
sejak membuka pintu kamar itu vani di buat takjub dengan keindahan dan kemewahan hiasan di dalamnya.
kamar yang luas dan mewah wajar saja karena saat ini mereka sedang berada di dalam salah satu kamar VVIP hotel berbintang itu.
dengan menginjakkan kaki di atas karpet yang sudah di taburi kelopak bunga di atasnya itu vani dan dika melangkah masuk ke dalam kamar mereka.
"wah!!! kamarnya bagus banget mas"
vani kagum saat memandangnya.
dika hanya tersenyum menanggapinya lalu menutup pintu kamar yang terkunci otomatis.
saat vani masih mengagumi keindahan kamarnya itu. dika pun memeluk tubuhnya dari belakang sambil berbisik.
"kamar ini bakal makin indah kalo kita menghabiskan malam terindah kita disini sayang"
dika berbisik lembut di telinga vani membuat tubuhnya merinding. ia pun langsung membalikkan tubuh istrinya agar mereka saling berhadapan.
dika memeluk erat pinggang vani lalu menyatukan kening mereka sambil mempertemukan kedua ujung hidungnya.
vani pun tertunduk malu saat dika hendak mengecupnya.
"em, emangnya kamu enggak capek ya mas?"
"enggak tuh"
dika mengangkat dagu vani agar menegakkan pandangan menatap dirinya.
ketika tatapan mereka pun bertemu dika menatap wajah istrinya dengan penuh sayang sedangkan vani menatap dika dengan ragu.
vani benar benar gugup dan merasa takut membuatnya mengingat kejadian di malam yang kelam itu.
vani langsung mengalihkan pandangannya dari dika saat suaminya itu hendak mengecup bibir mungilnya.
"tapi aku capek banget mas kaki aku juga pegel nih"
vani melepaskan pelukan dari suaminya lalu melangkah dan duduk di tepi ranjang mereka yang penuh dengan taburan kelopak bunga itu.
dika mengikuti vani dan duduk di tepi ranjang ia menatap istrinya yang sedang sibuk melepas riasan.
vani terlihat kesusahan saat akan membuka gaunnya.
"sini sayang biar aku bantu lepasin semuanya ya"
dika mendekat namun vani tertegun mendengar kata semua yang dika ucapkan.
"semua?"
vani terbata sambil meraba tubuhnya.
"hem, kamu lucu banget sih sayang emangnya kenapa kalo aku liat semuanya kita kan udah sah"
dika mencubit gemas pipi vani karena melihat reaksi istrinya itu.
vani hanya tersenyum canggung sepertinya ia benar benar takut dengan apa yang akan terjadi.
dika membantu melepaskan semua riasan ditubuh istrinya termasuk gaun yang sangat berat itu hingga kini hanya tersisa manset baju dan leging yang vani pakai.
"sekarang udah lega deh soalnya gaunnya berat banget"
vani tersenyum
dika memeluk tubuh istrinya sambil berbisik membuat tubuh vani berdesir.
"kamu bakal ngerasain yang lebih lega habis ini sayang"
dika dengan sengaja mengecup daun telinga vani.
"mas kamu bau banget deh sana mandi dulu"
vani mendorong tubuh dika dari pelukannya sebenarnya hanya beralasan untuk mengulur waktu.
"hh! oke deh sayang aku bakal cepat mandinya"
dika pun bergegas melangkah masuk ke kamar mandi.
"huh! gimana ini" vani menghembuskan nafasnya.
saat ini dika sudah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena merasa sangat gerah dan lengket di seluruh tubuhnya dika pun langsung mandi.
vani melangkah menuju meja rias yang berada di dalam kamar itu lalu duduk dan bercermin sambil menghapus make up yang masih menempel di wajahnya.
setelah selesai menghapus make up vani hanya diam sambil menatap pantulan dirinya di dalam cermin.
"kata orang, malam pertama itu sakit banget rasanya. apa aku juga bakal ngerasain hal yang sama malam ini?"
"kayanya enggak deh bukannya waktu itu aku udah...?"
vani kembali teringat malam itu saat raka memaksanya.
__ADS_1
"hhh! malam ini bukan yang pertama kali buat aku karena waktu itu mas raka udah..."
vani kembali bingung dan merasa dilema sendiri.
'apa aku terlalu egois karena udah nerima lamaran dari mas dika'
saat vani masih melamun tiba tiba saja dika datang memeluk tubuhnya dari belakang membuat vani terkejut dan tersadar dari lamunannya.
"sayang mikirin apa sih?" tanya dika lembut.
"em, eh kamu udah selesai mas? kok aku enggak liat kamu sih keluar dari dalam kamar mandi"
vani tidak menyadari jika dika sudah selesai mandi bahkan sudah mengganti pakaian juga.
"gimana kamu mau liat sayang kamu asik ngelamun sih"
"oh ya udah kalo gitu gantian ya aku mau mandi juga"
vani melepaskan pelukan dika lalu berjalan dengan cepat menuju kamar mandi.
bukan ingin menghindar dari suaminya hanya saja vani merasa sangat gugup. apakah akan sesakit yang ia bayangkan atau justru ia tidak akan merasakan sakit lagi.
setelah selesai mandi vani pun mengintip dari balik ruang gantinya. ia berharap jika dika sudah tertidur saat dirinya selesai mandi namun ternyata tidak. justru dika sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil asik memainkan ponsel di tangannya menunggu vani selesai mandi.
"aduh, mas dika belum tidur lagi mana baju tidurnya kaya gini semua satu lemari. siapa sih yang nyiapin baju kurang bahan semua di sini"
vani mengomel karena hanya ada lingerie yang sexy di dalam lemarinya.
"huh! oke tenang vani"
akhirnya vani pun berjalan melangkah mendekati sisi ranjang dengan perasaan sangat gugup.
"mas, kamu belum tidur?"
vani bertanya sambil berdiri di samping ranjang.
"belum"
dika terlihat masih fokus menatap ponselnya.
"ya ampun ini kenapa ranjangnya penuh bunga gini sih. kita mau tidur dimana coba?"
vani melihat ranjang yang penuh dengan taburan kelopak bunga. ia berpikir jika mereka tidak mungkin tidur di atas taburan bunga itu seperti sedang berada di kuburan saja.
mendengar istrinya itu mengomel dika pun langsung mengalihkan pandangannya menatap ke arah vani
"kamu kenapa sih marah mar...."
dika menelan salivanya dengan susah payah sambil memandang keindahan itu tanpa berkedip.
"mas kamu kenapa?"
vani merasa canggung karena dika menatapnya tanpa berkedip. ia merasa malu melihat sorot mata itu.
tanpa mengucapkan apapun lagi dika langsung berdiri lalu memeluk pinggang ramping vani dengan erat.
"kamu cantik banget sayang" bisik dika mengecup daun telinga vani yang membuatnya merinding.
dengan perlahan dika membawa tubuh vani duduk di tepi ranjang.
mereka saling bertatapan satu sama lain tanpa ada yang berniat melepaskan pandangannya.
perlahan dika semakin menunduk mendekatkan wajah mereka hingga vani berbaring di atas ranjang dengan tubuh dika berada diatas tubuhnya.
dika mengecup bibir mungil vani yang manis lalu melumvtnya dengan lembut.
semakin bergerak turun dika pun bermain di bagian leher hingga ke dada istrinya.
permainan dari sang suami membuat vani tidak sadar melenguh merasakannya.
"sshh! umh!!" lenguhan lolos begitu saja dari bibir mungilnya.
saat mendengar suara indah itu keluar dari mulut istrinya membuat tubuh dika semakin memanas menahan hasrat.
dika membuka lingerie yang di pakai oleh istrinya itu lalu membuangnya begitu saja. menatap tubuh indah sang istri dengan kulit putih yang mulus membuat dika semakin sulit untuk menahan diri.
vani yang merasa malu di tatap seperti itu oleh suaminya pun langsung menyilangkan tangan di bagian dadanya.
"buka sayang"
dika berbisik meminta vani untuk membuka piyama yang sedang di pakainya.
"em" vani merasa ragu.
dika menarik tangan vani lalu meletakkannya di bagian dadanya agar vani tidak perlu merasa ragu.
vani membuka satu persatu kancing piyama dika sampai selesai lalu melepaskan piyama itu dari tubuh suaminya.
terlihatlah tubuh ideal dika secara langsung.
__ADS_1
vani meraba lengan yang berotot itu dan menatap perut yang juga terbentuk sempurna.
setelah saling membuka pakaian satu sama lain. dika menarik selimut dan menutupi bagian tubuh mereka.
dengan tatapan lapar dika menatap dua gunung kembar milik istrinya yang padat dan berisi. ia langsung melahap benda kenyal itu satu persatu membuat vani melenguh.
"sshh! emh"
vani mencoba untuk menahan lenguhannya namun tidak bisa ia malah ketagihan merasakan kelembutan bibir suaminya yang bermain disana.
nafas vani memburu dan tubuhnya pun terasa semakin panas mendapat sentuhan lembut di bagian sensitifnya.
setelah puas bermain di bagian dada dika pun bergerak turun mengecup setiap lekuk tubuh istrinya.
vani merasakan sensasi yang luar biasa saat suaminya menyentuh bagian sensitif di pangkal pahanya.
"uhh" rasanya vani bagaikan melayang.
dika menikmati tubuh indah istrinya hingga membuat sesuatu di bawah sana sudah berdiri dengan sempurna.
dengan tatapan sayu dika meminta vani mengizinkannya untuk segera menyalurkan hasrat yang sudah tak tertahan
"sayang boleh ya?" hhh! hhh! nafas dika terdengar berat.
"tapi mas, aku..." mata vani berkaca kaca menatapnya.
vani tidak sanggup jika nantinya akan melihat kekecewaan itu dari suaminya.
vani merasa tidak pantas karena dirinya yang sudah tidak suci lagi.
"aku bakal terima semuanya sayang"
dika kembali meyakinkan vani karena ia tau apa yang sedang di pikirkan oleh istrinya saat ini.
"aku,, em,, maaf mas aku enggak bisa"
vani menggeleng sambil menundukkan pandangan lalu memalingkan wajahnya.
"sayang, masa kamu tega sih sama aku plisss!! aku janji enggak akan pernah menyesali apapun aku beneran tulus cinta sama kamu. kamu percaya kan?"
dika tetap membujuk vani dengan lembut meskipun ia memiliki hak untuk langsung melakukannya saja.
vani kembali menatap mata tulus itu membuatnya tidak tega melihat tatapan yang penuh harap dari dika akhirnya ia mengangguk untuk menyetujui permintaan suaminya.
"em" vani mengangguk.
dika tersenyum melihat vani yang mengangguk setuju.
"makasih sayang" dika mengecup kening istrinya.
tidak mau mengulur waktu lagi dika pun langsung memposisikan tubuhnya diatas tubuh istrinya lalu mengarahkan miliknya yang sudah mengeras itu pada pintu masuknya.
secara perlahan dika mulai mendorong tubuhnya untuk memasuki milik istrinya dengan gerakan yang lembut ke dalam sana agar vani tidak merasakan sakit namun hal itu justru membuatnya kesulitan untuk masuk.
dika tidak berhasil menembusnya dalam satu dorongan membuatnya harus kembali mencoba untuk memasuki lubang kecil yang terasa sempit itu.
vani memejamkan matanya merasakan dorongan yang gagal menembus masuk namun ia percaya dika tidak akan menyakitinya.
"sshh!"
hentakan berikutnya dika dapat merasakan ada sesuatu yang sedang menghalangi jalan masuknya namun harus tetap menerobosnya dengan perlahan agar tidak menyakiti istrinya yang saat ini seperti sedang menahan rasa sakit terlihat dari wajahnya.
setiap kali dika mendorong tubuhnya untuk masuk, vani selalu memejamkan matanya sambil memeluk tubuh dika dengan erat memperlihatkan mimik wajah yang sedang meringis menahan sakit.
beberapa kali dorongan sempat gagal karena mungkin dika terlalu lembut untuk melakukannya.
"tahan dikit ya sayang ini susah masuknya kalo pelan"
bisik dika vani pun mengangguk pelan.
kemudian dika mendorong tubuhnya dengan hentakan yang lebih keras dari sebelumnya agar kali ini berhasil.
meskipun sama sama merasakan perih namun akhirnya milik dika mampu menembus memasuki penghalang itu.
awalnya masih sebagian yang masuk namun sudah cukup dalam menembusnya.
"akhh"
merasakan ada sesuatu yang memaksa masuk kedalam tubuhnya vani pun merintih kesakitan karena merasakan sesuatu yang luar biasa perihnya itu. ia tetap memejamkan mata sambil mencengkram kuat punggung dika menahan rasa sakitnya.
dika terus mendorong tubuhnya perlahan agar seluruh miliknya bisa masuk ke dalam sana dengan sempurna.
"aakkhh!! sakit"
vani merintih kesakitan saat merasakan milik suaminya itu memaksa masuk lebih dalam.
"hhh! hhh!"
dari hembusan nafasnya dika pun tak kuasa menahan rasa nikmat yang di rasakannya saat berhasil menembus secara sempurna ke dalam sana.
__ADS_1
mengalir buliran bening dari sudut mata vani saat menahan rasa sakit dan perih di bagian intimnya.
setelah sobek selaput daranya mengalirlah juga darah perawannya jatuh di atas kain sprei berwarna putih itu.