
beberapa hari setelahnya rangga pun kembali bekerja seperti biasa di kantor yang seharusnya di pimpin oleh adiknya itu. dengan di jemput oleh sekretarisnya ray mereka pergi bersama.
setelah kepergian adiknya rangga pun memutuskan untuk kembali menetap di kota itu karena ia akan mengurus perusahaan sekaligus juga menjaga vani karena mama dan papanya kemungkinan akan sering pulang pergi ke london untuk menjalani pengobatan mereka.
di dalam perjalanan menuju kantor rangga bertanya kepada ray.
"gimana keadaan perusahaan selama dika pergi ray?" tanya rangga saat mereka berada di dalam mobil.
"semua baik baik saja pak"
ray melihat wajah rangga dari pantulan kaca mobil di bagian depan.
"baguslah, terima kasih ya ray karena kamu sudah setia menjaga kantor tetap beroperasi saat dika pergi"
"sama sama pak, itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai orang yang selama ini sudah di percaya oleh pak dika dan pak rangga juga"
"bukan cuma orang kepercayaan ray tapi kami juga sudah menganggap kamu sebagai bagian dari keluarga wijaya termasuk mama dan papa yang sudah menganggap kamu sebagai putra mereka"
"terima kasih pak"
ray sangat bersyukur karena saat ini ia tidak memiliki keluarga lain lagi selain keluarga wijaya. kedua orang tua dan keluarganya sudah tiada sejak lama, hanya paman dan bibinya yang serakah dan menguasai seluruh harta orang tuanya dengan cara yang licik yang masih hidup.
namun ray sudah tidak perduli lagi dengan hal itu karena selama ini ia juga dapat hidup lebih mewah dan tidak pernah merasakan kekurangan apapun bersama keluarga wijaya yang sudah sejak lama di kenalnya dan telah menganggap dirinya sebagai salah satu putra mereka.
beberapa minggu berlalu sore hari ini ranty menelpon rangga karena ingin mengatakan sesuatu.
"ya halo sayang?" jawab rangga dalam telponnya.
"mas, tolong nanti kamu beliin rujak yang ada di pinggir jalan x itu ya dua porsi pake mangga yang banyak oke" ujar ranty.
"hah! rujak? buat apa sih sayang emangnya kamu lagi ngidam ya hehe"
"iya bukan aku mas tapi buat vani ingat keinginan vani tanggung jawab kamu juga loh"
"iya iya, ya udah aku pesenin ya sayang"
"eh jangan!"
"loh kenapa?"
"kamu harus ngantri mas soalnya baby pengen nyiksa kamu dulu hehe"
"hah! tapi kan di sana ngantrinya lama banget sayang. apalagi kalo udah sore gini"
"iya enggak mau tau mas. kamu pulang cepet dong lagian di sana enggak boleh di pesen harus ngantri biar adil tapi ingat! harus rujak yang ada di tempat itu enggak boleh beli di tempat lain dan enggak boleh di pesan online"
"iya iya deh tapi kok harus dua porsi sih sayang, emang buat siapa lagi yang satunya?"
"iya buat vani semuanya dong mas soalnya vani mau makan yang banyak"
"oh gitu ya udah deh nanti aku beliin ya"
"ya udah ya makasih sayang bye" tut!!! tut!!
ranty menutup telepon sepihak karena malas berdebat dengan suaminya.
"haish dasar perempuan"
rangga memijit pelipisnya padahal pekerjaannya masih banyak dan harus lembur malam ini.
"ada apa bos?" tanya ray menghampiri.
"ck! nanti kita pulang cepat ya ray"
"loh emangnya kenapa bos bukannya kita harus lembur malam ini?"
"lo harus ngantri soalnya di tempat rujak pinggir jalan x itu. lo tau kan di sana selalu rame"
"loh!! kenapa saya harus beli rujak sih kan saya lagi enggak pengen makan rujak bos"
"iya emang bukan elo tapi gue yang mau makan"
"oh jadi nyonya lagi ngidam ya bos?"
"hem"
"selamat ya bos" canda ray.
"iya makasih"
"kalo gitu biar saya pesenin ya bos"
"jangan!! katanya gue harus antri buat beli rujak itu. soalnya ponakan gue pengen banget nyiksa gue sama kaya bapaknya dulu"
"ppffttt! oh jadi harus antri ya bos itu berarti harus bos yang beliin dong bukan saya" jawab ray tersenyum.
"iya enggak lah, tapi lo yang harus antri elo kan juga harus di siksa biar jangan bisanya nyiksa orang mulu"
"ya udah deh, ayo sekarang kita pulang bos. saya udah enggak sabar nih pengen di siksa calon bos kecil hehe"
__ADS_1
"nah bener, lebih cepat lebih baik iya kan" rangga pun beranjak.
"terus kerjaan kita gimana nih bos?"
"biarin aja entar kalo di tanya kenapa perusahaan kita jadi menurun bilang aja ini perintah dari bos kecil hehe"
"enak aja si bos malah nyalahin bos kecil yang belum lahir lagi haha"
"hem!! lo tau kan ray sampe sekarang gue belum bisa fokus buat kerja kaya dulu"
"iya saya tau bos saya harap bos yang sabar ya, kita semua juga merasa kehilangan banget apalagi saya yang setiap hari selalu di marahin sama bos dika saya kangen di marahin lagi bos"
"ya udah kalo gitu mulai sekarang gue yang bakal marah sama lo tiap hari ya"
"ya jangan tiap hari juga dong bos"
"ya terserah gue lah"
"ck! untung aja elo bosnya" decak ray kesal.
mereka pun akhirnya benar benar memutuskan untuk pulang lebih awal hanya karena ingin membeli rujak di pinggir jalan. rujak yang berada di pinggir jalan itu memang terlihat sangat sederhana namun karena rasa bumbunya yang nikmat membuat banyak peminatnya.
pedagang rujak memang sengaja tidak menerima pesanan via online karena tetap ingin berjualan ala tradisional seperti jaman dulu sesuai dengan peninggalan turun temurun dari keluarganya. lagi pula tanpa di jual via online pun tempat rujaknya selalu ramai pengunjung.
memang pengunjung yang datang pun lebih banyak dari kalangan menengah ke bawah karena tempat itu terletak di pinggir jalan. tidak banyak dari golongan orang berada yang mau membeli makanan di pinggir jalan karena merasa hal itu tidak higienis namun vani yang merupakan gadis sederhana sejak dulu memang lebih menyukai jajan di pinggir jalan seperti itu.
sebenarnya vani bisa saja membeli rujak itu sendirian atau meminta kedua adiknya untuk membelikannya namun entah kenapa ia sangat ingin rujak itu di belikan langsung oleh rangga sendiri.
sesampainya di tempat rujak itu rangga pun merasa gerah karena terik matahari yang masih menyinari bumi.
"eh, lo bilang kalo kita datang lebih awal enggak bakal ngantri gimana sih lo"
kesal rangga karena melihat antrian yang ramai.
"ya mana saya tau bos mungkin karena weekend kali" jawab ray.
"hem, ya udah sana lo aja yang antri" perintah rangga.
"ya jangan dong bos. calon bos kecil kan pengennya bos rangga langsung yang ngantri buat beliin gimana sih"
ray mencari alasan agar rangga tidak menghindar lagi.
"ck! perasaan sama aja kali"
"ya beda dong bos. emang bos mau entar ponakan kesayangannya kalo udah lahir jadi ngiler karena enggak keturutan kepengennya"
ray pun tersenyum jahil menatap wajah melas rangga.
"enggak papa bos biar hitam tapi manis" ckckck ray menahan tawanya.
"hem, ya udah deh demi ponakan kesayangan nih ya"
rangga pun akhirnya keluar dari dalam mobil.
"semangat bos!!" ppffttt!!
ray hanya tersenyum menahan tawa.
hampir dua jam rangga menunggu hingga akhirnya gilirannya pun tiba untuk rangga membeli rujak itu. ia akan memesan rujak dua porsi sesuai permintaan istrinya tadi.
"pake buah apa aja mas?" tanya pedagang.
"em tadi di banyakin buah apa ya?" gumam rangga bingung karena lupa.
'buah nanas atau buah duren ya. ck! mana ada sih buah duren di dalam rujak. em, kalo ngidam sih biasanya kan suka buah mangga' pikirnya.
"mbak pesen rujaknya dua ya di banyakin buah mangga" ucap rangga akhirnya memesan.
"baik mas. tunggu sebentar ya" jawab mbak penjualnya.
"hhh! udah dari tadi kali mbak saya nunggunya" gumam rangga pelan sambil tersenyum tipis.
setelah mendapatkan rujaknya rangga dan ray langsung bergegas pulang ke rumah dengan membawa rujak permintaan adik iparnya itu.
sesampainya di rumah rangga dan ray pun masuk ke dalam rumah secara bersamaan.
"assalamualaikum" rangga dan ray mengucapkan salam.
"walaikumsalam" jawab ranty menyambut salam.
"mas kamu udah pulang. gimana ada pesenannya?"
ranty langsung bertanya antusias.
"ada nih" rangga mengangguk.
"makasih tapi kamu kok lama banget sih mas"
"ya ampun sayang. kamu tau enggak kita berdua juga udah pulang lebih awal demi beliin ini loh"
__ADS_1
rangga menunjukkan bungkusan di tangannya.
"hem, sabar ya suamiku" ranty tersenyum manis.
"hem iya sayang. kamu manis banget deh kalo ada maunya"
rangga memutar bola matanya lalu melangkah pergi hendak mencari keberadaan adik iparnya itu.
"makasih" ranty tersenyum karena di puji suaminya.
"sayang!! eh salah. vani, mas pulang nih"
rangga berteriak karena sengaja ingin menggoda istrinya.
"dasar mas rangga bercanda mulu deh"
ranty menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya yang sengaja memanggil vani dengan panggilan sayang.
"hem, biasa bu bos di maklumi aja ya"
ray pun menggelengkan kepalanya.
"iya. ray kamu mau minum apa?" ranty tersenyum.
"enggak usah repot repot bu bos" ray sungkan.
"enggak papa. silahkan duduk dulu ya"
"makasih bu bos"
ray pun akhirnya duduk di dalam ruang tamu sambil mengecek ponsel di tangannya.
rangga mencari keberadaan vani yang ternyata sedang berada di dapur itu.
"nah ini dia orangnya" gumam rangga berjalan mendekati vani yang sedang duduk di meja dapur.
"vani kamu lagi ngapain?"
rangga melihat vani yang sedang mengaduk susu di dalam gelas.
"lagi mau minum susu nih mas. ada apa ya?"
vani menatap rangga sambil tersenyum.
"ini pesenan kamu tadi kan, di makan ya"
rangga pun memberikan bungkusan di tangannya.
"ya ampun makasih ya mas kirain mas enggak bakal mau ngantri buat belinya"
vani pun tersenyum senang menerimanya.
"iya mau dong cuma beli ini doang kamu bilang aja kalo mau beli yang lain ya nanti pasti mas beliin kok"
"iya makasih ya mas"
"iya sama sama. ya udah mas mau ke kamar dulu ya"
"iya" vani pun mengangguk.
setelah kepergian rangga, rara pun datang menghampiri vani yang sedang berada di dapur.
"hai tante cantik" sapa rara tersenyum.
"hai rara sayang"
"tante lagi makan apa nih?"
rara melihat ada makanan di atas meja.
"ini rujak sayang rara mau enggak?" tawar vani.
"mau dong tante" rara pun mencoba satu gigitan.
"ya udah makan aja sayang"
"em" wajah rara meringis.
"gimana enak kan?" tanya vani menatap rara.
"hem, asem! enggak enak" huek!!
rara menggelengkan kepalanya sambil membuang makanan di dalam mulutnya itu.
"masa sih? ini enak kok sayang"
"enggak enak tante"
"ya udah kalo rara enggak suka jangan di makan ya sayang"
__ADS_1
"iya tante, kalo gitu rara pengen makan buah di dalam kulkas aja deh yang manis"
vani pun tersenyum melihat tingkah lucu rara yang menggemaskan itu.