
setelah selesai dengan olahraga pagi mereka, ponsel vani pun berdering menandakan telpon masuk yang ternyata dari yuli.
"telpon dari siapa sayang?"
dika langsung duduk bersandar di ranjang sambil memeluk vani dan mengusap lembut perut istrinya.
"dari yuli mas"
vani pun menekan tombol hijau pada layar ponselnya itu untuk menjawab telpon.
setelah telpon terhubung vani langsung berbicara dengan adiknya.
Vani: halo, iya yul ada apa?
yuli: kok ada apa sih kak. katanya kita mau pulang ke kampung bareng hari ini tapi kok kamu lama banget sih sampenya. kirain kita bakal berangkat pagi ini, sebenarnya jadi enggak sih kita udah lama banget nih nungguin.
protes yuli dengan cerewetnya.
Vani: eh, em. iya kita jadi pulang kok sebentar ya kita lagi siap siap nih soalnya mas dika mau ikut.
Yuli: loh bukannya bang dika ke kantor hari ini, ya kalo pun mau ikut juga pasti udah siap dari tadi kalee.
Vani: iya tapi itu, em. ya udah deh kalian tunggu aja setengah jam lagi kita sampe.
yuli : jangan lama lama ya, awas aja ya kalo sampe gue lumutan nungguin kalian.
Vani: hehe iya iya sebentar nyengir vani langsung mematikan ponselnya.
tut!!
setelah sambungan telpon vani berakhir dika pun bertanya sambil melihat ekspresi wajah istrinya itu.
"kenapa sayang?"
dika masih asik mengecupi pundak istrinya.
"ini yuli katanya lama banget mas dari tadi mereka udah nungguin kita" vani menatap dika.
"biarin aja sayang lagian kita juga udah berusaha buat secepat mungkin ini. padahal kan harusnya masih lama sayang" dika kembali menggoda istrinya.
"ih mas dika, udah dong nanti di lanjutin lagi kalo udah sampe di sana ya ayo cepetan"
vani menepuk pundak suaminya yang genit itu.
"beneran ya sayang boleh lanjut lagi, awas aja ya kalo kamu nolak"
"iya iya"
"yes, em tapi sayang disana kan kamar kita kecil terus enggak kedap suara lagi jadi aku enggak bisa dong denger suara seksi kamu" hehe dika nyengir mengingatnya.
dika mengingat mereka pernah melakukan olahraga malam di kampung halaman vani namun harus dengan suara lenguhan yang tertahan karena ruangan kamar disana kecil terlebih lagi berdekatan dengan kamar kakak iparnya. jika vani melenguh pasti terdengar hingga ke kamar sebelah.
"iya makanya kamu jangan buat aku sampe teriak dong mas" vani mencubit pelan lengan suaminya.
"hehe, iya gimana dong sayang habisnya kamu tuh enak banget rasanya buat aku enggak tahan terus kamu juga keenakan tuh sampe enggak bisa nahan suara kamu"
dika membuat vani merasa malu hingga menutup wajahnya dengan bantal.
"emangnya aku makanan enak. udah dong mas, jangan ngomong kaya gitu terus aku malu tau"
vani pun menunduk menutup wajahnya.
__ADS_1
"jangan malu malu gitu dong sayang. ya udah yuk kita mandi dulu"
dika pun mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mandi.
setelah kembali selesai membersihkan diri, vani dan dika pun turun ke lantai dasar dengan membawa koper dan memasukkannya ke dalam mobil.
sebelum pergi dika dan vani memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu walaupun sebenarnya sarapannya sudah terlambat karena arin sudah menyelesaikan sarapannya sejak tadi.
"sayang susunya diminum dulu ya" dika memberikan susu kepada vani seperti biasanya.
dika selalu membuatkan susu hamil untuk istrinya di pagi dan malam hari agar vani mau meminumnya.
sebenarnya vani paling tidak suka minum susu namun demi bayinya agar tetap sehat dan cukup nutrisi vani mau meminumnya asalkan susu itu dibuatkan oleh dika sendiri.
vani hanya akan minum susu jika dika yang membuatkan lagi pula dika juga dengan senang hati membuatkan susu untuk calon anaknya.
pada saat awal kehamilan vani selalu mual dan muntah ketika harus minum susu apalagi saat itu tidak ada dika disampingnya yang membuatkan susu untuk dirinya namun sejak dika kembali dan membujuknya untuk minum susu yang banyak vani pun rutin minum susu ibu hamil dan tidak merasa mual lagi.
arin menatap dika dan vani secara bergantian, ia melihat dika yang sedang memakai pakaian santai rumahan bukan pakaian kantor.
vani yang di tatap arin seperti itu merasa tidak enak karena ragu dan berpikir apakah mungkin jika arin yang tadi masuk ke dalam kamar mereka atau bukan. karena para pelayan tidak mungkin berani lancang masuk kedalam kamar mereka begitu saja pikirnya.
sedangkan dika terlihat cuek dan santai saja sambil menyantap makanannya dengan lahap tidak perduli dengan tatapan arin yang aneh melihatnya.
ketika melihat dika membawa koper besar arin ingin sekali bertanya kemana mereka akan pergi namun arin menahan diri. ia ingin melihat apakah dika akan memberitahu kepadanya tanpa ia bertanya terlebih dahulu atau tidak.
namun sayang sekali arin hanya mengharapkan sesuatu yang tidak pasti, dika bahkan tidak berniat untuk memberi tahu kepadanya secara langsung jika mereka akan pergi.
setelah selesai sarapan dika mengumpulkan seluruh pelayan di rumahnya. ia menugaskan para asisten untuk menjaga rumah dan merawat arin karena mereka akan pergi untuk beberapa hari.
melihat pasangan suami istri itu bertengkar hebat tadi malam membuat arin mengira jika dika dan vani masih bertengkar.
arin pun memberanikan diri untuk menghampiri dika ke dalam kamarnya namun sialnya ia justru melihat dika sedang bermesraan dengan istrinya pagi ini.
flashback
'ternyata bener arin udah sembuh brengsek aku udah marah sama istri ku sendiri demi belain dia ternyata dia cuma bohong'
dika langsung pergi tidak jadi menemui arin dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
'sayang maafin aku ya' cup!
dika mengecup pipi istrinya yang sudah terlelap lalu ia berbaring memeluk tubuh istrinya dari belakang.
dika kecewa pada arin karena telah membohongi dirinya. arin tidak mau mengakui jika sebenarnya kakinya sudah sembuh. bukan hanya itu dika juga merasa marah karena akibat kebohongan arin itu ia harus menyakiti hati istri yang sangat dicintainya dan membuat vani menangis.
flashback on
setelah semua asisten rumah tangga berkumpul di dalam ruangan itu dika pun mengatakan maksudnya.
"hari ini saya dan nyonya akan pergi untuk beberapa hari jadi saya minta kalian semua tolong jaga rumah dengan baik dan juga jaga arin selama kami pergi"
dika menatap datar dengan ekspresi dingin kepada para asisten di dalam rumahnya yang sedang menunduk di hadapannya itu.
"baik tuan" serentak mereka semua mengangguk.
"bagus dan ingat! jangan pernah melakukan sesuatu yang nantinya akan kalian sesali"
dika melirik arin lalu mengalihkan pandangannya kepada para asisten di sana.
"baik tuan"
__ADS_1
sepertinya memang benar yang di katakan arin waktu itu jika para asisten di rumah itu sangat kaku seperti robot.
setelah selesai berbicara dengan para asisten dika dan vani pun hendak bergegas menuju mobil.
"ayo sayang kita pergi sekarang" dika tersenyum manis.
"iya mas"
vani pun mengangguk sambil tersenyum menatap suaminya.
ekspresi wajah dika pun berubah drastis ketika menatap istrinya padahal sebelumnya wajahnya sangat datar ketika menatap para pelayan di rumahnya.
melihat dika yang tidak mau mengatakan sesuatu kepada arin jika mereka akan pergi vani pun harus melakukannya.
"mbak arin maaf ya, aku sama mas dika harus pulang ke kampung untuk beberapa hari karena ada acara keluarga disana jadi mbak enggak papa kan kalo kami pergi?"
sebenarnya vani sangat malas hendak berbicara dengan arin karena ia mengira dika sendiri yang akan berpamitan langsung kepada arin atas kepergian mereka namun entah mengapa suaminya itu tidak berniat untuk mengucapkan sepatah kata pun kepada arin.
"iya enggak papa kok vani"
arin tersenyum canggung namun ia juga merasa kesal karena bukan dika langsung yang berpamitan kepadanya.
"iya, harusnya hari ini kamu bisa ikut sih mbak ke kampung halaman aku. kalo seandainya kamu udah sembuh tapi sayang banget kaki kamu masih sakit ya"
vani mengatakannya dengan lembut namun ucapannya itu sangat menusuk bagi arin karena sebenarnya ia sudah sembuh.
arin menatap vani yang sedang menatap dirinya. ia melihat begitu besar kekecewaan di dalam mata yang tulus itu.
"ayo sayang"
setelah berpamitan dika menggandeng lengan istrinya untuk berjalan keluar rumah.
sesampai di halaman rumah keduanya pun masuk kedalam mobil.
"kamu udah siap kan sayang? ayo kita berangkat"
saat mobil hendak melaju vani kembali menghentikannya.
"eh tunggu mas! gimana kalo kita antar mbak arin ke rumah mas rangga aja soalnya aku khawatir ninggalin mbak arin sendirian di rumah"
setelah vani kembali berpikir menggunakan hatinya ia tetap tidak bisa tega untuk meninggalkan arin sendirian.
"enggak usahlah sayang entar ngerepotin mbak ranty lagi, kamu tau kan mbak ranty juga enggak suka liat arin"
dika tak mau ambil pusing karena saat ini ia sedang kesal kepada arin.
"tapi mas, cuma untuk beberapa hari kok"
vani benar benar merasa tidak enak jika harus meninggalkan arin sendirian.
'mulia banget sih hati kamu sayang, kamu masih khawatir sama keadaan arin padahal dia udah sengaja mau nyakitin hati kamu' batin dika menatap wajah istrinya yang cantik dengan hati yang cantik pula.
"sayang di rumah ini kan udah banyak asisten jadi enggak mungkinlah arin bakal ngerasa kesepian. dia bakal dijagain selama dua puluh empat jam sama asisten yang ngerawat dia terus mereka juga bakal nganterin arin ke rumah sakit kalo dia mau check up jadi kamu tenang aja ya, arin pasti baik baik aja disini"
dika terus menjelaskan kepada istrinya agar tidak perlu merasa khawatir pada arin lagi.
"hem, iya deh mas" akhirnya vani pun diam.
mobil dika melaju hendak menjemput yuli dan hana lebih dulu di rumahnya dan ia pun sudah menelpon ray agar mengambil alih tugasnya di kantor untuk beberapa hari.
dika menganggap jika dirinya dan vani memang sedang butuh waktu untuk berlibur karena akhir akhir ini mereka sering bertengkar di rumah dengan masalah yang sama sehingga jarak tercipta di antara keduanya meskipun sedang berdekatan namun terasa sangat jauh.
__ADS_1
lagi pula dika juga sangat pusing dengan pekerjaannya yang banyak di kantor di tambah masalah di rumahnya. ia ingin memiliki waktu berdua dengan istrinya saja.