
keesokan harinya yuli pergi mengunjungi rumah vani seperti biasanya mengajak baby arka jalan jalan untuk bertemu dengan kedua putra kakaknya agar mereka bisa bermain bersama.
yuli yang sedang duduk di dalam ruang keluarga rumah itu pun kembali teringat dengan pertemuan dirinya bersama naya kemarin di dalam mall.
vani yang melihat adiknya itu hanya diam saja sejak tadi pun mendekat lalu bertanya.
"yuli kamu kenapa kok dari tadi ngelamun aja sih?" vani duduk di samping adiknya.
"em, enggak papa kok kak tapi aku lagi kepikiran aja sama naya" curhat yuli kepada kakaknya itu.
"naya? ngapain juga kamu mikirin naya" vani bingung.
"iya kemaren aku liat dia lagi belanja perlengkapan bayi" yuli menatap tv di hadapannya.
"em, tadi kamu bilang naya belanja perlengkapan bayi?" vani memastikan pendengarannya.
"iya, emang kenapa?"
"maksud kamu naya lagi hamil?" vani menatap yuli.
"iya kayanya juga udah mau lahiran" yuli menjawab cuek.
"udah mau lahiran? ngaco kamu deh" vani tidak percaya.
"kok ngaco sih kak aku serius tau, kemaren aku tuh liat perut naya udah gede kayanya udah tujuh atau delapan bulan gitu sih" yuli merasa yakin.
"iya enggak mungkinlah yuli, mas dika bilang naya itu baru aja resain dari kantor beberapa bulan yang lalu dan waktu itu dia batal nikah kan?" vani mengingatnya.
"iya tapi aku enggak bohong kak vani, masa aku bohong sih sama kamu" yuli merasa yakin jika ia tidak salah liat.
"tapi naya enggak pernah tuh ngasih kabar tentang pernikahannya"
"iya mungkin dia enggak adain resepsi pernikahannya kali"
"masa sih? emang jaman sekarang masih ada pernikahan sederhana tanpa resepsi. apalagi naya kan cewek yang cantik dan pinter enggak mungkinlah dia dapat cowok yang enggak modal" vani menatap adiknya.
"em, iya enggak mungkin sih karena kemaren aku liat dia tuh cantik dan elegan. maksudnya semua yang dia pake itu barang barang mewah jadi enggak mungkin suaminya kere iya kan?" yuli yang memperhatikan segalanya.
"iya iya lah" vani mengangguk.
"atau jangan jangan selama ini dia jadi simpanan om om berduit lagi. secara kan dia juga enggak pernah umumin pernikahannya gitu kak" yuli mengutarakan pendapatnya.
"apa sih yul, kamu jangan fitnah deh" vani menepis pendapat adiknya.
"kamu bayangin deh masa tiba tiba dia resain dari kantor terus sekarang hamil besar tanpa ada kabar pernikahan, padahal waktu itu kamu bilang kabar ibunya meninggal juga sampe di kantor kan masa kabar pernikahannya enggak sampe sih, di tambah lagi dia juga kayanya hidup enak dan mewah dari mana coba" yuli meyakinkan vani.
"iya sih tapi ya udah lah kamu jangan su'udzon gitu sama orang lain mungkin aja dia ada alasan lain kan. coba nanti aku tanya sama mas dika deh. naya itu udah nikah atau belum".
"oke, bener bener mencurigakan" yuli memegang dagunya.
"yul please deh" vani memutar bola matanya.
"hehe" yuli nyengir kuda.
"aneh" vani menggelengkan kepalanya.
"oh ya, affa dimana kak?" yuli tidak melihat keponakannya.
"affa lagi sekolah" jawab vani.
"oh, raja dimana?"
"raja lagi bobok" vani menjawab dengan sabar.
"hana dimana?" tanya yuli sambil tersenyum.
"hhh! hana lagi di butik" vani menarik nafasnya panjang.
"oohhh" yuli membulatkan mulutnya.
"kamu enggak nanya juga mas dika ada dimana?" vani menatap yuli malas.
"hehe, emangnya bang dika dimana kak?" hehe yuli tersenyum lebar.
"ish! kamu enggak sekalian aja nanya aku ada dimana yul" kesal vani kepada adiknya itu.
"ppfftt...!!! jangan marah" yuli menahan tawa menggoda kakaknya.
malam harinya saat vani hendak tidur ia kembali teringat dengan cerita adiknya tentang naya yang membuat dirinya merasa penasaran lalu bertanya kepada suaminya mengenai hal itu.
"mas"
panggil vani saat dika sedang sibuk berkutat dengan laptop serta beberapa berkas di tangannya.
__ADS_1
"ya sayang, ada apa hem?"
dika tanpa menoleh ke arah vani pun tetap fokus pada pekerjaannya.
"aku pengen nanya sesuatu, boleh?"
vani duduk di samping suaminya sambil menemani dika.
saat ini mereka sedang duduk bersandar di atas ranjang dengan laptop di pangkuan dika.
"boleh dong, emangnya kamu mau nanya apa sayang?" dika masih tidak menoleh.
"em, tadi tuh yuli cerita katanya kemaren dia ketemu sama naya di mall gitu lagi belanja perlengkapan baby"
ucapan vani membuat dika langsung menghentikan kesibukannya.
dika yang mendengar pertanyaan dari istrinya itu langsung terdiam lalu mengalihkan pandangannya menatap vani.
"hem perlengkapan baby?" dika bingung karena seingatnya naya sudah mengalami keguguran sebelumnya.
"iya" vani mengangguk.
"iya terus emangnya kenapa sayang?"
dika kembali menatap layar di hadapannya dengan santai selain pintar bisnis sepertinya dika juga pintar berakting.
"iya masa kamu enggak tau sih mas"
vani yang sepertinya tau jika suaminya hanya berusaha berkelit.
"em, iya emang enggak tau sayang"
dika mencoba cuek lalu tetap melanjutkan pekerjaannya. ia berusaha menghindar dari pertanyaan istrinya itu.
"emangnya kapan sih mas naya nikah? kok enggak ada kabarnya sih" vani penasaran.
"sayang, ngapain juga dia harus ngabarin kamu"
"iya aku kan temennya naya juga mas kita pernah jadi temen waktu kerja di kantor dulu" vani tidak terima karena tidak di anggap teman oleh naya.
"ya mungkin aja dia lupa ngundang kamu, lagian ngapain sih kamu kepo banget sama kehidupan orang lain aku ingetin ya sayang kamu enggak usah terlalu penasaran apalagi soal hidup orang lain karena itu enggak baik"
"iya tapi kamu juga terlalu penasaran sama kehidupan orang lain mas. buktinya kamu masih sering tuh stalking stalking kehidupan arin"
vani kesal mengingat isi ponsel suaminya beberapa hari yang lalu.
"iya kan kamu sering banget telponan sama dokter radit" vani memanyunkan bibirnya.
"terus maksud kamu aku nanyain tentang keadaan istrinya langsung ke dokter radit suaminya sendiri gitu?"
dika merasa tak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya itu.
"ya bukan gitu mas, tapi..."
vani menghentikan ucapannya karena melihat dika yang menatapnya dengan serius.
"jangan berpikir yang enggak enggak tentang aku sayang, lebih baik kamu tidur sekarang atau...."
ucapan dika menggantung dengan wajah menyeringai.
"atau...?" vani menatap dengan mata bulat.
"atau aku yang bakal nidurin kamu"
bisik dika di telinga vani lalu mengecup daun telinga istrinya itu membuat vani merinding.
"ish! mas dika mesum deh"
"ck! tapi kamu suka kan?"
"ih! males ah aku capek" vani merebahkan tubuhnya.
"ayolah sayang, kamu yang duluan kan gangguin aku. kamu harus tanggung jawab nih" dika menutup laptopnya.
di atas ranjang empuknya saat ini ray sedang bermesraan dengan istrinya. mereka saling menikmati kehangatan di tengah dinginnya gerimis malam hari.
dengan keringat yang sudah membasahi tubuh keduanya ray masih bersemangat memacu gerakan pinggul di atas tubuh istrinya.
"aakkhh!!" hingga lenguhan panjang mengakhiri permainan indah mereka.
setelah selesai dengan olahraga malam bersama istrinya ray pun kembali memejamkan matanya hendak segera beristirahat.
iya, ray memang harus banyak beristirahat karena dirinya harus mengurus dua perusahaan besar sekaligus serta dua istri dan dua anaknya juga. bukan hanya mengurus pekerjaannya di kantor yang dua kali lipat namun peran ray sebagai suami dan ayah juga berkali kali lipat.
__ADS_1
beruntung belakangan ini baby arka tidak rewel di malam hari sehingga ray bisa beristirahat dengan baik. meskipun naya bukan prioritas utama dalam hidupnya namun ray juga harus membagi waktu semampu yang ia bisa untuk memperhatikan kondisi kehamilan naya.
drtt! drtt! drtt!
terlihat ponsel ray bergetar di atas nakas tanda ada telpon masuk saat ray sudah tertidur.
yuli yang melihat panggilan di ponsel suaminya itu merasa penasaran lalu menjawab telponnya.
"iya halo. ini siapa ya?" tanya yuli setelah menekan tombol hijau di layar ponsel.
"halo! halo!" tut!! telpon pun langsung mati.
"ish! siapa sih iseng banget nelpon tapi enggak ada suaranya" yuli merasa kesal.
mendengar omelan istrinya membuat ray terbangun dari tidurnya.
"emh, sayang kamu kenapa kok marah marah sih?" ray duduk bersandar di ranjang.
"enggak papa mas, ini tuh tadi ada telpon tapi enggak ada suaranya. orang iseng kali"
yuli menatap handphone dalam genggamannya.
"eh! itu kaya handphone aku deh?"
ray langsung mengambil ponselnya dari dalam genggaman yuli.
"iya emang hp kamu, tadi kamu udah tidur makanya aku deh yang jawab telpon tapi enggak ada suara apapun mas. ya udah ya, aku ngantuk banget nih "
yuli pun kembali merebahkan tubuhnya lalu menarik selimutnya.
"iya sayang, kita tidur aja mungkin cuma orang iseng" ray kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.
"em" yuli memeluk tubuh suaminya lalu memejamkan matanya.
setelah yuli benar benar tertidur ray pun kembali membuka matanya. dengan perlahan ia melepaskan pelukan istrinya lalu beranjak dari atas ranjang.
setelah selesai memakai piyama ray keluar dari dari dalam kamar menuju ruang kerjanya.
ceklek!
ray berjalan masuk dan mengambil sebuah ponsel yang ada di dalam laci meja kerjanya lalu mengaktifkan ponsel itu. ia duduk di atas kursi sambil menatap layar ponsel yang sudah aktif.
ray langsung mencari kontak bertuliskan my wife di dalam ponsel itu lalu menghubunginya.
beberapa saat kemudian telpon itu pun terhubung dan telah di jawab oleh naya.
"iya halo pak ray" ucap naya dari seberang sana.
"halo naya, em apa tadi kamu nelpon saya?" tanya ray.
"em, enggak kok pak. saya udah tidur, emangnya kenapa?"
"hhh! bagus deh, saya pikir kamu nelpon ke nomor yang lain" ray menghembuskan nafasnya.
"em, nomor yang lain maksud bapak nomor handphone yang dulu. bukannya udah rusak ya?" tanya naya bingung.
"eh maksud saya iya udah deh kamu tidur aja lagi. saya juga mau tidur nih selamat malam naya" ujar ray sebelum memutuskan telponnya.
"hem" naya pun mematikan sambungan telponnya.
"ck! pak ray ganggu aja deh" gumam naya sambil memejamkan matanya kembali.
"huh!! kenapa gue jadi parno kaya gini sih?" ray menatap ponselnya yang mirip.
"apa karena dua handphone gue ini sama ya, gue pikir salah bawa handphone" ucap ray lalu mengembalikan ponselnya di dalam laci.
ray kembali berjalan masuk ke dalam kamar lalu melanjutkan tidurnya.
di dalam kamarnya dika dan vani masih asik bergoyang di atas ranjang.
"aakkhh!" lenguhan vani sedikit berteriak.
"ssttt!!! jangan terlalu keras sayang nanti raja bisa bangun denger suara seksi kamu" bisik dika di telinga istrinya.
"emh! kamu sih yang buat aku teriak mas sshh!!!"
dengan lembut dika kembali melahap bibir mungil istrinya yang bawel agar mengurangi suara berisik karena dika takut suara istrinya akan menggangu tidur nyenyak bayi mereka.
"ini emang enak sayang tapi kamu tahan dikit dong suara seksi kamu itu" bisik dika.
"em"
vani hanya mengangguk setuju lalu menggigit bibir bagian bawahnya agar lenguhannya tertahan.
__ADS_1
"emh" nafas vani tertahan saat suaminya menghujamkan kenikmatan di tubuhnya.
setelah selesai melakukan olahraga malam yang indah itu mereka pun tertidur pulas sambil berpelukan.