
sesampainya di depan pintu gerbang rumah itu vani pun langsung bertanya kelada suaminya apakah mereka di izinkan atau tidak untuk mengambil mangga yang sangat diinginkannya.
"gimana mas, di kasih enggak?"
vani bertanya kepada dika dengan antusias.
"di kasih dong sayang" dika tersenyum menatap istrinya.
"Alhamdulilah, sabar ya sayang nanti pasti papa ambilin mangga nya" vani kembali mengusap perutnya.
"iya tapi yang jadi masalahnya sekarang, gimana caranya kita buat ngambil buah mangga itu dari pohonnya?" yuli bingung memikirkannya.
"ya udah kalian ambil dong sekarang, sana manjat pohon" perintah vani kepada yuli dan dika.
"hah! manjat?"
kompak yuli dan dika kaget sedangkan hana hanya menahan tawanya.
"he'em" vani mengangguk.
"tapi kan sayang..."
"kalo kamu enggak mau ngambilin, ya udah biar aku aja sendiri yang ambil mas. aku mau manjat"
ancam vani melangkah menuju pohon mangga itu.
"ya jangan dong sayang ku"
dika pun mengejar istrinya yang ngambek.
"eh, ya mana mungkin kamu yang manjat pohon kak liat perut kamu segede gitu"
yuli menahan lengan vani agar tidak pergi.
"ya habis kalian enggak ada yang mau ngambilin mangga buat aku sih" kesal vani pada dua orang di hadapannya itu.
"iya udah deh biar kita aja yang ngambilin mangganya "
yuli pun akhirnya melangkah karena mau tak mau sepertinya ia harus memanjat pohon mangga demi kakaknya.
"gitu dong. makasih ya aunty" vani tersenyum senang.
"baby sayangnya aunty doain aunty ya biar bisa ngambil buah mangga buat kamu"
yuli mendrama di hadapan perut buncit vani.
"heh, drama banget hidup lo yul"
dika datang dengan membawa tangga yang sudah ia pinjam kepada si pemilik rumah.
"eh dari mana abang dapat tangga?"
"ya dari sana lah, masa dari hongkong. udah cepetan pegangin nih tangganya. biar abang yang naik"
dika hendak menaiki tangga.
"oke oke"
yuli pun memegangi tangga yang akan dinaikin oleh dika.
"hati hati ya sayang. papa jangan sampe jatuh"
vani merasa khawatir.
"iya sayang, tenang aja papa enggak bakalan jatuh kok papa kan kuat" hehe
dika tersenyum agar istrinya tidak khawatir.
saat dika sudah berada di atas pohon ia kembali bingung harus bagaimana cara berikutnya untuk menggapai buah mangga karena buahnya berada di pucuk ranting pohon.
"yuli, cariin galah dong. engga bisa di gapai mangga mangga di langit nih"
dika lebih drama sambil menatap buah dengan menyipitkan matanya.
"ya ampun, ribet banget sih punya abang ipar kaya lo bang dika. cuma manjat pohon aja sampe gemetaran tuh kaki giliran manjat kak vani baru bahagia"
yuli protes sambil mencari cari sebuah bambu untuk mengambil buah mangga.
"ye, kamu enggak tau aja yul manjat kakak kamu itu lebih buat abang gemetaran tau"
dika tersenyum melihat wajah istrinya yang kesal karena mendengar ucapan mereka.
'ih! mas dika!!' batin vani geram.
"haha. masa sih bang"
yuli tertawa meskipun sebenarnya ia tak mengerti maksud ucapan dika.
"iya bener"
"ppfftt!! masa sih kak?"
hana menatap vani saat mendengar ucapan dari abang iparnya itu.
"iya dia gemeteran bukan cuma kakinya doang yul, kalo manjat aku semua badan ikut gemeter"
karena kesal vani semakin memperjelas maksudnya.
"haha masa sih"
yuli dan hana yang tidak mengerti dengan maksud dari kakak dan abang iparnya itu pun hanya tertawa saja.
setelah yuli berhasil menemukan sebuah bambu untuk menggapai buah mangga ia pun memberikan galah itu kepada dika.
__ADS_1
"nih bang galahnya"
"makasih ya yul"
"iya sama sama. ambil yang banyak ya bang mumpung gratis!" hehe teriak yuli.
"hus! kamu ini jangan teriak dong yul nanti kedengeran sama yang punya di kirain serius lagi" ucap vani.
"hehehe!" yuli hanya nyengir saja.
"iya kak yul, jangan kuat kuat ngomongnya entar buah mangganya habis di kirain kita lagi yang ambil padahal emang iya sih" ckckck! hana menimpali.
"haish dasar kalian"
vani hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dari kedua adiknya itu
"sayang, susah nih ngambil buah mangganya sama kaya waktu aku ngambil hati kamu dulu" dika masih bercanda
"oh jadi maksudnya aku sama kaya buah mangga!" vani berkacak pinggang.
"iya sekilo enam belas ribu kak" yuli menimpali.
"eh, kak yul enggak dapet bukannya mangga sekilo tiga pulu ribu ya" hana polos ikut menanggapi
"ckckckck!!"
"ish! kalian jahat banget sih" kesal vani.
akhirnya mereka berhasil mendapatkan buah mangga yang vani inginkan itu.
"bang dika, udah cukup nih. turun lo"
yuli menggeser tangga menjauh dari tempat sebelumnya.
"eh yuli enggak ada akhlak ya lo. balikin tangganya"
dika dengan wajah panik karena ia tidak bisa turun.
"hahaha"
sedangkan vani dan hana tertawa bahagia melihat dika yang panik.
"haha, rasain kamu mas. makanya kalo ngomong tuh di filter dulu"
vani yang masih kesal dengan ucapan suaminya tadi tentang memanjat tak mau menolong.
"sayang, plis bantuin papa dong. ini mama kamu sama adek adeknya jahil banget ke papa"
dika mengadu kepada calon bayinya yang bahkan belum lahir itu agar menolong dirinya untuk turun dari atas pohon.
"ppfftt! baby sih pasti lebih mihak ke mamanya dong" yuli mengejek.
"lompat bang dika! lompat aja" ujar hana
"opss! maaf" hana menahan tawanya.
"sayang. aku lompat nih tapi kalo nanti kaki aku cidera kamu tanggung jawab ya" ucap dika kepada vani.
"iya iya ini aku balikin deh tangganya deh"
yuli meletakkan kembali tangga itu agar dika segera turun dari atas pohon itu.
setelah berhasil mengambil beberapa buah mangganya mereka kembali mengucapkan terima kasih kepada bu tini si pemilik pohon mangga.
"ibu makasih banyak ya" ucap yuli dan yang lainnya.
"oh iya iya sama sama" jawab bu tini dari dekat rumahnya.
setelah berpamitan mereka pun bergegas kembali pulang karena hari sudah menjelang siang matahari mulai terik.
"ini sayang mangga buat kamu"
"makasih ya papa"
vani memeluk lengan suaminya sambil berjalan.
"aduh panas banget nih hari. makin panas karena liat kemesraan orang di depan mata gue"
yuli mengeluh karena terik matahari yang silau menyinari jalanan serta kakak dan abang iparnya yang selalu bersikap romantis itu.
"iya nih, bukannya olahraga pagi kita malah gosong" hana menimpali.
"heh, kalian lebay banget sih. lagian matahari pagi itu sehat buat tubuh kita tau"
vani menanggapi keluhan kedua adiknya.
"iya matahari pagi emang sehat buat kita tapi ini kan udah siang kak yang ada kulit kita gosong nih"
"iya siapa yang nyuruh kalian ikut sama kita?"
"udah udah, kenapa malah berantem sih? kalian tuh udah gede jangan kaya anak kecil deh"
dika melerai pertengkaran adik kakak yang random itu.
"tapi mas mereka duluan tuh" adu vani.
"heh! enak aja"
"udah sayang" dika merangkul istrinya sambil berjalan.
saat mereka masih berjalan tiba tiba saja vani merasakan sakit di perutnya dan pusing di kepala.
"aduh, perut aku sakit!! terus kepala aku juga pusing"
__ADS_1
vani memegangi bagian perut dan kepalanya sambil berjalan sempoyongan.
"sayang kamu enggak papa?"
dika merasa khawatir sambil memegang kedua pundak vani dari belakang.
yuli dan hana juga ikut cemas menanyakan keadaan vani.
"kak kamu enggak papa?"
"kita bawa ke klinik terdekat aja ya"
"iya bener ayo kak" yuli menyetujui usul hana.
"enggak usah deh aku enggak papa kok cuma pusing aja"
vani hampir terjatuh beruntung dika berada di sampingnya dan langsung menggendong tubuh vani kembali pulang.
"sayang tahan ya kita pulang sekarang"
"ayo hana"
hana dan yuli pun berjalan mengikuti langkah cepat dika sampai ke rumah kakaknya.
sesampainya di rumah, kak aida juga khawatir dengan keadaan vani yang terlihat pucat dan lemas.
"kamu kenapa vani kita bawa ke klinik aja ya?"
kak aida merasa khawatir.
"aku enggak papa kok kak cuma pusing dikit karena jalan. aku istirahat aja di kamar entar juga baik"
vani masih berada dalam gendongan suaminya.
"ya udah ayo dika bawa vani ke kamar ya biar kakak ambil air hangat" ucap kak aida.
"iya kak"
dika melangkah membawa vani menuju kamar mereka lalu merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang.
"sayang gimana keadaan kamu apa udah baikan?"
dika menatap istrinya setelah ia merebahkan tubuh vani di atas ranjang dika terus mengusap lembut perut istrinya itu.
"aku enggak papa kok mas. udah baikan juga"
vani tersenyum agar dika tidak terlalu khawatir.
"kalo gitu aku ambilin kamu minum sama makan dulu ya"
dika berdiri dari duduknya.
"em" vani pun mengangguk setuju.
dika berjalan keluar dari dalam kamar menuju dapur.
melihat dika yang sudah keluar dari dalam kamarnya yuli dan hana langsung masuk untuk melihat keadaan vani.
"kak vani"
"em, gimana keadaan kamu baik baik aja kan?"
"aku baik baik aja kok yul"
vani langsung bersandar disisi ranjang sambil tersenyum.
"eh, kok kamu malah senyum gitu sih?" yuli bingung
"iya kak vani kayanya udah sembuh" sambung hana.
"oh, jangan bilang sebenernya lo cuma pura pura pusing biar di gendong sama bang dika sampe di rumah. iya kan"
yuli memicingkan mata curiga.
"eh enak aja tadi tuh aku emang beneran pusing tau"
vani membantah tuduhan adiknya.
"iya, terus kamu manfaatin keadaan biar kamu enggak perlu capek jalan lagi kan?" yuli menebak jalan pikiran vani.
"hehe itu namanya kebetulan yul, kebetulan juga punya suami jadi ada yang perhatian" vani cengengesan.
"ck! itu namanya kamu sengaja ngerjain bang dika bukan kebetulan" yuli mencubit gemas pipi vani.
"aw, sakit tau. iya dong hehe makanya kamu juga nikah dong biar ada yang perhatian udah tua juga"
ucapan vani yang membuat yuli membelalakkan matanya.
"eh, bener bener ya nih orang sama aja kaya lakinya suka banget bilangin gue udah tua" yuli kesal tak terima.
"emang kamu udah tua makanya cepetan nikah" haha vani tertawa membuat hana ikut tertawa.
"ih ogah, gue masih mau menikmati kebebasan"
yuli yang merasa jika hidupnya sudah bahagia.
"kenapa kamu enggak mau nikah? siap nikah kamu juga masih bisa bebas kok"
vani mengingatkan adiknya menikah itu menyenangkan.
"enggak mau ah, cowok itu cuma bisa nyakitin hati doang"
sepertinya yuli masih trauma dengan hubungan sebelumnya.
__ADS_1