
pasangan suami istri yang sedang bertengkar di depan gerbang rumah itu pun larut dalam perdebatannya.
tanpa menyadari jika baby arka yang sudah mulai pandai berjalan itu mulai melangkahkan kaki kecilnya berjalan di tengah jalan raya di depan rumah.
brrrmm! brrrmm! brrrmm!
dari arah yang berbeda sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi ingin melintasi jalanan yang memang seharusnya namun pengendara itu tidak menyadari jika ada seorang bayi sedang berjalan di tengah jalanan.
beruntung naya yang baru saja turun dari dalam mobil taksi itu melihat baby arka hendak tertabrak motor.
"baby arka!" gumam naya membelalakkan matanya saat melihat bayi malang itu berada di tengah jalan.
naya pun segera berlari mengejar baby arka karena hendak menyelamatkan bayi yang tidak berdosa itu.
tiinnnnn!!!!!
"sayang awas!"
naya teriak lalu memeluk baby arka dengan kuat di dalam pelukannya sambil menyebrang menghindari motor itu.
"arka!"
yuli dan ray juga kaget secara bersamaan karena baru menyadari jika putra mereka sedang dalam bahaya.
bbrrmm!!! tinnnnn!!!
suara klakson motor kuat karena kaget melihat orang yang tiba tiba saja menyebrang di hadapannya. motor itu terus melaju dengan buru buru meninggal kan tempat kejadian begitu saja karena takut berurusan dengan pihak berwajib.
brukk!!
"shh aw!"
tubuh naya terhempas kuat ke pinggir jalan namun ia tetap berusaha untuk melindungi baby arka yang sedang berada di dalam pelukannya.
perut naya juga terbentur dengan keras hingga membuat ia kembali mengalami pendarahan yang hebat.
"huaaaa mama heemm" hiks
baby arka pun menangis karena kaget dengan apa yang baru saja terjadi kepadanya.
yuli dan ray langsung berlari mendekati baby arka ketika melihat putra mereka hampir tertabrak.
"sayang, arka enggak papa kan nak?"
yuli langsung menggendong serta memeluk tubuh baby arka yang sedang menangis dan merasa takut itu.
"sayang arka enggak papa kan nak"
ray pun mengkhawatirkan keadaan putranya namun setelah itu ia langsung fokus kepada naya yang juga merasa sangat kesakitan.
"sshh! akh!!"
naya memegangi perut buncitnya yang sangat sakit akibat benturan itu.
"naya, kamu enggak papa? kamu tahan ya kita langsung ke rumah sakit sekarang"
ray hendak mengangkat tubuh naya namun ia kembali melihat ke arah istrinya yang hanya sibuk menenangkan putranya yang masih menangis.
"sayang, aku harus bantuin naya ke rumah sakit"
ray menatap istrinya hendak meminta izin namun yuli hanya meliriknya dan tidak mau menjawab apapun ia tidak mengizinkan atau pun melarang ray untuk melakukannya.
"akhh! sakit! hhh!"
naya berteriak karena merasa sudah tidak tahan, wajahnya pucat karena sudah mengeluarkan banyak darah dari pangkal pahanya.
"naya kamu tahan ya ayo kita ke rumah sakit sekarang"
tanpa menunggu jawaban dari istrinya lagi ray langsung mengangkat tubuh naya masuk ke dalam mobilnya.
dengan supir yang menyetir mobil itu melaju cepat menuju rumah sakit terdekat meninggalkan yuli dan baby arka yang masih berada di sana.
di dalam mobil ray terlihat sangat panik dengan keadaan naya dan calon bayinya.
"hhh! hhh! huhh!"
naya mencoba untuk mengatur nafasnya agar tetap sadarkan diri meskipun sangat sulit karena ia sudah merasa sangat lemah.
"sayang, kamu tahan ya sebentar lagi kita sampe anak ayah kuat kan"
ray mengusap lembut rambut naya dan juga perut buncit naya dengan rasa khawatir.
"maafin saya pak ray, saya mohon sampaikan maaf saya juga ke istri bapak ya" naya dengan suara lemahnya.
"enggak naya kamu enggak salah, kamu harus kuat ya tolong maafin saya naya. saya yang salah ini semua salah saya maaf! maafin keegoisan saya ke kalian"
ray menangis sejadinya karena merasa sangat bersalah kepada naya. dirinya lah yang sudah menghancurkan kehidupan gadis malang itu.
__ADS_1
sebelum sampai di rumah sakit ternyata naya sudah tidak sadarkan diri lagi.
"naya bangun naya! naya bangun!!"
ray menggoyang pipi naya yang sudah tidak sadarkan diri.
"tolong percepat jalan mobil ini!"
"baik pak"
supir hanya mengangguk takut padahal dirinya sudah berusaha maksimal dengan kecepatannya apalagi jalanan sedang sibuk di sore hari karena banyak kendaraan lain yang baru pulang bekerja.
sesampainya di rumah sakit, naya langsung di bawa ke ruang operasi untuk segera melakukan persalinan jalur caesar karena mengalami pendarahan hebat.
ray menunggu di depan ruangan dengan sangat gelisah.
saat dalam perjalanan pulang dari kantor dika mendapat kabar dari ray bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit.
dika langsung melajukan mobil menuju rumah sakit karena merasa khawatir pada sahabatnya yang sedang bersedih terdengar dari suaranya di telpon.
sesampainya di rumah sakit dika langsung mencari keberadaan ray yang sedang berada di depan ruang operasi.
setelah melihat sahabatnya yang sedang duduk di depan kursi tunggu dika pun mendekat kepada ray.
"ray, gimana keadaan naya?" tanya dika setelah duduk di samping sahabatnya.
"gue belum tau dik, naya masih ada di dalam" ray kembali menunduk.
"kok bisa naya kecelakaan?" dika menatap ray.
"ini salah gue"
ray pun akhirnya menceritakan tentang kejadian kecelakaan itu kepada dika.
"jadi naya kecelakaan karena mau nolongin baby arka"
"iya, itu salah gue dik harusnya gue jagain arka lebih baik lagi karena keteledoran gue sekarang naya sama bayinya dalam bahaya" ray sangat menyesal.
"iya ini emang salah lo ray tapi semua udah terjadi juga gue harap lo sabar ya, jangan nyalahin diri lo sendiri semuanya udah takdir. terus gimana keadaan baby arka sekarang?"
"arka baik baik aja dia cuma kaget terus nangis mungkin ada sedikit syok gitu tapi gue yakin mamanya pasti bisa nenangin arka, tadi gue harus langsung bawa naya ke rumah sakit karena dia pendarahan jadi gue terpaksa ninggalin arka yang masih nangis"
"iya gue ngerti kok gimana pun juga elo enggak mungkin biarin naya kesakitan di depan mata lo kaya gitu" dika menepuk pundak sahabatnya dengan pelan.
"tapi gue takut yuli bakal makin marah karena gue udah ninggalin dia sama baby arka tadi"
"lo tenang aja gue yakin yuli pasti ngerti kok"
"thanks ya dik lo udah ngertiin gue"
"santai aja gue emang temen lo yang baik kan"
di rumahnya yuli merasa sangat gelisah dengan apa yang sudah terjadi. ia memutuskan untuk kembali menemui kakaknya hendak menceritakan kejadian yang sudah ia alami baru saja.
akhirnya yuli mengajak baby arka pergi ke rumah vani.
sesampainya di rumah vani, yuli langsung meletakkan baby arka di atas tempat tidur di dalam kamar raffa karena arka sudah tertidur saat dalam perjalanan tadi.
setelah itu yuli pun kembali menangis sambil memeluk kakaknya membuat vani dan hana bingung melihatnya.
"hiks! hiks! hiks kak"
"kak yuli, kakak kenapa?" hana merasa bingung melihatnya
"enggak tau nih kok tiba tiba nangis"
"kak, aku mau cerita sesuatu" yuli menatap vani setelah melepaskan pelukannya.
"kamu kenapa yul? coba cerita sama kita biar kamu lebih tenang" vani mengusap lengan adiknya.
"aku..."
yuli pun akhirnya menceritakan tentang keadaan naya kepada vani.
"ya ampun kasian banget terus gimana keadaan naya sekarang?" tanya vani.
"aku enggak tau kak, aku juga ngerasa bersalah tapi aku tetap masih kesel jadi aku enggak tau aku harus gimana sekarang" yuli masih menangis.
"ya udah kamu tenang dulu ya yul" vani mencoba untuk menenangkan adiknya.
"tapi aku enggak bisa tenang kak"
"ya udah gimana kalo kakak pergi ke rumah sakit aja buat mastiin keadaannya baik baik aja" hana memberi solusi.
"hhh apa! lo minta gue buat jenguk cewek itu?" yuli menggelengkan kepalanya.
"iya dari pada kakak terus ngerasa bersalah?" hana mengendikkan bahunya.
__ADS_1
"enggak mau, itu sih pasti karma buat dia" kesal yuli.
"hus! kamu enggak boleh ngomong kaya gitu yuli, kan dia kecelakaan juga karena punya niat baik mau nolongin baby arka" vani mengingatkan.
"aku yakin kok, dia pasti sengaja ngelakuin itu biar kelihatan jadi pahlawan di depan mas ray biar mas ray makin jatuh cinta sama dia" yuli masih kesal.
"kak mana ada seorang ibu yang mau mempertaruhkan nyawa bayinya cuma biar di puji orang lain" ujar hana.
"yuli kamu jangan berperasangka buruk dulu kaya gitu dong, coba deh kamu bayangin kalo tadi naya enggak datang tepat waktu apa yang terjadi sama baby arka?"
vani pun menasihati adiknya agar tidak berprasangka buruk pada orang lain.
"jadi maksud kamu, aku harus berterima kasih ke dia gitu?" yuli memalingkan wajahnya.
"em iya enggak juga tapi kalo aku sih terserah kamu aja deh yul. aku juga enggak mau kamu jadi salah paham, aku bukan mau belain naya tapi cuma mau berpikir sebagai sesama manusia yang masih punya hati aja gitu" vani berbicara dengan hari hati.
"jadi maksud kamu aku enggak punya hati gitu?"
"ya bukan gitu yuli, udah deh salah mulu" vani pun diam.
"sabar ya kak, kita emang lagi enggak bisa ngerasain apa yang kak yuli rasain sekarang" ujar hana kepada vani.
"hem, iya hana kakak ngerti" vani pun mengangguk.
sesampainya di rumah sakit dila dan bagas ikut menunggu kakak mereka yang masih berada di ruang operasi.
bagas menatap ray dengan penuh kebencian namun dila selalu menahan adiknya agar tidak membuat keributan di rumah sakit terlebih lagi keadaan naya yang masih kritis.
"aku tau dia punya segalanya tapi kenapa harus kak naya yang jadi korbannya kak"
kesal bagas dengan suara pelan di dekat kakaknya sambil terus menatap ray dengan tajam.
"sabar dek, kita doain aja kak naya biar cepat sembuh ya" dila menenangkan adiknya.
"iya kak" bagas menunduk sedih.
dika menatap kedua adik naya yang sepertinya terlihat sangat kesal kepada ray namun dika menganggapnya hal yang wajar karena bagaimanapun dalam keadaan ini naya juga menjadi korbannya. mereka berdua adalah korban dari kelicikan john yang tidak bertanggung jawab sehingga membuat ray dan naya harus berada dalam hubungan yang tidak seharusnya mereka jalani saat ini.
setelah operasi persalinan selesai dokter langsung berjalan keluar dari dalam ruangan itu menghampiri ray dan dika yang berada di sana.
"dokter bagaimana keadaan naya dan bayinya?" tanya ray mendekat.
"em, maaf pak ray kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan keduanya tapi..."
ucapan dokter masih menggantung dengan raut wajah menunduk sedih
"tapi apa dokter?" ray tidak sabar mau mendengarkannya.
"tapi kami tidak bisa menyelamatkan nyawa bayi bapak" dokter menyelesaikan penjelasannya.
saat mendengar ucapan dokter tentang bayinya air mata ray langsung menetes membasahi pipi.
"enggak mungkin dok, dokter pasti salah tolong periksa sekali lagi. putri saya pasti masih hidupkan"
ray menggelengkan kepalanya tidak menerima hal yang baru saja ia dengar.
"maaf pak ray, kami juga sangat menyesal tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin" dokter menenangkan ray.
"baby kak naya udah enggak bisa di selamatin lagi"
dila menatap bagas yang juga syok mendengar kabar dari dokter tentang kakak mereka.
bagas dan dila hanya bisa terdiam sambil menangis saat mendengarnya.
"enggak mungkin dokter"
ray langsung masuk ke dalam ruangan itu hendak melihat keadaan naya dan putrinya. di ikuti oleh dika dan kedua adik naya yang juga sangat sedih mendengarnya.
"naya? bangun nay" ray menatap istrinya.
keadaan naya masih kritis terbaring lemah di atas bankar sedangkan bayinya berada di dalam box kaca dengan dua orang perawat yang akan segera menggeluarkan tubuh mungil bayi yang baru lahir itu dari dalam box.
ray mengalihkan pandangannya menatap sedih pada bayi mungil yang cantik itu, terlihat wajah bayi yang pucat dan tidak bernafas.
hati ray sangat hancur menatap putri kecilnya yang sudah tidak bernyawa. ia menggendong serta memeluk tubuh mungil putrinya dengan berderai air mata.
"maafin ayah sayang, ayah enggak bisa jagain kamu"
ray memeluk tubuh mungil putrinya itu di dalam gendongan.
"sabar ray, lo pasti kuat"
dika yang setia berada di samping sahabatnya itu pun menguatkan ray yang sedang bersedih.
"putri ayah udah enggak ngerasain sakit lagi sekarang ya?maafin ayah ya nak ayah udah jahat sama mama kamu"
ray menangis dengan penuh penyesalan.
__ADS_1