
Saat ini vani dan dika merasa sangat nyaman karena sedang berada di dalam pelukan hangat satu sama lain.
"mas, kapan kamu pulang terus gimana ceritanya?"
vani menatap wajah suaminya dari dalam pelukan dika.
"aku kan udah janji sama kamu, kalo aku pasti ada di samping kamu waktu kamu bangun dari tidur kamu"
dika tersenyum sambil menoel gemas hidung istrinya.
"iya tapi aku sedih karena kemaren itu kamu enggak ada di samping aku setiap kali aku buka mata dan bangun dari tidur aku"
"maafin aku ya jadi gini ceritanya sayang"
dika pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya pasca kecelakaan itu kepada istrinya. termasuk tentang keadaan dirinya yang sejak kecelakaan itu mengalami koma selama lebih dari dua bulan lamanya.
dika pun menceritakan bagaimana setelah tersadar dari komanya kondisi dika mulai berangsur membaik setiap hari. ia juga mencoba untuk menghubungi vani namun telponnya malah terputus. hingga akhirnya ia di temukan oleh ray dan rangga yang terus mencari keberadaan dirinya atas permintaan vani.
setelah menemukan keberadaan dika di rumah sakit kota itu keluarganya pun langsung membawa dika kembali pulang ke rumah karena dokter sudah mengizinkan dika untuk pulang namun dengan syarat dika harus tetap melanjutkan pengobatannya di rumah.
karena masih banyak luka di bagian tubuh dika yang belum sembuh total, terutama di bagian kakinya yang mengalami retak tulang akibat benturan keras pada saat kecelakaan. ombak yang deras telah menyeret tubuhnya hingga terombang ambing membentur bebatuan membuat sekujur tubuh dika di penuhi luka dan memar.
cukup lama dika bercerita, vani pun antusias untuk mendengarkan cerita dari sang suami sambil berada di dalam pelukannya.
"jadi bener yang nelpon aku waktu itu kamu mas. aku enggak lagi halusinasi kan" vani mencoba untuk mengingatnya.
"iya sayang itu beneran aku. kamu enggak mimpi kok karena aku yakin kalian pasti bakalan nyari aku sampe ketemu makannya aku enggak nelpon lagi deh" dika pun tersenyum.
"iya tapi waktu itu karena aku bilang kamu masih hidup semua orang nganggep aku udah hampir gila tau. mereka enggak percaya sama aku. mas rangga juga marah karena aku nangis terus" curhat vani dengan wajah manyun.
"oh ya. padahal mereka enggak tau aja kalo istri aku ini beneran tau tentang suaminya iya kan sayang"
"em iya dong"
"maafin bang rangga ya sayang, dia enggak mau liat kamu nangis terus karena dia sayang sama kamu. bang rangga enggak mau kalo kamu sampe sakit karena nangis terus"
"iya mas aku tau kok mas rangga baik banget orangnya. mas ray juga baik pokoknya semua orang sayang banget sama aku"
"iya harus dong sayang"
"oh ya terus siapa orang yang udah nolongin kamu mas. bisa enggak aku ketemu sama dia?" tanya vani penasaran.
"pasti bisa dong sayang. dia juga udah ada di rumah ini sekarang. nanti kamu pasti bakalan ketemu sama dia"
dika tersenyum kembali memeluk vani.
"ya udah kalo gitu aku mau langsung ketemu sama dia ya mas"
vani pun melepaskan pelukannya hendak bangkit namun dika kembali menarik tubuh vani ke dalam pelukannya.
"nanti aja sayang, aku masih kangen. lagian dia enggak bakalan pergi kemana mana kok karena mulai sekarang dia bakal tinggal disini sama kita soalnya dia enggak punya keluarga lagi jadi mama kasian terus minta dia buat tinggal di sini bareng kita deh"
dika terus memeluk vani dan tidak ingin melepaskannya.
"oh gitu ya, mas tolong lepasin aku dong aku ngerasa sesak nafas nih huhh!!"
vani sesak karena dipeluk terlalu erat oleh suaminya.
"hehehe. maaf ya sayang" nyengir dika.
"iya enggak papa kok mas" vani pun tersenyum.
dika pun melepaskan pelukannya karena sudah membuat vani tidak nyaman.
"oh ya ini muka kamu kenapa mas, masih sakit banget ya?"
vani melihat banyak bekas luka di wajah tampan suaminya.
"ini udah baikan kok sayang. em apa sekarang aku udah keliatan jelek ya karena semua bekas luka ini?" dika menatap istrinya.
__ADS_1
"ya enggak dong suamiku, kamu tetap yang paling tampan di hati ku" emuach! vani mengecup lembut pipi suaminya.
"uh, gombalnya istriku ini"
dika menarik gemas hidung kecil istrinya.
"aduh, sakit sayang" ringis vani dengan wajah manyun.
"hehe. maaf ya bidadari ku"
dika kembali memeluk vani karena rasanya ia ingin selalu memeluk istrinya itu.
vani pun tersenyum membalas pelukan dari suaminya, sungguh vani sangat bersyukur suaminya sudah kembali.
"oh iya sayang, kenapa sih kamu nangis terus liat deh badan kamu kelihatan lebih kurus sekarang terus muka kamu juga pucet banget kaya gini"
dika bertanya sambil mengelus pipi pucat istrinya.
'em, apa mas rangga belum ngasih tau tentang kehamilan aku ini ke mas dika ya?' batin vani bertanya.
"sayang kenapa melamun?"
dika melihat istrinya justru diam sambil melamun.
"eh, aku enggak papa kok mas mungkin ini karena bawaan bayi kita" cicit vani dengan suara pelan.
"hem bayi, maksud kamu?" dika bingung menatap istrinya.
vani pun menarik salah satu tangan suaminya agar dika mengelus lembut bagian perutnya.
"apa kamu enggak ngerasain ini mas?" vani tersenyum.
karena merasa bingung dika terus mengusap lembut perut istrinya yang sudah terasa menonjol itu karena saat ini usia kandungan vani sudah berada di bulan keempatnya.
dika juga baru menyadarinya padahal sejak tadi dirinya sudah memeluk tubuh vani saat tidur bahkan ia juga melingkarkan tangannya di perut istrinya itu.
"sayang kamu hamil?" senyum dika mengembang.
vani pun mengangguk dan tersenyum menatap wajah suaminya yang terlihat bahagia mendengar kabar itu.
"Alhamdulillah. itu berarti aku bakalan jadi papa dong"
senyuman dika semakin mengembang menatap istrinya.
"iya selamat ya mas, kamu bakalan jadi papa"
"makasih ya sayang"
dika pun mengecup kening vani dengan penuh rasa syukur lalu kembali memeluk tubuh istrinya.
"iya mas aku juga seneng"
"aku baru sadar loh sayang. padahal dari tadi tuh aku udah meluk kamu tapi enggak merhatiin kalau perut kamu udah sebesar ini. maafin papa ya nak" emuch!
dika mengelus lembut perut istrinya lalu mengecup calon bayinya itu.
"iya enggak papa mas. baby kita juga pasti seneng deh udah bisa di sayang sama papanya sekarang"
"pasti sayang, papa bakalan sayangin kalian terus"
saat ini vani merasa sangat bahagia karena akhirnya ia bisa kembali merasakan pelukan hangat dari suaminya itu. begitu juga dengan calon bayi mereka yang masih berada di dalam kandungan vani akan mendapat kasih sayang penuh dari papanya.
'Alhamdulilah. akhirnya sekarang kebahagiaan ku udah utuh lagi karena kepulangan mas dika. sayang ini papa kamu udah pulang jadi sekarang papa ada disini buat kita' batin vani bersyukur sambil terus mengusap perutnya.
setelah lama berada dalam dekapan hangat suaminya itu vani pun hendak segera beranjak.
"oh ya mas aku mau mandi dulu ya, udah sore nih"
vani melepaskan pelukan dari suaminya lalu berdiri.
__ADS_1
"eh tunggu, kamu enggak mau ngajakin aku sayang?"
dika kembali menarik tangan vani.
"em, emangnya kamu udah sembuh mas? bukannya harus tetap kontrol ke dokter ya?" vani menatap suaminya.
"aku emang belum sembuh sayang soalnya belum diobatin sama kamu"
dika menggoda istrinya lalu memainkan alisnya sambil tersenyum jahil.
"ih, kamu apaan sih mas" plak!
vani reflek memukul dada suaminya pelan namun hal itu membuat dika merasa kesakitan.
"sshh! aw, sakit sayang"
dika memegangi bagian dadanya karena pukulan vani tepat mengenai bekas lukanya yang belum kering dan masih di perban.
"ya ampun mas, sakit banget ya? maafin aku ya enggak tau" vani pun sangat khawatir.
"iya sayang sakit banget obatin dong sakitnya disini"
dika menunjuk bibirnya untuk menggoda istrinya.
"ih! kamu bercanda mulu deh mas"
vani manyun namun tersipu karena ucapan dari suaminya itu dan langsung mengalihkan pandangan wajahnya yang sudah memerah.
"aku serius sayang, ini tuh cuma bisa sembuh kalo kamu yang ngobatin" dika kembali merengkuh pinggang istrinya.
"udah dong mas mendingan sekarang kamu istirahat dulu ya soalnya kondisi kamu masih belum pulih"
vani kembali mendudukkan tubuh dika di tepi rajang.
"sayang" dika merengek
"kamu harus sembuh dulu mas"
vani melangkah pergi menuju kamar mandi dan segera menutup pintunya sambil tersenyum.
malam harinya vani dan dika hendak turun ke lantai dasar untuk ikut makan malam bersama di meja makan.
dika yang melihat vani sedang berdiri di depan cermin itu pun mendekat lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang ia meletakkan dagunya di pundak vani sambil mengusap lembut perut istrinya yang sudah terlihat membuncit itu.
"sayang,,, istri aku cantik banget sih" cup!
"mas kalo nanti perut aku makin gede terus aku jadi gendut dan enggak cantik lagi kamu enggak bakal ninggalin aku kan?" tanya vani
"sayang kamu kok ngomongnya kaya gitu sih, ya enggak mungkin dong kan aku cinta sama kamu itu tulus. lagian kamu selalu keliatan cantik kok dimata aku walaupun nanti perut kamu buncit banget hehe"
dika membalikan tubuh vani agar menghadap ke arahnya lalu memegang kedua sisi wajah istrinya.
"makasih ya mas"
vani tersenyum mendengar jawaban dari suaminya itu.
"lagian ini kan anak aku sayang jadi mana mungkin aku enggak suka liat dia tumbuh di dalam perut istriku sendiri. emangnya kenapa kalo kamu gendut malah makin tambah sexy tau" bisik dika sambil mengusap lembut perut vani dan kembali memeluk istrinya.
"em ya udah, kalo gitu ayo kita makan malam bareng sama yang lain mas" vani menggandeng tangan dika.
"ayo"
mereka pun berjalan dengan perlahan dan hati hati karena kaki dika yang masih belum pulih seutuhnya.
"masih sakit ya mas?"
vani membantu suaminya berjalan. ia tidak tega saat melihat dika yang berjalan dengan tertatih tatih.
"enggak kok sayang"
__ADS_1
dika tersenyum karena tidak ingin istrinya terlalu khawatir dengan keadaannya.