
keesokan harinya vani yang merasa bosan di dalam rumah memutuskan untuk pergi ke butik untuk menemui kedua adiknya di sana.
di dalam butik vani hanya bisa mengamati pengunjung yang datang silih berganti.
setelah merasa lelah ia pun memutuskan untuk beristirahat di dalam ruangannya.
yuli datang dan melihat vani sedang duduk termenung di dalam ruang kerjanya itu, ia pun mendekati kakaknya.
"kak, kamu kenapa kok aku liat dari tadi kamu melamun terus sih?" tanya yuli yang duduk di hadapan vani.
"aku enggak papa kok yul" vani tersenyum tipis.
"hem apa ini ada hubungannya sama video waktu itu?"
"iya malah sekarang arin lagi hamil"
"em, jadi maksud kamu arin itu lagi hamil anaknya bang dika gitu?"
"em" vani mengangguk
"terus,,, gimana kamu sekarang kak?"
yuli bingung merasa tidak akan sanggup jika harus berada dalam posisi vani saat ini. ia tidak ingin kakaknya di madu.
"aku juga masih bingung nih yul mas dika kan harus tetap tanggung jawab sama bayinya arin jadi aku minta dia buat lepasin aku tapi dia masih enggak mau"
"kamu yang sabar ya kak nanti kita bicarain baik baik secara kekeluargaan aja biar enggak ada yang saling nyakitin lagi" yuli pun memeluk vani kakaknya.
"iya makasih ya"
di tengah pembicaraan itu ternyata hana sudah masuk dan ikut mendengarkan cerita kakaknya dari samping.
"kak vani yang sabar ya, kakak harus tetap semangat dan jaga kesehatan biar baby di dalam tetap sehat"
hana ikut memeluk kakaknya.
"iya, makasih ya kalian selalu ada buat aku"
vani pun membalas pelukan dari kedua adiknya. ia tidak tau harus berbagi kesedihan dengan siapa lagi selain pada kedua adiknya itu.
di kantor tepat di dalam ruang kerjanya dika masih tidak bisa fokus pada pekerjaannya karena selalu memikirkan tentang masalah yang terjadi antara dirinya dengan arin.
dika tidak akan pernah melepaskan vani dari hidupnya namun di sisi lain ia juga harus bertanggung jawab kepada arin yang sedang hamil.
hal itu membuat dika merasa sangat tertekan.
saat ini ray dan rangga masuk ke dalam ruangan dika hendak mengajaknya makan siang bersama karena sejak tadi mereka sudah menunggu dika di luar ruangan namun ternyata dika tidak kunjung keluar dari dalam ruangannya.
"dika ayo makan siang bareng"
rangga berjalan mendekati adiknya yang sedang duduk di atas kursi meja kerjanya itu sedangkan dika hanya diam saja mengabaikan ajakan dari abang dan sahabatnya itu.
"hem, kenapa lagi nih bos dika?" ray menatap rangga.
"enggak tau nih, lagi mikirin cicilan mobil kali. hhh!"
rangga menggoda adiknya yang hanya diam saja itu.
"ppfftt!!! yang bener aja bos masa beli pesawat bisa tapi mobil pake di cicil sih"
ray menahan tawa lalu menimpali candaan dari rangga.
"berisik!! bisa diam enggak sih lo berdua"
dika menatap kesal pada dua orang di hadapannya itu.
"hhh! emangnya lo belum tau ya ray kalo arin lagi hamil jadi dika harus tanggung jawab atas perbuatannya"
rangga melirik adiknya sambil berbicara pada ray.
"em, udah tau sih bos saya udah dengar kabar itu dari rumah pak dika sebelumnya" ray mengangguk.
"lah! kalo udah tau terus ngapain lo masih nanya?" rangga mengalihkan pandangannya kesal.
"iya jadi masalahnya ada dimana sih bos dika bukannya lo tinggal nikahin arin aja terus semua masalah selesai kan"
ray berkata santai yang langsung mendapat tatapan tajam dari dika.
"ppfftt!!"
rangga hanya menahan tawa melihat wajah kesal adik semata wayangnya itu.
"iya maksud gue kenapa lo harus sepusing itu sih dika ada banyak kok seorang bos besar yang punya istri lebih dari satu di luar sana. gue yakin pasti lo mampu buat nafkahi dua istri tanpa harus kekurangan satu apapun kan secara lo kuat lahir batin" hehe
ray pun tertawa kecil membuatnya mendapat tepukan bahu dari rangga.
"lo jangan ngomong kaya gitu dong ray, elo tau kan dika itu orangnya setia banget. iya setia kalo lagi enggak khilaf aja"
__ADS_1
rangga hendak membela namun akhirnya tetap menggoda adiknya itu.
"ppfftt!!" ray menahan tawanya karena rangga selalu jahil kepada adiknya sendiri.
"enggak semudah itu ray lo berdua tau enggak sih kalo vani itu mau pisah sama gue setelah anak kami lahir nanti"
dika semakin frustasi mengingatnya.
"ya kalo gue jadi vani sih gue bakal ninggalin elo sekarang juga dan enggak perlu nunggu sampe anak gue lahir"
rangga terus saja membuat dika semakin kesal.
"ini semua juga karena lo berdua yang enggak bisa nemuin bukti kalo gue enggak bersalah sampai detik ini"
dika menatap kesal pada kedua orang itu.
"loh kenapa elo jadi nyalahin kita sih. ya gimana kita mau nemuin bukti kalo sebenarnya emang elo pelakunya"
"maksud lo!"
"udah udah jangan bertengkar terus dong bos, udah pada tua juga masih aja kaya anak kecil"
ray melerai perdebatan di antara abang beradik itu.
"elo tuh yang udah tua"
rangga melangkah keluar dari dalam ruangan dika setelah menunjuk wajah ray yang ia anggap tua.
"lah kenapa jadi gue sih" ray menghembuskan nafas kasar
sore harinya sepulang dari butik vani memutuskan untuk ikut pulang bersama yuli dan hana ke rumah mereka.
sesampainya di dalam rumah yuli kembali memastikan tentang keputusan dari kakaknya itu.
"kak vani, kamu yakin mau tinggal disini bukannya kamu harus tetap di sana sampe baby kamu lahir"
yuli bertanya karena vani bersikeras ingin pulang bersama.
"iya yul, aku cuma males aja kalo tiap hari harus ketemu sama arin di sana. entar aku batin lagi karena kesel sama dia aku kan enggak mau kalo anak aku nantinya sampe mirip sama dia" vani sedang duduk di sofa ruang tamu.
"iya juga sih tapi masa kamu ninggalin suami kamu disana satu atap sama cewek lain tanpa ada kamu"
yuli pun ikut duduk di samping kakaknya.
"arin kan bukan cewek asing lagi buat mas dika yuli malah sebentar lagi mereka udah mau punya anak bareng. lagian disana kan juga ada mama sama papa jadi mereka enggak cuma berdua"
vani masih menolak untuk pulang ke rumah mertuanya.
yuli menatap lurus ke depan ia juga bingung memikirkan rumitnya masalah dalam rumah tangga vani membuat dirinya semakin takut untuk membangun pernikahan.
'hem, bang dika yang selama ini aku tau kalo dia cowok baik dan sayang banget sama kak vani aja bisa khilaf sama cewek lain gimana kalo aku sampe milih cowok yang salah' batin yuli memikirkan sambil termenung.
malam harinya sehabis pulang dari kantor dika langsung bergegas kembali pulang ke rumahnya. ia ingin segera memeluk istri yang belakangan ini sangat dirindukannya itu karena meskipun mereka tinggal bersama dalam satu atap namun jarak di antara keduanya seakan sangat jauh.
sesampainya di rumah dika pun masuk dan menaiki satu persatu anak tangga hingga langkah kakinya berhenti tepat di depan pintu kamarnya.
ceklek!
dika membuka pintu kamarnya lalu berjalan masuk ke dalam namun sejauh mata memandang setiap sudut kamar ia tidak melihat keberadaan istrinya di dalam sana.
"sayang, aku pulang"
dika meletakkan tas kerjanya di atas ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi hendak segera membersihkan diri.
setelah selesai mandi dika pun mencari keberadaan vani karena sejak tadi ia belum melihat wajah istrinya itu.
"em apa vani ada di dapur ya?"
dika melangkah turun ke lantai dasar hendak mencari keberadaan vani di sana.
"sayang kamu dimana?"
dika menyusuri setiap ruangan di dalam rumahnya hingga ke dapur namun tetap tidak menemukan istrinya.
sesampainya di meja makan dika melihat semua orang sudah berkumpul hendak makan malam bersama namun tetap tidak melihat istrinya ada di sana juga.
"ma vani dimana?"
dika menatap mamanya yang sedang berada di meja makan bersama papa hardi dan juga arin.
"dika kamu udah pulang? ayo kita makan malam bareng dulu sayang"
mama ratih tidak menjawab pertanyaan dari putranya itu.
"ma, dika nanya vani ada dimana?"
dika mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
"vani? bukannya ada di dalam kamar ya soalnya mama belum liat vani turun dari tadi. ya udah kamu ajakin dia sekalian kesini ya" mama ratih tersenyum.
"vani enggak ada di dalam kamar ma kalo dia ada dika enggak bakal nanya ke mama"
dika langsung pergi kembali masuk ke kamarnya untuk mengambil ponsel lalu menelpon istrinya.
tut!! tut!!
cukup lama dika mencoba untuk menghubungi ponsel istrinya namun tidak mendapat jawaban apapun bahkan chat yang ia kirim pun tidak di balas membuat dika merasa khawatir.
"kamu dimana sih sayang?"
dika menutup ponselnya karena tidak mendapat jawaban apapun.
tiba tiba saja dika kembali teringat saat dulu vani pernah melakukan hal yang sama seperti ini. ketika sedang sedih maka vani akan pergi untuk menenangkan diri.
"apa jangan jangan..."
dika pun berpikir jika istrinya itu benar benar sudah pergi meninggalkan dirinya.
"enggak! enggak mungkin, kamu enggak boleh beneran pergi ninggalin aku sayang"
dika panik dan langsung menelpon sekretarisnya ray.
setelah telpon tersambung tidak butuh waktu lama ray pun langsung menjawab telpon dari bosnya itu.
Ray: ya halo bos ada apa?
Dika: ray lo dimana?
Ray: di rumah bos
Dika: tolong sekarang juga lo lacak keberadaan istri gue ya.
Ray: hah!! istri lo yang mana bos?
Dika: rese banget ya lo, istri gue cuma satu jadi enggak usah pake nanya lagi yang mana. kesal dika
Ray: oh oke bos, bentar ya.
ray pun mengambil laptopnya namun ia justru memeriksa email masuk di dalam laptopnya itu.
Dika: lama banget sih lo!!
Ray: eh, iya gue hampir lupa bos.
Dika : minta di pecat nih orang.
Ray: sorry bos gue tadi meriksa email penting yang masuk.
Dika: enggak ada yang lebih penting dari pada istri gue yang lagi ngilang ray.
Ray: iya iya bos bentaran napa sih.
Dika: cepetan bilang!!!
Ray: iya, vani ada di rumah adeknya bos, jadi.....
tut..! tut..! tut..!
dika langsung mematikan sambungan telponnya setelah tau vani berada di mana.
vani tidak punya adik yang lain, pasti saat ini ia sedang berada di rumah yuli begitu pikirnya.
"eh, bener bener ya nih orang kayanya minta di pecat jadi bos gue masih ngomong juga udah di matiin"
ray merasa kesal padahal ia sudah biasa dengan hal itu.
brak!!
suara pintu kamar tertutup dengan keras karena dika menariknya terlalu kuat.
dika melangkah turun ke lantai dasar lalu berjalan cepat menuju pintu keluar hendak segera masuk ke dalam mobil karena ingin menemui istrinya yang hobi pergi darinya itu.
"mas dika kamu mau kemana?"
arin bertanya saat melihat dika yang berjalan terburu buru.
"bukan urusan lo"
dika bersikap dingin tanpa menoleh pada arin sambil terus berjalan menatap pintu keluar.
"ih mas dika ngeselin banget sih"
arin hanya menatap kepergian dika dengan rasa kesal karena dika tidak menghiraukan dirinya.
dika langsung melajukan mobilnya menuju rumah yang di tinggali oleh yuli dan hana dengan kecepatan tinggi. ia benar benar takut jika vani pergi tanpa memberi aba aba lagi kepadanya.
__ADS_1
"tunggu aku ya sayang, jangan pergi please!"
dika menyetir mobilnya dengan harap cemas.