
setelah itu mereka kembali pulang, sesampainya di rumah ray pun meminta naya untuk segera beristirahat saja.
"sekarang kamu istirahat aja ya"
naya kembali duduk bersandar di atas ranjang di dalam kamarnya.
"baik pak, makasih ya udah mau nganterin saya ke rumah sakit hari ini"
"oh iya, ayo kamu makan dulu ya"
ray memberikan mangkuk makanan di tangannya kepada naya.
"em, baik pak"
naya sebenarnya sangat malas untuk makan saat ini.
"kamu mau saya suapin" tanya ray yang tidak sabar saat melihat cara naya memakan makanannya itu.
"em" naya mengangguk ragu.
"ya udah ayo buka mulutnya" akhirnya ray menyuapi naya untuk makan.
naya pun memakan setiap suapan yang ray berikan dengan sangat lahap hingga makanannya habis.
"hem, ternyata putri ayah lagi pengen di manjain ya?"
ray mengusap lembut perut naya sambil mendekatkan telinganya di sana mengajak calon bayinya berbicara.
naya hanya menatapnya sambil tersenyum tipis, ia bingung harus melakukan apa namun dirinya juga tidak mungkin menolak ray yang ingin berkomunikasi dengan calon bayinya. akhirnya naya hanya membiarkan saja ray mengajak calon bayinya mengobrol untuk beberapa saat.
"emuachhh"
kecup ray pada bagian perut naya untuk mengakhiri pembicaraan di antara ayah dan anaknya itu.
"ya sudah, sekarang kamu istirahat ya"
ray pun bangkit setelah naya selesai meminum susu ibu hamil yang di berikannya.
"em"
naya mengangguk lalu kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata.
setelah naya terlelap ray pun segera beranjak untuk pulang ke rumahnya karena hari sudah larut.
malam ini sudah sangat larut, ray pulang ke rumahnya dengan kondisi wajah yang lelah.
namun sesampainya di rumah ray harus kembali berdebat dengan istrinya karena yuli selalu bertanya perihal kenapa ia selalu pulang sangat larut hingga terkadang jarang pulang ke rumahnya akhir akhir ini.
"kamu baru pulang jam segini mas?" yuli mendekati ray yang baru saja sampai.
"em, iya" ray mengangguk singkat sambil melepaskan jas serta arlojinya karena hendak mandi.
"sebenarnya kamu itu dari mana aja sih mas, kenapa akhir akhir ini kamu tuh udah enggak punya waktu lagi duduk di rumah buat perhatiin anak kamu seenggaknya"
yuli yang merasa kepulangan suaminya itu sudah sangat tidak wajar dari sebelumnya.
karena dulu sesibuk apapun suaminya itu ray pasti akan selalu menyempatkan diri meluangkan waktu mengajak istrinya dinner bareng atau setidaknya masih memiliki waktu untuk saling bercanda di rumah namun belakangan ini ray hanya pulang saat tidur di malam hari saja setelah itu ia tidak pernah terlihat lagi dimana pun.
"ck! kenapa sih kamu selalu aja nanya tentang hal yang sama setiap kali aku pulang, kan aku udah bilang aku baru pulang dari kantor dan kemarin aku nginap di kantor" ray yang lelah sedang beralasan.
"dari kantor kamu bilang? hhh! itu pasti cuma alasan kamu aja kan mas. kamu bohong" yuli kesal karena feeling seorang istri tidak mungkin salah.
"iya aku emang dari kantor, udah lah aku lagi males debat sama kamu aku capek! jangan buat aku makin males buat pulang ke rumah karena kamu selalu aja curiga sama aku kaya gini" ray terus membela diri.
"aku tanya sekali lagi sama kamu mas, kamu kemana aja?"
yuli masih mengulangi pertanyaannya yang sama karena ia tahu suaminya sedang berbohong.
"aku udah jawab kalo aku seharian ini di kantor!" ray ikut kesal.
"aku cuma minta kamu buat jujur sekarang mas"
yuli ingin mendengar kejujuran dari suaminya dengan air mata mengalir di pipi.
"aku udah jawab jujur, terserah deh kalo kamu enggak percaya. aku capek!"
ray berjalan keluar dari dalam kamarnya dan menutup pintu dengan keras.
brakk!!! suara pintu kamar tertutup.
__ADS_1
"hikss!! hikss!! hikss!!"
yuli terduduk sambil menangis lalu memeluk putranya yang sudah tertidur.
ray yang sedang merasa stres dengan keadaan itu pun berusaha untuk menenangkan diri. ia duduk menyendiri di belakang rumahnya tepat di dekat kolam renang dengan cahaya bulan yang sedang memantul di dalam air kolam.
ray diam memikirkan sesuatu, tidak seharusnya ia marah kepada istrinya karena saat ini dirinya memang sedang berbohong namun ray merasa semakin tertekan karena dirinya yang tidak bisa melupakan naya apalagi harus kehilangan sosok wanita itu di dalam hidupnya.
ray merasa sedang berada dalam dilema besar di antara dua pilihan. ia mencintai kedua wanita yang sudah menjadi istrinya itu karena yang pertama adalah wanita yang sudah memberikannya seorang putra dan satunya lagi adalah wanita yang akan segera memberikannya seorang putri.
ray benar benar tidak bisa memilih satu di antara kedua wanita itu karena keduanya adalah istrinya dan keduanya juga adalah ibu dari anak anaknya. di tambah lagi yang membuat ray merasa semakin sulit dengan keputusannya adalah karena ia sangat mencintai keduanya dan tidak ingin kehilangan salah satunya.
ray terlihat sangat egois, padahal seharusnya ia sadar jika dirinya tidak bisa memiliki keduanya secara bersamaan karena tidak akan ada wanita yang mau di duakan.
beberapa saat setelah lelah menangis yuli akhirnya menghapus sisa air mata di pipinya.
"enggak, enggak, aku bukan cewek lemah. aku pasti kuat! aku harus cari tahu semua jawabannya sendiri. jawaban dari pertanyaan di hati aku. walaupun kamu nyembunyiin sesuatu dari aku sekarang aku yakin pasti aku bakal tau semuanya mas" yuli menyemangati dirinya sendiri.
yuli menatap putranya yang masih terlelap. akhirnya ia ikut terlelap di samping baby arka.
pagi menyapa, hari ini vani sedang menyiapkan sarapan untuk suami dan juga putranya.
"sayang" dika memeluk tubuh istrinya yang sedang berdiri di dekat meja makan.
"mas, kamu ngapain sih, entar ada yang liat loh" vani melepaskan pelukan suaminya.
"ck! biarin aja sayang" dika masih saja menempel di tubuh istrinya.
"lagian kok kamu belum siap siap sih mas. kan harusnya kamu berangkat ke kantor sebentar lagi"
vani melihat suaminya masih belum memakai pakaian kerja yang rapi.
"em, aku lagi enggak enak badan sayang" dika memeluk dengan manja.
"oh ya? masa sih perasaan tadi malam baik baik aja"
vani tidak percaya lalu meletakkan tangannya di dahi suaminya itu.
"iya panas dikit sih jadi kamu lemes ya mas?"
"iya sayang" dika semakin drama dengan lemas.
vani yang merasa jika suaminya hanya pura pura sakit pun hendak mengerjai dika.
"eh, enggak usah sayang aku lagi enggak butuh dokter tapi lagi butuh asupan cinta dari kamu aja"
"ih apaan sih mas, setiap hari juga aku selalu kasih cinta aku ke kamu"
"hehe. iya sih sayang tapi..."
"tapi?"
emuch! dika mengecup bibir istrinya.
"ck! udah deh, kamu jangan alesan ya mas"
"papa, mama!"
raffa yang baru saja datang hendak sarapan pun menyapa papa mamanya itu.
"hai sayang"
"hai sayang, anak papa udah mau berangkat sekolah ya?" dika tersenyum menatap putranya.
"em" raffa mengangguk singkat dengan nada dingin
"es kutubnya lagi keluar nih bocah" gumam dika pelan.
"mas, kamu jangan ledekin afa terus dong"
"iya liat aja tuh sayang jawabnya cuma ham hem doang kan" dika yang sudah paham sikap putranya.
"mungkin afa lagi enggak mood mas" vani yang lebih mengerti sikap putranya.
"iya sama kaya kamu moodnya"
"ck!" vani hanya mengabaikan suaminya.
"sayang ke kamar aja yuk" bisik dika.
__ADS_1
"mau ngapain sih mas"
"buatin adek affa satu lagi dong" bisik dika pelan agar putranya tidak mendengar.
"ck! ih,,,"
plakkk!!! vani menepuk lengan suaminya cukup keras.
"aw! sakit sayang" dika meringis.
"habisnya kamu mesum" vani melotot ke arahnya.
"iya maaf sayang kan cuma bercanda" dika manyun.
"enggak lucu tau" vani menjawab ketus.
"tapi kalo udah jadi baby pasti lucu kan" goda dika tersenyum.
"oh iya? baby raja dimana ya?"
vani baru mengingat putra keduanya dan mencarinya berada dimana.
"ya ampun sayang anak kita masih dua aja kamu udah lupa yang satu ada di mana, gimana kalo nanti sepuluh"
"hah sepuluh?" vani menjewer telinga suaminya.
"eehh! iya sayang ampun" dika semakin meringis kesakitan.
"hem boleh sih tapi kamu yang ngelahirin ya mas"
"afa sayang tolongin papa dong, liat nih mama kamu"
dika mengadu kepada putranya karena vani terus menarik telinganya namun raffa hanya bersikap cuek sambil santai menyantap sarapan di hadapannya.
"affa, bantuin papa dong" dika dengan wajah memelas.
"mama jangan gitu dong ma" bela raffa
"denger tuh sayang jangan gitu sama papa" ucap dika.
"biarin"
"mama jangan jewer papa terlalu pelan coba lebih kuat lagi jewernya dong ma" sambung raffa tanpa menoleh.
"hah!!! sayang teganya"
dika yang mendengar ucapan putranya justru semakin memelas dengan dramatis.
"haha! rasain kamu mas, affa ada di pihak mamanya!" vani tertawa jahat meledek suaminya.
"huh! awas affa ya entar papa mau temenan sama adek raja aja deh" dika ngambek pada putra sulungnya.
"ya udah coba aja mas raja juga pasti ada di pihak mama" vani tersenyum miring.
dika menatap istrinya dengan tatapan kesal namun tidak bisa melakukan apa apa akhirnya ia hanya terdiam.
di rumahnya yuli sedang berbicara dengan dua orang pria suruhan ia meminta anak buahnya untuk mematamatai pergerakan suaminya sendiri.
beberapa tahun terakhir menjadi istri seorang ray membuat yuli mengerti cara bekerja pria yang menjadi suaminya itu.
kecerdasan haruslah menyeimbanginya agar hubungan di antara keduanya terkoneksi dengan baik.
"tolong kalian pantau pergerakan suami saya terutama saat dia keluar dari gedung kantor wijaya"
yuli menatap kedua pria di hadapannya dengan serius.
"baik bu bos, kami akan melakukannya dengan baik"
"ingat! sebaik mungkin pergerakan kalian harus rapi, kalian tau kan siapa suami saya. kemana pun dia pergi selalu ada yang menjaganya bahkan dia punya bayangan di setiap sisi tubuhnya. ini bukan pekerjaan yang mudah karena kalo sampai kalian ketahuan maka nyawa kalian yang menjadi taruhannya" peringat yuli to the point.
"baik bu bos, kami mengerti"
"terima kasih karena kalian mau membantu saya, kalo gitu kalian boleh pergi dan mulai pekerjaan kalian sekarang"
"baik bu bos, kami permisi" kedua pria itu pun pergi.
"hari ini, apapun yang kamu sembunyiin dari aku, semua akan terungkap mas"
yuli duduk di sofa ruang tamunya sambil memandang kearah pintu depan.
__ADS_1