Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 200


__ADS_3

setelah vani memejamkan matanya dan tertidur pulas raffa pun datang.


"papa,,,," raffa masuk ke dalam kamar kedua orangtuanya.


"iya sayang?" dika menatap putranya.


"mama udah bobok ya pa?" raffa menatap mamanya yang sedang tidur.


"iya nih sayang biarin mama istirahat dulu ya" dika mengusap rambut anaknya.


"iya pa, oh ya pa afa lapar nih mau makan" raffa memeluk dika.


"ya udah ayo kita makan" dika menggendong putranya.


"tapi afa pengennya di masakin sama papa ya"


"oke bos" dika tersenyum pada bos kecilnya itu.


ayah dan anak itu berjalan menuju dapur hendak memasak makanan keinginan raffa.


sesampainya di dapur dika mendudukkan raffa di atas kursi yang ada disana.


"sayang afa duduk di sini dulu ya biar papa masakin makanan buat afa"


"oke pa, masak yang enak ya pa" raffa mengacungkan jempolnya.


"oke deh tapi afa pengen makan apa sayang?"


"em, afa mau nasi goreng pa"


"siap bos, tunggu sebentar ya"


dika mulai memasak sambil bercerita dengan putranya itu.


asisten yang melihat kedekatan di antara ayah dan anak itu pun tersenyum.


setelah beberapa saat menunggu raffa tersenyum melihat piring di hadapannya.


akhirnya nasi goreng permintaannya itu selesai di masak.


"sayang sekarang udah masak nih nasi gorengnya" dika meletakkan piring satunya di hadapan raffa.


"yeii, makasih ya pa" emuach!


"iya sayang, ayo kita makan sama sama tapi sebelum makan jangan lupa baca...?"


"doa" raffa pintar lalu membaca doanya sebelum makan.


anak dan ayah itu akhirnya makan berdua saja di meja makan.


satu minggu berlalu, kini kondisi vani dan kandungannya sudah lebih membaik.


hari ini hana akan pulang ke kampung halamannya seperti yang sudah mereka sepakati sebelumnya yaitu hana akan menemani persiapan persalinan yuli di kampung halaman.


jika sebelumnya vani sudah setuju agar hana saja yang pulang lebih dulu untuk menemani yuli namun hari ini ia kembali berubah pikiran, vani merasa tubuhnya sudah sehat dan ia ingin ikut pulang bersama hana.


"mas, aku ikut hana pulang sekarang ya"


vani merengek seperti anak kecil namun dika melarangnya karena dokter juga masih belum mengizinkan vani untuk berpergian.


"sayang, kamu jangan bandel deh dokter bilang kamu harus istirahat total selama dua minggu, ini masih satu minggu jadi kamu enggak boleh ikut" tegas dika pada vani.


"tapi mas, aku udah sehat sama calon bayi kita juga aku janji enggak bakal ngelakuin hal yang buat aku capek" vani bersi keras ingin pulang bersama hana.


"kak bener yang bang dika bilang, kakak masih harus istirahat"


hana juga melarang karena mengkhawatirkan keadaan kakaknya yang ingin ikut pulang sekarang.


"ck! udahlah" vani kesal lalu pergi dan masuk ke dalam kamarnya.


"sayang kamu ngerti dong" dika mengikuti istrinya yang sedang ngambek itu masuk ke dalam kamar.


"mas, aku mohon izinin aku ikut ya lagian kita udah lama enggak pulang kampung, mungkin kalo disana aku bakal lebih cepat sembuh" vani memelas di hadapan suaminya agar dika mengizinkannya ikut.


"sayang kamu tau kan aku paling enggak bisa liat kamu sedih jangan gini dong aku ngerasa serba salah jadinya. aku enggak mau kamu sedih tapi aku juga enggak mau kalo sampai terjadi sesuatu sama kamu dan calon bayi kita" udika memegang kedua pundak istrinya.


"aku baik baik aja mas" vani bersi keras.


"keras kepala banget sih kamu terserah kamu deh sayang kamu boleh pergi tapi kamu harus janji kalo sampe terjadi sesuatu sama anak kita nanti kamu jangan nangis kaya kemaren ya...!!" ucap dika kesal.

__ADS_1


"ish!!! kamu pengen banget sampe terjadi sesuatu sama aku dan anak kita ya mas. jelek banget deh doanya" vani memanyunkan bibirnya dengan kesal.


"bukan gitu sayang tapi emang bener kan kamu yang nangis nangis waktu itu aku pikir kamu bakal ngutamain kesehatan anak kita sekarang tapi nyatanya enggak"


"iya bukan gitu juga mas maksudnya"


"lagian aku enggak bisa libur buat nemenin kamu disana karena ray lagi cuti panjang sayang" dika mengutarakan kekhawatiran dirinya yang sebenarnya.


"ya udah aku aja yang pergi kamu kerja di sini"


dika kembali menatap istrinya.


"tapi aku enggak mau di sini sendirian plis jangan pergi ya"


"ya udah deh kalo kamu enggak izinin mas aku enggak bakal pergi" vani akhirnya berbaring di atas ranjang.


"sayang kamu ngambek ya?" dika kembali membujuk istrinya yang manja itu.


kehamilan vani kali ini memang berbeda dari kehamilan pertamanya karena sekarang vani jauh lebih manja dan cengeng dari pada sebelumnya.


jika dulu vani memilih untuk menyembunyikan setiap kesedihannya di hadapan dika maka kali ini ia lebih mencurahkan segala keluh kesahnya sehingga vani terkesan lebih cerewet dari pada sebelumnya.


"enggak kok mas aku emang udah berubah pikiran aja"


vani menatap ponselnya sambil berbaring.


"serius?" dika merasa bingung.


"hem" vani mengangguk.


"kamu dulu pendiam banget sayang tapi sekarang makin cerewet terus kayanya kamu juga gampang banget berubah pikiran"


dika iseng bertanya sambil duduk di tepi ranjangnya.


"iya nih kayanya ini semua karena kamu deh, makanya kamu jangan macam macam ya takutnya nanti aku bakal berubah pikiran juga buat jadi istri kamu"


"jangan dong sayang aku kan belum pengen ganti istri"


"ih mas dika! jadi kamu mau ganti istri kaya ganti ban bocor gitu"


"galak banget sih, ya enggak dong sayang kan istri aku enggak pernah bocor"


dika memeluk istrinya lalu mereka saling bertatapan aneh karena ucapan dika.


"hehe sayang kangen nih" dika merangkul pundak vani sambil mengelus elus perut istrinya.


"kangen apa sih mas, kan kita tiap hari ketemu juga" vani cuek dan terus memandang ponselnya.


"papa, kangen pengen jengukin calon bayi kita sayang"


"enggak boleh! papa enggak boleh jengukin baby sampai usianya enam belas minggu kata dokter"


"hah! enam belas minggu? masa sih, itukan masih lama banget sayang"


dika memelas sambil berbaring merebahkan tubuhnya.


"enggak lama kok mas, sekarang kan udah tiga belas minggu berarti tinggal tiga atau empat minggu aja"


"empat minggu itu lama sayang sama dengan satu bulan masa aku harus nahan sampe selama itu sih?"


"iya terus kamu maunya apa, kamu mau kita lakuin itu sekarang terus aku pingsan atau pendarahan lagi gitu?"


"iya enggak dong sayang"


"ya udah makanya tahan aja"


"em gimana kalo kita pake cara lain aja sayang?"


dika memainkan alisnya naik turun sambil tersenyum mencurigakan mengatakan keinginan absrudnya.


"em males! enaknya di kamu doang mas" vani menolak.


"ya enggak dong sayang, entar aku juga bakal buat kamu enak pokoknya kita enak enakkan bareng deh"


"hem???"


vani mulai menimbang ucapan suaminya karena sedang menawarkan kenikmatan yang juga sudah ia rindukan.


"boleh sih kita lakuin pelan pelan aja tapi kalo sampe ketahuan dokter gimana?" dengan polosnya vani membuat dika menepuk jidatnya.

__ADS_1


"ck! sayang dokter kan enggak mungkin tau kalo kamu enggak bilang. emangnya dokter ngintip apa?" dika memutar bola matanya.


"ya kalo aku pendarahan lagi karena kamu pasti dokter bakal tau, aku kan jadi malu mas" vani menutup wajahnya.


"iya udah sayang entar kita cari gimana enaknya aja gimana mau enggak?" dika menggoda sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"hem, boleh juga sih tapi bukannya malam ini affa bakal bobok di kamar kita ya mas"


"iya kita tunggu sampe affa bobok aja sayang" dika pantang menyerah untuk meyakinkan istrinya.


"oke deh" vani mengacungkan jempolnya.


"em, gimana kalo sekarang pemanasan dulu sayang?"


"no! aku mau bantuin hana ngemas barang dulu mas sekalian juga mau nitip sesuatu ke hana buat yuli" dahh


vani beralasan agar bisa kabur, ia mendorong tubuh dika lalu beranjak dari tidurnya dan langsung berjalan keluar dari dalam kamar.


"hhh! alasan" dika berbaring di atas ranjang.


di dalam kamarnya raffa masih terus bertanya kepada bibinya apakah dirinya boleh ikut atau tidak.


"bibi, beneran affa enggak boleh ikut ya?" tanya raffa dengan wajah sedihnya.


"sayang affa enggak usah ikut ya, nanti kasian mama kesepian di rumah enggak ada temennya. bibi cuma sebentar aja kok enggak lama bibi pasti pulang"


hana membujuk raffa yang mempunyai tingkah sama seperti mamanya karena ingin ikut pergi bersamanya.


"berapa lama bibi disana?"


"em dua minggu sayang"


"itu lama banget bik"


"enggak lama kok sayang nanti kalo mama udah sembuh affa bisa nyusul bibi kesana"


"beneran bik?"


"iya sayang sekarang mama kan masih sakit jadi affa harus jagain mama sama calon adek bayi di rumah. oke!!!"


"oke bik affa pasti jagain mama sama adek di rumah"


"affa pinter banget" hana tersenyum sambil mengusap rambut keponakannya itu.


"affa memang harus jagain mama sama adek di rumah soalnya mama affa tuh bandel banget sayang jadi affa harus pastiin kalo mama sama adek bayi istirahat yang banyak ya"


dika baru saja masuk bersama dengan vani ke dalam kamar putra mereka.


"oke pa"


"hana udah siap belum?" tanya vani


"udah nih kak"


"ya udah ayo"


"iya kak"


vani dan dika berjalan mengantar hana sampai di halaman rumah.


"hana kamu hati hati ya di jalan nanti supir bakal di anterin sampe disana, kakak titip salam ya buat semuanya"


"iya kak pasti aku sampein kakak juga jaga kesehatan di rumah ya, enggak boleh kecapekan dulu sebelum dokter ngizinin"


"iya iya"


"bang dika aku pergi dulu ya tolong jagain kak vani sama dua keponakan aku yang comel ini" hana mengelus rambut raffa dan perut vani juga.


"iya hana nanti kalo kakak kamu udah sehat kami bakal dateng kesana juga"


"iya udah kalo gitu aku pamit ya kak vani, dah affa bibi pergi dulu ya sayang. affa harus makan yang banyak biar tetap sehat jadi nanti bisa nyusul bibi ke sana" emuach..."


"iya bibik hati hati ya, jangan lupa telpon affa kalo udah sampe disana"


"oke dah sayang...!!" hana melambaikan tangannya setelah masuk kedalam mobil.


" dahhh bibikk!!!!" raffa dan vani juga melambaikan tangan.


"ayo sayang kita masuk"

__ADS_1


"iya mas


mereka kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil hana pergi.


__ADS_2