Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Bab 99


__ADS_3

tak lama dika kembali datang sambil membawa makanan untuk vani.


"sayang nih kamu makan dulu ya"


dika mendekat lalu duduk di tepi ranjang.


"iya mas tapi suapin dong" minta vani manja.


"oke sayang. nih aaaaa" dika pun menyuapi istrinya.


"ck!"


yuli hanya menatap datar kemesraan sepasang suami istri di hadapannya itu.


sedangkan hana tersenyum karena dirinya sangat senang melihat kebahagiaan pasangan di hadapannya.


"tapi yul nikah tuh enak tau" vani kembali mengingatkan.


"dimana enaknya?"


yuli merasa pernikahan hanya akan merepotkan saja.


"ya disini" vani menikmati makanannya


"maksud kamu enaknya di dalam kamar gitu?"


"iya dong" hehe vani nyengir.


dika dan hana menahan tawa mendengarnya.


"ckckck hihihi"


"ish, otak kamu tuh ya mesum banget pasti di ajarin sama bang dika nih. iya kan?" yuli menggelengkan kepalanya.


"emangnya aku tadi bilang apa?" tanya vani bingung.


"iya kamu bilang kalo nikah tuh enaknya ada di dalam kamar, mesum mulu nih"


yuli mengingatkan karena vani tidak sadar dengan ucapannya sendiri.


"haha itu kan emang bener sih yul" dika tertawa.


"ya ampun terserah kalian aja deh"


yuli menyerah menghadapi pasangan di hadapannya.


"maksud aku tuh enaknya makan di suapin tau"


vani meralat ucapan sebelumnya.


"tau ah!"


yuli melangkah pergi dari dalam kamar pasangan aneh itu sedangkan hana juga mengikuti yuli keluar.


dika dan vani hanya menatap kepergian yuli yang sedang merasa kesal.


"dia kenapa sih yank?"


dika menatap vani karena melihat yuli yang kesal lalu pergi begitu saja.


"em" vani hanya mengendikkan bahunya tidak mengerti.


di luar kamar yuli masih saja mengomel sambil berjalan pulang menuju rumahnya.


"ngeselin banget sih kak vani sama bang dika"


yuli masih kesal dengan kakak dan abang iparnya itu.


"kamu kenapa sih kak yuli dari tadi marah marah mulu? lagi PMS ya" hana merasa bingung.


"aku tuh kesel tau, dari tadi mereka berdua selalu bilangin aku udah tua lah terus nyuruh nikah lah"


yuli merasa kesal karena vani dan dika selalu mengejeknya


"hehe, tapikan itu bener kak kamu juga harus nikah, emang bener umur kakak udah tua"


hana polos justru membuat yuli semakin frustasi.


"ihh!! sama aja"


yuli pergi meninggalkan hana begitu saja menuju rumahnya tanpa mengucapkan apapun lagi.


hana yang di tinggalkan begitu saja menjadi semakin bingung dimana letak kesalahannya.


"kak yuli kenapa sih emang aku salah juga ya?"


tidak mau ambil pusing memikirkannya hana pun pergi menuju rumahnya.


di dalam kamar terlihat dika sedang duduk di atas ranjang sambil menceritakan kepada vani tentang kejadian yang dialaminya saat dirinya dan yuli sedang meminta buah mangga kepada ibu tini si pemilik mangga.


"sayang kamu tau enggak. masa tadi si ibu yang punya mangga itu ngirainnya aku ini suaminya yuli" ujar dika

__ADS_1


"hah!! serius mas. jadi tadi bu tini ngira kalo kamu itu suaminya yuli?" haha


vani sambil tertawa mendengar cerita suaminya.


"iya sayang, terus akhirnya yuli jelasin kalo aku ini suami kamu. eh si ibunya malah bilang pantesan kamu ninggalin anaknya demi aku karena aku ini ganteng" lanjut dika


"ya ampun! jadi tadi bu tini bilang aku ninggalin anaknya demi kamu"


vani bingung namun tertawa kecil karena merasa lucu.


"hem, kamu seneng banget sih kayanya"


dika menatap istrinya dengan wajah datar karena sejak tadi vani sangat antusias saat membahas tentang itu.


sebenarnya selama ini dika bukan tidak pernah cemburu pada istrinya namun ia sangat percaya vani tidak mungkin mengkhianati dirinya maka dika pun tidak pernah ambil pusing soal cemburu.


terlebih selama ini vani juga tidak pernah dekat dengan pria mana pun selama mereka menikah begitu pikirnya.


"eh bukan gitu mas, cuma ngerasa lucu aja deh. padahal bu tini juga tau kalo aku sama mas diki anaknya itu enggak pernah punya hubungan apa apa"


vani memeluk lengan suaminya agar dika tidak marah.


"tapi kayanya ibu itu berharap banget kamu jadi menantunya" dika menjawab dengan ekspresi datar.


"tapi kan aku enggak jodoh sama anaknya gimana dong, aku kan jodohnya sama mas dika bukan sama mas diki" vani tersenyum saat dika menatapnya.


"kalo waktu itu kamu nikahnya bukan sama aku gimana. apa kamu bakal nikah sama dia?" dika mulai menyelidik.


"ih apaan sih mas, ya enggak lah"


vani mengalihkan pandangannya tak mau menatap mata suaminya.


"kenapa?"


dika terus menatap istrinya sampai tidak berkedip.


"iya karena aku emang enggak pernah punya perasaan apapun sama mas diki, lagian hubungan kami juga enggak terlalu dekat emang keluarganya waktu itu selalu dukung mas diki buat deketin aku tapi aku enggak mau"


"kenapa kamu enggak mau?"


"em karena aku maunya cuma sama kamu" hehe nyengir vani beralasan sambil menggoda suaminya.


"kamu kan belum kenal sama aku waktu dekat sama dia" dika masih curiga


"iya karena aku tau kamu bakalan datang di hidupku mas" hehe


"itu bohong!"


vani merasa jika sejak tadi suaminya sedang menginterogasi dirinya


"menurut kamu apa?"


dika pun bingung kenapa dirinya harus bertanya tentang masa lalu istrinya itu.


"iya aku enggak tau, makanya aku nanya sama kamu"


vani kesal karena suaminya terus saja mencurigai dirinya.


"hem cuma mau tau aja selama kalian bareng apa aja yang udah kalian lakuin" dika terus bertanya dengan iseng.


"iya enggak ada lah mas, kamu kan cinta pertama aku. sekarang gantian aku mau nanya sama kamu, selama pacaran dulu kamu pernah ngapain aja sama pacar kamu?"


"em itu, enggak ada"


"yakin?" vani memicingkan mata curiga.


"iya dong sayang kamu juga cinta pertama aku hehe"


"boong"


"kok enggak percaya sih"


"iya kamu kan pernah pacaran sama karin"


"ck! udah deh sayang jangan bahas soal karin lagi ya"


"hem kami yang mulai"


"aku seneng deh itu berarti cuma aku dong satu satunya cowok di hidup kamu?" hehe


dika memeluk istrinya agar mengalihkan pembicaraan.


"bukan" vani menunduk sedih.


"bukan? terus siapa dong?" dika pun memelas.


"hiks!! hiks!! hiks!!"


vani kembali teringat dengan raka yang telah menyentuh dirinya secara paksa waktu itu.


"sayang kamu kenapa malah nangis?"

__ADS_1


dika bingung mendengar isak tangis istrinya.


"kamu kan tau mas raka juga pernah nyentuh aku dulu hiks! hiks!"


"sayang udah dong kamu jangan nangis lagi ya enggak papa kok kan tadi aku bilangnya cowok lain kalo dia sih menurut aku bukan cowok. hehe"


dika memeluk istrinya sambil bercanda.


"ih mas dika kamu nakal banget deh"


vani tersenyum namun air matanya masih menetes dalam pelukan suaminya.


"jangan nangis lagi ya sayang" emuach!


dika mengusap air mata di wajah vani dan mengecup kening istrinya itu.


"habisnya kamu jail banget deh ngatain orang lain lagi" omel vani dalam pelukan suaminya.


"iya emang bener kan sayang hehe" dika tersenyum jahil.


"enggak boleh gitu mas kamu enggak boleh ngeledekin orang lain tau. apalagi sekarang istri kamu lagi hamil emangnya kamu mau kalo nanti anak kamu mirip sama orang yang kamu ledekin?"


vani memperingatkan suaminya.


"hehe, iya maaf sayang. jangan sampe mirip kaya dia dong ini kan anak papa"


dika mengelus dab mengecup buah hatinya yang masih berada di dalam kandungan istrinya itu.


"makanya papa jangan iseng dong jahil banget deh"


"iya kan cuma bercanda sayang biar kamu enggak nangis lagi. emangnya kenapa sih tadi kamu malah nangis?"


"iya soalnya aku keinget sama mas raka"


"apa! kamu ingat sama dia maksudnya kangen gitu?"


"em" vani mengangguk.


"sayang!" dika kesal menyipitkan matanya.


"cie! kamu cemburu ya mas Alhamdulilah akhirnya aku liat kamu cemburu juga hehe"


"ck! enggak lucu tau" dika manyun.


"lucu banget muka kamu sayang. haha"


"aku enggak cemburu tuh"


"utu utu cuami aku cemburu ya"


"sayang! awas kamu ya"


"iya iya ampun mas" haha


dika menggelitik membuat vani tertawa geli.


di kediaman wijaya arin merasa frustasi memikirkan dika. ia masih kesal mengingat apa yang di lihatnya beberapa hari yang lalu di dalam kamar dika dan vani.


arin kesal karena tidak dapat memiliki dika seutuhnya padahal ia pun tau itu tidak akan mungkin terjadi karena dika sangat mencintai istrinya.


"arrgghh"


arin berteriak dan menjatuhkan semua barang barang yang ada di meja riasnya hingga semua berantakan.


brak! banyak pula barang yang hancur termasuk kaca rias di dalam kamarnya.


mama ratih datang hendak melihat arin di dalam kamarnya pun kaget melihat kondisi kamar arin yang berantakan.


mama ratih bingung mendengar arin berteriak histeris dan menghancurkan semua barang barang di dalam kamarnya.


"ada apa ini arin. kamu kenapa nak?"


mama ratih khawatir melihat kondisi arin yang berantakan dan terlihat kacau sambil terduduk di atas lantai.


"em, aku enggak papa tante maafin aku ya tante"


arin meminta maaf setelah tersadar dari rasa frustasinya.


"kamu lagi sedih ya"


mama ratih membantu arin naik ke atas ranjangnya.


"makasih tante"


mama ratih sedih menatap arin karena berpikir mungkin arin merasa sedih karena keadaan kakinya yang tidak bisa berjalan hingga membuat arin merasa frustasi.


"kamu sabar ya arin lebih baik sekarang kamu istirahat dulu ya"


"iya tante"


arin mengangguk lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2