
vani mendengar hembusan nafas yang panjang dari dika.
"bapak kenapa, kok kaya kesel gitu?"
"em, enggak papa kok" dika tersenyum.
"oh kirain"
"vani, kamu kok enggak makan?"
tanya dika melihat vani yang hanya makan roti dan minum teh saja sedangkan di hadapannya yuli sedang memakan nasi lengkap dengan lauk pauknya dan segelas susu hangat.
"biasalah pak, kak vani tuh emang cuma bisa sarapan pake roti sama teh aja tapi itu udah buat hidup dia bahagia banget kok hehe" celetuk yuli.
"oh ya? bagus dong, berarti enggak susah buat ngasih kamu makan hehe" goda dika jahil.
"haha iya bener tuh pak, entar suaminya pasti bakal males kerja deh soalnya istrinya cukup di kasih makan pake roti aja enggak perlu minum susu juga dia kan enggak suka" yuli tertawa.
"iya bener. haha" dika ikut tertawa.
"saya emang udah terbiasa sarapan kaya gini kok pak, karena enggak selera aja kalo sarapan pake makanan yang lain"
biasanya vani akan merasa mual jika memakan makanan berat di pagi hari.
"oh gitu" dika mengangguk mengerti.
"ini pak, makan sayuran juga ya biar sehat"
vani tersenyum sambil meletakkan rebusan bayam ke dalam piring bosnya itu.
"ppfftt"
yuli pun menahan tawa saat mendengar ucapan kakaknya yang aneh itu.
'biar sehat katanya? hhh! ada ada aja deh kak vani, iya pasti udah sehat dong. kan selama ini pak dika juga makan makanan yang jauh lebih bergizi dari pada sayuran itu' batin yuli gelak.
"makasih ya"
dika menerima piring dari tangan vani sambil tersenyum manis.
"iya pak sama sama. em, maaf ya pak menunya cuma seadanya" vani merasa tidak enak.
"enggak papa kok ini juga udah enak, lagian kamu kan tau kalau saya suka ayam"
"bagus deh kalo gitu, berarti enggak susah juga buat ngasih bapak makan"
vani tersenyum membalas candaan dika sebelumnya.
"hhh! kamu bisa aja"
dika tertawa kecil mendengar ucapan vani yang tidak pernah mau kalah itu lalu ia pun makan makanan yang sudah di siapkan oleh gadis itu dengan lahap.
"hehe saya cuma bercanda kok pak"
vani juga tertawa kecil lalu duduk dan mulai meminum tehnya.
yuli yang melihat adegan manis di antara bos dengan sekretarisnya itu tersenyum canggung karena merasa dirinya seperti sedang melihat sepasang suami istri yang hidup bahagia dan harmonis di dalam rumah sederhana pikirnya.
sebenarnya yuli bahagia melihat vani sudah mulai berani membuka hati untuk seorang pria namun disisi lain ia juga khawatir jika kakaknya akan merasakan kecewa dengan pilihannya itu.
dari sekian banyak pria kenapa harus dika, pria tampan dan memiliki segalanya. apa mungkin masih single?
rasanya tidak mungkin jika pria seperti dika itu masih sendiri karena ia terlalu sempurna untuk menyandang gelar jomblo pikirnya.
sebagai adik yang menghabiskan banyak waktu bersama selama ini, yuli mengerti tentang isi hati kakaknya itu meskipun vani tidak pernah mau berkata jujur tentang perasaannya.
melihat cara vani memperlakukan dika dengan lembut seperti itu saja yuli tau jika kakaknya pasti sudah jatuh hati kepada bosnya itu.
yuli tersadar dari lamunannya setelah mereka menyelesaikan sarapan masing masing.
"huh! jadi nyamuk deh gue"
ujar yuli karena keberadaan dirinya yang seperti tidak terlihat disana.
__ADS_1
"ck! apaan sih yul" vani merasa tersindir.
"ya iya lah, gue tuh liat kalian gini ya. udah kaya lagi liatin pasangan pengantin baru yang hidup bahagia tau enggak. dari tadi asik tatap tatapan sambil senyum senyum lagi" kesal yuli.
"syirik aja deh"
vani sengaja membuat yuli semakin kesal.
"ih, males banget deh iri sama lo. gue juga bisa kali suap suapan sama cowok gue"
yuli masih mengomel kesal sambil beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju kamar hendak mengambil tas yang akan ia bawa saat bekerja.
"hhh!"
dika tersenyum melihat perdebatan antara dua kakak beradik itu. menurutnya tingkah kedua gadis itu sangat lucu meskipun sering berdebat namun mereka tetep saling menyayangi satu sama lain. hal itu mengingatkan dirinya kepada rangga abangnya karena mereka juga sering berdebat tidak jelas membahas sesuatu yang tidak penting namun tetap saling menyayangi.
"emang kamu mau suap suapan sama pacar yang mana? hihi"
tanya vani jail yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang adik.
"ck!" yuli berdecak kesal mendengarnya.
"ups! sorry tapi kan udah ada yang baru, terus yang lama dikemanain yul?"
vani sengaja melanjutkan candaannya saat melihat yuli melangkah masuk ke dalam kamar.
"udah gue buang ke laut" jawab yuli kesal.
"ppfftt,,, haha" vani tertawa mendengarnya.
"puas lo!" teriak yuli dari dalam kamarnya saat mendengar suara tawa vani yang lepas.
"kamu sadis banget deh yul, masa udah di buang ke laut sih"
"biarin! gue mau pergi aja deh. bye!!"
yuli kesal lalu memutuskan berangkat bekerja.
"udah selesai kan pak, ayo kita berangkat kerja juga" vani menatap dika.
dika mengangguk setuju, kemudian mereka pun berangkat kerja bersama.
yuli pergi menggunakan sepeda motornya menuju tempat kerja seperti biasa sedangkan vani dan dika naik mobil ke arah tujuan mereka.
setelah melewati perjalanan yang panjang akhirnya vani dan dika pun sampai di sebuah desa tempat pembangunan rumah sakit yang akan mereka tinjau hari ini.
sebenarnya dika sengaja membangun rumah sakit di desa itu agar jika ada warga yang sakit bisa langsung di bawa ke rumah sakit terdekat tanpa harus pergi jauh sampai ke kota lebih dulu untuk bisa berobat atau memeriksakan kesehatan para warga.
nantinya pihak rumah sakit akan memberikan keringanan prosedur yang tidak membebani warga untuk berobat bahkan akan memberi pengobatan secara gratis pada warga yang benar benar tidak mampu demi kesembuhan dan kesehatan semua warga desa.
dika sengaja bekerja sama dengan dokter yang merupakan teman baiknya itu untuk membantu sesama yang sedang kesulitan terutama dalam hal pengobatan dan kesehatan.
"wah!! bapak serius mau bangun rumah sakit sebesar ini disini, desa yang jauh dari kota?"
tanya vani tak percaya sambil menatap bangunan tinggi di hadapannya.
"iya emangnya kenapa?" dika menoleh.
"iya enggak papa sih, tapi ini kan desa kecil pak jadi cuma warga desa disini yang akan berobat ke rumah sakit ini"
"emang iya, kan saya sengaja bangun rumah sakit untuk para warga disini agar mereka tidak kesulitan apalagi harus jauh jauh pergi ke kota kalau mau berobat atau melahirkan" ujar dika.
"tapi kan bapak bisa buat klinik aja" vani menatap dengan mata bulatnya.
"klinik fasilitasnya tidak terlalu lengkap lagi pula tidak bisa menampung banyak pasien untuk rawat inap kalau disini mereka akan merasa nyaman jadi warga yang sakit akan lebih semangat untuk berobat dan sembuh"
sambil tersenyum dika berjalan ke depan hendak memantau bangunan lebih dekat.
vani terdiam sambil memandang kagum kearah dika yang sedang berada di hadapannya.
jujur untuk kesekian kalinya hati vani kembali tersentuh atas sikap lembut dan baik hati bos tampannya itu.
"bener bener cowok idaman banget" gumam vani tersenyum sambil terus memperhatikan dika dari kejauhan.
__ADS_1
saat ini dika sudah berjalan lebih dulu di depan vani yang masih mematung disana.
selain tampan dika juga pria yang tulus karena ia selalu memikirkan kepentingan orang lain. begitu sempurna untuk menjadi seorang pria idaman para wanita namun semakin sempurna seseorang itu artinya semakin sulit pula untuk bisa meraihnya atau bahkan vani tidak akan mungkin bisa menggapainya begitu pikirnya.
vani berjalan mendekati bosnya itu lalu berdiri tepat di samping dika.
"pak, disini panas banget. ayo kita duduk disana aja"
ajak vani menunjuk tempat duduk yang lebih tertutup agar mereka tidak kepanasan.
"ya sudah, kamu duduk saja duluan nanti saya akan nyusul"
"baik pak"
vani mengangguk lalu berjalan menuju tempat duduk di ujung sana.
saat vani menoleh ke arah belakang ia melihat ada bahan bangunan yang akan jatuh menimpa dika dari atas kepalanya.
"pak dika!!"
vani berteriak dan langsung berlari kearah dika hendak menyelamatkan bosnya dari tertimpa bahan bangunan itu.
"awas pak!"
ia mendorong tubuh dika dengan sekuat tenaga agar tidak tertimpa bahan yang akan jatuh.
dika yang mendengar teriakan vani memanggil namanya pun menoleh ke belakang namun ia kaget karena tiba tiba saja vani mendorongnya dengan kuat hingga membuat dika kehilangan keseimbangan dan akhirnya mereka terjatuh bersamaan dengan posisi berpelukan karena vani berada di atas tubuh dika.
seketika terdengar suara bahan berat itu jatuh.
brukkh!!!
"akhh!"
vani berteriak karena bahan bangunan yang berat itu justru menimpa salah satu kakinya.
"vani!!"
dika khawatir karena melihat wajah vani yang kesakitan.
"pak dika, bu vani!"
semua pekerja bangunan yang melihat pun langsung berlari mendekat kearah bosnya hendak membantu dika dan vani.
"vani, kamu enggak papa?"
dika memegang kedua pundak vani lalu bangkit dari posisi sebelumnya.
"sshh akhhh!" teriak vani meringis kesakitan.
"vani, ayo bangun"
"sshh, sakit pak" vani kesulitan untuk bergerak.
"kaki kamu berdarah"
dika semakin panik saat melihat kaki vani yang terluka akibat tertimpa benda berat itu.
"sshh!! akh! sakit banget"
vani sangat kesakitan karena merasa tulang kakinya seperti patah.
"kamu tahan ya"
dika langsung berdiri dan mengangkat tubuh vani menuju tempat duduk yang hendak mereka datangi sebelumnya.
"maaf pak atas kelalaian kami"
ujar mandor bangunan merasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa bos mereka itu.
"kita bahas itu nanti, sekarang tolong ambilkan perban atau apapun"
"baik pak"
__ADS_1
"ini pak, untuk menghentikan darahnya"
salah seorang warga datang dengan berlari ke arah mereka sambil membawakan botol cairan alkohol dan obat merah serta perban untuk mengobati kaki vani yang terluka.