Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 230


__ADS_3

malam ini saat dika sudah berhasil menidurkan bayinya yang sejak tadi menangis, ia pun kembali meletakkan bayinya di dalam box bayi.


"sayang, liat deh sekarang baby udah bobok lagi nih gemes banget sih dari tadi nangis mulu kalo lagi tidur kelihatan baik budi" gemas dika menatap bayinya yang sudah terlelap itu.


"iya mas kaya kamu. kalo lagi tidur keliatan baik budi banget" vani tersenyum menatap bayinya.


"ck! jangan mulai deh sayang aku lagi capek nih"


"ya udah mas, sekarang kamu juga harus istirahat ya. besok kan kamu kerja" vani mengusap pipi suaminya.


"iya sayang. hem, oh iya tapi aku bingung deh" dika duduk di tepi ranjangnya.


"bingung kenapa sih mas?" vani pun mendekat.


"kenapa ya anak anak kita itu bisa mirip banget sama bang rangga padahal kan aku papanya" dika merasa cemburu karena anaknya mirip dengan paman mereka.


"ck! ya ampun mas kamu ini ada ada aja deh, kirain serius"


vani memutar bola matanya saat mendengar ucapan dari suaminya itu.


"tapi sayang aku emang lagi serius nih kamu tau kan kalo raffa itu udah mirip banget sama bang rangga tapi liat deh sekarang baby kedua kita ini jauh lebih mirip lagi sama dia" ucapan dika bernada kesal.


"huh!! udahlah mas, aku enggak mau bahas soal ini. lagian ini kan anak kamu, kamu yang buat juga jadi kalo menurut kamu mereka enggak mirip sama kamu yang salah siapa?"


"iya bukan salah aku"


"iya salah kamulah kenapa buatnya bisa enggak mirip" vani merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"iya tapikan harusnya lebih mirip ke aku sayang"


"menurut aku ya wajar jugalah kalo anak kita mirip sama mas rangga. dia kan paman mereka terus emangnya kamu enggak sadar apa kalo muka kamu sama mas rangga itu juga mirip banget. liat deh mukanya rara sama rasty mirip kamu juga kan"


vani malas berdebat namun tetap menanggapi agar dika berhenti kesal dengan keadaan yang sebenarnya tidak perlu ia kesalkan.


"iya sih, tapi itu kan karena mbak ranty dari dulu sampe sekarang tuh bener bener bucin sama adek iparnya yang ganteng ini sayang" dika membela diri.


"iya terus menurut kamu? mas rangga juga sayang banget ke aku tuh kaya dia sayang ke adek kandungnya sendiri. mungkin kayanya dia lebih sayang ke aku dari pada ke kamu adek kandungnya sendiri hehe"


"huh! iya iya terserah kamu deh sayang" dika pun pasrah.


"ya udah lah mas lagian kamu juga sih ngapain malah kesel soal muka anak kita yang mirip sama paman mereka coba. kalian kan punya darah yang sama jadi wajar ajalah kalo mirip. udah ah aku ngantuk mau tidur" vani pun memejamkan matanya.


"atau jangan jangan kamu juga bucin ya ke bang rangga sama kaya mbak ranty yang bucin adek iparnya"


"em, apa maksud kamu jangan jangan jodoh kita ketuker?" vani menatap polos suaminya.


"ck! iya enggak ketuker juga dong sayang" dika memelas.


"iya soalnya kan, mereka sama sama anak pertama terus kita juga sama sama anak terakhir mas. kalo kata orang enggak cocok, harusnya anak pertama sama anak bungsu dan gitu juga sebaliknya"


"ck! kamu percaya banget sih sama kata orang sayang"


"menurut kamu?"


"iya menurut aku kita cocok cocok aja tuh malah sampe udah punya anak dua lagi, bentar lagi nambah jadi tiga"


dika tersenyum jahil menggoda istrinya.


"ck! dasar mesum. enggak liat nih perut aku masih sakit bekas operasi"


"maaf ya sayang badan kamu jadi rusak karena ngelahirin anak anak aku"


"mas kamu kok ngomongnya gitu sih, mereka kan juga anak anak aku. asalkan kamu tetep sayang sama aku enggak masalah badan aku rusak demi anak anak kita"


"makasih ya sayang"


"iya mas lagian kan kamu punya banyak duit buat perawatan full body aku hehe"


"iya deh, semuanya buat kamu sayang. apa sih yang enggak bisa buat kamu"

__ADS_1


saat keduanya masih asik berbincang tiba tiba saja raffa masuk ke dalam kamar mereka dan langsung berbaring di atas ranjang papa dan mamanya itu.


"mama, papa" raffa menyapa lalu merebahkan tubuhnya di samping vani.


"sayang, affa kenapa kok belum bobok nih?" vani mengelus lembut rambut putranya.


"enggak papa ma, affa cuma lagi kangen aja sama mama sama papa juga jadi affa boleh kan pa ma malam ini bobok di sini?"


raffa meminta izin untuk di perbolehkan tidur di dalam kamar yang sama dengan papa dan mamanya itu.


"iya boleh dong sayang, mama sama papa juga kangen banget sama affa kan sejak adek affa lahir babang affa boboknya bareng oma terus" vani memeluk putranya.


"iya sayang, maaf ya kalo affa ngerasa kesepian" dika juga memeluk istri dan anaknya.


"iya pa ma, enggak papa kok affa juga seneng banget sekarang udah punya adek" emuch!


raffa mengecup pipi papa dan mamanya secara bergantian.


"babang affa sayang sama adek kan?"


"sayang banget pa"


"ya udah sekarang kita bobok yuk mama udah ngantuk banget nih"


"ayok kita bobok" dika menarik selimut menutupi tubuh mereka.


vani pun memejamkan matanya sambil memeluk raffa.


hari hari masih berjalan dengan seharusnya namun tidak dengan nasib naya di kampung halamannya.


saat ini naya hanya bisa pasrah mendengar semua hinaan dari banyak orang, baik tetangga hingga keluarga besarnya ikut memandang sebelah mata kepadanya.


karena kehamilan naya sudah menginjak usia lima bulan membuat perutnya sudah terlihat membesar.


"liat deh naya bener bener enggak tau malu ya. dulu aja di bangga banggain sekarang dia cuma bisa buat malu keluarga karena hamil enggak punya suami"


begitulah beberapa komentar yang selalu ia dengar setiap harinya.


hinaan demi hinaan yang tertuju kepada naya itu membuat kondisi kesehatan ibunya semakin drop.


ibu naya tidak sanggup melihat putrinya di hina setiap hari hingga akhirnya ibu naya pun meninggal dunia karena merasa tertekan dengan semua masalah yang datang kepada putri sulungnya.


"ibu! jangan tinggalin naya bu"


naya menangis pilu merasa sangat hancur oleh kepergian ibunda tercintanya.


naya merasa sangat bersalah pada dirinya sendiri karena masalah yang terjadi itu adalah akibat dari perbuatan dirinya dan akhirnya hal itu juga yang telah membuat nyawa ibunya tidak tertolong lagi.


"maafin naya bu. maafin naya"


naya hanya bisa menangisi kepergian ibunya dengan air mata berderai di pipinya.


begitu juga dengan kedua adik naya yang hanya bisa menangisi kepergian ibunda mereka tercinta.


"kak naya!"


kedua adik naya mendekat saat melihat naya pingsan karena tidak kuat menahan tangisannya.


di kantor ray yang mendengar informasi dari beberapa karyawannya tentang kepergian ibu naya itu pun langsung mencari tau kebenaran yang sesungguhnya.


"ray, gue denger ibunya naya udah meninggal ya?" tanya dika menghampiri meja kerja ray.


"iya dik katanya siang ini beberapa karyawan kantor juga bakal pergi takziah ke rumah naya buat ikut ngucapin bela sungkawa" ray menatap dika


"terus lo mau pergi?" tanya dika.


"kalo boleh iya sih dik, gue khawatir sama keadaan naya"


"saran gue lebih baik enggak usah sih ray, lo sama naya kan udah enggak ada hubungan apa apa lagi jadi lebih baik menghindar dari pada harus mengambil resiko kan" dika memberi saran.

__ADS_1


"tapi entah kenapa perasaan gue bener bener enggak tenang sekarang dika, gue harus ketemu sama naya"


"iya terserah lo deh ray kalo itu udah jadi keputusan lo"


"lo gak ikut?"


"kayanya gue enggak bisa deh ray, kalo elo pergi gue titip salam aja turut berduka cita ya ke naya"


"oke deh"


dika menepuk pundak ray pelan lalu kembali masuk ke dalam ruangannya.


menjelang sore hari ray dan para karyawan yang lain pun sampai di acara pemakaman ibu naya.


dari kejauhan ray hanya diam menatap naya yang sedang bersimpuh di dekat makam ibunya bersama kedua adiknya yang juga berada di samping naya.


setelah acara pemakaman selesai semua orang satu persatu mulai meninggalkan tempat pemakaman itu, termasuk keluarga naya yang lainnya. mereka juga tidak perduli kepada naya dan adik adiknya.


hingga yang tersisa hanya ada naya dan kedua adiknya disana serta ray yang masih tetap menatap mereka dari tempat ia berdiri sebelumnya.


"kak, ayo kita pulang semua orang juga udah pada pulang sekarang. enggak baik buat kakak lebih lama di sini"


dila adik perempuan naya memegang kedua pundak naya dan mengajak kakaknya untuk pulang.


"iya kak, udah cukup nangisnya. sekarang ibu udah enggak ngerasain sakit lagi, ini semua bukan salah kakak jadi stop buat nyalahin diri kakak sendiri"


bagas adalah adik laki laki naya yang ikut menguatkan kakaknya.


"selama ini kakak udah berjuang buat keluarga kita, kakak bahkan enggak mikirin diri kakak sendiri demi memenuhi semua kebutuhan keluarga kita jadi sekarang biarin aku sama bagas yang bantu kakak saat keadaan kakak kaya gini. kami sayang sama kakak" dila memeluk kakaknya.


"iya kak kami enggak akan pernah ninggalin kakak apapun yang terjadi kita bakal tetap bersama sama" bagas ikut memeluk kedua kakaknya.


dari kejauhan ray yang melihatnya pun sampe meneteskan air mata menatap tiga orang anak yang malang karena kisah hidup mereka begitu mengharukan.


'andai aku bisa berada disana ingin rasanya aku memeluk kamu dan menjadi tempat untuk kamu bersandar dari segala keluh kesah dan air mata yang membuat kamu bersedih nay' batin ray menghapus air matanya.


ray pun berbalik badan hendak segera pergi dari tempat itu karena melihat naya dan kedua adiknya juga sudah berdiri hendak pulang.


"shh! akkhh!!! sakit, perut kakak sakit" naya meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.


"ya ampun kak naya kakak kenapa, tahan sebentar ya kak kita ke rumah sakit sekarang"


dila dan bagas membantu menopang tubuh naya yang merasa kesakitan.


"bagas ayo cepat cari taksi atau apapun buat bawa kak naya ke rumah sakit" ucap dila kepada adiknya.


"iya kak, sebentar ya" bagas segera berlari ke arah jalanan.


"naya!"


ray yang melihat keadaan itu pun tidak bisa menahan dirinya lagi. ia segera berlari mendekat ke arah naya yang sedang kesakitan.


"naya, kamu baik baik aja kan?"


ray bertanya setelah ia sudah berada di samping naya.


'pak ray'


naya menatap ray yang sedang berada di dekatnya namun beberapa detik kemudian naya langsung jatuh pingsan.


"kak naya" dila mencoba untuk menopang tubuh kakaknya.


"ayo bawa ke mobil saya aja. saya akan mengantar kalian ke rumah sakit"


ray menatap dila lalu mengangkat tubuh naya dan segera berjalan menuju mobilnya.


"makasih ya pak"


dila dan bagas langsung mengikutinya dan mereka masuk ke dalam mobil ray.

__ADS_1


di dalam mobil ray sedang mencoba untuk fokus menyetir namun ia tetap merasa khawatir.


__ADS_2