
vani hanya menunduk dan terdiam murung sebenarnya dirinya tidak bermaksud demikian. hanya saja vani merasa sejak ia menikah dengan dika terlalu banyak aturan dalam hidupnya. sungguh benar menyandang gelar nyonya wijaya itu sangatlah tidak mudah.
vani tidak bisa bergerak bebas seperti dulu lagi apalagi mengunjungi sembarangan tempat umum tertentu tanpa persetujuan dari suaminya. sebab mereka adalah keluarga terpandang yang menjadi incaran banyak media maupun saingan bisnis. maka demi menjaga keselamatan dirinya vani harus selalu di jaga oleh para pengawal jika ingin berpergian.
"sayang, emangnya kamu mau kerja dimana sih?"
dika melunak melihat istrinya hanya menunduk sedih.
"em"
vani hanya menggelengkan kepala di dalam pelukan suaminya itu.
"hhh! apa kamu mau kerja sama mantan pacar kamu itu lagi ya?"
"ck! iya enggaklah mas lagian mantan pacar aku kan cuma kamu doang enggak ada yang lain"
vani tidak suka mendengar dika mengatakan tentang mantan pacarnya namun vani tetap membujuk dika dengan mengusap lembut bagian dada suaminya itu.
"oh ya? terus laki laki brengsek yang waktu itu siapa kalo bukan mantan kamu masa iya mantan aku?"
"iya mantan kamu. ngapain sih jadi bahas dia terus kamu sengaja ya mau buat aku ingat tentang masa lalu lagi"
vani berbalik badan lalu tidur membelakangi suaminya karena merasa kesal dika terus membahas tentang masa lalunya yang sebenarnya sangat sulit untuk ia lupakan.
"sayang kamu enggak usah kerja ya"
dika memeluk tubuh istrinya lembut dari belakang namun vani sudah terlalu mengantuk hingga ia tertidur dan tidak dapat mendengar suara suaminya itu.
"sayang? hem udah tidur ternyata"
dika pun akhirnya tertidur memeluk tubuh istrinya.
keesokan harinya vani terbangun tepat saat suara adzan subuh berkumandang. ia membangunkan suaminya untuk melakukan sholat bersama seperti biasanya.
"mas bangun"
vani mengelus lembut rambut suaminya yang masih memejamkan mata itu agar bangun.
"emhh"
dika hanya bergerak pelan tidak mau membuka matanya sebab masih mengantuk.
"kamu ganteng banget sih mas, mama ngidam apa ya waktu hamil kamu dulu" gumam vani sambil menatap wajah dika dari jarak yang sangat dekat karena dirinya selalu mengagumi wajah suaminya saat sedang tidur.
vani asik memandangi wajah dika sambil terus tersenyum hingga akhirnya ia tersadar dari hipnotis wajah tampan suaminya itu kemudian berusaha untuk membangunkan dika yang masih saja terlelap di hadapannya.
"eh ya ampun kenapa aku malah ngelamun sih" gumam vani memukul jidatnya pelan.
"mas ayo bangun dong, entar telat subuh nya loh udah kesiangan nih" vani beranjak dari atas ranjang.
"iya, lima menit lagi sayang please" dika bergumam.
"aku mandi dulu deh kalo gitu"
vani pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
setelah selesai menunaikan sholat dika kembali masuk ke dalam kamarnya dan berbaring di atas ranjangnya sambil memainkan ponsel di tangannya sedangkan vani pergi ke dapur untuk memasak sarapan.
satu jam kemudian di meja makan saat ini vani dan dika sedang sarapan bersama seperti biasanya.
"mas, gimana tentang permintaan aku tadi malam?"
vani kembali membahas permintaan kerjanya seperti kemarin malam.
"kamu enggak boleh kerja apalagi kalo di luar kantor wijaya group. kamu itu istri aku sayang istri dari seorang radika wijaya. kalo kamu kerja di luar entar orang orang ngiranya aku enggak bisa kasih kamu makan lagi"
dika memberi keputusan sambil mengunyah makanannya.
"em jadi aku boleh kerja kalo di kantor kamu mas?"
"kalo kamu maksa pengen punya kegiatan setiap hari kamu boleh buka usaha apapun yang kamu mau sayang buka restoran, butik atau toko kue apapun asalkan kamu enggak dibawah aturan dan perintah orang lain" tegas dika kepada istrinya.
"em, kamu bener juga ya mas aku kan bisa langsung jadi bosnya" hehe vani merasa senang.
"kamu ini aneh banget sih sayang aku udah jadiin kamu seorang putri raja di dalam rumah tapi kamu malah pengen capek kerja" dika yang tidak habis pikir.
"ya namanya juga pengen mas" respon vani santai.
"tapi ingat kamu enggak boleh pergi kemana pun tanpa supir dan pengawal"
ucapan dika yang membuat vani membelalakkan matanya.
"apa!! jadi maksud kamu kemana mana aku harus bawa pengawal gitu?" vani hendak protes.
__ADS_1
"ya iya lah sayang percuma dong aku bayar mahal para pengawal kalo mereka enggak jagain kamu. entar kalo kamu kenapa kenapa di luar sana gimana?"
"itu sama aja namanya kamu enggak izinin aku bebas mas. aku ini kan udah gede jadi aku tau mana yang baik dan mana yang buruk untuk aku. kalo kamu kaya gini itu artinya kamu enggak percaya sama istri kamu sendiri"
"kamu bebas kok kemana pun kamu mau pergi sayang. asalkan ada yang jagain kamu terus anggap aja mereka kaya bayangan kamu sendiri yang bakal selalu jagain kamu" dika menyelesaikan sarapannya.
"iya kaya burung di dalam sangkar emas" gumam vani masih manyun dengan keputusan dari suaminya itu.
"sayang denger ya kamu itu istri aku dan tanggung jawab aku jadi keselamatan kamu adalah prioritas buat aku. aku enggak mau sampe terjadi sesuatu sama kamu karena aku enggak bakalan bisa maafin diriku sendiri. aku juga enggak bisa hidup tanpa kamu sekarang ngerti?"
dika menggenggam kedua pipi vani di dalam telapak tangannya hingga membuat bibir istrinya itu manyun.
vani menganggukkan anggukkan kepalanya yang berada di dalam genggaman tangan suaminya itu.
"gadis pintar" dika mengacak rambut vani.
"udah bukan gadis lagi" vani berdiri hendak membersihkan meja makan.
"hehe. oh iya udah mau jadi calon ibu ibu ya?"
dika mengelus perut vani untuk menggoda istrinya itu.
"ck! apaan sih mas, oh ya nanti aku mau ke rumah yuli deh kalo gitu" vani meminta izin.
"ngapain?" tanya dika.
"ya main dong mas bareng hana dia kayanya lagi enggak kerja deh" vani mencoba mengingat.
"ya udah terserah kamu yang penting harus di antar supir oke. kalo gitu aku berangkat ya kasian tuh ray udah karatan nunggu di luar" dika pun pamit
"iya mas, loh kok kamu enggak bilang sih kalo ada mas ray di luar kan bisa sekalian sarapan bareng kita sayang"
"biarin aja sayang entar dia cemburu lagi kalo liat kita berdua mesra mesraan di sini secara dia kan jomblo" hehehe dika tertawa nyengir.
"kamu tuh ya mas tega banget sama mas ray"
vani menepuk pelan lengan suaminya, dika hanya tersenyum jahil.
"ya udah aku pergi dulu ya sayang. entar kamu hati hati perginya" emuach!
dika mengecup kening istrinya sebelum pergi.
"ya udah kamu juga hati hati ya mas"
vani pun mengecup punggung tangan suaminya.
dika melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"bye sayang" vani melambaikan tangannya juga.
hari ini vani akan berkunjung ke rumah adiknya.
yuli dan hana sangat senang dengan kepulangan kakak mereka. sebenarnya sudah sejak beberapa minggu yang lalu vani pulang dari liburannya namun ia belum sempat untuk menemui kedua adiknya itu dan baru kali ini vani kembali berkunjung ke rumah yuli dan hana
"assalamualaikum"
vani pun melangkah masuk ke dalam rumah.
"walaikumsalam"
hana dan yuli pun melihat siapa yang datang.
"kak vani, uhh! kita seneng banget kamu udah pulang"
yuli dan hana memeluk kakaknya itu.
"iya aku juga kangen banget sama kalian. maaf ya aku baru bisa datang sekarang"
"iya enggak papa kok kak. kita seneng kakak mau datang"
"oh iya itu apa kak?"
hana melihat paper bag di tangan kakaknya.
"oh iya. ini oleh oleh buat kalian"
vani menyerahkan dua paper bag di tangannya itu pada kedua adiknya.
"ya ampun makasih ya kak vani. wah! kita dapat hadiah dari paris nih" hana senang.
"makasih ya kak" yuli juga tersenyum.
"iya sama sama, kalian udah makan belum?"
__ADS_1
"kita enggak makan kak" hana memelas.
"hah! enggak makan gimana maksudnya?" tanya vani.
mereka pun duduk di ruang tamu sambil saling bercerita agar lebih nyaman.
"iya mau gimana lagi kak. kak yuli enggak kerja terus aku juga enggak kerja lagi" hana semakin memelas.
"em yul, maksud hana kamu enggak kerja lagi itu kenapa?"
vani menatap yuli sambil bertanya.
"iya, emang aku enggak kerja lagi kak"
yuli menyandarkan tubuhnya di sofa.
"maksudnya kamu di pecat?" vani tak percaya.
"ih, bukan di pecat tapi aku resain" jawab yuli malas.
"loh kenapa? bukannya kamu udah punya posisi bagus di sana. kerjaannya juga udah enak duduk doang" tanya vani
"enggak papa malas aja"
yuli dengan raut wajah benar benar tidak ingin bercerita.
vani menatap hana dengan wajah penasaran meminta agar hana menjelaskannya.
"itu karena kak yuli udah putus sama pacarnya yang juga kerja di sana kak. biasalah mau menghindar"
hana pun memberi tahu kepada vani namun langsung mendapat tatapan tajam dari yuli.
"serius! putus?" vani dengan wajah tak percaya.
"yee, biasa aja dong kak"
yuli menanggapi ekspresi kakaknya.
"kok bisa sih, gimana gimana ceritanya?"
vani bertanya sambil memakan cemilan di tangannya seperti sedang ingin mendengarkan dongeng dari kedua adiknya itu.
"hhh! malas banget deh" yuli semakin bete.
"biasa kak ada pihak ketiga jalur sana" haha
hana tertawa setelah mengadu.
"oh ya? tuh kan kamu sih di bilangin juga kalo cowok itu enggak baik buat kamu. lebih baik tuh mantan kamu yang udah kamu putusin dulu" celoteh vani yang membuat yuli semakin muak mendengar tentang mantannya.
"terserah lo mau ngomong apa deh kak yang jelas mereka tuh enggak ada yang baik buat gue"
yuli menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menonton tv.
"haha" hana tertawa mendengar ucapan yuli namun vani hanya terdiam melihat kekesalan di wajah adiknya itu.
lama mereka saling terdiam hanya sambil menonton tv menikmati drama kesukaan ketiga gadis itu hingga akhirnya vani memecah keheningan dengan bertanya.
"em, oh ya kalian kan enggak kerja lagi gimana kalo bantuin kakak buka usaha?" tanya vani kepada adiknya.
"hah!! buka usaha apa kak?"
yuli dan hana secara bersamaan bertanya.
"aku juga masih bingung sih mau buka usaha apa tapi menurut kalian usaha apa ya yang cocok buat ciwi ciwi kaya kita bertiga?" vani menatap kedua adiknya.
"em, apa ya?" mereka pun bertanya tanya sambil berpikir.
"gimana kalo toko kue?" tanya vani pada keduanya.
"em, aku sih setuju setuju aja kak soalnya aku kan cuma bantu bantu kakak. hehe" hana setuju.
"enggak ah, kalo toko kue aku kan enggak bisa masak kue, kalo misalnya nanti kamu enggak bisa masuk kerja terus siapa yang bakal buat kuenya" yuli tidak setuju.
"em, kan kamu bisa belajar" vani tersenyum.
"iya tapi kan prosesnya juga lama" yuli tetap tidak setuju.
"gimana kalo toko buku kak" jawaban hana absrud.
"nih lagi anak, apa yang bakal kita kerjain kalo buka toko buku. mau baca buku sepanjang hari lo?" kesal yuli semakin tidak setuju.
"jadi apa dong atau rumah makan?" hana masih berpikir.
__ADS_1
"nahhh!" wajah vani dan yuli cerah secara bersamaan seperti mendapat ide yang sama.
hana melihat aneh dengan ekspresi kedua kakaknya itu karena tersenyum secara bersamaan.