Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Putus


__ADS_3

sesampainya di dalam ruangan itu, vani pun duduk dan kembali melanjutkan menonton televisinya.


"ada apa kamu kesini mas?" vani tak menoleh.


bukannya duduk di sofa dika malah berlutut di hadapan vani lalu menggenggam kedua tangan kekasihnya itu.


"sayang kamu marah ya sama aku?"


dengan lembut dika menatap vani namun gadis itu hanya diam saja tidak mau menatapnya.


"maafin aku ya, kemaren aku bingung kenapa karin datang terus meluk aku tiba tiba kaya gitu jadi aku enggak sempat ngehindar sayang"


dika menjelaskan alasannya kenapa ia tidak menolak pelukan dari karin itu.


"udahlah mas, aku enggak marah kok sama kamu karena di peluk cewek itu. aku cuma kecewa aja karena ternyata selama ini kamu udah bohongin aku dan jadiin aku orang ketiga di antara hubungan kamu sama pacar kamu"


vani tertunduk sedih matanya kembali berkaca kaca namun masih berusaha menahannya agar tidak terlihat begitu rapuh di hadapan dika.


"itu engggak bener sayang, aku cinta sama kamu tulus dan kamu adalah satu satunya wanita di hatiku"


"udahlah mas aku enggak papa kok, aku juga baik baik aja disini jadi kamu jangan khawatir. aku enggak mau ngerusak hubungan orang"


suara vani gemetar tidak bisa lagi menahan air matanya yang lolos begitu saja.


"andai aja dari awal aku tau kalo kamu punya pacar, aku engga bakal naruh harapan apapun sama kamu. aku juga enggak akan pernah jatuh cinta sama pacar orang" hiks! vani terisak.


"sayang, kamu enggak ngerusak hubungan siapapun. aku sama karin emang engga ada hubungan apa apa, kami cuma temenan. pliss kamu percaya ya sama aku" ucap dika lembut.


"kita putus aja ya mas, lebih baik kita akhirin hubungan ini. aku enggak mau jadi penghalang kebahagiaan kalian"


vani melepaskan cincin dari jari manisnya lalu meletakkan cincin itu di telapak tangan dika.


"sayang kamu enggak percaya sama aku? aku enggak mau kita putus. aku sayang banget sama kamu, apa yang harus aku lakuin biar kamu percaya kalo aku cinta sama kamu tulus. aku enggak ada hubungan apa apa sama karin"


dika memelas karena vani telah mengakhiri hubungan mereka.


"kamu enggak perlu buktiin apapun lagi mas"


vani beranjak hendak pergi dari sana karena sudah tak sanggup lagi melihat kesedihan di wajah pria yang dicintainya itu.


"kamu pernah bilang kalo cinta kita harus saling percaya satu sama lain, tapi kenapa sekarang kamu enggak percaya sama aku?"


dika berbicara sambil menunduk membuat vani menghentikan langkahnya.


"tapi kamu juga pernah bilang kan, kalo dalam suatu hubungan kita harus selalu jujur sama pasangan kita sendiri. enggak boleh ada yang berbohong" ujar vani.


"aku enggak pernah bohongin kamu sayang, aku beneran cinta sama kamu dan aku juga enggak ada hubungan apa apa sama karin" dika masih meyakinkan vani.


"jadi kamu mau aku percaya kalo aku ini pacar kamu satu satunya sedangkan cewek itu cuma teman kamu gitu?"


"itu kenyataannya sayang"


"kalo dia emang cuma temen kamu, dia enggak mungkin bilang kalo dia udah siap buat nikah sama kamu mas. itu artinya kalian udah pernah rencanain pernikahan sebelumnya kan"


air mata vani mengalir semakin deras di pipi.


dika hanya terdiam mendengarnya, ia bingung harus bagaimana cara meyakinkan vani agar tidak mengakhiri hubungan mereka.


"aku juga cewek mas dan aku enggak akan bisa terima kalo rencana pernikahan ku batal karena cewek lain. jadi lebih baik sekarang kita putus"


vani tetap pada keputusannya, lalu melangkah pergi namun dika menahan tangannya.


"iya oke, aku bakal ceritain semuanya sama kamu. pliss kamu mau ya dengerin cerita aku"


dika meminta vani untuk kembali duduk dengan posisi seperti sebelumnya.


"cerita apa?"


akhirnya dika pun menceritakan tentang hubungannya dengan karin kepada vani.


hubungan mereka yang sebenarnya hanya berteman dekat saja. iya teman tapi dekat.

__ADS_1


terlebih lagi hubungan itu hanya untuk menuruti keinginan mamanya.


"waktu itu kami emang pernah ngerencanain pernikahan. aku setuju karena mama yang minta, aku enggak tega nolak permintaan dari mama sayang tapi karin sendiri yang udah buat semuanya jadi batal karena dia memilih pergi" jelas dika.


kepergian karin yang cukup lama bahkan tidak pernah memberi kabar, berhasil membuat dika merubah keputusannya untuk tidak menikahi gadis itu karena ia memang tidak mencintainya


terlebih lagi sekarang dika telah mencintai vani membuat keputusannya semakin bulat untuk membatalkan pernikahan itu.


dika sudah memutuskan dirinya hanya akan menikahi gadis yang dicintainya saja yaitu vani begitu pikirnya.


"aku enggak tau mas tapi tetap aja kan kamu bakal nikahin cewek itu demi mama kamu" vani menunduk.


vani bingung harus melakukan apa, saat ini ia sedang berada dalam kebimbangan hati. di satu sisi vani memang sangat mencintai dika namun di sisi lain ia juga tidak ingin menjadi perusak kebahagiaan wanita lain.


"sayang, kamu percaya ya sama aku. aku janji secepetnya bakal nyelesein masalah ini"


"please, kasih aku kesempatan ya"


"iya aku percaya sama kamu, tapi lebih baik sekarang kita jaga jarak sampe kamu selesein masalah kalian"


akhirnya vani harus mengalah agar dika berhenti memohon kepadanya.


"oke, tapi kamu janji ya mulai sekarang jangan ngehindar lagi dari aku"


dika kembali memasangkan cincin. vani hanya terdiam menatap cincin itu kembali di jarinya.


"aku mau cuti, soalnya aku harus pulang ke kampung besok. cuma beberapa hari aja kok"


vani meminta cuti padahal sebenarnya ia hanya beralasan agar bisa menjauh dari dika.


"oke aku bakal urus semuanya"


dika membelai rambut vani sambil tersenyum.


"makasih"


'mungkin ini yang terbaik buat kita mas' batin vani yang sebenarnya ingin pergi.


dika memeluknya dengan erat sedangkan vani hanya diam saja tak berniat untuk membalas ataupun melepaskan pelukan itu. ia masih bingung namun terlalu nyaman berada disana.


seakan dika tau isi hati vani yang ingin pergi darinya.


setelah beberapa saat dika masih memeluknya, ia tidak akan melepaskan pelukannya sebelum mendapat balasan dari vani.


akhirnya vani pun terpaksa membalas pelukan itu agar dika mau melepaskan tubuhnya.


"makasih ya sayang, aku janji engga bakal kecewain kamu lagi"


dika tersenyum mengusap lembut pipi vani.


"iya mas" vani pun mengangguk.


"ya udah kalo gitu aku pulang dulu ya. kamu baik baik di rumah" emuach!


dika mengecup kening vani sebelum pergi.


"hem" vani mengangguk namun enggan membalasnya.


dika pun berjalan keluar dari dalam rumah itu.


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam" jawab vani pelan.


setelah dika pergi vani menyandarkan tubuhnya di sofa sambil berpikir.


"hhh! semua pasti baik baik aja. aku yakin mas dika bakal ngerti sama keputusan ku"


vani pun kembali menyibukkan diri dengan menonton drama kesukaannya agar bisa melupakan sejenak masalahnya.


dika kembali ke kantor setelah memasuki jam istirahat.

__ADS_1


melihat dika berjalan menuju ruangannya karin langsung mengikuti langkah kekasihnya itu.


"kamu ngapain sih ngikutin aku?"


dika menoleh menatap karin yang berada di sampingnya.


"sayang, kamu dari mana aja sih. ayo kita makan siang bareng" karin memeluk lengan dika dengan manja.


"aku lagi capek, kamu makan sendiri aja" dika melepaskan pelukan karin dari lengannya.


"tapi sayang, aku kan kangen makan bareng kamu. kita makan siang bareng ya plisss"


"aku enggak laper karin"


"aku tau kamu pasti belum makan dari pagi. jadi kamu pasti lapar sayang. ayo, engga boleh nolak. nanti kamu bisa sakit loh" karin menarik lengan dika agar ikut.


akhirnya dika pun mengikuti keinginan wanita itu karena malas berdebat dengan karin yang terus memaksanya.


saat ini mereka sudah berada di dalam private room sebuah restoran mewah karena memang karin hanya akan makan di tempat seperti itu.


"sayang, ini makanan kesukaan kamu kan? aku suapin ya"


karin mengangkat sendok di hadapan dika.


"enggak, aku tiba tiba udah enggak suka itu"


"ayo lah sayang. plisss" karin tetap tersenyum.


"enggak mau karin" dika masih menolaknya.


"ck! ayo dong sayang"


karin mendekat sambil mengelus lembut paha dika di sampingnya.


karena merasa tidak ada pilihan lain dika pun akhirnya memakan makanan dari suapan karin.


"nah gitu dong sayang, kamu ganteng banget sih hari ini" karin menyandarkan tubuhnya di pundak dika.


karin merasa bahagia karena dika masih mau menuruti keinginannya. ia yakin jika dirinya pasti akan segera menikah dengan pria itu.


"sayang, aku kangen nih. yuk...."


karin mengelus lembut dada bidang dika.


"karin, kamu ngapain sih! kita kan kesini buat makan"


dika menyingkirkan tangan karin dari tubuhnya.


"tapi kan enggak ada yang liat kita sayang"


karin semakin mendekat lalu duduk di atas pangkuan dika. ia memeluk tubuh pria itu dan hendak mengecup bibirnya namun dika langsung berpaling untuk menolaknya.


"sayang, ayolah..."


karin berusaha menggoda dengan segala kelembutannya.


"karin turun!"


"kiss me baby"


"kalo kamu kaya gini terus aku bakal pergi"


ancam dika agar karin menghentikan keinginannya itu.


"ck! iya iya tapi nanti malam kamu main ke apartemen aku ya" bisik karin masih tak mau menyerah.


"enggak"


"ih sayang, kamu kok gitu sih. emang kamu enggak kangen ya sama aku. sama yang udah kita lakuin waktu itu" karin tersenyum.


"enggak!" jawab dika ketus.

__ADS_1


"ih kamu..."


karin pun merasa kesal, akhirnya ia hanya fokus memakan makanannya saja.


__ADS_2