
jam makan siang tiba, saat ini rangga dan ray sudah berangkat sejak dua jam lalu. tinggallah vani dan dika yang berada di lantai itu.
ceklek!!! pintu terbuka.
tampak dika keluar dari dalam ruangannya hendak makan siang seperti biasa.
namun disaat yang bersamaan ia melihat vani juga beranjak dari tempat duduknya mungkin hendak makan siang di kantin bersama kedua sahabatnya.
dika berjalan mendekat lalu bertanya pada sekretarisnya itu.
"vani, kamu mau kemana?" tanya dika.
"em, saya mau ke kantin pak, makan siang" vani menoleh menjawab.
"oh gitu, em gimana kalo kamu ikut saya aja. kita makan siang bareng" ajak dika.
"hem"
vani terdiam mencerna ucapan dika yang mengajaknya untuk makan siang bersama.
padahal rencananya hari ini vani akan makan siang bersama dengan jay dan rachel di kantin kantor seperti biasanya.
vani bingung harus menjawab apa, pasalnya selama bekerja disana ia belum pernah makan siang bersama dika.
biasanya hanya bersama rangga ketika mereka bertemu klien di jam makan siang.
"em, kamu enggak mau ya?"
dika merasa sedikit kecewa karena melihat vani yang hanya diam saja tidak menjawab ajakan darinya itu. berarti ia akan makan siang sendirian hari ini jika vani menolak.
karena vani hanya diam mematung dika pun kembali bertanya.
"vani, kamu mau atau enggak?"
dika sampai harus menggoyang lengan gadis itu agar tersadar.
"enggak pak"
"hem?"
"eh, maksudnya iya saya mau kok pak"
vani yang bingung pun akhirnya mengangguk.
"ya sudah kalo gitu, ayo"
dika tersenyum lalu menggandeng tangan vani sambil berjalan.
"eh" vani yang tangannya di pegang oleh dika pun kaget dengan reflek ia langsung menarik tangannya dari dalam genggaman bosnya itu.
"ah! maaf ya, saya enggak sengaja"
dika merasa bersalah karena sudah lancang memegang tangan vani.
"hem, enggak papa pak" vani merasa canggung.
"ya udah, ayo"
dika pun berjalan lebih dulu menuju lift hendak turun ke lantai dasar dengan vani mengikuti di belakang tubuhnya.
sesampainya di lantai dasar, dika langsung berjalan dengan langkah cepat menuju pintu keluar utama gedung.
melihat hal itu vani pun mempercepat langkah untuk mengejar dika yang sudah berjalan di depannya.
"pak dika, kita mau pergi kemana?"
vani kesulitan berjalan mengimbangi langkah kaki dika yang panjang itu.
"iya mau makan siang dong, emangnya mau kemana lagi"
dika terus berjalan sambil menggenggam ponsel di tangannya.
"iya tapi kita mau makan dimana pak, bukannya di kantin ya?"
"di restoran dekat sini saja"
dika terus berjalan tidak mau berhenti padahal ia tahu vani sedang kesulitan menyeimbangi langkah kakinya.
"kenapa kita enggak makan di kantin aja pak?"
vani juga terus melangkah di samping dika sambil berlari kecil.
"saya tidak pernah makan di kantin"
dika mulai jengah dengan pertanyaan dari sekretarisnya itu
"kenapa enggak pernah pak?"
vani masih terus bertanya seperti anak kecil yang sedang penasaran.
"huh!"
akhirnya dika mengabaikan pertanyaan dari sekretarisnya yang menyebalkan itu dan terus berjalan ke arah parkiran.
karena tidak mendapat jawaban dari bosnya itu vani pun kembali mengikuti langkah cepat dika menuju mobil.
ceklek!
dika langsung masuk ke dalam mobil bagian depan di ikuti oleh vani yang juga masuk ke bagian jok belakang karena merasa sungkan kepada bosnya.
brakk!!
kedua daun pintu mobil itu pun tertutup secara bersamaan saat keduanya masuk.
setelah duduk, dika menatap kaca depan yang terdapat pantulan wajah vani di dalamnya.
"kamu pikir saya ini supir kamu?"
__ADS_1
dika menatap vani yang duduk di jok belakang.
"ehh, maaf pak"
vani bingung dengan tindakannya sendiri lalu segera keluar dari dalam mobil dan pindah ke bagian depan agar duduk di samping dika yang akan menyetir.
setelah vani duduk di sampingnya dika pun langsung melajukan mobil menuju restoran dekat kantor.
sekitar sepuluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai di parkiran sebuah restoran.
"ayo turun" dika menoleh ke samping.
"iya pak" vani pun mengangguk.
setelah keluar dari dalam mobil dika langsung melangkahkan kaki hendak masuk ke dalam restoran tanpa menunggu vani terlebih dahulu.
gadis itu kembali berjalan kesulitan mengikuti langkah cepat dika dari belakang punggungnya.
saat menyadari vani tertinggal di belakang, dika pun menghentikan langkahnya secara tiba tiba.
brrukkk!!!
"shh! aw"
vani meringis sambil memegang kening karena ia telah menabrak tubuh dika yang tiba tiba saja berhenti di depannya.
"bisa enggak sih, kamu jalannya jangan di belakang terus"
omel dika menoleh ke belakang karena vani menabrak punggungnya.
"em, maaf pak. tapi bapak yang jalannya kecepetan" cicit vani sambil menunduk.
sejak tadi vani memang merasa kesulitan untuk mengimbangi langkah kaki dika.
"huh! dasar lambat"
dika menghembuskan nafas beratnya namun kemudian ia mulai memperlambat langkah kakinya agar vani bisa berjalan di sampingnya.
setelah drama jalan beriringan itu usai akhirnya mereka masuk dan duduk saling berhadapan di salah satu meja.
"kamu mau pesen apa?"
tanya dika menatap vani sambil memegang sebuah daftar menu di tangannya.
"em, apa aja deh pak" vani merasa canggung.
"oh, jadi kamu mau makan semua menu yang ada disini?" dika pun tersenyum.
melihat senyuman manis bos tampannya itu vani pun menatap sampai tak berkedip.
menyadari jika sekretarisnya itu sedang fokus menatap wajahnya, dika semakin tersenyum melihat tingkah aneh gadis di hadapannya itu.
"hem, bukannya di jawab dia malah melamun" gumam dika sambil geleng geleng kepala.
"vani!"
dika menggoyang lengan sekretarisnya itu agar sadar dan mendengar ucapannya.
"eh! iya pak, maaf"
vani gelagapan karena ia kedapatan sedang mengagumi wajah tampan bosnya itu.
"kalo kamu liatin saya kaya gitu terus kapan kita makannya ini?" dika tersenyum lagi.
"hem, kapan kapan aja deh"
vani tersenyum menopang wajah di tangannya, ia kembali larut dalam lamunan sambil terus mengagumi ketampanan pria di hadapannya.
"emangnya kamu bisa kenyang kalo cuma liat muka saya terus kaya gitu?"
dika kembali menatap wajah vani yang hanya melamun di hadapannya.
"bisa banget"
vani yang tidak sadar dengan ucapannya pun hanya mengangguk.
"ppfftt! yakin?"
dika terus tersenyum melihat tingkah lucu vani.
"em" vani kembali mengangguk.
gadis itu benar benar terpesona seperti sedang di hipnotis ketika menatap wajah tampan dika dari dekat.
"haha! kamu ada ada aja deh"
dika tertawa sambil menggelengkan kepalanya saat mendengar jawaban vani yang aneh.
"eh, maksudnya. ya enggak dong pak"
vani mengusap tengkuknya dengan canggung.
'aduh! aku buat malu diri sendiri aja deh' batin vani merasa malu dengan tingkahnya sendiri.
"hem, iya bagus juga sih kalo nanti kamu jadi istri saya berarti saya enggak perlu kasih kamu makan lagi dong kan kamu udah kenyang cuma liatin muka saya aja" haha!
"ya enggaklah pak, lagian siapa juga yang mau jadi istri bapak"
vani merasa malu hingga pipinya memerah.
"iya, siapa tau saya khilaf milih kamu buat jadi istri saya gitu"
dika tersenyum lalu kembali menatap menu di tangannya.
"iya enggak mungkinlah bapak khilaf milih istri" gumam vani mengalihkan pandangannya.
"hem, serius nih kamu enggak mau milih menu?saya kan enggak tau kamu suka makanan apa"
__ADS_1
dika bingung harus memesan makanan apa, akhirnya ia memilih menu kesukaannya saja.
"iya enggak papa kok pak, makanan apa aja asalkan halal saya pasti suka. lagian semua menu di restoran ini kan pasti enak enak, kalo enggak enak ngapain di jual"
vani menanggapinya dengan tidak serius.
"iya tapikan selera makan setiap orang itu beda beda vani, enggak semua jenis makanan cocok di lidah semua orang"
dika masih tersenyum sambil geleng kepala.
"lidah saya cocok untuk semua rasa makanan kok pak"
"haha, kamu ini ada ada aja deh"
akhirnya dika selesai memilih menu makanan yang sesuai dengan seleranya saja.
"kalo gitu pesen ini aja deh mbak"
dika menatap seorang waiters di sana.
"baik, mohon di tunggu sebentar ya mas mbak"
waiters tersenyum lalu pergi setelah menerima pesanan dari mereka.
"makasih mbak" vani juga ikut tersenyum.
sambil menunggu makanan datang, vani dan dika saling mengobrol ringan. sesekali mereka tertawa karena candaan satu sama lain.
setelah kehabisan topik pembicaraan, dika pun kembali menatap ponselnya sedangkan vani mulai menyadari jika ternyata di sekelilingnya banyak pasang mata yang sedang menatap ke arah mereka.
hal itu membuat vani tertunduk malu karena banyak orang yang memperhatikan mereka.
dika yang sejak tadi asik dengan ponselnya itu pun melihat vani terus menundukkan kepala di hadapannya.
"kamu kenapa, kok dari tadi nunduk terus sih?"
dika mengalihkan pandangannya dari ponsel lalu menatap wajah vani.
"em, enggak papa kok pak. hehe"
vani nyengir melihat ke arah dika lalu kembali menunduk.
menyadari sepertinya vani sedang merasa tak nyaman, dika pun menatap kearah sekitar dan melihat ada banyak orang yang memperhatikan mereka terutama kaum hawa memandang kagum pada wajah tampan itu.
"kamu malu ya makan bareng saya?" tanya dika
"eh, enggak kok pak. saya enggak malu makan bareng bapak, cuma saya enggak pede aja di liatin banyak orang"
"kenapa harus enggak pede? kamu kan cantik jadi ya pede aja dong. justru mungkin mereka liatin kamu kaya gitu karena kamu emang cantik banget"
dika tersenyum sambil memuji vani agar ia tidak merasa minder lagi.
mendengar hal itu vani tersenyum malu atas pujian yang dika berikan kepadanya.
vani menatap dika dengan serius namun dika malah memainkan alisnya sambil tersenyum jahil.
"ish! bapak malah gombal"
vani semakin salah tingkah dengan pujian itu.
"saya enggak gombal, cuma bilang apa adanya aja. lagian kamu kenapa malu, harusnya kamu seneng dong bisa jalan bareng cowok yang gantengnya kebangetan kaya saya ini"
dika tersenyum memuji diri sendiri.
"haha, bapak ada ada aja deh"
"tapi emang bener kan?"
"narsis banget sih pak"
"ya gitulah"
dengan cuek dika kembali menatap ponselnya.
"iya emang bener sih gantengnya kebangetan" hhh! gumam vani pelan sambil terus melirik wajah dika.
akhirnya makanan yang sudah di pesan pun datang lalu di hidangkan di atas meja tepat di hadapan mereka.
vani menatap satu persatu makanan yang dika pesan namun sepertinya ada yang aneh dengan semua makanan itu.
"kenapa banyak banget?"
"iya karena saya enggak tau kamu mau makan yang mana jadi saya pesan aja semuanya"
"em, tapi kan enggak harus sebanyak ini pak, apalagi semuanya berbahan dasar ayam"
"iya karena ini makanan kesukaan saya"
dika pun memulai makannya dengan lahap.
"oh gitu" vani menganggukan kepala.
"emangnya kenapa, kamu enggak suka ya?"
dika menatap vani sambil mengunyah makanannya.
"em, saya suka kok pak" hehe
"bagus deh kalo gitu, ayo kamu habisin semuanya"
"ih, bapak mau saya jadi gendut ya? lagian perut saya bisa meledak kalo harus ngabisin semuanya pak" vani manyun.
"haha, iya enggak papa sih"
"ish! jahat banget sih" gumam vani.
akhirnya mereka makan dalam diam sambil menikmati hidangannya.
__ADS_1