Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 114


__ADS_3

sesampainya di rumah sakit vani langsung di bawa masuk ke dalam ruang ICU untuk di periksa ia menunggu dengan sangat cemas di luar ruangan itu.


dika sangat menyesal dan merasa bersalah karena telah memaksa istrinya untuk menuruti keinginannya yang egois itu membuat vani dan calon bayinya sampai harus kembali masuk ke rumah sakit.


"maafin aku sayang, aku emang bodoh dan egois" gumam dika mengumpat dirinya sendiri dalam kekhawatirannya.


setelah menunggu dokter pun akhirnya keluar dari dalam ruangan vani.


"dokter bagaimana keadaan istri dan calon bayi saya?"


"sepertinya istri bapak mengalami benturan sebelumnya yang membuat keadaan bayi lemah sehingga istri bapak tidak dapat menahan rasa sakitnya ketika kalian sedang berhubungan dan akhirnya ia tidak sadarkan diri"


dokter tidak sungkan untuk mengatakan secara langsung karena sudah mengetahui apa penyebab vani pingsan


dika terdiam dan mengingat jika malam kemarin saat dirinya sedang sakit tidak sengaja ia mendorong vani hingga terjatuh.


"lalu bagaimana kondisi mereka sekarang dok?"


"saat ini mereka harus istirahat agar kondisinya membaik. saya juga sudah memberikan obat penguat kandungan tolong di jaga ya pak, karena ini bukan pertama kalinya kandungan bu vani sampai lemah seperti ini. saya khawatir saat lahir nanti bayi bapak akan...."


dokter tidak melanjutkan ucapannya karena melihat dika sedang menatapnya dengan tajam.


"jangan ucapkan sesuatu yang tidak ingin saya dengar dokter"


"baiklah pak kalau begitu saya permisi"


dokter pun berlalu dari hadapan dika.


dika langsung masuk ke dalam ruangan istrinya setelah vani di pindah ke dalam ruang rawat inap.


setelah duduk dika kembali teringat jika dirinya belum memberitahu tentang keadaan vani kepada keluarganya namun ia memang tidak berniat untuk mengatakannya kepada siapapun karena tidak mau mengganggu jam istirahat yang lain.


dika menggenggam tangan vani sambil tertunduk penuh penyesalan di sana untuk yang kesekian kalinya ia harus melihat istri dan calon anaknya menderita karena ulahnya sendiri.


"sayang kenapa enggak bilang sih kalo kamu ngerasain sakit tadi"


dika mengecup tangan istrinya dengan rasa penyesalan yang mendalam di hatinya.


jika saja tadi dirinya tidak memaksa vani untuk menyetujui permintaannya itu mungkin ini tidak akan terjadi pada istrinya.


dika juga sangat menyesal karena ia dengan tidak sengaja sudah mendorong vani hingga terjatuh kemarin malam.


saat ini dika hanya diam menunggu vani sampai sadar namun hingga ia terlelap vani belum juga sadarkan diri.


keesokkan paginya dika terbangun dan melihat vani yang sudah tersadar.


"sayang udah bangun gimana keadaan kamu?"


dika mengusap lembut pipi vani.


"aku baik baik aja mas" terdengar suaranya lemah.


"sayang kenapa enggak bilang kalo kamu kesakitan kemaren waktu kita..."


"sstt!!"


ucapan dika menggantung karena vani menempelkan jari di bibirnya.


"jangan tanya mas aku cuma enggak mau kamu kecewa karena harus nahan lagi"


"iya tapi aku khawatir sayang. kamu enggak tau kan gimana paniknya aku liat kamu pingsan tadi malam"


"iya maafin aku ya, sekarang aku baik baik aja kok mas"


"makasih ya sayang kamu pengertian banget. maaf ya kalo aku udah egois tapi lain kali kamu jangan kaya gitu lagi ya, kan itu bisa nyakitin calon bayi kita"


"iya mas, ya udah sekarang kita pulang ya" minta vani kepada suaminya.


"belum boleh sayang dokter bilang kamu harus istirahat yang banyak demi keselamatan bayi kita"


dika membuat vani tidak lagi membantah karena ini menyangkut keselamatan bayinya.


keesokan paginya baru vani dan dika boleh pulang setelah dokter mengizinkannya.


sesampainya di rumah mereka di sambut oleh kehadiran rangga dan ranty dengan rara keponakan kesayangannya yang sedang datang berkunjung.


rangga famili sudah mendapat kabar tentang vani yang kembali masuk rumah sakit dari mama ratih namun dika melarang mereka datang ke rumah sakit karena vani sudah di perbolehkan pulang.


ketika dika dan vani masuk ke dalam rumah rara langsung memeluk om dan tante kesayangannya itu.


"om, tante!!"


rara teriak senang melihat kepulangan vani dan dika.


"sayang"


"kalian udah sampe ayo sekalian kita sarapan bareng"

__ADS_1


mama ratih mengajak anak anaknya untuk sarapan bersama karena dika dan vani sudah sampai lebih awal dari perkiraan mereka.


"iya ma. ayo sayang"


dika mengajak vani untuk duduk di meja makan bersama yang lainnya.


"aku mau istirahat aja mas" vani menolaknya.


"sayang kamu harus makan dulu dikit aja ya" bujuk dika pada istrinya.


"kepala aku pusing banget mas. aku mau istirahat aja" vani tetap menolak.


"ayolah vani kita sarapan bareng dulu udah lama loh kita enggak kumpul bareng kaya gini"


ranty mendekat dan mengajak vani duduk.


akhirnya vani mau duduk di meja makan untuk sarapan bersama dengan yang lainnya.


vani yang sedang tidak berselera untuk makan pun hanya memakan sepotong roti dan meminum susunya.


saat mereka masih menikmati sarapan bersama tiba tiba saja arin berlari ke arah dapur menuju kamar mandi karena merasa mual dan pusing hingga akhirnya jatuh pingsan.


para asisten yang berada di dapur melihat dan langsung berlari menuju meja makan hendak mengatakan kepada majikannya jika arin jatuh pingsan.


"ya ampun nona arin pingsan cepat bilang sama nyonya" perintah bik nani kepada asisten yang lain.


"baik" pelayan itu pun bergegas menuju meja makan.


"maaf tuan, nyonya. mbak arin jatuh pingsan di dapur" ucap seorang pelayan wanita yang melapor.


"apa!!! arin pingsan?"


mama ratih pun khawatir mendengarnya mereka langsung bergegas menuju dapur untuk melihat keadaan arin.


"ya ampun arin kamu kenapa nak?"


mama ratih meletakkan bagian kepala arin ke dalam pangkuannya.


meskipun mama ratih sempat merasa kecewa pada arin karena masalah yang terjadi pada dika namun mama ratih juga tidak dapat membenci arin mengingat kebaikannya.


"rangga, ayo bawa arin ke dalam kamarnya"


mama ratih menatap putra sulungnya karena kedua putranya itu hanya diam saja saat melihat arin yang sedang pingsan.


"eh, iya ma"


rangga menggendong tubuh arin menuju kamar terdekat.


"baik ma"


ranty langsung menelpon dokter keluarga wijaya.


dokter datang dan langsung memeriksa keadaan arin bahkan belum selesai pemeriksaan itu arin sudah tersadar dan merasa bingung karena melihat ada dokter di sana.


"dokter bagaimana keadaan arin?" tanya mama ratih


dokter radit adalah putra dari seorang dokter yang selama ini sudah menjadi dokter tetap di keluarga wijaya. sekarang dokter radit yang menggantikan posisi ayahnya yang sudah lama menjadi dokter di keluarga wijaya itu.


radit sendiri adalah kakak kelas dika saat di sekolah dulu namun mereka tetap berteman baik dan saling mengenal sejak duduk di bangku sekolah. mereka berpisah saat masuk kuliah karena jurusan dan kampus yang berbeda serta melanjutkan kuliah di negara yang berbeda pula.


"keadaannya baik baik saja, dia hanya butuh istirahat yang cukup karena menurut pemeriksaan saya kemungkinannya arin ini sedang hamil tante"


"apa hamil?"


mama ratih kaget begitu juga dengan semua orang disana ikut tertegun mendengarnya.


"iya tante untuk pemeriksaan lanjutan bisa langsung ke dokter kandungan saja agar mengetahui usia kehamilan juga karena sebenarnya itu bukan keahlian saya"


keluarga wijaya tertegun saat mendengar kehamilan arin termasuk arin sendiri ia juga tidak menyangka jika saat ini dirinya tengah mengandung anak dari dika.


semua orang yang berada di sana pun langsung menatap dika secara bersamaan sedangkan dika yang mendapat tatapan dari keluarganya itu pun langsung mengalihkan pandangannya.


"kalau begitu saya permisi tante mari om"


"baiklah dokter radit, terima kasih"


dokter radit tersenyum kepada semua orang di sana lalu melangkah keluar dari dalam kamar itu dengan diantar oleh rangga.


mama ratih hanya bisa tertegun karena masih merasa syok akibat kabar yang baru saja di dengarnya itu.


arin pun tersenyum memandang kearah dika yang sedang tidak menatap dirinya karena saat ini fokus dika hanya melihat kepada istrinya saja.


vani yang mendengar kabar kehamilan arin pun langsung pergi dari dalam kamar itu meninggalkan yang lainnya begitu saja.


rasanya vani tidak sanggup menahan sesak di dalam dadanya namun ia juga tidak ingin menumpahkan air matanya di hadapan semua orang jika menangis di sana.


melihat vani pergi dengan wajah sedihnya dika pun langsung mengikuti langkah istrinya keluar dari dalam kamar itu tanpa menghiraukan arin yang sedang menatap dirinya sejak tadi.

__ADS_1


sesampainya di dalam kamar dika melihat istrinya sedang duduk di tepi ranjang sambil menangis.


hiks! hiks! hiks!


"sayang kamu kenapa nangis?"


dika berlutut di hadapan istrinya sambil menggenggam kedua tangan vani.


"kamu nanya kenapa aku nangis mas?"


vani tidak habis pikir dengan pertanyaan dari suaminya itu.


"sayang kamu jangan nangis kaya gitu dong" dika menghapus air mata istrinya.


"terus, maksud kamu aku harus bahagia mas dengar kabar kalo suami aku bakal punya anak dari wanita lain?"


"sayang itu enggak bener"


"apanya yang enggak benar mas. apa kamu mau bilang kalo itu bukan anak kamu?"


"tapi sayang itu memang bukan...." ucapan dika terputus.


"cukup mas, kamu masih mau bilang kalo semua ini cuma rekayasa. kalo pun emang bener kamu enggak sadar ngelakuinnya tapi tetap aja kan itu anak kamu"


"sayang maafin aku"


dika tidak tau harus berbuat apa agar istrinya berhenti menangis. ia juga khawatir dengan kondisi kehamilan vani yang masih lemah. jika vani terus menangis maka ia akan kembali merasa tertekan.


"aku enggak tau mas, apa aku harus sedih atau senang karena sebentar lagi anak aku yang belum lahir ini bakal punya adik dari ibu yang lain"


"sayang..."


"gimana pun juga kamu harus tetap tanggung jawab atas perbuatan kamu mas"


vani menatap suaminya dengan air mata di pipi


"maksud kamu apa sayang"


dika pun membalas tatapan mata istrinya.


"kamu harus nikahin arin mas"


"enggak sayang itu enggak mungkin karena aku enggak cinta sama arin. aku juga udah punya kamu, kamu enggak mungkin kan mau berbagi suami sama wanita lain?"


"iya kamu benar mas, aku memang enggak mungkin mau berbagi suami sama siapapun makanya kamu harus ceraikan aku setelah anak kita lahir nanti"


vani meneteskan air matanya pilu membuat mata dika berkaca kaca saat mendengar permintaan daru istri yang sangat dicintainya itu.


"enggak! aku enggak mau sayang tolong kamu jangan ngomong kaya gitu ya aku enggak mau kehilangan kamu"


dika meneteskan air mata yang sudah ia tahan sejak tadi sambil mengecup kedua punggung tangan istrinya yang berada di dalam genggamnya itu.


"kita harus pisah mas"


"aku enggak mau sayang, aku cinta banget sama kamu. aku enggak bisa hidup tanpa kamu"


dika menangis di pangkuan istrinya seperti anak kecil.


"kamu harus bisa mas, kamu enggak mungkin kan biarin anak kamu lahir tanpa status yang jelas. harusnya kamu mikirin lagi apa konsekuensinya sebelum kamu ngelakuin hal itu mas"


"tapi aku enggak pernah ngelakuin itu sayang"


"kamu harus bertanggung jawab mas. jangan jadi cowok pengecut yang enggak mau mengakui perbuatannya"


vani mengusap lembut rambut dika yang masih berada di pangkuannya itu.


"sayang, aku mohon kasih aku kesempatan ya aku nyesel sayang maafin aku"


dika masih terus menangis di pangkuan istrinya.


"baby kita akan tetap jadi anak kamu sampai kapan pun mas, aku enggak bakalan ngelarang kamu buat ketemu sama dia nantinya walaupun kita udah pisah"


"sayang aku mohon jangan bilang kaya gitu ya aku enggak mau pisah dari kalian"


dika memeluk pinggang vani sambil mengecup perut istrinya.


"kenapa mas. kenapa baru sekarang kamu bilang kalo kamu nyesel padahal waktu ngelakuin itu kamu sama sekali enggak mikirin aku sama calon bayi kamu ini"


"enggak sayang. aku emang enggak pernah ngelakuin itu"


"pergi mas!!! tolong tinggalin aku sendiri aku mohon" vani mendorong tubuh dika dari pelukannya.


akhirnya dika keluar dari dalam kamar karena berpikir jika saat ini vani memang harus menenangkan diri lebih dulu.


dika tidak akan pergi jauh dari sisi kamarnya karena ia masih sangat khawatir dengan keadaan vani yang bisa kembali drop karena terlalu banyak menangis.


hiks! hiks! hiks!

__ADS_1


"kenapa sih mas kenapa harus kaya gini"


vani kembali merasa tertekan namun ia tidak tahu harus bagaimana untuk melampiaskan rasa sesak di dalam dadanya.


__ADS_2