
Sejak saat itu setiap hari rissa akan datang ke kantor dan mengajak dika untuk makan siang bersama dengannya membuat vani semakin sedih namun ia harus tetap mempertahankan suaminya.
sebelum rissa sampai di kantor hari ini. vani masuk ke dalam ruangan dika, bermaksud ingin meminta izin pada suaminya agar dirinya boleh ikut saat dika dan rissa pergi makan siang bersama.
tok....!! tok..!! tok....!!!
vani mengetuk pintu ruangan dika lalu masuk ke dalam meskipun dika belum menyetujuinya.
"vani!! ada apa?" dika menoleh ke arah pintu dan melihat ternyata vani masuk ke dalam ruangannya.
"em, pak dika saya boleh ikut ya makan siang bareng bapak" vani tersenyum manis agar dika mengizinkannya untuk ikut.
"kamu kan bisa makan siang bareng bang rangga" dika cuek sambil terus menatap layar di tangannya membuat senyum vani memudar.
"tapi pak, saya pengennya makan siang bareng bapak" vani memasang wajah sedihnya.
"kamu tahu kan kalo saya bakal makan siang bareng rissa hari ini" dika tetap menolaknya.
"ck! mbak rissa mulu deh, emangnya bapak enggak bosen apa tiap hari makan siangnya bareng mbak rissa terus?" ujar vani manyun.
"enggak" jawab dika singkat.
"ya udah kalo gitu kita makan siang bertiga hari ini boleh ya pak"
vani sengaja membujuk dika agar mengajaknya ikut setidaknya mereka tidak hanya pergi berduaan saja begitu pikirnya.
"ck! iya deh, terserah kamu" pasrah dika yang tidak tega melihat wajah sedih vani.
"makasih pak dika yang ganteng"
vani tersenyum manis dan mengedipkan sebelah matanya kepada dika namun dika hanya menatapnya dengan wajah datar.
setelah itu vani keluar dari dalam ruangan suaminya dengan senyuman karena berhasil membujuk dika.
"dasar cewek aneh!" dika malah bergidik mengusap tengkuknya setelah vani keluar dari dalam ruangannya.
jam makan siang tiba, vani yang yang sudah mendapat izin untuk ikut pun segera mendekat saat melihat dika dan rissa hendak pergi keluar.
"selamat siang pak dika, mbak rissa. ayo kita makan siang bareng" ujar vani tersenyum lalu menggandeng lengan dika yang satunya.
"ih! kamu mau ngapain?" rissa menatap vani.
"mau makan" vani kembali tersenyum menatap dika dan tidak mau melepaskan lengan suaminya itu meskipun rissa sudah menepisnya.
"emangnya siapa yang ngajakin kamu?" ujar rissa kesal.
"pak dika" jawab vani singkat.
"dika kamu?" ucapan rissa terhenti.
"iya. udahlah riss biarin aja vani ikut ya kasian dia enggak punya temen" ujar dika setuju.
"tapi dika, dika..." panggil risa dengan kesal.
"ayo pak dika kita jalan aja. mbak rissa lama deh aku kan udah lapar" vani menarik lengan dika berjalan lebih dulu.
__ADS_1
"iya iya" dika pun pasrah di gandeng oleh dua wanita di sampingnya itu.
ketiganya sampai di sebuah resto lalu segera memesan makanan. setelah makanan mereka sampai di meja vani pun langsung makan dengan lahap. di liriknya rissa yang selalu berusaha untuk mencari perhatian dika dan ingin menyuapi suaminya itu makan.
"dika coba deh, ini enak banget tau" rissa menyodorkan satu suapan di dalam sendoknya kepada dika.
vani yang melihat pemandangan itu di hadapannya pun hanya menatap diam. jantungnya berdegup kencang karena merasa deg degan berpikir apakah suaminya akan menerima suapan dari rissa itu atau akan menolaknya.
dika hanya diam menatap sendok di hadapannya lalu pandangannya beralih melirik vani yang juga sedang menatapnya.
"em enggak deh, aku enggak suka itu" ujar dika menolak dan melanjutkan makannya sendiri.
vani menghembuskan nafas lega karena ternyata dika menolak suapan dari rissa yang tepat berada di hadapannya itu.
"syukurlah kalo mas dika masih bisa nolak keinginan rissa" gumam vani melihatnya.
rissa yang mendapat penolakan dari dika pun memasang wajah tidak suka saat melirik vani.
"pak dika, ayo cepat habisin makanannya setelah ini kita sholat bareng ya di masjid terdekat" ujar vani menatap suaminya.
"hem iya" jawab dika pasrah.
'ngeselin banget sih sekretaris ini, ngapain juga dia harus ngikutin aku sama dika pergi' batin rissa melirik kesal dan tidak suka pada vani.
setelah selesai makan mereka pun menuju masjid terdekat untuk beribadah.
"mbak rissa ayo kita sholat" ajak vani.
dika menatap kedua wanita di hadapannya itu.
"em, aku lagi M" jawab rissa singkat menolak ajakan vani.
"ck! ngeselin banget sih cewek itu" kesal rissa.
seiring berjalannya waktu rangga akhirnya menyadari tentang kedekatan di antara dika dengan rissa. hal itu tentu saja membuat rangga tidak tinggal diam.
rangga memutuskan untuk berbicara empat mata dengan rissa dan menjelaskan segala hal yang di alami oleh dika saat ini. rangga juga akan menjelaskan kepada rissa jika sebenarnya dika sudah menikah agar rissa berhenti untuk mendekati dika.
di sini sekarang rangga dan rissa sedang bertemu mereka duduk saling berhadapan untuk berbicara empat mata. rangga memilih untuk berbicara di dalam private room sebuah resto saja agar tidak ada yang mendengar percakapan di antara mereka.
"apa ada sesuatu penting yang mau mas rangga bilang ke aku?" tanya rissa menatap rangga setelah mereka selesai makan siang.
"rissa saya udah tau dari ray bagaimana masa lalu di antara kamu dengan dika tapi saya harap saat ini kamu enggak berniat untuk kembali mendekati dika" rangga menatap rissa dnegan serius.
"loh memangnya kenapa mas, kami yang jalanin hubungan ini kan" rissa bingung dengan larangan dari rangga.
"iya, tapi kamu dan dika enggak bisa bersama lagi karena sebenarnya dika itu udah nikah" jelas rangga.
"apa!! udah nikah? enggak mas aku enggak percaya!" rissa tidak percaya setelah rangga mengatakan jika dika sudah menikah.
"terserah kamu percaya atau enggak, saya enggak perduli tapi saya cuma minta satu hal tolong kamu jauhi dika!" peringat rangga dengan tegas kepada rissa lalu ia pun pergi meninggalkan rissa setelah mengatakannya.
"ck! apaan sih" kesal rissa.
hari pun berganti, sejak mendengar penjelasan dari rangga tentang dika membuat rissa merasa tidak tenang. ia sedang berjalan mondar mandir di dalam apartemennya sambil terus memikirkan tentang dika.
__ADS_1
"apa bener kalo dika udah nikah?" tanya rissa pada dirinya sendiri.
rissa yang sepertinya sudah jatuh hati kepada sosok tampan yang bernama dika itu pun tidak mau menerima begitu saja penjelasan dari rangga beberapa hari yang lalu tentang pernikahan dika. ia berusaha untuk mencari tau siapa istri dari pria yang selama ini dekat dengannya itu.
"kalo itu memang bener aku harus cari tau nih siapa cewek yang jadi istrinya dika" arin meraih ponselnya di atas meja.
rissa pun duduk di atas sofa dan membuka ponselnya.
keluarga wijaya adalah keluarga yang selalu menjadi sorotan media. hanya saja mereka tidak akan berani secara terang terangan mengusik kenyamanan keluarga terpandang itu karena ray sudah menugaskan para anak buahnya untuk berjaga agar tidak ada wartawan yang berani datang dan mencari kesempatan untuk mengambil informasi di dalam keluarga wijaya.
hanya saat keluarga itu mengundang mereka saja barulah para wartawan boleh datang untuk menyaksikan dan menyorot acara apa yang sedang berlangsung di dalam rumah keluarga terpandang itu.
hanya sekedar untuk mencari identitas siapa istri dari putra bungsu keluarga terpandang itu memang tidaklah sulit rissa lakukan karena semua orang pun sudah tahu namun yang membuat rissa tidak percaya adalah ia menemukan informasi jika vani adalah wanita beruntung itu. vani adalah nyonya muda keluarga wijaya yang terpandang itu.
"apa!!! vani si sekretaris yang nyebelin itu istrinya dika. enggak ini pasti salah, enggak mungkin dia kan?"
rissa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ia mencari tahu tentang istri dari radika wijaya itu di dalam ponselnya.
"tapi, pantesan aja dia selalu ngikutin aku sama dika kalo kami pergi. ternyata dia cemburu?" rissa pun tersenyum miring dengan wajah licik.
"hem, bagus lah kalo dika lupa siapa istrinya itu. aku bakal bantu kamu untuk merasakan bagaimana rasa cemburu yang sesungguhnya vani" rissa dengan smirk di wajahnya.
tidak ingin berhenti bermain api, rissa justru akan mengibarkan bendera perang dengan vani. ia semakin bersemangat untuk mencuri perhatian dari dika setiap harinya.
seperti hari ini, di dalam ruangan kerja dika rissa mencoba untuk menggodanya
"dika ayolah, kita bakal ketemu sama banyak teman teman lama kita di sana" rissa sedang membujuk dika untuk ikut dengannya pergi bersama teman temannya.
"iya iya oke rissa, tapi aku harus ngatur jadwal untuk itu dulu ya"
"oke deh sayang, makasih ya" emuach!
"hem" dika masih sibuk dengan pekerjaannya.
"oh ya dika kita mau pergi kemana hari ini?"
"terserah kamu deh. kamu atur aja dan pilih tempat yang kamu suka ya aku pasti ikut kok sekarang kamu duduk di sana diam sambil nunggu aku ya. soalnya aku masih sibuk rissa" dika meminta rissa untuk duduk di sofa sambil menunggunya.
"okay deh" rissa tersenyum dan menuruti permintaan dika.
keesokan harinya vani yang melihat rissa semakin hari semakin mendekati suaminya pun tidak tinggal diam.
vani menemui rissa untuk berbicara empat mata sebagai sesama wanita.
"rissa, kamu udah tau kan kalo mas dika itu suamiku tapi kenapa kamu masih aja deketin dia?"
"hhh! memangnya kenapa, lagian dika itu udah ngelupain kamu jadi lebih baik kamu sadar diri kalo sebenarnya kamu itu enggak penting dalam hidupnya dika" rissa berkata sambil menunjuk wajah vani.
"dengar ya rissa aku enggak akan lepasin suamiku gitu aja. kamu enggak bakal bisa memiliki dia" vani balik menunjuk wajah rissa.
"oh ya? hhh!! kamu mau melawan ku? kamu tau jauh sebelum dika punya hubungan sama kamu. dia adalah milikku vani" rissa menatap vani dengan senyum miringnya.
"aku enggak perduli sama masa lalunya mas dika, yang pasti sekarang dia adalah suamiku" vani tidak mau kalah.
"oke kalo itu mau kamu, jangan salahin aku kalo sebentar lagi aku yang bakal menangin hati suami kamu itu"
__ADS_1
"dasar cewek gila"
vani pergi meninggalkan rissa yang sedang tersenyum senang melihat dirinya pergi.