
keesokan harinya vani sudah bersiap untuk segera pulang ke kampung halaman dengan menggunakan taksi online karena yuli tetap harus pergi bekerja.
vani membawa semua barang menggunakan taksi online sedangkan yuli berangkat kerja dengan sepeda motor.
sebelum pergi vani berpamitan kepada semua asisten rumah tangga di sana sekaligus mengucapkan terima kasih karena sudah mau menemani mereka selama berada di rumah itu.
vani yang sedang berada di dalam taksi pun mampir ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya. ia akan menitipkan surat itu kepada satpam di kantor saja sebelum para bos mereka datang.
vani sengaja tidak memberikan surat itu secara langsung karena ia tau dika akan melarangnya untuk pergi.
"permisi pak" vani berjalan mendekat ke arah satpam.
"eh mbak vani, iya ada apa ya mbak?" satpam tersenyum
"em, saya mau nitip ini pak tolong sampaikan kepada pak rangga ya pak"
vani memberikan surat pengunduran dirinya.
"oh iya mbak, baiklah nanti akan saya sampaikan kepada pak rangga ya mbak" satpam pun menerima surat itu.
"terima kasih ya pak kalau begitu saya permisi"
"iya sama sama mbak vani" satpam itu mengangguk.
vani berbalik badan lalu melangkah pergi meninggalkan perusahaan tempat ia selama ini bekerja.
sebelum benar benar pergi vani kembali menatap gedung yang menjulang tinggi itu dengan mata yang berkaca kaca.
vani tak kuasa menahan air mata saat menatap gedung itu ia mengingat semua kenangan indah bersama dika di dalamnya terutama bagian atap gedung tempat dimana pertama kalinya dika mengungkapkan perasaannya.
tak mau berlama lama lagi vani pun segera menghapus air mata di pipinya lalu melangkah masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu di depan gerbang kemudian mobil itu melaju.
setelah kepergian vani tidak lama mobil rangga dan dika pun sampai di parkiran kantor dengan ray yang menjadi supirnya. ketiga pria tampan itu keluar dari dalam mobil dengan gagahnya dan segera melangkah untuk masuk ke dalam gedung kantor.
saat mereka hendak masuk ke dalam gedung salah satu satpam pun menghampiri ketiga bosnya itu dan segera memberikan sebuah amplop titipan vani kepada rangga.
"maaf pak, ada titipan dari mbak vani untuk pak rangga" satpam itu pun menyerahkan sebuah amplop.
"oh ya, apa ini?"
rangga menerima surat pengunduran diri vani. ia langsung membuka dan membacanya tanpa bersuara.
rangga tertegun setelah membaca surat itu membuat dika yang berada di sampingnya merasa penasaran.
tak sabar ingin melihatnya dika pun langsung mengambil surat itu dari tangan rangga lalu membacanya juga.
setelah membaca surat itu dika melihat cincin yang pernah ia berikan kepada vani dulu ikut di kembalikan bersamaan dengan surat pengunduran diri itu.
dika tertegun setelah membacanya, ia tidak menyangka jika vani benar benar akan pergi meninggalkan dirinya.
dika segara mengambil ponselnya di dalam saku hendak menelpon vani dan meminta penjelasan atas kepergiannya itu namun belum sempat dika menelpon ia melihat ada notifikasi pesan yang dikirim oleh kekasihnya itu sejak tadi.
dika langsung membuka pesan dan membaca isi chat yang merupakan sebuah ucapan selamat tinggal dari kekasihnya itu.
isi pesan:
"mas dika maafin aku ya, aku pamit dengan cara kaya gini karena aku enggak sanggup ngomong secara langsung ke kamu tapi aku harap kamu bisa nerima dan menghargai keputusan aku ini. maafin aku karena terlalu egois ingin memiliki kamu seutuhnya padahal seharusnya aku sadar diri. sebentar lagi kamu bakal nikah sama orang lain tapi aku enggak sanggup ngeliatnya jadi aku cuma bisa doain semoga kamu bahagia sama pernikahan kamu ya sayang. lupain aku, mungkin ini emang sulit buat kamu begitu juga buat aku tapi ini yang terbaik buat kita. makasih untuk semua cinta yang kamu kasih selama ini. mungkin takdir kita emang enggak untuk bersama. selamat tinggal sayang aku pamit tolong jangan pernah temuin aku lagi walaupun kamu tau aku ada dimana sekarang"
tulis vani dalam pesannya meminta dika untuk tidak menyusulnya.
rangga dan ray hanya menatap kepergian dika yang berjalan lebih dulu menuju ruangannya.
saat ini dika sedang duduk di kursi meja kerjanya sambil menatap layar ponsel yang terdapat foto vani di dalamnya. ia tersenyum menatap lekat foto kekasihnya yang sedang tersenyum manis di dalam ponsel itu.
dika sengaja menjadikan foto vani sebagai wallpaper di ponselnya karena selalu saja merindukan senyum manis dari kekasihnya itu.
"apa bener ini keputusan kamu sayang? oke aku bakal terima tapi aku enggak bisa janji bakal lupain kamu karena aku sayang banget sama kamu" balas dika.
di dalam taksi, vani meneteskan air matanya saat membaca balasan pesan dari dika.
'maafin aku mas dika, aku juga sayang sama kamu tapi aku enggak bisa liat kamu jadi milik orang lain di depan mataku' batin vani sambil menyandarkan tubuhnya.
setelah frustasi memikirkan tentang pernikahan yang tak di inginkannya itu di tambah kepergian vani dari hidupnya dika beranjak lalu berjalan keluar dari dalam ruangannya.
ceklek!
"ray tolong siapin tiket untuk ke london hari ini"
dika berjalan tanpa melihat kearah ray di meja kerjanya.
"apa ke london bos?"
__ADS_1
"hem"
dika terpaksa menghentikan langkahnya sejenak karena melihat ray hanya duduk diam kebingungan.
"tapi buat apa ke london bos?"
"jangan banyak tanya ray, lakukan saja"
ujar dika malas berdebat lalu kembali melangkahkan kakinya menuju lift hendak turun ke lantai dasar.
"oke, kalo gitu naik jet pribadi aja ya bos akan saya siapkan"
ray terus mengikuti langkah dika masuk ke dalam lift.
"enggak perlu ray, saya akan berangkat naik pesawat biasa saja. saya enggak mau ada yang tau tentang kepergian saya terutama mama"
"tapi kenapa bos?"
"ray kenapa harus bertanya lagi"
"baik bos, mari akan saya antar ke bandara"
ray dan dika berjalan menuju parkiran setelah mereka keluar dari dalam lift.
"iya ayo" dika mengangguk setuju.
di dalam mobil saat dalam perjalanan ray kembali bertanya kepada dika.
"apa pak rangga juga tidak boleh tau bos?"
ray menatap pantulan wajah dika dari kaca depan.
"terserah! karena dia pasti tau meskipun lo enggak bilang" dika pun bersandar.
"oke, apa saya akan ikut?"
"enggak, lo di sini aja sama bang rangga dia bakal lebih butuh elo disini"
"tapi gimana sama pernikahan bos?"
"gue enggak mau nikah ray"
"kenapa, apa lo enggak ada niat buat nikah gitu?"
ray hanya diam karena melihat wajah murung dika.
setelah sampai di bandara dika akhirnya pergi ke london untuk menghindari pernikahannya sekaligus ingin berusaha melupakan vani yang pergi dari hidupnya.
*
beberapa hari telah berlalu, malam ini di kediaman mewah keluarga wijaya terlihat hening dan damai.
rahardian wijaya sudah berada di rumah sejak beberapa hari yang lalu namun ia bahkan belum bertemu dengan putra bungsunya itu.
papanya berpikir jika dika sedang sibuk dan tidak pulang ke rumah karena pekerjaannya.
saat ini keluarga wijaya sedang berkumpul di dalam ruang keluarga setelah selesai makan malam bersama.
"rangga, apa pekerjaan adik mu sangat sibuk sampai dia tidak sempat untuk pulang ke rumah beberapa hari ini?" tanya papa hardi kepada putra sulungnya itu.
"sebenarnya dika enggak sibuk kerja pa tapi dika enggak pulang karena mama minta dia buat nikah sama karin"
rangga melirik ke arah mamanya lalu kembali menatap papanya.
papa hardi pun terdiam lalu menatap istrinya yang hanya diam menunduk sejak tadi.
"apa itu benar ma?" tanya papa hardi kepada istrinya.
"bukannya dika memang harus nikah biar kita bisa ke london bareng pa, mama enggak mau kalo kita ninggalin dika sendirian disini" jawab mama ratih dengan lembut.
"terus?" tanya papa hardi meminta penjelasan yang lebih.
"dika enggak cinta sama karin pa jadi dia sengaja pergi buat menghindari pernikahan ini" ucap rangga ragu.
"bukannya sebelum itu dia udah nerima dan setuju atas rencana pernikahan ini?"
"iya itu sebelum karin pergi tanpa kabar dan sebelum dika mengenal vani pa"
rangga melirik istrinya karena mereka tau kalau dika mencintai vani.
"siapa dia?" papa hardi bertanya tentang vani.
__ADS_1
"vani, sekretaris rangga yang menggantikan posisi karin saat dia cuti beberapa bulan pa"
"hh!! anak itu kenapa selalu jatuh cinta sama gadis yang jadi sekretaris kamu rangga"
rangga pun hanya terdiam, karena tidak punya jawaban atas pertanyaan itu.
"telpon adikmu sekarang, papa ingin bicara"
"baik pa"
rangga segera menelpon dika atas permintaan papanya karena papa hardi tau, hanya telpon dari rangga lah yang akan dika jawab di saat keadaan seperti ini.
rangga mengambil ponsel lalu menghubungi adiknya.
setelah telpon di jawab oleh dika rangga pun menyerahkan ponselnya kepada papanya.
Dika: halo bang, ada apa?
papa: halo dika, ini papa.
Dika : iya pa, ada apa?
papa: kenapa kamu pergi, dimana kamu sekarang?
Dika: dika lagi di london pa, dika yang bakal bantuin kerjaan papa disini sekarang. biarin bang rangga aja yang ngurus perusahaan disana.
papa: terus gimana sama pernikahan kamu?
Dika: batalin aja.
Papa: kamu yakin?
Dika: iya pa
Papa: oke, papa sama mama juga bakal pulang ke sana.
Dika: iya pa.
tut!! papa hardi pun mematikan sambungan telponnya.
"kenapa anak ini selalu saja membuat kita bingung" papa hardi menggelengkan kepala.
"pa, maafin mama ya kayanya ini kesalahan mama yang udah maksain kehendak ke dika. mama udah buat keluarga kita malu pa" mama ratih menunduk sedih.
"udahlah ma, ini bukan kesalahan mama kok mungkin ini udah jadi keputusan dika. jadi kita hargai aja keinginannya karena gimana pun dika enggak akan bahagia kalo dia terpaksa nikah sama gadis yang bukan pilihannya ma. biarin dika yang akan memilih pasangan hidupnya sendiri ya" ucap papa kepada istrinya.
"iya pa"
"udah mama jangan nangis ya"
ranty tidak tega melihat ibu mertuanya merasa bersalah.
"rangga kamu udah dengar keputusan dika kan, dia yang bakal bantuin papa disana jadi kamu tetap disini. papa sama mama akan pulang ke london juga jadi sampaikan permintaan maaf kita sama karin atas pembatalan rencana pernikahan" perintah papa hardi kepada rangga.
"baik pa" jawab rangga mengangguk.
"tapi gimana kalau karin enggak bisa terima pa?" tanya ranty kepada papa mertuanya itu.
"karin pasti menerimanya sayang"
papa hardi tersenyum kepada menantu yang sudah seperti putri sendiri bagi mereka.
papa hardi dan mama ratih sangat menyayangi ranty seperti anak sendiri karena mereka tidak memiliki seorang putri maka menantu merekalah yang menjadi putri di dalam keluarga itu.
"baik pa, rangga akan selesaikan semuanya"
"bagus"
selama ini papa hardi dan mama ratih selalu menyetujui setiap keputusan dari kedua putra mereka terutama putra bungsunya itu.
"tapi kenapa dika harus pergi ya pa, kenapa dia enggak minta kita buat ngelamar vani aja?" tanya mama ratih bingung dengan keputusan putranya.
papa hardi pun terdiam memikirkannya karena ia juga bingung atas pertanyaan istrinya itu.
"kayanya vani nolak buat nikah sama dika deh ma"
ucap rangga sedikit ragu karena ia hanya menyimpulkan pendapatnya saja.
"loh kenapa vani nolak, apa vani enggak cinta sama dika?" mama ratih semakin bingung.
"udahlah ma biarin aja anak kita ngurus urusan hati mereka masing masing" ucap papa hardi akhirnya.
__ADS_1
"papa bener, perasaan mereka biar jadi urusan mereka aja" mama ratih pun akhirnya terdiam.