Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 97


__ADS_3

keesokkan harinya setelah menunaikan sholat subuh bersama suaminya vani mengajak dika untuk berkeliling di sekitar kampung.


suasana terasa sangat sejuk di daerah yang banyak pepohonan seperti itu. matahari terbit menyinari bumi mulai menghangatkan pagi yang sejuk itu.


"mas, yuk kita jalan jalan pagi di sekitar kampung" ajak vani kepada suaminya.


"ayo sayang biar sehat" dika pun bersemangat.


mereka berjalan keluar dari dalam rumah, saat masih berada di teras vani melihat yuli datang menghampiri.


"eh kak vani, kalian mau kemana?"


yuli sudah keluar dari dalam rumahnya hendak lari pagi bersama hana.


"mau jalan jalan yul di sekitar sini aja kata dokter aku harus rutin gerak karena kehamilan aku udah mau masuk bulan akhir, biar nanti persalinannya lancar"


vani menggandeng tangan dika keluar dari dalam halaman rumah kakaknya.


"kalo gitu kita ikut ya"


yuli menarik tangan hana berjalan mengikuti vani dan dika.


"eh eh kak pelan pelan dong"


"ayo cepetan"


"boleh aja, tapi bukannya kalian mau lari pagi ya?"


"iya tapi larinya bisa kapan kapan deh iyakan han"


yuli berjalan beriringan dengan kakaknya.


"em iya kak" hana pun tersenyum.


"oh ya udah" vani mengangguk.


"eh, ada bang dika. makin ganteng aja"


yuli menggoda abang iparnya yang semakin tampan menurutnya itu.


"eh, ada yuli. makin tua aja tapi enggak nikah nikah"


balasan dika membuat yuli merasa kesal mendengarnya.


"ckckck!! hihi"


dika terus berjalan sambil cekikikan bersama istrinya karena berhasil membuat yuli merasa kesal.


"ih bang dika udah di puji makin ganteng malah ngatain gue makin tua lagi ngeselin banget deh tuh orang, nyesel gue muji dia"


yuli menghentikan langkahnya lalu mengumpat dika dengan wajah cemberut.


"udah kak, jangan marah marah entar cepat tua"


hana pun ikut berjalan di belakang vani dan dika.


"kenapa sih semua orang ngeselin banget hari ini apalagi mereka berdua tuh. enggak lakinya enggak bininya keliatan bahagia banget ngeledek gue"


yuli merasa kesal sambil menunjuk vani dan dika yang terus saja tertawa


"cepetan jalannya yul" vani berteriak dari arah depan.


yuli pun akhirnya ikut menyusul langkah mereka yang sudah berjalan duluan.


"eh tungguin gue napa sih?"


yuli mengejar langkah hana yang sudah berjalan lebih dulu meninggalkan dirinya sebab kekesalannya tadi.


"cepetan kak yul, makanya jangan ngomel mulu" hihi


hana pun ikut menertawai kakaknya.


"ye, ini juga kan karena dua orang itu"


yuli menunjuk kakak dan abang iparnya yang sudah berjalan di depan.


"hhh!"


setelah mereka berjalan cukup jauh tiba tiba saja vani menghentikan langkahnya.


"eh mas, bentar deh. aku pengen itu"


vani menghentikan langkah suaminya lalu menunjuk buah mangga yang masih berada di atas pohon milik tetangga.


"kamu ngidam sayang?"


dika menatap ke arah pohon mangga yang tinggi.

__ADS_1


"iya mas, anak kamu pengen banget nih. kamu tolong ambilin dong"


vani memeluk lengan suaminya untuk merayu.


"em, kita beli aja ya sayang jangan yang itu"


dika mengusap perut buncit istrinya.


"enggak mau pa, baby maunya yang itu"


vani merengek seperti anak kecil menunjuk buah mangga yang berada di atas pohon.


"tapi sayang nanti papa bisa beliin yang lebih gede plus lebih banyak deh dari pada itu" bujuk dika.


"enggak mau pa" hem...!


"eh, kenapa berhenti nih kalian lagi nungguin aku ya?"


yuli dengan pedenya tersenyum melihat vani dan dika yang berhenti berjalan.


"ih, enggak usah kepedean deh kak yul"


celetuk hana membuat yuli kembali cemberut dan memanyunkan bibirnya.


"terus kenapa berhenti jalannya?"


"itu tuh kak vani ngidam mangga yang masih ada di atas pohon"


hana menunjuk ke arah pohon mangga dengan buahnya.


"oh mangga itu. em, emang enggak ada pohon mangga yang lain ya?"


yuli melirik kesana sini untuk mencari pohon mangga milik tetangga yang lain.


"emangnya kenapa kalo pohon mangga yang itu yul?" tanya dika penasaran.


"iya enggak papa sih bang. tapi kan itu pohonnya udah tinggi banget. ya mana tau ada pohon mangga yang lebih kecil jadi biar gampang ngambilnya"


"oh gitu" dika mengangguk.


"em kak"


yuli mendekati vani lalu menarik lengan kakaknya sedikit menjauh dari dika.


"ih apasih yul"


"em itu kan pohon mangga punya mantan kamu kak"


ucapan yuli membuat vani membelalakkan matanya.


plak!


"enak aja kamu, sejak kapan aku jadian sama mas diki?"


vani menepuk pundak adiknya itu karena mengerti maksud perkataan yuli.


"iya, tapi kan dia naksir sama kamu" yuli melirik dika.


"iya itu kan dulu. lagian sekarang dia juga udah nikah"


vani tak mau memikirkannya.


"eh, sejak kapan dia nikah? aku aja enggak pernah tuh di undang. setau aku bang diki belum nikah sampe sekarang deh karena dia enggak bisa move on dari kamu haha"


yuli tertawa renyah sambil terus melirik dika karena ingin melihat ekspresi wajahnya namun dika tidak menunjukkan reaksi apapun.


dika justru sedang sibuk memikirkan bagaimana caranya agar bisa mengambilkan buah mangga yang masih berada di atas pohon itu demi sang buah hati karena jujur selama ini dika hanya tahu cara membeli buah yang sudah di kemas cantik dan di jual di supermarket saja.


"masa sih, em tapi aku juga enggak tau enggak kepikiran juga tuh" vani hanya cuek menanggapinya.


"kayanya dia lagi enggak disini deh soalnya sejak dengar berita pernikahan kamu waktu itu, kata orang orang sini dia pergi merantau jauh biar bisa move on"


yuli kembali memanas manasin telinga abang iparnya yang sangat menyebalkan baginya itu.


"kamu ngapain sih ngomong kaya gitu di depan mas dika yul, lagian dia enggak bakalan cemburu tau sama aku"


vani menatap dika yang sibuk dengan pikirannya sendiri.


"oh ya kenapa gitu. maksud kamu bang dika itu enggak pernah cemburu gitu sama kamu?"


yuli malah menggosipkan dika di hadapannya langsung.


"iya, dia enggak pernah cemburu tau" vani mayun


"oh, berarti bang dika enggak sayang dong sama kamu makanya dia enggak pernah cemburu"


yuli sengaja mengatakan dengan suara yang keras di hadapan dika agar abang iparnya itu mendengarnya.

__ADS_1


dika tetap tidak merespon ucapan yuli yang absrud karena merasa tidak perlu menunjukkan lagi bagaimana perasaan cinta yang dimilikinya kepada istrinya itu sebab semua orang pasti bisa melihatnya dengan jelas.


"biarin aja lah, yang penting sekarang kamu tolong ambilin buah mangga itu ya keponakan kamu pengen banget nih" vani kembali menunjuk buah mangga.


"eh enak aja, aku kan enggak bisa manjat pohon gimana mau ambil buah. tuh suruh bang dika aja yang ambilin entar anaknya ngences lagi kalo enggak di turutin" yuli protes untuk menolaknya.


sedangkan vani hanya memasang wajah murung di hadapan adiknya itu.


"bang dika, panjat tuh pohon mangga nya terus ambilin buah yang banyak ya buat calon baby sekalian buat aunty nya juga" hehe


"nah itu dia masalahnya yul, abang juga enggak bisa manjat pohon"


dika menatap miris kearah pohon mangga yang besar dan tinggi itu.


"hadeh! ya ampun bang dika, abang tuh cowok tapi manjat pohon aja enggak bisa. terus bisanya apa? manjat istri doang" yuli membuat hana cekikikan di sebelahnya.


"ckckck! kak yuli bisa aja deh" tawa geli hana.


"hehe iya dong yul" dika nyengir cengengesan.


"ih, udah dong kenapa kalian malah berantem sih. sana izin sama yang punya pohon kalo kita mau minta buah mangga nya beberapa biji"


vani meminta yuli dan dika untuk izin kepada pemilik pohon mangga namun keduanya justru masih saja enggan dan menyuruh satu sama lain untuk meminta izin kepada si pemilik pohon itu.


"sanalah bang minta izin dulu" ujar yuli kepada dika.


"ya tapi kan yang punya pohon juga pasti enggak kenal sama aku yul temenin dong"


dika meminta yuli untuk menemaninya.


"ya udah ayo deh kalo gitu"


akhirnya yuli pun pasrah karena tak ingin vani sampai tidak dapat memakan mangga yang sangat diinginkannya itu.


yuli dan dika berjalan masuk ke depan teras rumah itu lalu mereka mengetuk pintu rumah pemilik pohon mangga.


tokk! tokk! tokk!


"assalamualaikum"


yuli dan dika mengucap salam secara bersamaan seperti anak kembar.


"walaikumsalam" sahut seseorang dari dalam rumah lalu membuka pintu rumahnya.


ceklekk!! pintu terbuka.


"permisi buk" sapa dika


"eh yuli, ada apa ya?"


seorang wanita paruh baya yang keluar dari dalam rumah itu menatap yuli dan dika secara bergantian.


"em gini bu, kalo boleh saya mau minta izin sama ibu untuk ngambil beberapa biji buah mangga punya ibu yang ada di pohon itu buat istri saya yang lagi ngidam"


dika mengatakan maksud mereka kepada ibu pemilik pohon mangga itu.


"oh jadi ini suami kamu ya yuli ganteng banget loh tapi sejak kapan kamu nikah. kok ibu enggak di undang ya"


bu tini si pemilik buah mangga tersenyum.


"eh, ibu ngelawak lagi. hh! sejak kapan saya punya suami bu? ini tuh suaminya kak vani loh jadi yang lagi hamil tuh kakak saya bukan saya ibu"


yuli berbicara lembut sambil tersenyum terpaksa agar ibu tini tidak merasa tersinggung.


padahal di dalam hati yuli rasanya ingin teriak mengatakan jika sebenarnya dirinya itu sedang jomblo.


'eh, tumben enggak ngegasss nih anak' batin dika melirik yuli sambil menahan tawanya.


"oh gitu ya, jadi ini suami vani ganteng banget ya pantesan dulu diki di tinggalin" gumam bu tini dengan suara yang semakin pelan sambil tersenyum.


'hhh! iya jelas dong bu, kak vani ninggalin bang diki demi bang dika. ya untung aja kakak gue enggak punya mertua kaya ibu' batin yuli menahan tawanya karena memikirkan kedua nama pria yang mirip itu.


"em, jadi gimana bu apa boleh?" tanya dika lagi.


"oh iya boleh kok boleh, ya udah yuli kalian ambil aja buah mangga nya banyak juga enggak papa loh" bu tini akhirnya mengizinkan.


"wah! makasih ya bu, ibu baik banget deh" yuli tersenyum.


"Alhamdulilah. makasih banyak ya bu"


dika pun tersenyum senang karena ia sudah mendapat izin mengambil mangga untuk istrinya.


"iya sama sama. kalo gitu ibu masuk dulu ya, kalian ambil langsung aja"


bu tini tersenyum lalu kembali masuk ke dalam rumahnya


"iya bu, makasih"

__ADS_1


akhirnya dika dan yuli kembali berjalan ke depan hendak menemui vani dan hana.


__ADS_2