Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 228


__ADS_3

beberapa hari kemudian naya sudah berada di rumah karena kemarin dokter sudah mengizinkannya untuk pulang dari rumah sakit.


saat ini naya terlihat sedang mengemas beberapa barang untuk di bawa pulang ke kampung halaman.


naya sudah memutuskan dirinya akan kembali pulang ke rumah ibunya karena merasa tidak ada lagi yang membuat dirinya harus bertahan disana.


"nyonya, apa nyonya akan pergi?"


mini melihat naya mengemas barang di koper kecilnya.


"iya mini saya harus pulang ke kampung tolong nanti kamu kasih surat ini ke pak ray ya kalo dia datang mencari saya"


naya menyerahkan sebuah amplop yang sudah direkatkan kepada mini.


"tapi nyonya, kenapa?" mini merasa sedih.


"enggak papa mini saya pamit ya, kamu jaga diri baik baik di sini makasih banyak kamu udah nemenin saya selama di rumah sakit kemaren maaf saya enggak bisa kasih apa apa ke kamu sebagai balasannya"


naya berterima kasih karena memang hanya mini seorang yang menemani dirinya selama berada di rumah sakit beberapa hari terakhir sedangkan ray tidak pernah datang menemuinya lagi setelah hari itu.


"nyonya enggak berhutang budi apapun ke saya kok. itu kan sudah jadi kerjaan saya buat jaga nyonya dan saya juga ikhlas merawat nyonya karena kita sahabat"


"makasih ya mini kamu baik banget, kita akan terus bersahabat selamanya. jadi mulai sekarang kamu boleh panggil nama saya aja kan saya udah bukan majikan kamu lagi kita sahabat kan?" naya tersenyum.


"saya akan tetap panggil nyonya dan saya harap nyonya akan kembali lagi ke rumah ini" mini tetap menolak.


"terserah kamu deh, jangan lupa titip surat ya. saya mau pergi dulu"


naya pamit lalu berjalan menuju pintu keluar di ikuti oleh mini di belakangnya.


"maaf nyonya, tolong jangan pergi sebelum bos datang"


kepala penjaga yang sedang berjaga di depan pintu keluar mengehentikan langkah naya.


"tolong biarin saya pergi karena mulai sekarang menjaga saya bukan kewajiban kalian lagi. saya sudah berpisah dari bos kalian jadi tolong biarkan saya pergi" ucap naya.


"tapi kami belum mendapat perintah seperti itu nyonya" ucap kepala asisten.


"kalian harus biarkan saya pergi kalau kalian tidak mau di pecat hari ini juga"


naya mengancam anak buah ray membuat mereka saling bertatapan.


"baiklah nyonya"


akhirnya mereka pun membiarkan naya keluar dari dalam rumah itu.


saat naya berjalan keluar di halaman rumah seorang supir kembali menghentikan langkahnya.


"permisi nyonya, biar saya antar" supir membukakan pintu mobilnya.


"enggak usah pak, saya udah pesan taksi kok. kasian kalo di batalin" naya terus berjalan menuju pintu gerbang.


"baik nyonya"


"nyonya, nyonya yakin beneran mau pergi?" tanya mini sekali lagi sambil terus mengikuti langkah naya.


"iya mini, udah dong kamu kenapa sih"


"tapi kan...." ucapan mini menggantung.


"nah, itu taksinya udah datang saya pergi sekarang ya. sampai jumpa mini" dahhh!


naya melambaikan tangannya dengan mata berkaca kaca masuk ke dalam mobil lalu taksi itu pun langsung melaju setelah naya memastikan mobil taksi pesanannya.


"hati hati nyonya"

__ADS_1


mini dengan suara sedihnya melambaikan tangan kearah mobil yang sudah melaju.


setelah kepergian naya mini berjalan kembali masuk ke dalam rumah sambil terus menatap surat di tangannya yang sudah naya titipkan untuk di berikan kepada ray.


sebenarnya mini merasa sangat penasaran dengan isi surat itu namun dirinya tidak boleh melihat apa isinya.


akhirnya mini pun menyimpan surat itu untuk di berikan kepada ray saja jika ia datang nanti.


keesokan harinya ray yang merasa sudah tidak tahan lagi ingin melihat keadaan naya pun memutuskan untuk menemui naya namun saat ia bertanya kepada pihak rumah sakit mereka mengatakan bahwa naya sudah pulang sejak dua hari yang lalu.


ray pun langsung menuju ke rumah naya untuk menemui istrinya itu.


sesampainya di rumah itu ray masuk dan berjalan menuju pintu kamar naya.


ceklek! ray membuka pintu kamar naya.


"naya?" ray tidak melihat keberadaan naya di dalam sana.


"naya kamu dimana?"


ray masuk dan mendekati ranjang pandangannya beralih kesana kemari untuk mencari keberadaan istrinya namun tidak menemukan naya di mana pun.


"naya kamu ada dimana?"


"naya?"


ray keluar dari dalam kamar dan berjalan menuju dapur.


"naya?"


mini yang mendengar suara ray datang pun langsung menghampirinya.


"pak ray?" mini mendekat menghentikan langkah ray


"mini dimana naya? kamu kok enggak bilang sih kalo kalian udah pulang dari rumah sakit" ray menatap mini.


"iya saya memang lagi sibuk tapi harusnya kamu tetap kabarin ke saya dong gimana sih" omel ray kesal.


"iya maaf pak" mini menunduk pasrah.


"ya sudah sekarang dimana istri saya?"


ray menatap mini membuatnya merasa semakin takut.


"em, itu pak. nyonya..." mini gugup ingin mengatakannya.


"nyonya apa mini? cepat katakan!" ray sedikit membentak karena merasa penasaran.


"nyonya sudah pergi pak!"


mini memejamkan matanya saat mengucapkan kata itu karena takut melihat ekspresi ray yang akan marah.


"apa!!! pergi kemana?" ray semakin bertanya dengan suara yang keras.


"enggak tau pak nyonya bilang, eh tunggu sebentar ya pak. nyonya ada nitip sesuatu buat bapak"


mini pun berlari menuju kamarnya lalu kembali dengan membawa sebuah amplop surat yang sudah naya titipkan sebelumnya itu.


"apa itu?" tanya ray menatap surat.


"ini dari nyonya pak saya juga enggak tau apa isinya tapi coba bapak baca aja" mini menyerahkan amplop itu kepada ray.


ray mengambil surat itu lalu membukanya dan membaca isinya sambil berjalan menuju kamar naya agar mini tidak mengikuti langkahnya.


isi surat naya:

__ADS_1


"pak ray sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih banyak atas semua kebaikan yang sudah bapak berikan kepada saya dan keluarga saya selama ini. maaf karena saya tidak bisa membalasnya dengan apapun saya hanya bisa berdoa semoga bapak selalu hidup bahagia bersama keluarga kecil bapak yang sudah utuh. saya pamit ya pak, setelah kepergian calon bayi kita saya pikir hubungan di antara kita juga sudah berakhir. bapak bisa kembali hidup bahagia bersama keluarga kecil bapak seperti sebelumnya dan saya akan menjalani kehidupan saya ke depannya dengan lebih baik lagi tolong lupakan saya dan jangan mencari keberadaan saya lagi ya pak. sekali lagi terima kasih pak ray"


salam saya - naya


dengan air mata yang menetas di pipinya ray membaca surat terakhir dari istrinya itu. ia terduduk di lantai tepat di samping ranjang sambil bersandar.


"maafin saya naya, maafin papa juga sayang"


ray memeluk surat di dalam dekapannya sambil meminta maaf kepada naya dan calon bayinya yang sudah tiada.


cukup lama ray hanya terdiam di dalam kamar itu, hingga telpon dari dika menyadarkannya.


dika meminta ray untuk segera kembali ke kantor karena mereka akan segera melakukan meeting siang ini.


ray bangkit dari duduknya lalu menyimpan surat naya di dalam saku celananya. ia segera berjalan keluar dari dalam kamar itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada mini dan para penjaga di sana ray langsung melajukan mobilnya untuk kembali ke kantor.


para asisten di rumah itu hanya menatap kepergian mobil ray dengan sendu karena sebelumnya mereka melihat mata ray yang sepertinya sedang sedih.


sesampainya di kantor dika melihat wajah ray yang sangat sedih dan murung. ia pun bertanya kepada sahabatnya itu.


"ray lo kenapa?" dika memegang sebelah pundak ray.


ray menatap mata dika lalu tanpa berbicara apapun ia menyerahkan surat dari naya itu kepada dika.


setelah membacanya dika pun mengerti apa yang membuat sahabatnya itu merasa sedih saat ini.


"sabar ya ray gue yakin apapun yang terjadi semua itu pasti udah rencana dari yang maha kuasa. mungkin ini adalah jalan yang terbaik buat lo sama naya ke depannya. kalian harus menjalani kehidupan masing masing"


dika memberi semangat kepada sahabatnya.


"hem makasih ya dik"


ray mengangguk singkat lalu kembali menyimpan surat itu di laci meja kerjanya.


"hhh! ya udah sekarang kita batalin aja meeting hari ini. lebih baik lo istirahat dan tenangin pikiran dulu sampe lo benar benar ngerasa lebih baik ray" dika menepuk pelan pundak ray.


"tapi bukannya meeting kali ini penting banget ya dik ini kesempatan bagus buat kita kembali memperbaiki nama perusahaan" ray menatap dika.


"ck! ah udahlah ray enggak usah lo pikirin soal itu yang penting sekarang lo tenangin dulu pikiran lo baru mikirin kerjaan lagi ya"


"thanks ya dik tapi gue bener bener masih ngerasa bersalah sama naya. gue bahkan enggak tau kalo dia keguguran waktu itu"


ray mencoba mencurahkan isi hatinya yang mengganjal.


"iya sabar ya ray, gue tau ini enggak mudah buat lo" dika hanya bisa menyemangati.


"gimana kalo gue samperin naya lagi ke rumah ibunya, lagian gue kan belum talak dia"


ray minta pendapat dari dika atas apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"em, menurut gue sih enggak usah deh ray. kalo elo kesana lagi otomatis ibunya bakal tau dong, bisa bisa kondisinya makin ngedrop kan lo sendiri yang bilang kalo ibu naya lagi sakit. lagian lo kan cuma nikah siri doang sama naya kalo pun nanti naya bakal nikah lagi sama cowok lain pasti enggak ada masalahnya dong kan enggak tercatat di hukum" dika memberi sarannya.


"iya tapi kan sah di mata agama dik"


"tapi kalo elo enggak nafkahi naya sampe beberapa bulan kan otomatis jatuh talak ray"


"tapi rencananya gue mau tetap kirimin uang buat pengobatan ibunya naya plus biaya hidupnya ke depan sampe naya dapat kerjaan lagi dik. sekalian sebagai permintaan maaf gue ya meskipun itu enggak bakal bisa mengobati luka di hati naya" ray menunduk sedih.


"iya, bagus deh kalo lo berpikir kaya gitu ray tapikan enggak ada nafkah batin sama ajalah itu. tergantung niat lo aja sih" dika hanya berpikir positif saja.


"hem, iya thanks ya dik" ray mengangguk mengerti.


"ya udah kita makan dulu yuk. gue laper nih" ajak dika


"gue enggak mau makan dik" ray menolak lalu melipat tangannya di atas meja sambil menopang wajahnya.

__ADS_1


"ya udah lo boleh pulang istirahat ya" dika mengerti perasaan sahabatnya itu.


"hem" jawab ray singkat.


__ADS_2