Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 222


__ADS_3

malam harinya saat menjelang tidur vani kembali bertanya kepada suaminya tentang keberadaan ray dimana karena ingin mengutarakan pendapat yang sudah ia pikirkan sebelumnya.


"mas, kamu beneran ya enggak tau dimana mas ray sekarang?"


vani bertanya sambil memeluk lengan suaminya.


"sayang, berapa kali sih kamu nanya tentang ini terus sama aku. kan aku udah bilang kalo aku enggak tau, aku bingung harus jawab apa karena aku emang beneran enggak tau dia kemana"


dika memegang kedua pundak istrinya agar vani percaya kepadanya.


"iya tapi aku kasian sama yuli sama baby arka juga mas emangnya kamu enggak kasian ya sama mereka"


"iya sayang aku juga enggak mau mereka sedih kok kamu tenang aja ya aku bakal secepatnya nyari tau tentang dimana keberadaan si cunguk ray itu biar dia cepat pulang oke" dika menenangkan istrinya.


"iya mas makasih ya sayang" vani tersenyum dan kembali memeluk suaminya.


"en masa cuma makasih aja sih sayang" dika tersenyum menatap istrinya.


"terus aku harus gimana dong mas? apa aku harus lompat gedung sambil bilang makasih suamiku gitu ya" vani membuat dika menatapnya datar.


"iya enggak dong sayang mana boleh istri aku lompat gedung apalagi perutnya buncit kaya gini" dika membuat vani melotot ke arahnya.


"ish! mas dika"


vani merasa kesal karena dika mengejeknya gendut.


"hehe, bercanda sayang. aku kan mau ucapan makasih yang lain maksudnya itu aku mau di cium tau"


"em, boleh tapi nanti setelah kamu dapat kabar tentang mas ray ya soalnya aku mau bilang makasihnya nanti"


"ya enggak bisa gitu dong sayang kalo aku udah berhasil nemuin ray kamu harus kasih yang lebih dari ciuman"


"maksudnya?"


"iya ciuman kan cuma uang muka doang, entar kalo udah berhasil harus bayar lunas dong" hem


"ih dasar suamiku mesum, kamu berhasil juga belum tapi permintaannya udah banyak banget"


"iya enggak papa dong sayang hehe" dika memeluk istrinya.


setelah beberapa hari berlalu anak buah dika pun akhirnya berhasil melacak keberadaan ray yang sekarang sedang berada di luar kota.


'ngapain dia ada disana? apa mungkin kecurigaan gue selama ini bener' batin fika berpikir.


tak menyia nyiakan waktu lagi dika pun langsung menemui sahabatnya itu di sana hendak meminta ray untuk segera kembali pulang.


dika datang menemui ray yang masih berada di rumah ibu naya karena ibunya sedang sakit.


"hai ray, apa kabar"


dika berdiri di sana sambil menatap ray yang sedang duduk di depan teras rumah itu.


"dika?"


ray yang kaget melihat kedatangan dika pun langsung berdiri dari duduknya.


"oh, ternyata ko masih ingat sama gue kirain udah lupa"


dika mengalihkan pandangannya, mengingat ray yang izin cuti hanya tiga hari namun tidak pulang selama lebih dari seminggu terakhir ini.


"lo ngapain kesini?"


ray mengalihkan pandangannya kesana sini melihat apakah ada orang lain di dekat mereka atau tidak.


"hhh! bukannya kebalik ya? harusnya sih gue yang nanya kaya gitu ke elo, ngapain lo ada disini?" dika menatap sekretarisnya itu dengan tajam.


"gue, gue,,," ray bingung harus menjawab apa.


"enak ya di sini adem, suasananya tenang terus damai banget pastinya jauh dari masalah yang banyak"

__ADS_1


dika menyindir ray dengan lembut sambil memasukkan tangan ke dalam kantong celananya.


"lo tau dari mana gue ada di sini dika" tanya ray bingung.


"ck! itu enggak penting!!! kalo lo lupa gue ini adalah bos lo jadi buat nyari keberadaan lo ada di mana itu bukanlah hal yang sulit ray" jawab dika santai.


"hhh" ray hanya menunduk sambil menghembuskan nafas beratnya.


"gue enggak habis pikir ya bisa bisanya lo pergi ninggalin kantor dalam kondisi yang lagi down kaya gini" dika menggelengkan kepalanya.


"ikut gue dik, gue bakal jelasin"


ray mengajak dika berjalan ke arah samping rumah itu yang terlihat lebih sepi.


"heh! ray lo apa apaan sih, maksud lo apa ninggalin anak sama istri lo selama berhari hari tanpa ada kabar kaya gini?" dika kesal karena perbuatan ray itu.


"sorry ya dik, gue enggak ada maksud apa apa kok. gue cuma bingung sama posisi gue sekarang"


akhirnya ray menceritakan semua masalah yang terjadi kepada dika tentang dirinya yang sudah menghamili naya namun ia juga tidak ingin menyakiti anak dan istrinya sehingga memutuskan untuk merahasiakan semuanya.


"apa!!! naya hamil?" dika syok saat mendengarnya.


ray mengangguk benar membuat dika semakin kesal.


"hhh! brengsek lo!!"


bughhh!!


dika menarik nafas panjang lalu meluapkan kekesalan dengan meninju keras wajah ray hingga sudut bibirnya berdarah namun ray hanya diam saja tidak membalasnya.


"lo udah pergi ninggalin anak sama istri lo tanpa kabar dan sekarang lo bilang naya hamil! bener bener cari mati ya lo" dika menarik kerah baju ray.


"maafin gue dik, gue salah udah nyakitin istri sama anak gue sekarang tapi gue enggak punya pilihan lain lagi" ray membela diri.


"alasan"


"gue harus bertanggung jawab karena ibunya naya lagi sakit keras. kalo dia tau anak gadisnya hamil di luar nikah bisa bisa keadaan ibunya makin drop dan..." ray tidak melanjutkan ucapannya.


"gue gak mau dengar alasannya! bisa bisanya lo nikahin naya dan ninggalin yuli gitu aja lo beneran gila ray"


bughhh!!! sekali lagi dika ingin meluapkan rasa kesalnya.


"iya gue udah gila dika, gue gila karena gue ceritain tentang semua masalah ini ke elo! harusnya dari awal emang gue enggak perlu cerita apapun ke elo karena bukannya ngasih solusi lo malah nonjokin gue"


ray juga kesal karena tidak terima dengan sikap sahabatnya itu.


"gue enggak peduli! sekarang juga lo harus ngaku tentang kebusukan lo ini di depan semua orang"


dika hendak menarik ray pulang namun ray menahan dirinya agar tetap berada disana.


"gue enggak bisa dika"


"terus gimana kalo sampe istri lo tau semuanya? gue bener bener nyesel ray udah percaya sama orang kaya lo emang harusnya gue enggak pernah dukung hubungan lo sama adek ipar gue dulu kalo tau akhirnya lo bakal khianatin dia kaya gini" dika merasa kecewa.


"tolong jangan kasih tau istri gue tentang ini dika gue bakal bantu lo buat hancurin john asalkan lo mau bantu gue buat nyimpan rahasia ini dari istri gue" ray malah mengajukan kesepakatan.


"kesepakatan macam apa yang lo tawarin ke gue ini hah! lo pikir gue enggak bisa habisin john sendiri? gue enggak butuh elo ray"


"gue serius dika, gue udah mutusin buat nyembunyiin naya dari hinaan semua orang di balik kekuasaan lo"


"sejak kapan gue setuju sama keputusan gila lo itu"


"semua media bisa lo bungkam jadi gue bisa kembali fokus buat kerja lagi, gue harap lo setuju" bujuk ray.


"bukan gue ray tapi lo sendiri yang harus urus itu. gue pikir otak cerdas lo itu udah jadi bodoh karena punya dua istri" dika pergi setelah mengatakannya.


"thank you dika, lo emang sahabat gue" ray merasa lega karena permintaannya sudah di setujui oleh dika walaupun karena terpaksa.


sebenarnya dika hanya setengah setuju saja karena ia juga masih bingung dengan permintaan dari sahabatnya itu.

__ADS_1


bukan karena tergiur dengan penawaran ray tentang john sebab dika sendiri bisa mengatasi masalah itu sendirian namun karena dika tidak tega melihat tatapan mata ray yang sepertinya sudah merasa sangat tertekan dengan keadaannya dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi.


di dalam mobilnya dika kembali mengomel mengingat permintaan ray yang aneh.


"agghh!!! sialan ray. dia udah buat gue harus nyimpen rahasia kaya gini, apa dia lupa kalo istrinya itu adalah adek ipar gue kalo sampe vani tau tentang hal ini pasti dia juga bakal kecewa banget sama gue" dika mengomel kesal sendirian di dalam mobilnya.


"huh!! padahal selama ini gue udah berusaha banget buat ngejauhin masalah dari rumah tangga gue tapi punya satu sahabat enggak ada akhlaknya malah nimbun masalah besar di dalam rumah tangga gue sendiri"


dika kesal namun tidak tau harus bagaimana akhirnya ia melajukan mobilnya menuju pulang.


setelah mendapat kesepakatan dengan dika yang telah menyetujui keinginannya itu walaupun karena terpaksa.


beberapa hari kemudian ray akhirnya membawa naya kembali ke kota namun ia meminta naya untuk tetap berada di rumah agar tidak menimbulkan kecurigaan dari siapapun.


ray sudah membelikan sebuah rumah mewah untuk tempat tinggalnya bersama naya agar naya tidak perlu tinggal di rumah kontrakannya lagi.


rumah mewah itu akan memiliki penjagaan yang ketat agar tidak ada orang lain yang berani memasukinya kecuali atas persetujuan dari ray sebab ray tidak akan bisa tinggal di sana bersama naya karena ia akan lebih sering pulang ke rumah bersama istri pertamanya.


"pak ray, ini rumah siapa?" tanya naya saat mereka sudah sampai di rumah barunya.


"mulai sekarang kamu akan tinggal di sini naya biar lebih nyaman" ray tersenyum.


"saya?" naya menunjuk dirinya sendiri karena bingung.


sebab yang akan tinggal di sana hanya naya sendiri.


"iya, karena saya enggak akan bisa tinggal di sini setiap hari naya" ray mengingatkan naya bahwa ia memiliki istri dan anak yang lain.


"em, baik pak" naya menunduk.


"kamu enggak papa kan?" ray menegakkan pandangan naya agar menatapnya.


"em" naya hanya mengangguk.


bagaimanapun naya harus mengerti jika dirinya hanyalah seorang istri simpanan memang terkesan buruk namun itulah kenyataannya begitu pikirnya.


"ya sudah kalo gitu, saya harus pulang dulu ya" ray hendak berbalik badan.


"em, maaf pak" naya memanggil membuat ray kembali menatap ke arahnya.


"iya, ada apa?"


"em, apa saya boleh kembali kerja di kantor karena saya masih harus biayain pengobatan ibu dan juga sekolah adik adik saya" naya bersuara pelan.


"hem, lebih baik enggak usah ya nay kata dokter kamu enggak boleh kecapekan dan stres. gimana kalo nanti kamu pingsan lagi di kantor" ray melarangnya.


"tapi pak"


naya merasa sedih mengingat bagaimana dengan kehidupan keluarganya di kampung.


"kamu tenang aja ya, saya yang akan bantu untuk biaya pengobatan ibu dan sekolah adik adik kamu" ray memegang kedua pundak naya.


"hem, tapi saya enggak mau ngerepotin bapak"


"enggak kok saya enggak ngerasa direpotin. ya udah kamu tenang aja ya yang penting kamu jaga kesehatan kamu sama bayi kita disini oke"


"em" naya hanya terdiam sambil memikirkan sesuatu.


naya merasa sangat berdosa dengan apa yang telah ia lakukan namun dirinya tidak bisa menolak kebaikan dari pria di hadapannya itu.


"saya pulang dulu ya, kamu baik baik di sini. akan ada asisten yang selalu nemenin kamu biar kamu enggak kesepian" ucap ray.


"em" naya pun mengangguk.


ray berjalan keluar dari dalam rumah itu karena ia akan segera menjemput istrinya di rumah dika.


naya menatap kepergian suaminya hingga tubuh ray menghilangkan di balik pintu.


'setelah kamu lahir nanti bunda harus pergi dari kehidupan ayah kamu biar ayah bisa kembali hidup bahagia sama keluarga kecilnya yang seharusnya' batin naya menunduk sambil mengelus lembut perutnya yang masih rata.

__ADS_1


__ADS_2