
keesokan harinya di rumah sakit arin sedang menyuapi pria itu dengan bubur buatannya sendiri.
"kamu harus makan yang banyak ya biar cepat sembuh"
arin dengan sangat perhatian menyuapinya namun sejak kemarin pria itu hanya diam saja tidak mau menjawab.
arin tidak menyerah begitu saja, ia tidak berhenti untuk tetap bertanya meskipun tidak mendapat jawaban apapun.
arin selalu mengajak pria itu mengobrol seperti yang dokter sarankan agar saraf saraf pria itu kembali normal setelah cukup lama beristirahat karena koma yang di alaminya.
"oh ya, nama kamu siapa?"
setelah selesai menyuapi pria itu makan arin kembali bertanya sambil tersenyum.
"di..ka..." jawab pria itu dengan suara yang sangat pelan.
ternyata pria itu adalah dika yang masih bertahan hidup meskipun tubuhnya sudah terombang-ambing saat hanyut dalam derasnya aliran sungai hingga membuatnya merasa trauma pada air yang mengalir deras.
"oh jadi nama kamu dika, nama yang bagus cocok banget sama muka kamu yang ganteng" arin tersenyum.
"em, kamu tinggal dimana dan sama siapa?"
arin kembali bertanya namun lagi lagi ia tidak mendapat jawaban apapun.
tidak terasa setelah dua minggu sadar dari komanya kini kondisi dika pun sudah semakin membaik. ia juga sudah bisa tersenyum dan lebih banyak berkomunikasi dengan arin dari pada sebelumnya.
arin selalu menceritakan tentang kisah sedih hidupnya membuat dika tersentuh mendengar ketegaran hati seorang gadis yatim piatu yang hidup sebatang kara itu.
"apa boleh- aku- pinjam -ponsel -kamu. aku - mau- nelpon- keluarga ku"
dika berbicara masih dengan suara yang mengeja.
"em, boleh ini"
arin pun memberikan ponselnya yang sudah ketinggalan jaman itu kepada dika.
"maka-sih"
dika pun berusaha mengingat sebuah nomor yang sudah di hafal sebelumnya lalu mencoba untuk menghubungi nomor tersebut.
saat telpon dari nomor itu sudah tersambung, telpon pun langsung mendapat jawaban dari pemiliknya.
"ya halo, siapa ini?"
terdengar suara lembut yang sangat ia rindukan dari seberang sana.
untuk sesaat dika hanya terdiam mendengar suara wanita yang sangat di rindukannya itu membuat wanita itu pum penasaran dan terus bertanya.
"halo, ini siapa ya?"
terdengar masih dengan ciri khas kelembutan suaranya.
"halo, ini -aku -sayang"
dika pun menjawab tertatih dengan suara lembutnya.
saat mendengar suara yang sangat familiar dari seberang sana membuat vani tertegun ia mencoba untuk terus mendengarkan suara itu.
mata vani langsung berkaca kaca dan air mata kembali meneteskan begitu saja di pipinya
"mas dika?" gumam vani pelan.
"mas, apa ini beneran kamu sayang? kamu dimana sekarang mas. aku kangen banget sama kamu" hiks!
vani kembali menangis terisak.
"iya -ini aku. aku- lagi ada di rumah- sakit kota C sa-yang, tapi aku--"
tut! tut! tut!
namun sayang ponselnya mati secara tiba tiba.
"halo! halo mas dika? mas kamu dimana"
vani terus memanggil suaminya namun sambungan telpon itu sudah terputus.
saat vani hendak menelpon kembali nomornya sudah tidak aktif lagi.
tut!!!
tut!!!
"mas dika kamu dimana hiks!! hiks!!! hiks!!!"
"mas dika"
"iya aku harus cari suamiku"
vani pun berdiri dan menghapus air matanya lalu ia berjalan keluar dari dalam kamarnya.
__ADS_1
di rumah sakit itu dika merasa bingung kenapa ponselnya tiba tiba saja mati.
"kenapa handphonenya -mati?" tanya dika bingung.
"ah, mungkin baterainya lobet karena hp ini emang udah banyak rusaknya hem"
arin pun mengambil ponselnya lalu hendak menchagerkan ponselnya kembali.
"oh gitu. ya udah"
dika pun kembali merebahkan tubuhnya.
vani yang sedang panik itu pun berjalan dengan cepat menuju pintu keluar utama rumahnya.
"vani!"
rangga memanggil saat melihat adik iparnya yang sedang hamil itu berjalan dengan cepat hingga setengah berlari menuju pintu keluar.
vani pun langsung berhenti melangkahkan kakinya lalu menoleh ke arah rangga.
"mas"
"vani kamu mau kemana? kenapa kamu larian kaya gini, kalo sampe jatuh gimana?"
rangga menahan suaranya agar tetap stabil tidak ingin membentak adik iparnya itu karena takut akan menyakiti perasaan vani.
"maafin aku mas, tapi aku harus cari mas dika sekarang"
vani membuat rangga serta yang lainnya kaget saat mendengarnya.
mama ratih dan ranty baru saja datang menghampiri vani dan rangga yang terlihat sedang berbicara di dekat pintu keluar itu.
"vani, apa maksud kamu sayang? mama tau kalo kamu kangen banget sama dika, mama sama papa dan semua yang ada disini juga pasti kangen sama dika tapi kamu harus ingat kalo dika udah enggak ada sayang"
mama ratih kembali menangis sambil membelai rambut menantunya itu.
"enggak ma, enggak! mas dika masih hidup ma tadi dia telpon aku. dia bilang kalo dia lagi ada di rumah sakit di kota C jadi aku mau cari mas dika disana ma"
vani hendak melangkah pergi namun di tahan oleh rangga dan mama ratih.
"enggak sayang mungkin kamu cuma berhalusinasi aja nak kamu jangan terlalu mikirin dika terus ya mama enggak mau kalau kamu sakit"
bujuk mama ratih yang masih menangis.
"aku enggak bohong ma, aku benar benar dengar suara suamiku" vani masih berniat hendak melangkah pergi.
"sshh aw!! aduh perut aku sakit ma"
"vani! kamu enggak papa sayang?" semua orang khawatir.
"akh! auh! sakit banget!"
vani hampir terjatuh namun ranty langsung menopang tubuh vani.
"mas ayo bawa vani masuk ke kamar"
ranty menatap suaminya.
"em"
rangga pun langsung mengangkat tubuh vani kembali masuk ke dalam kamar lalu merebahkannya di atas ranjang di dalam kamar adiknya itu.
setelah rangga merebahkan tubuh vani di atas ranjang. ia meminta ranty untuk segera menghubungi dokter.
"sayang panggil dokter sekarang"
"iya mas"
ranty segera menelpon dokter kandungan vani agar datang ke rumahnya sekarang juga.
"sayang apa sakit banget"
mama ratih duduk di tepi ranjang untuk mendekati vani.
"iya ma sakit"
vani mengangguk sambil masih memegangi perutnya.
"rangga apa enggak lebih baik kita bawa vani ke rumah sakit aja nak soalnya mama khawatir banget sama keadaannya" tanya mama ratih kepada putranya.
"enggak perlu ma. rangga bakal minta rumah sakitnya yang datang ke rumah kita sekalian buat jaga jaga kalo sewaktu waktu vani ngerasain sakit lagi"
rangga menenangkan mamanya.
"ya udah rangga, kamu minta beberapa orang dokter dan perawat dari rumah sakit buat jagain vani di rumah ini ya"
papa hardi setuju dengan keputusan rangga.
"iya pa" rangga pun mengangguk.
__ADS_1
setelah dokter selesai memeriksa keadaan vani beberapa menit yang lalu, saat ini kondisinya sudah lebih membaik membuat vani kembali mengingat tujuan awalnya untuk mencari keberadaan suaminya itu.
"mas rangga, aku mohon izinin aku ke kota C ya. aku mau nyari mas dika"
"vani ingat keadaan kamu kasian bayi kamu kalo kamu kaya gini terus. apa kamu enggak sayang sama dia?"
"mas tapi aku mau cari mas dika. aku kangen sama dia" hiks! hiks!
"stop vani! bukan cuma kamu yang kangen sama dika. dia adek mas satu satunya pasti kami juga kangen sama dia tapi tolong kamu jangan bersikap kaya gini dong kasian dika enggak bisa tenang di sana kalo liat kamu kaya gini terus"
"mas, tolong percaya sama aku kalo mas dika itu masih hidup. mas dika belum meninggal mas. suamiku masih hidup aku enggak bohong. aku beneran dengar suaranya tadi" hiks! hiks!
vani terus mencoba untuk meyakinkan rangga dan yang lainnya dengan air mata mengalir membasahi pipinya.
"kamu pasti salah dengar vani"
mama ratih pun ikut menenangkan menantunya itu.
"aku enggak salah dengar ma. aku yakin itu mas dika"
"vani cukup! tolong kamu juga jaga perasaan mama sama papa di sini dong. tolong jangan kaya gini terus"
"mas rangga aku serius. aku masih waras mas, aku belum gila sampe aku enggak bisa bedain mana yang nyata sama mana yang cuma halusinasi. tolong mas percaya sama aku mas" hiks! hiks
vani terus memohon agar mereka percaya kepadanya.
"hhh!" rangga menghembuskan nafas beratnya.
"mas coba kita percaya sama vani dulu ya. siapa tau..."
"kamu juga sama aja" kesal rangga menatap istrinya.
"rangga kamu tenang ya. kita ini memang keluarga dika tapi vani istrinya apalagi sekarang vani lagi hamil dia punya ikatan batin yang juga kuat sama dika. papa pikir mungkin ada baiknya kita dengerin ucapan vani ya"
papa hardi menyikapi masalah ini dengan tenang.
"oke vani kalo kamu memang yakin itu dika, biar mas sama ray yang bakal nyari keberadaan dika disana tapi kamu di rumah aja ya"
sebenarnya rangga masih ragu namun vani tetap bersi keras dengan keyakinannya jika suara yang ia dengar tadi adalah suara lembut dari suaminya.
"aku mau ikut"
"enggak bisa! kondisi kamu masih lemah kalo kamu sayang sama bayi kamu ini. kamu harus tetap di rumah"
vani pun terdiam setelah rangga mengatakan jika mereka akan segera mencari keberadaan suaminya.
"iya, aku setuju mas tapi tolong cari mas dika ya"
vani pun mengalah agar rangga setuju untuk mencari keberadaan dika.
"oke, oh ya tadi kamu bilang dika telpon kamu dari hp kan?terus dika bilang kalo dia lagi ada di rumah sakit"
rangga kembali memastikannya.
"iya mas" vani langsung mengangguk.
"coba, mas mau liat nomor yang nelpon kamu tadi"
minta rangga ingin melihat ponsel vani.
"ini"
vani pun langsung menunjukkan ponselnya kepada rangga dan memperlihatkan panggilan terakhir di ponselnya.
"kamu yakin sayang?" mama ratih memastikan lagi.
"iya ma vani yakin itu mas dika vani yakin banget ma. tolong percaya sama vani ya. mas dika masih hidup ma"
vani mengangguk dengan gerakan cepat.
"iya sayang mama percaya sama kamu"
mama ratih pun ingin menenangkan menantunya itu meskipun sebenarnya mama ratih masih belum yakin.
"baiklah. kamu tenang aja ya vani, mas bakal cari tau sekarang tentang nomor ini jadi kamu istirahat aja ya" minta rangga.
"iya mas" vani mengangguk.
"sayang tolong kamu jagain vani ya. pastiin dia enggak pergi kemana pun" pesan rangga kepada ranty istrinya.
"iya mas"
ranty pun mengangguk lalu rangga langsung melangkah keluar dari dalam kamar itu.
"vani, kamu serius kalo tadi beneran dika yang telpon?"
ranty mendekat dan duduk di samping adik iparnya.
"iya mbak aku yakin itu suara mas dika" vani mengangguk.
__ADS_1
"ya udah kamu istirahat aja ya jangan terlalu dipikirin. mas rangga pasti bakalan cari tahu nanti"
ranty memeluk adik iparnya.