiliki paras cantik dan mudah tersenyum kepada orang lain sehingga memiliki banyak teman di sana.
baik teman pria maupun teman wanita semua terlihat akrab dengannya.
walaupun begitu vani tidak pernah menjalin hubungan pacaran dengan teman prianya karena takut akan merasakan patah hati.
sering kali ada teman pria yang mengutarakan perasaannya kepada gadis manis itu namun vani selalu memiliki alasan untuk menolaknya secara halus.
dengan mengatakan kepada teman prianya jika dirinya hanya ingin fokus pada pendidikan saja terlebih dahulu agar tidak menyinggung atau menyakiti perasaan siapa pun.
di semester akhir vani dan beberapa temannya mulai magang di sebuah perusahaan properti yang lumayan besar di kota itu. namun mereka merasa tidak nyaman karena ada atasan yang selalu genit bahkan bersikap tak seharusnya.
hingga akhirnya setelah menyelesaikan tugas kuliah mereka memutuskan untuk keluar dari perusahaan itu.
waktu berlalu begitu cepat hingga kini vani pun sudah lulus kuliah dan berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan mendapat nilai terbaik.
beberapa keluarga vani datang ke kota untuk ikut merayakan acara wisuda adik bungsu mereka.
kakak dan abangnya merasa sangat bangga kepada vani karena tidak banyak anak dari desa mereka yang mampu menyelesaikan kuliah dan mendapat nilai terbaik di sana.
beberapa bulan setelah menyelesaikan wisuda vani dan teman temannya pun kembali mencari pekerjaan baru di beberapa perusahaan besar di kota itu agar mereka mendapat pekerjaan terbaik di sana.
sejak kecil vani memiliki cita cita ingin menjadi seorang wanita karir yang mandiri agar dapat membanggakan keluarganya.
meskipun ia tidak akan pernah bisa membalas semua jasa dan kebaikan keluarganya dengan sebuah materi namun setidaknya vani ingin membantu untuk meringankan beban ekonomi keluarga tercintanya itu.
suatu hari vani sedang mencari info lowongan pekerjaan melalui internet.
mata vani berbinar saat menatap layar ponsel di tangannya karena ia melihat ada sebuah lowongan pekerjaan di sana.
terlebih lagi lowongan itu berasal dari salah satu perusahaan raksasa ternama di kotanya.
"wah!! ini kan perusahaan paling terkenal itu" gumam vani membulatkan mata.
__ADS_1
"kayanya aku harus masukin cv juga deh kesini, siapa tau aja aku bisa kerja di kantor gede itu"
vani tersenyum dan dengan semangat ia pun membuat surat lamaran pekerjaan baru lalu memasukkannya ke dalam perusahaan itu.
setelah memasukkan surat lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan besar, vani pun harus bersabar menunggu hasilnya.
ia selalu berharap ada panggilan dari salah satu perusahaan itu namun setelah beberapa minggu berlalu masih tidak ada kabar apapun membuat vani terlihat murung.
saat ini vani sedang duduk termenung di atas kursi meja makan di dalam rumahnya sambil memikirkan tentang pekerjaan yang belum ia dapatkan sampai sekarang.
"hem.. kayanya aku harus nyari kerjaan lain lagi deh, tapi dimana ya?"
sambil menunggu panggilan dari perusahaan tempatnya melamar, setiap hari vani sibuk membersihkan rumah dan memasak makanan untuk dirinya bersama adik sepupunya itu karena yuli sangat sibuk dengan pekerjaannya dan tidak punya waktu untuk memasak apalagi membersihkan rumah.
setiap hari yuli harus pergi bekerja dari pagi hingga larut malam karena ada jam lembur wajib disana.
tidak ada hari libur dan bahkan hanya diakhir pekan saja ia boleh pulang lebih awal karena weekend.
huh! pekerjaan seperti apa dihari libur pun masih harus bekerja pikir vani.
sekarang mereka jarang memiliki waktu luang bersama karena kesibukan adiknya itu.
saat weekend yuli akan pergi dengan pacarnya untuk dinner atau sekedar jalan jalan malam mingguan.
nasib jomblo seperti vani yang tidak punya pacar sehingga ia akan sendirian di dalam rumah ketika adiknya pergi.
setelah bersabar menunggu akhirnya vani pun mendapat telpon panggilan interview dari salah satu perusahaan tempat ia sudah melamar sebelumnya.
drt! drt!
bunyi ponsel vani berdering di atas meja.
vani bergegas menjawab telpon yang masuk.
"iya halo?"
........
"ini serius pak?"
.......
"oh baik pak terima kasih banyak"
tut!! telpon di tutup.
"Alhamdulilah akhirnya aku di panggil juga"
vani melompat kegirangan karena mendapat panggilan interview dari perusahaan besar itu.
keesokan harinya di pagi yang sejuk saat adzan subuh sudah berkumandang dengan semangat vani bangun dari tidurnya lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
sebelum pergi bekerja hal yang akan vani lakukan adalah sarapan bersama adiknya.
vani pun berjalan ke dapur hendak memasak sarapan untuk mereka berdua.
setelah selesai memasak vani kembali masuk ke dalam kamarnya dan bersiap karena akan pergi melakukan interview hari ini.
selesai mengganti pakaiannya vani pun duduk menatap pantulan wajahnya di dalam cermin sambil memoles bedak tipis di pipi putihnya.
lalu memakai pelembab bibir berwarna pink untuk melembabkan bibir merah mudanya.
wajah vani sudah terlihat cantik dan lebih fresh dengan riasan sederhana itu.
vani memang tidak ahli dalam urusan make up namun ia cukup merasa percaya diri dengan kulit wajahnya yang bersih.
memiliki tubuh yang lumayan tinggi dan berat badan ideal membuatnya terkesan seksi.
__ADS_1
saat ini penampilan vani terlihat mempesona dengan memakai rok hitam di atas lutut serta kemeja putih yang tidak terlalu kebesaran.
rambut lurus di ikat satu dengan rapi dan sedikit poni di bagian depan menambah kesan manis di wajah polosnya.
cukup lama vani memastikan penampilannya di depan cermin hingga suara yuli datang secara tiba tiba dan membuyarkan lamunannya.
"woi!!! udah cantik loh, kenapa masih melamun aja sih"
yuli menepuk pelan kedua bahu vani dari arah belakang.
"ish! apaan sih yul ngagetin aja deh"
"udah ayo berangkat, katanya lo mau nebeng"
"iya iya ini juga udah siap kok. ayok"
vani tersenyum lalu berjalan keluar dari dalam kamar.
sebelum pergi bekerja kedua gadis itu pun sarapan dengan lauk sederhana yang sudah vani masak tadi.
tidak lupa vani juga memberikan bekal makan siang yang sudah ia siapkan untuk adiknya itu.
"nih bekal kamu nanti"
vani menyerahkan kotak makan siang kepada adiknya.
"thank you kak"
yuli tersenyum menerima makan siangnya lalu memasukkan kotak makanan ke dalam tasnya.
"okay"
vani lanjut membereskan meja makan.
meskipun usia mereka hanya selisih beberapa hari saja namun vani menganggap yuli sebagai adik yang harus selalu ia jaga dan sayangi.
vani juga berusaha untuk mengalah pada sang adik begitu pula sebaliknya.
yuli juga sering kali curhat kepada vani tentang pekerjaan atau masalah asmaranya.
hal itu membuat vani merasa dirinya harus lebih dewasa dalam menyikapi dan mengerti tentang perasaan adiknya itu.
setelah selesai sarapan kedua gadis itu pun berangkat menuju tempat kerja bersama.
sebelum menuju tempat kerjanya yuli akan lebih dulu mengantar vani ke tempat dimana kakaknya itu akan melakukan interview.
mereka berangkat menggunakan sepeda motor milik yuli yang sudah ia beli dari hasil bekerja selama ini.
di dalam perjalanan yuli bertanya kepada vani sambil mengendarai sepeda motornya.
"kak kamu yakin mau kerja di perusahaan besar itu?"
yuli sedikit berteriak agar vani mendengarnya karena mereka sedang memakai helm.
"iya dong kalo enggak serius ngapain juga aku ngelamar di sana"
"em, iya juga sih"
"emangnya kenapa kalo aku kerja di sana?"
"iya enggak papa sih kak cuma nanya aja hehe"
"ish! enggak penting banget deh pertanyaan lo"
vani memutar bola matanya dengan malas.
yuli tersenyum jahil lalu menambah kecepatan sepeda motornya agar lebih cepat sampai di kantor yang vani tuju.
__ADS_1