Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 123


__ADS_3

setelah arin tertidur dengan nyenyak dika pun keluar dari dalam kamar arin dan memutuskan untuk segera kembali pulang ke rumahnya.


"dika kamu mau kemana?"


mama ratih melihat putranya berjalan menuju pintu keluar.


"mau pulang ma, tolong mama jagain arin ya dia udah tidur. dika harus pulang sekarang"


dika pun terus berjalan tanpa menunggu jawaban dari mamanya.


mama ratih dan papa hardi hanya terdiam menatap kepergian putra bungsu mereka itu.


"kasian dika ya pa, kayanya kecapekan deh karena harus bagi waktu dan pikiran buat kerjaan yang banyak apalagi vani mau lahiran dan sekarang di tambah arin juga mau selalu di perhatiin lebih" mama ratih menatap suaminya.


"iya ma tapi mau gimana lagi ini kan udah jadi konsekuensi buat dika kalo mau punya dua istri"


papa hardi merasa sedih namun juga bingung memikirkan putranya yang akan memiliki dua istri padahal dirinya saja selalu setia dengan satu istri.


sesampainya di rumah dika langsung menuju kamarnya hendak kembali menemui vani namun setelah masuk ia tidak lagi melihat keberadaan istrinya itu di dalam kamar.


"huh! kemana lagi sih. kamu hobi banget ngilang dari aku sayang"


dika mengusap wajahnya lalu duduk di tepi ranjang.


cukup lama dika menunggu namun sudah larut malam vani tetap tidak kembali ke dalam kamarnya.


merasa khawatir dika pun beranjak keluar dari dalam kamarnya untuk mencari keberadaan vani namun tetap tidak menemukan istrinya itu dimana mana.


hanya tersisa satu ruangan di dalam rumah itu yang belum dika periksa yaitu kamar adik iparnya. ia meyakini jika saat ini vani pasti sudah tertidur di dalam sana namun untuk memastikannya dika tetap harus memeriksa kamar itu.


tok! tok! tok!


dika mengetuk pintu kamar yuli dan hana namun tidak mendapat jawaban apapun dari dalam akhirnya ia memutuskan untuk membukanya langsung.


ceklek!


dika membuka pintu kamar adik iparnya dengan perlahan hendak melihat namun ragu karena takut jika istrinya tidak berada di dalam sana.


"gimana kalo cuma ada yuli sama hana di dalam ya masa aku masuk sih? intip aja kali ya"


dika merasa bingung lalu perlahan memasukkan sebagian kepala dan melihat ke arah ranjang ada tiga orang wanita yang sedang berbaring di dalam sana.


"huh! syukurlah dia beneran di sini"


dika menghembuskan nafasnya dengan lega.


"biarin aja deh mana tidurnya di bagian tengah lagi" gumam dika kembali menutup pintu kamar itu lalu berjalan kembali ke dalam kamarnya.


keesokan harinya di kantor dika sedang merasa bosan dan terlihat hanya bermalasan saja di dalam ruang kerjanya.


menjelang siang rangga pun masuk ke dalam ruangan dika dan melihat adiknya sedang tidak bersemangat disana.


rangga masuk bersama ray yang berjalan mengikutinya dari belakang.


"kenapa lagi sih lo dik?" tanya rangga saat ia sudah berada di samping meja kerja adiknya itu.


"gue lagi bingung nih bang vani masih aja pengen pisah sama gue dia beneran mau ninggalin gue terus dia juga minta gue buat nikahin arin cewek yang enggak gue cinta"


dika kembali mengeluh kepada abangnya.


"huh! enggak cinta tapi mau punya anak bareng gimana sih bos" ray pun duduk di hadapan dika.


"ck!! diam lo" dika menatap tajam pada ray.

__ADS_1


"hem, terus gimana dong dika elo kan emang harus tanggung jawab sama arin dan bayinya. gimana pun itu anak lo juga kan?"


rangga masih tidak percaya pada adiknya itu.


"kenapa sih bang lo masih aja enggak percaya sama gue. gue yakin banget kok kalo itu bukan anak gue karena gue enggak pernah ngelakuin apapun sama arin" dika tetap meyakinkan rangga.


"ya gimana lo mau yakin dika lo kan mabuk dan enggak sadar ngelakuinnya waktu itu" rangga masih tidak percaya.


"huh!!" dika menghembuskan nafas kasarnya.


"em, gimana kalo lo lakuin tes DNA aja sama bayi yang ada di dalam kandungan arin" ray pun memberi saran.


"tes DNA sama janin emang bisa?" dika menatap ray.


"bisa tapi lo harus nunggu beberapa bulan lagi sampe kandungan arin di atas empat bulan karena itu cukup membahayakan buat janin kalo belum kuat"


"nah!!! ya udah dika lo tinggal ulur waktu aja sampe kalian bisa ngelakuin tes DNA itu, kalo emang elo enggak yakin anak itu adalah anak lo" rangga menimpali.


"em"


dika mengangguk mengerti sambil terus berpikir.


hari terus berlalu begitu cepat saat ini usia kandungan vani sudah berada di bulan terakhir yaitu sembilan bulan namun vani masih ikut pergi ke butik bersama dengan yuli dan hana karena ia akan merasa bosan jika sendirian di rumah apalagi saat suami dan kedua adiknya itu pergi bekerja.


hanya saat mertua dan kakak iparnya datang berkunjung ke rumah barulah vani akan tetap berada di rumah untuk menyambut kedatangan keluarga suaminya itu.


hari ini vani sedang merasa bosan berada di dalam ruang kerjanya di butik.


vani pun akhirnya memutuskan untuk pergi jalan jalan ke taman yang berada tidak jauh dari butiknya untuk sekedar memakan ice krim sambil duduk di kursi taman.


"kak, kamu mau kemana?"


yuli melihat kakaknya sedang berjalan keluar seorang diri.


"oh. aku ikut ya nemenin kamu" yuli menawarkan diri.


"jangan dong kamu di sini aja bantuin hana kan toko lagi rame pengunjung nih nanti kasian hana sama yang lain" vani menolak.


"oh oke deh kamu hati hati ya dan cepat pulang!!" peringat yuli kepada vani.


"iya deh bye" vani pun melangkah pergi.


sesampainya di taman itu vani tersenyum senang karena melihat banyak bunga yang membuat pandangan matanya kembali segar. ia pun mendekat kearah penjual ice krim di sana untuk membeli sebuah ice krim coklat kesukaannya.


setelah membeli ice krim vani duduk sambil menikmati ice di tangannya namun tiba tiba saja dari arah belakang ada seseorang yang membekap mulutnya menggunakan sapu tangan hingga vani tidak sadarkan diri.


"em, emh,,,,"


vani mencoba memberontak namun bius itu membuat dirinya langsung kehilangan kesadaran dengan cepat.


"ayo bawa dia masuk ke dalam mobil"


ujar seseorang yang sudah membekap vani kepada dua orang temannya.


"oke" mereka mengangguk lalu mengangkat tubuh vani masuk ke dalam mobil.


ketika vani tersadar ternyata dirinya sudah berada di dalam sebuah kamar yang asing baginya.


"ssh! dimana aku?"


vani bangkit lalu duduk di atas ranjang sambil memegangi kepalanya yang masih pusing. ia pun langsung meraba perutnya untuk memastikan bayinya baik baik saja.


"bayiku!" vani tersentak saat memastikannya.

__ADS_1


"huh! syukurlah kamu baik baik aja sayang"


vani menghembuskan nafas lega saat melihat perut buncitnya yang baik baik saja.


"tempat apa ini?"


vani berdiri lalu melangkah menuju arah pintu karena hendak segera keluar dari dalam kamar yang asing itu.


ceklek!


setelah vani berhasil membuka pintunya ia pun berjalan keluar dari dalam kamar itu secara perlahan.


vani terus berjalan dengan sangat hati hati karena merasa khawatir jika ia sedang berada di dalam bahaya saat ini.


saat sedang berjalan mencari pintu keluar dari dalam rumah asing itu tidak sengaja vani mendengar suara keributan dari dalam sebuah ruangan lain di sana.


vani mendekat hendak mendengarkan suara itu lebih jelas karena merasa suara itu tidak asing di telinganya.


sepertinya ia sangat mengenali suara orang orang yang sedang berdebat di dalam ruangan itu membuat vani terus mendengarkannya karena merasa penasaran.


setelah mendengar akhirnya vani menyadari jika ternyata ketiga orang yang sedang berdebat di dalam ruangan itu adalah raka dan karin bersama arin yang juga ada disana.


arin datang dan marah kepada raka karena sebelumnya ia sudah mengetahui jika raka adalah ayah biologis dari bayi yang sedang di kandungnya itu.


karin yang sudah memberi tahu kebenarnya kepada arin demi untuk mengancam arin agar tetap mau menuruti keinginan mereka.


awalnya arin merasa sangat syok dan tidak terima saat mendengar kebenaran jika bayi yang sedang ia kandung itu bukanlah anak dika pria yang dicintainya melainkan anak dari pria brengsek raka yang telah merenggut kehormatan dirinya namun mau tidak mau arin harus tetap menjalani perannya sesuai keinginan karin karena bagaimana pun dikalah yang akan bertanggung jawab menikahinya dan menjadi ayah dari calon bayinya itu begitu pikirnya.


"kalian jahat! kalian tega ngelakuin ini semua sama aku" hiks!


arin memukul mukul dada raka dengan kesal setelah mengetahui jika raka dan karin adalah dalang di balik semua masalahnya.


"cukup arin! sekarang kamu baru sadar kalo bayi itu anak ku hh! kemana aja kamu selama ini baru menyadarinya!"


raka menahan tangan gadis itu agar menghentikan pukulan kepadanya sambil menatap arin dengan tajam.


"kamu jahat raka! kamu pria yang udah merusak masa depan ku" arin menunjuk raka dengan tatapan marah.


"heh, aku adalah pria baik yang sudah membuat masa depan mu terjamin karena akan menikahi pria kaya raya seperti dika paham!" raka pun tidak menerima ucapan arin.


"enggak! kamu jahat"


"kamu enggak tau atau cuma pura pura enggak ingat sekali pun itu enggak masalah arin yang jelas peran mu jadi semakin bagus karena kamu selalu bilang kalo anak yang ada di dalam kandungan mu itu adalah anak dika" raka tersenyum miring.


"apa sebenarnya yang kalian inginkan!"


"jangan banyak tanya! kita udah bahas itu sebelumnya dan tugasmu sekarang adalah kamu harus memastikan dika segera menikahi mu secepatnya dengan alasan sebelum perut mu itu semakin membesar"


karin ingin melanjutkan rencananya.


"tapi dika akan menikahi ku setelah anaknya dengan vani lahir baru mereka akan bercerai"


"heh!! kenapa kamu harus menunggu lebih lama. jangan bodoh arin dika akan selalu beralasan dan mengulur waktu agar tidak menikahi mu" karin menunjuk arin.


"tapi gimana caranya dika selalu menolak untuk segera menikahi ku"


"udahlah sayang jangan terlalu keras gitu kayanya dia merasa tertekan"


raka menjadi tidak tega melihat air mata di pipi arin.


"jangan belain dia raka aku enggak suka dengernya!!"


karin menatap kesal pada raka membuat raka akhirnya hanya terdiam.

__ADS_1


"ancam dika dengan cara apapun agar dia segera setuju untuk menikahi mu arin. itu tugas mu!!" karin tidak mau di bantah.


__ADS_2