
beberapa bulan kemudian, hari ini vani sedang berada di dalam kamarnya ia menatap pantulan dirinya di dalam cermin sambil tersenyum.
vani tersenyum mengingat saat ini dirinya sudah menjadi seorang ibu dari dua orang putra. ia merasa bahagia karena kehidupan rumah tangganya bersama dika dapat mereka lalui dengan baik dan selalu bersama.
usia yang kini terbilang sudah tidak muda lagi dapat di sebut sebagai wanita dewasa justru membuat vani terlihat semakin cantik dan anggun.
wanita dewasa yang cantik, serta memiliki suami tampan yang selalu menyayanginya dan dua orang putra menjadi tempat ia mencurahkan segala kasih sayangnya sudah cukup membuat hidup vani terasa sempurna.
saat vani masih berada di dalam lamunan tiba tiba saja suaminya datang dan memeluk tubuhnya dari arah belakang.
"sayang lagi ngapain sih kok senyum senyum sendiri gitu. hem" emuach!
dika memeluk tubuh istrinya dari belakang lalu mengecup pipi vani.
"em, apa sih mas aku enggak senyum senyum sendiri kok"
vani merasa malu karena kedapatan mengagumi dirinya sendiri di dalam cermin oleh suaminya.
"kenapa kok malu gitu sih sayang? liat deh cermin itu"
dika memegang kedua pundak istrinya dari belakang lalu menunjuk ke arah cermin.
vani mengikuti ucapan suaminya hingga pandangannya pun jatuh menatap cermin di hadapannya yang terdapat pantulan diri mereka berdua di dalam cermin tersebut.
"em, emangnya kenapa sama cermin itu mas?" vani pun menatap suaminya.
"liat baik baik deh wanita yang ada di dalam cermin itu. cantik banget kan? iya kamu cantik banget sayang cantik banget jadi kamu enggak perlu malu mengakuinya"
"ih gombal kamu mas, iya aku emang cantik kok terus tadi aku lagi mengagumi diri aku sendiri yang keliatan cantik ini di dalam cermin. puas kamu"
vani tersenyum sambil memutar bola matanya karena mengerti maksud dari ucapan suaminya.
"eh! di puji dikit aja langsung terbang tinggi istri aku"
"biarin deh! lagian kamu kenapa enggak masuk kerja hari ini sih mas. sana gih kamu pergi ke kantor aja dari pada godain aku terus di rumah"
vani berjalan menuju box bayinya lalu menatap raja yang sedang terlelap di sana.
"sayang, aku kan hari ini libur karena pengen berduaan sama kamu" dika tidak mau berhenti menggoda istrinya.
"enak ya jadi bos bisa libur kapan aja, harusnya kamu itu jadi contoh yang baik buat semua karyawan kamu tau"
vani meletakkan kedua tangannya di pundak suaminya.
tanpa mendengarkan celotehan istrinya itu, dika yang sudah tidak tahan melihat bibir mungil itu berbicara pun langsung melahapnya membuat vani terdiam.
cup! emuch!
"em, ih kamu apa apaan sih mas gimana kalo nanti affa sampe liat" vani melepaskan ciuman dari suaminya.
"sayang affa kan lagi sekolah, kamu lupa ya?" dika semakin mendekat.
"iya iya tapi ini kan masih siang mas, kamu mau ngapain sih deket deket mulu" vani menolak.
"emangnya ada larangan ya enggak boleh cium istri di siang hari?" dika tidak mau menerima penolakan.
"iya enggak sih, tapi kan..." vani masih memikirkan alasan bagaimana caranya untuk menghindar dari suaminya itu.
"tapi apa sih sayang, ayolah" dika kembali melahap bibir mungil di hadapannya itu.
dika menjatuhkan tubuh mereka di atas ranjang agar vani tidak terus menerus menghindar darinya.
drrttt!!! drrttt!! drtt!
ponsel dika berbunyi di atas nakas membuat vani kembali menghentikan ciuman suaminya.
"em, mas tuh hp kamu bunyi sayang"
__ADS_1
vani nyengir dan langsung kembali duduk di atas ranjang.
"hem! siapa sih ganggu aja. bau bau nya pasti ray nih" omel dika sambil menggapai ponselnya.
"di angkat dulu sayang" vani tersenyum lucu melihat raut wajah suaminya.
"tuh kan bener, emang enggak salah lagi" tebakan dika benar kalau yang mengganggunya pasti ray.
dika langsung menjawab telpon di dalam genggamannya.
"iya halo ada apa ray?" dika menjawab dengan malas.
"halo dika gue tunggu lo di rumah sakit permata sekarang ya, cepat datang" tutttt!
ray langsung mematikan ponselnya sepihak tanpa menunggu jawaban dari dika.
"ehhh, bener bener ya nih anak main mati matiin aja" dika semakin kesal di buatnya.
"kamu juga sering gitu mas, ya udah jangan marah marah lagi ya sini aku cium umm"
vani memanyunkan bibirnya hendak mengecup dika namun dika menolaknya.
"ck! males ah udah enggak selera" kesal dika cuek.
"ih nyebelin banget sih" vani semakin manyun.
"hehe! bercanda sayang, nanti kita lanjut lagi ya. sekarang aku harus pergi nemuin ray dulu. aku janji nanti aku pasti makan kamu sampe habis kok. oke" emuach
dika mengecup kening istrinya lalu berjalan keluar dari dalam kamarnya.
"ih! kamu pikir aku ini ayam goreng apa" kesal vani karena dika akan memakannya sampai habis.
di rumah sakit, dari luar ruangan ray sedang menatap ke arah seorang pria yang sedang terbaring koma di atas bankar ruang perawatan itu. pria itu terbaring dengan seluruh wajahnya di balut perban.
sesampainya di rumah sakit dengan buru buru dika datang dan menghampiri ray di luar ruangan itu.
"ray ada apa sih? lo kan tau hari ini gue lagi cuti dan cuti khusus tau enggak"
"ssttt!!" ray menghentikan celotehan dika.
"emangnya ada apa sih, penting banget ya?" dika semakin mendekat karena merasa penasaran.
"lo liat deh" tunjuk ray ke dalam ruangan itu.
"hem siapa dia? kok bisa badannya di perban semua kaya gitu sih?"
dika menatap kearah seorang pria yang berada di dalam ruang perawatan khusus itu.
"dia adalah john" jawab ray singkat.
"hah!!! masih hidup?"
dika kaget karena selama ini ia berpikir jika john sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan.
"em" ray mengangguk.
"lo tau dari mana kalo itu john?" tanya dika menyelidik.
"gue juga baru tau dari salah satu anak buah gue" ray masih terus mengamati.
"hem! terus lo mau ngapain manggil gue kesini cuma buat liatin john sekarat!" kesal dika.
"iya enggak papa, gue sengaja cuma mau gangguin lo yang pastinya lagi mesra mesraan di rumah sedangkan gue harus kerja ekstra dua kali lipat di kantor karena lo libur" sindir ray sambil berjalan menuju pintu keluar dari rumah sakit.
"heh!! bener bener ya lo, gaji lo gue potong bulan ini" ancam dika sambil mengikuti langkah kaki ray untuk pulang.
"hem, gue juga bisa bilang sama pak rangga buat motong gaji lo karena elo udah ninggalin kerjaan demi mesra mesraan di rumah" ancam balik ray.
__ADS_1
"hehh!!! bener bener ngajak perang ni orang!" dika tidak terima dengan ancaman balik dari ray.
"hhh! takut kan lo"ray tersenyum miring.
"terserah lo! yang jelas itu enggak ngaruh apapun buat gue" jawab dika malas.
"ya udah kita liat aja nanti" ray tersenyum miring.
"bang rangga mana berani motong gaji gue. kalo sampe dia motong gaji gue bakalan gue potong masa jabatannya" haha dika tertawa renyah.
"hahaha gaya lo" ray menggelengkan kepala.
mereka pun berjalan menuju mobil masing masing lalu keduanya juga kembali pulang ke rumah masing masing.
dika pulang ke rumahnya begitu juga dengan ray yang kembali pulang ke rumah naya.
sesampainya di rumah itu, ray mencari keberadaan naya namun mereka tidak berada di sana.
ray pun menelpon mini untuk bertanya dimana keberadaan naya, mini mengatakan jika mereka sedang pergi keluar sebentar untuk membeli beberapa kebutuhan.
ray pun kembali menuju kantor setelah menutup telponnya.
di sebuah mall naya sedang berbelanja bersama dengan mini dan kedua adiknya. naya ingin membeli beberapa kebutuhan untuk acara tujuh bulanan bayinya yang akan mereka adakan besok.
mereka tidak akan membuat acara apapun di rumahnya hanya saja naya ingin menghias rumah dan kamar untuk calon bayinya. setidaknya naya akan membuat acara makan makan bersama dengan kedua adik serta para asisten di rumah itu.
bagas dan dila juga sangat bersemangat dalam memilih keperluan untuk calon keponakan mereka.
saat sedang asik memilih beberapa belanjaannya yuli yang juga sedang berada di dalam mall itu pun melihat naya dari kejauhan.
yuli hanya shoping bersama putranya yang sedang di gendong oleh baby sitternya itu.
"em, cewek itu bukannya naya ya? mantan sekretaris pak rangga dulu. iya lebih tepatnya mantan mas ray"
yuli memutar bola matanya mengingat masa lalu.
karena merasa penasaran yuli pun mendekat dan menemui naya di salah satu toko pakaian bayi.
"hai" sapa yuli menatap naya.
naya yang melihat siapa wanita di hadapannya itu pun merasa canggung.
"em, hai juga"
balas naya menyapa lalu tersenyum menatap kearah baby arka yang sedang berada di dalam gendongan baby sitter di samping yuli.
"kamu masih ingat sama aku?" tanya yuli tersenyum.
"em, kamu adik iparnya pak dika kan" naya mengangguk.
"hem, oh iya kamu lagi ngapain. shoping ya?" tanya yuli berbasa basi.
"em" naya bingung harus menjawab apa.
"oh pasti kamu lagi belanja buat keperluan calon bayi kamu ya?"
yuli tersenyum menjawab pertanyaannya sendiri karena melihat perut buncit naya.
"em, iya" naya hanya mengangguk.
yuli menatap perut buncit naya dengan bingung sambil memikirkan sesuatu yang harusnya tidak ia pikirkan.
"kalo gitu, saya permisi ya"
naya menunduk lalu mengajak kedua adiknya pergi. mini pun mengikuti langkah naya sambil tersenyum ke arah yuli.
"hem, ngapain saya sok akrab gitu ya?"
__ADS_1
yuli menatap baby sitter nya seakan sedang bertanya namun baby sitter itu pun hanya mengendikkan bahunya karena juga bingung.
dalam perjalanan pulangnya naya merasa aneh ketika ia bertemu dengan yuli. bagaimana mungkin dirinya bisa bertemu dengan istri dari suaminya juga begitu pikirnya.