Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Bertukar posisi


__ADS_3

setelah keluar dari dalam lift, vani dan rangga langsung melangkah menuju ruangan kerjanya di ikuti oleh ray dan dika dari belakang.


"huh!!"


vani menghembuskan nafasnya dengan lega setelah berhasil keluar dari dalam lift yang terasa mencekam itu karena rasanya ia sulit bernafas saat berada di dalam lift bersama ketiga bosnya sekaligus.


saat berjalan vani merasa bingung melihat ray dan dika juga melangkah menuju arah yang sama dengan mereka yaitu ruangan rangga.


tidak seperti biasa, dika dan ray akan langsung berbelok arah berjalan menuju ruangan dika di sisi lain namun hari ini keduanya ikut berjalan masuk ke dalam ruangan rangga.


'kok pak dika sama pak ray juga jalan kesini ya? em, ya mungkin mereka ada urusan yang lain" batin vani cuek saja.


akhirnya mereka sampai di depan ruangan rangga, vani mendekat ke arah meja kerjanya sedangkan dika dan ray sudah berjalan masuk lebih dulu ke dalam ruangan itu.


saat vani hendak duduk di kursinya, rangga pun mengajaknya untuk ikut masuk ke dalam.


"vani, kamu juga ikut masuk sebentar ya. ada yang ingin saya sampaikan"


ujar rangga menatap vani sebelum masuk ke dalam ruangannya.


"baik pak"


vani mengangguk lalu kembali berdiri dan ikut berjalan masuk ke dalam ruangan rangga.


saat ini keempatnya sudah duduk di atas sofa dengan saling berhadapan.


hanya hening yang tercipta karena ketiga pria itu masih sibuk dengan ponsel masing masing membuat vani semakin bingung dan bertanya tanya di dalam hatinya.


'ada apa ya? kok mereka cuma duduk diam aja disini sih, apa hari ini enggak perlu kerja ya' batin vani merasa aneh sambil menatap ketiga pria yang sibuk dengan ponselnya itu.


setelah sepuluh menit berlalu, suasana didalam ruangan itu pun masih tetap hening namun vani terus menunggu dengan sabar. hingga akhirnya suara rangga terdengar memecah keheningan.


"ada yang ingin saya sampaikan kepada kalian"


rangga membuka suara setelah meletakkan ponselnya di atas meja, di ikuti oleh ray juga kecuali dika ia tetap fokus menatap ponselnya.


'huh! akhirnya' batin vani lega mendengar suara rangga berbicara.


"kalian tau kan kalau posisi saya dan dika itu sama di kantor ini jadi otomatis posisi kalian berdua juga sama disini"


rangga menatap ray dan vani secara bergantian.


"iya pak"


vani dan ray mengangguk bersamaan seperti anak ayam yang menurut pada induknya.


"hari ini saya ada tugas lapangan di luar kota, jadi saya membutuhkan seorang sekretaris untuk menemani dan membantu pekerjaan saya di sana. maka dari itu saya memutuskan akan mengajak ray untuk pergi bersama saya" rangga menatap ray.


ray mengangguk karena ia sudah mengerti apa maksud dari ucapan bosnya itu sedangkan vani menatap bingung pada ray yang mengangguk.


"vani, untuk sementara ini kamu akan bertukar posisi dengan ray. kamu akan jadi sekretaris dika untuk beberapa hari ke depan"


rangga beralih menatap vani.


"hem?"


meskipun masih bingung mencernanya namun vani tetap mengangguk setuju saja.


"baik pak"


vani tersenyum canggung lalu menunduk sambil kembali berpikir.


"bagus! kalau kalian sudah setuju"


dengan santai rangga menyandarkan tubuhnya ke belakang.


'em, kalo aku jadi sekretaris pak dika itu artinya aku bakal lebih sering ketemu dong sama dia. hem, kayanya jantung ku juga harus bekerja extra deh selama beberapa hari ke depan' batin vani berpikir aneh.


vani melirik ke arah dika yang sedang duduk di hadapannya itu.


terlihat dika hanya fokus memainkan game di ponselnya saja tanpa mendengarkan ucapan rangga kepada dua sekretaris mereka itu.


"ya sudah, mulai hari ini kalian sudah boleh bertukar posisi karena siang ini juga kita akan berangkat ray" rangga kembali menatap ray.

__ADS_1


"baik pak"


ray mengangguk setuju sedangkan vani masih larut dalam pikirannya.


setelah percakapan itu selesai, dika langsung berdiri dari duduknya.


sambil tetap menatap fokus pada ponsel di tangannya dika berjalan menuju pintu keluar hendak segera kembali ke dalam ruangannya sedangkan vani masih sibuk melamun dengan pikirannya sendiri.


"ehem, kamu kenapa?"


ray menatap vani yang masih melamun duduk di tempat, belum beranjak mengikuti bosnya yang sudah pergi lebih dulu.


"eh! em, enggak papa pak"


vani pun gugup sambil tersenyum canggung.


"terus kenapa kamu masih disini?"


rangga menatap heran pada sekretaris penggantinya itu.


"em"


vani menoleh ke arah tempat duduk dika yang sudah kosong. ia baru menyadari jika bosnya itu sudah pergi lebih dulu meninggalkannya lalu dengan cepat vani pun beranjak dari duduknya.


"em, baik pak kalau begitu saya permisi"


vani menunduk lalu tersenyum nyengir sebelum berjalan keluar dari dalam ruangan rangga.


setelah vani keluar dari dalam ruangannya rangga pun tersenyum sambil geleng geleng kepala melihat tingkah lucu dari sekretarisnya itu sedangkan ray hanya tersenyum menatap rangga yang menggelengkan kepalanya karena ia sudah pernah melihat vani bertingkah lucu sebelumnya.


menurut ray hal itu wajar saja karena setiap wanita yang bekerja sama dengan mereka juga akan merasakannya.


sering kali merasa salah tingkah melihat ketampanan putra wijaya begitu pikirnya.


sesampainya vani di meja kerja milik ray yang berada di luar ruangan dika. ia duduk dan mulai menatap pekerjaan barunya karena letak meja mereka berbeda dan jadwal yang berbeda pula.


vani harus mencari beberapa berkas yang akan dika butuhkan dan mulai menghafal pekerjaan barunya dari awal agar tidak bingung mengatur jadwal baru untuk bosnya.


jelas pekerjaan ray jauh lebih banyak dari pada dirinya karena ray sering bertugas menjalankan banyak proyek secara langsung dan memantau pekerjaan karyawan di lapangan.


bukan hanya berkas untuk kantor ini saja yang berada di meja kerjanya karena terkadang ray juga membawa berkas dan pekerjaannya dari kantor yang lain.


dika lebih sering menyerahkan pekerjaannya kepada ray karena sekretarisnya itu bisa di andalkan untuk mengerjakan semua pekerjaan dengan lebih cepat dan mudah. apalagi dika harus bekerja ekstra dan membagi waktu serta pikiran untuk dua perusahaan besar sekaligus.


"ya ampun, ternyata kerjaannya dua kali lipat lebih banyak" keluh vani menatap semuanya.


saat vani masih kebingungan, ray pun datang untuk memastikan gadis itu tidak akan merasa kesulitan berada di meja kerjanya.


"hai vani, gimana? semuanya baik kan"


ray tersenyum menatap vani yang sepertinya sedang kebingungan.


"em, ini pak semuanya beda" vani hanya manyun dengan wajah bingung.


"hhh! kamu lucu banget sih. semua kerjaan kita emang beda tapi kamu kan gadis yang cerdas jadi saya yakin kamu pasti akan mudah untuk mempelajarinya"


ray pun duduk di samping vani lalu membuka laptop di hadapannya.


"iya tapi saya kan enggak secerdas bapak"


vani menatap ray yang sedang menatap layar.


"sama aja kok, cuma sedikit bedanya karena kerjaan saya emang doble tapi kamu enggak perlu pelajarin semuanya. cukup jadwal sama pekerjaan di kantor ini aja ya"


ray menjelaskannya sambil tersenyum.


"tapi pak, kalo nanti pak dika minta berkas yang lain gimana?"


vani terus menatap ray yang sedang duduk di sampingnya itu.


"enggak akan, dika bisa cari sendiri kalo dia butuh banget"


"masa kalo pak dika minta berkas sama saya terus saya suruh dia buat cari sendiri sih pak, kan enggak mungkin" vani semakin memelas.

__ADS_1


"haha! kamu tuh lucu banget sih vani. kamu enggak perlu terlalu takut sama dika. dia juga manusia biasa kok, bukan robot atau harimau yang bakal makan kamu kalo kamu salah"


ray sibuk menatap layar di hadapannya sambil memberi tahu vani tentang pekerjaannya.


"em, tapi kan pak dika emang nyeremin gitu sih pak hehe"


vani nyengir sambil menatap layar di hadapan mereka untuk mempelajari pekerjaan barunya.


"hem, iya sih kadang dia emang gitu kalo lagi badmood" ray sudah mengerti karakter dika.


"kalo bapak gitu juga enggak?"


vani tersenyum jahil hendak menggoda ray.


"kalo saya paling baik hati dan tidak sombong tapi anehnya enggak ada yang berani macam macam sama saya. padahal saya biasa aja tuh" jawab ray santai.


"hem, pasti ada sesuatu deh sampe banyak yang takut liat bapak, iya kan" yakin vani.


"masa sih? apa saya keliatan seseram itu?"


ray mengalihkan pandangannya menatap wajah vani membuat jarak semakin dekat.


vani mematung saat menatap wajah ray yang terlalu dekat dengan wajahnya itu.


ceklek!


dika yang hendak bertanya tentang jadwal hari ini pun keluar dari dalam ruangannya namun saat membuka pintu ia melihat ray dan vani saling bertatapan dari jarak yang sangat dekat.


saat menyadari tatapan mereka bertemu vani langsung mengalihkan pandangannya dari ray karena merasa canggung begitu juga dengan ray yang menatap ke arah layar.


setelah itu mereka kembali membahas tentang pekerjaannya.


dika terus mengamati kedekatan antara dua sekretarisnya itu sambil bersandar di dinding dekat pintu.


terlihat ray dan vani kembali saling berbincang membahas pekerjaan sambil bercanda.


"liat deh jadi lucu ya kalo kaya gini" haha


ray menunjuk gambar di dalam komputernya.


"haha! iya sih, pak ray ini ada ada aja deh"


terdengar suara vani sedang tertawa karena candaan dari ray.


setelah bosan mengamati kedua sekretarisnya itu akhirnya dika pun berdehem membuat vani dan ray menoleh bersamaan.


"ehem"


"eh, pak dika? ada yang bisa kami bantu?"


ray menatap dika yang berdiri di depan pintu.


"enggak ada, tapi kayanya lo udah bisa pergi sekarang deh. karena vani pasti bisa ngerjain semuanya dengan baik. iya kan?"


dika mengusir ray lalu beralih menatap vani.


"em, iya pak"


vani mengangguk dengan canggung.


"oke, kalo gitu saya pergi dulu ya vani. kamu semangat ya kerjanya"


ray memberi dukungan kepada rekannya itu.


"em, baik pak" vani mengangguk pelan.


"tapi hati hati ya, soalnya kerja bareng pak dika itu emang agak ekstrim" bisik ray kepada vani yang masih bisa di dengar oleh dika.


"iya pak, terima kasih" vani pun tersenyum.


setelah ray pergi, dika menatap ke arah vani sekejap lalu ia kembali masuk ke dalam ruangannya tanpa bertanya apapun.


melihat tatapan aneh dari bosnya, vani hanya menunduk sambil terdiam karena dika terus menatap dengan serius hingga kembali masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2