
ray akhirnya datang untuk menjemput istri dan anaknya di rumah dika.
yuli yang masih merasa kesal dengan suaminya pun ingin meluapkan semua kekesalan itu saat melihat ray datang.
rasanya yuli sangat ingin marah namun saat ray sudah berada di hadapannya ia pun hanya diam dan menangis karena harus menahan rasa kesalnya itu.
saat ini ray sudah duduk di ruang tamu rumah dika bersama dengan istrinya.
"kamu jahat banget sih mas" hiks! hiks! yuli berusaha untuk menahan air matanya namun tidak bisa.
"maafin aku ya sayang, aku janji enggak bakal pergi lagi" ray memeluk tubuh istrinya yang sedang menangis.
"enggak mau, kamu jahat" yuli melepaskan pelukan dari suaminya.
"sayang, maaf ya aku..." ucapan ray menggantung saat melihat istrinya beranjak pergi.
yuli menolak untuk pulang bersama dengan suaminya. ia pun berjalan masuk ke dalam kamarnya meninggalkan ray yang sedang meminta maaf.
"ck!!! hhh!!!" ray memijat pelipis matanya karena merasa pusing dengan sikap istrinya.
memang tidak akan mudah bagi ray untuk membagi waktu dan pikirannya memikirkan kedua istrinya namun ini sudah menjadi konsekuensi atas pilihannya sendiri.
dika dan vani yang melihat yuli sudah pergi meninggalkan ray di dalam ruang tamu pun mendekat lalu mereka duduk di hadapan ray yang sedang frustasi itu.
"mas ray sabar ya, maafin sikap yuli juga mungkin dia masih butuh waktu. aku yakin kok besok dia pasti udah berubah pikiran lagi"
vani berusaha menenangkan ray sedangkan dika hanya diam saja menatap kesal pada sahabatnya itu.
"em, iya vani aku minta maaf ya karena udah buat adek kamu kecewa" ujar ray.
'brengsek banget lo ray bisa bisanya lo pulang dengan entengnya minta maaf setelah lo poligami adek ipar gue' batin dika menatap tajam kepada ray.
"iya mas ray, aku ngerti kok. oh ya kita makan malam bareng ya mas" tawar vani kepada ray.
"em, enggak usah vani aku mau langsung pulang aja tolong kamu jagain yuli sama arka selama di sini ya. aku pamit"
ray tersenyum kepada vani lalu ia menatap dika yang langsung memalingkan wajah darinya.
"oh, ya udah kalo gitu hati hati ya mas ray" vani pun mengangguk.
"dika gue pulang ya" ray juga pamit kepada sahabatnya.
"hem" jawab dika malas.
ray pun langsung melangkah keluar dari kediaman dika.
'hhh!! pasti lo mau langsung pulang ke rumah istri lo yang lain kan' batin dika menatap kepergian sekretarisnya itu hingga tubuh ray menghilang di balik pintu rumahnya.
"mas kamu kenapa?" vani melihat suaminya itu hanya diam saja sejak tadi.
"eh! aku enggak papa kok sayang hem" dika tersenyum menatap istrinya.
"em, kita makan yuk mas aku laper deh" ajak vani kepada suaminya.
"ayo sayang" dika pun beranjak dan berjalan mengikuti langkah istrinya.
di rumahnya naya hanya mengaduk aduk makanan yang ada di hadapannya, ia benar benar tidak selera untuk makan malam ini.
"nyonya kenapa tidak di makan? apa nyonya lagi pengen makan sesuatu yang lain?" tanya mini asisten yang sudah di tugaskan oleh ray untuk menemani naya di rumah itu.
"em" naya hanya menggelengkan kepalanya.
"nyonya harus makan biar baby di dalam juga sehat" mini tersenyum menghibur naya.
__ADS_1
"kok kamu tau saya lagi hamil?" tanya naya bingung.
"iya, kan pak ray yang bilang kalo saya harus jagain nyonya dengan ektra karena nyonya lagi hamil" mini tersenyum.
"em, makasih ya mini kamu baik banget" naya tersenyum.
"ehem, ada apa ini?"
tiba tiba saja ray sudah berdiri di dekat meja makan sambil melihat naya dan mini yang sedang tersenyum.
ray memutuskan untuk kembali pulang ke rumah naya karena istrinya belum mau pulang bersamanya.
"pak ray?"
kedua wanita itu kaget secara bersamaan saat melihat kedatangan ray yang tiba tiba sudah berada di sana.
"permisi nyonya"
mini pun segera pergi setelah melihat kedatangan ray yang menemani naya.
"pak ray kok bapak balik lagi?"
naya bingung melihat kepulangan suaminya yang baru saja pergi beberapa jam yang lalu itu.
"em, iya saya mau nginap di sini malam ini. boleh kan?" ray ikut duduk di samping naya.
"em, tentu inikan rumah bapak" naya hanya menunduk.
"hem, makasih ya" ray pun tersenyum menatap naya.
ray tidak bisa memungkiri perasaannya kalau ia benar benar merasa nyaman setiap kali berada di samping naya. naya adalah wanita yang lemah lembut dan penuh kasih sayang seperti kriteria wanita idamannya dulu.
meskipun berbeda dengan sikap yuli yang suka marah marah tidak jelas namun ray juga sangat mencintai istrinya itu karena yuli sangat mencintainya dan selalu mengerti akan dirinya.
"em, enggak kok oh ya kamu udah makan belum?" ray langsung mengalihkan pembicaraannya.
"hem" naya menggelengkan kepalanya.
"kenapa, kamu mau saya suapin?" ray tersenyum.
"em, enggak usah pak saya lagi enggak mau makan juga" naya mengalihkan pandangannya.
"kenapa, kalo kamu enggak makan nanti bisa sakit loh"
"em, saya permisi ke kamar dulu ya pak"
naya beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju pintu kamarnya.
ray hanya menatap kepergian naya hingga menghilang di balik pintu kamar.
beberapa hari kemudian, akhirnya yuli mau di ajak pulang ke rumah mereka lagi setelah ray membujuknya terus menerus.
hari hari ray kini kembali berjalan seperti biasa namun yang membuat berbeda adalah ia harus membagi sedikit waktu untuk mengunjungi naya setiap harinya.
hari ini ray dan dika sedang berada di kantor tepatnya mereka berada di dalam ruangan dika.
"dimana lo sembunyiin dia?" tanya dika menanyakan tentang naya.
"di kota ini, gue enggak bisa biarin dia tinggal jauh karena enggak ada yang jagain" ray menatap dika.
"lo bisa bayar orang buat jagain dia kan, kalo sampai istri lo tau bisa bisa bukan cuma rumah tangga lo doang yang berakhir tapi rumah tangga gue juga jadi korbannya ngerti enggak lo!!" dika kesal.
"lo tenang aja dik, selama lo dukung gue semua bakal baik baik aja. gue enggak bisa meragukan kekuasaan lo di kota ini kan" ray tersenyum.
__ADS_1
"hhh! terserah lo" dika menyandarkan tubuhnya di kursi.
"udahlah jangan terlalu di pikirin" ray ikut menyandarkan tubuhnya.
"jadi gimana tentang masalah john elo yang bakal urus semuanya kan?" dika beralih pada pekerjaan.
"lo tenang aja besok lo bakal dengar nama john udah terpampang di batu nisan" ray tersenyum.
"heh! lo gila ya, gue cuma minta lo buat kasih dia pelajaran berharga bukan bunuh dia. lagian kenapa akhir akhir ini kegilaan lo makin meningkat sih. apa punya dua istri itu sangat mempengaruhi ya?"
"apa yang salah sih sama ucapan gue lagian gue punya dua istri juga cuma status doang istri gue yang sebenarnya kan cuma ada satu dan yang satunya cuma status sementara sampai anak itu lahir" jawab ray santai.
"huh! brengsek, lo pikir gue bakal percaya gitu? dia itu kan istri lo dan elo pernah cinta sama dia mana mungkin lo anggurin" dika tersenyum miring.
"gue bukan elo dika"
"kok jadi gue sih! gue kan enggak punya dua istri"
"gue emang pernah cinta sama dia tapi itu kan dulu. kalau pun gue masih punya perasaan sama dia gue bakal kubur perasaan itu dalam dalam"
"bulshit" dika tak percaya.
"gimana pun juga gue udah punya istri sama anak dan mereka adalah satu satunya masa depan gue"
"kalo elo emang udah kubur perasaan lo dalam dalam ke dia gimana bisa dia hamil??" dika semakin meledek ray.
"gue kan udah bilang itu kecelakaan dan gue yakin ini ada hubungannya sama john. dia pasti merencanakan sesuatu buat gue, jadi gue harus bertindak cepat nih kayanya hhh!"
"hem, kecelakaan yang indah kan" dika masih terus menggoda ray.
"hhh! dika, itu karena lo lagi enggak ada di posisi gue sekarang!!" ray mengalihkan pandangannya.
"iya enggak lah! gue juga enggak mau ada di posisi lo itu amit amit deh jangan sampe, gue cinta mati sama bini gue soalnya"
"hhh! ya kalo sampe lo lakuin itu juga palingan lo bakal mati doang di tinggalin" ray tersenyum miring.
"eh! enak aja lo gue mati, gue kan masih ganteng ya enggak mau lah"
"tenang aja dika, lo udah punya satu jagoan buat mewarisi semua kekayaan dan kekuasaan keluarga wijaya jadi lo bisa mati dengan tenang"
"eh! emang enggak ada akhlak banget ya, elo doain gue mati" dika melotot ke arah ray.
"haha" ray tertawa melihat raut wajah kesal dika.
"kalo soal jagoan gue emang enggak khawatir lagi ray, soalnya jagoan gue bakal ada dua bentar lagi" dika tersenyum mengingat calon bayinya.
"oh ya serius? wah! selamat ya dika berarti lo bisa mati lebih tenang lagi karena affa enggak bakal kewalahan buat ngurus dua perusahaan sekaligus. haha" tawa ray semakin renyah menggoda sahabatnya itu.
"brengsek lo, gue belum mau mati tau enggak. gue masih pengen punya anak cewek cantik yang banyak setelah ini" dika menatap malas kepada ray.
"hem, iya saran gue lo emang harus buat anak cewek yang banyak dika. soalnya gue kasian liat anak laki laki di masa depan kalo harus ngerebutin satu putri lo yang pasti bakal cantik kaya ibunya"
ray tersenyum namun mendapat tatapan tajam dari dika karena sudah memuji istrinya.
"enggak cukup juga lo udah punya dua istri ray, masih aja lo ngomong manis tentang istri gue"
"ck! tenang dika, kalo istri lo ya enggak mungkin lah gue berani. gue sih kalah saing dari segi mana pun kalo di bandingin sama lo" ray memuji dika yang sedang kesal.
"hhh! bohong, ya jelaslah gue yang kalah elo kan sanggup punya dua istri" dika tersenyum miring.
"iya terserah lo lah dik"
ray pasrah karena dika terus saja menyebutkan dua istri kepadanya meskipun itu memang benar adanya.
__ADS_1