Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 111


__ADS_3

saat itu dari kejauhan vani terus memperhatikan keduanya yang berbicara dengan jarak sangat dekat hingga akhirnya ia pun melihat arin memeluk tubuh suaminya membuat air mata vani menetes.


terlebih lagi dika juga terlihat tidak menolak pelukannya.


perlahan vani berjalan mendekati keduanya lalu berdehem di sana membuat dika dan arin kaget dan reflek langsung menarik diri masing masing untuk saling menjauh.


dika berbalik badan menatap istrinya yang ternyata melihat dirinya sedang memeluk arin.


"sayang, kamu disini?" tanya dika gugup.


"emangnya kenapa, apa aku juga udah enggak boleh ada di sini lagi?"


"em, bukan gitu sayang. maksud aku..."


vani menatap dika dan arin secara bergantian dengan pipi yang basah. meskipun ia sudah menghapus air matanya namun rasa sakit di hatinya tidak mampu membendung air mata itu lolos begitu saja.


"kalo mau mesra mesraan itu lebih baik di dalam kamar bukan di ruang tamu"


setelah mengucapkannya vani pun berjalan dengan cepat kembali menuju kamarnya karena ia tidak sanggup berada lebih lama lagi di sana.


"bukan gitu sayang, tunggu kamu salah paham"


dika mengejar vani yang berjalan cepat menuju kamarnya. ia ingin menjelaskan karena istrinya kembali salah paham kepadanya.


dika langsung mengikuti langkah vani dan meninggalkan arin begitu saja.


"sayang tunggu dengerin penjelasan aku dulu"


dika berjalan cepat mengejar istrinya yang sedang menangis itu.


vani terus berjalan menuju kamarnya dan tidak mau mendengarkan ucapan dika lagi ia masuk ke dalam pintu lift dan langsung menutupnya.


melihat pintu lift yang sudah tertutup dika berlari menuju kamar dengan menaiki tangga agar lebih cepat.


sesampainya di dalam kamar dika mendekati istrinya yang sedang menangis duduk di atas ranjang.


"sayang dengerin aku dulu dong"


dika mendekat lalu duduk di tepi ranjang.


"aku enggak mau denger"


vani menutup kedua telinga dengan tangannya.


"sayang tadi itu aku sama arin enggak ngelakuin apapun kita cuma ngobrol biasa aja"


"biasa. udah biasa ya kamu peluk pelukan sama dia?" vani menatap dika dengan kebencian.


"iya aku minta maaf ya sayang. aku janji enggak bakal dekat dekat sama arin lagi"


"terserah kamu, aku enggak peduli lagi"


vani mengalihkan pandangannya tidak mau menatap dika.


sejak saat itu hubungan antara vani dan dika pun semakin hari semakin menjauh karena sekarang vani bahkan tidak ingin melihat dika lagi ada di dekatnya.


beberapa minggu berlalu kini usia kandungan vani hampir menginjak sembilan bulan namun setiap harinya ia selalu merasa semakin tertekan karena kehadiran arin dirumah itu apalagi arin selalu berusaha mendekati suaminya.


vani juga tidak mungkin tega meminta dika untuk mengusir arin dari rumah itu karena arin sudah tidak memiliki siapa pun lagi selain keluarga mereka.


malam ini di dalam kamarnya vani kembali merasakan sakit di bagian bawah perutnya mungkin karena merasa tertekan belakangan ini membuat vani mudah mengalami stres berlebih.


"sshh! huh! huh! huh!! sakit"


vani hanya bisa meringis dan terus mengatur nafas agar rasa sakitnya berkurang sedangkan dika saat ini entah berada dimana tadi ia mengatakan jika akan pergi keluar sebentar namun sampai sekarang dika tidak kembali ke dalam kamarnya.


vani pun berpikir jika mungkin saat ini suaminya itu sedang sibuk bersama dengan arin.


ternyata bukan hanya sebuah pemikiran negatif semata dari vani saja melainkan nyatanya saat ini dika memang sedang bersama arin di bangku taman belakang rumah.


"mas, kenapa kamu diam aja. apa bener kamu mau ngusir aku dari rumah ini?" arin duduk di samping dika.


"siapa yang bilang kaya gitu?"

__ADS_1


"iya kamu kan cinta banget sama dia jadi aku yakin kamu pasti tau kalo istri kamu itu mau aku pergi dari sini"


"vani enggak mungkin ngelakuin itu. dia wanita yang baik banget jadi dia enggak mungkin ngusir kamu dari sini arin"


"tapi mas kalo nanti vani beneran ngusir aku dari rumah ini apa kamu bakal setuju?"


arin bersandar sambil memeluk lengan dika dari samping.


"udahlah arin kamu jangan ngomong kaya gitu ya karena itu enggak mungkin terjadi"


"apa mungkin aku bisa punya posisi yang sama kaya vani di rumah ini mas?"


"hh! itu juga hal yang enggak akan pernah terjadi arin jadi lebih baik sekarang kamu istirahat aku mau balik ke kamar ku dulu"


dika menarik diri lalu beranjak dari duduknya melangkah pergi meninggalkan arin di taman.


"ck!" arin hanya menatap kesal kepergian dika.


sesampainya di dalam kamar dika melihat vani yang masih saja menahan rasa sakit di perutnya.


"huh! huh!!"


vani terus memegangi perutnya karena saat ini ia sudah tidak mampu untuk bergerak lagi.


"sayang, kamu kenapa? perut kamu sakit ya"


dika menatap wajah istrinya yang sudah pucat itu namun vani hanya diam saja sambil mengelus perutnya.


"sayang kita ke dokter ya"


dika terlihat khawatir sambil mengusap perut istrinya secara terus menerus dengan lembut.


"huh! huh! aku enggak papa"


vani merasa sakitnya sudah mulai berkurang saat dika mengusap lembut perutnya hingga akhirnya vani bisa bernafas lebih tenang sekarang.


"sayang kamu jangan buat mama ngerasain sakit kaya gini lagi ya nak liat deh kasian mama"


vani yang merasa tubuhnya menjadi lelah karena menahan rasa sakit sejak tadi pun akhirnya terlelap dengan tangan dika yang masih terus mengusap bagian perutnya.


hal itu membuatnya merasa nyaman hingga vani tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi


semakin hari, vani semakin menunjukkan sikap dinginnya kepada dika karena ia sering kali melihat suaminya yang diam diam selalu berbicara dan menemui arin di sudut ruangan atau di tempat tempat lainnya.


jelas dika tidak menepati janjinya untuk menjauhi arin seperti yang ia ucapkan sebelumnya.


hal itu tentu membuat vani semakin merasa kecewa kepada suaminya karena ternyata selama ini dika tidak sebaik yang ia pikirkan.


meskipun vani sangat membencinya namun dika masih selalu saja memberikan perhatian lebih kepada istrinya padahal vani tidak memintanya.


hal itu membuat vani merasa semakin bingung dengan apa yang sebenarnya diinginkan oleh suaminya itu.


apakah dika benar benar mencintai dirinya atau tidak.


jika dika memang mencintainya mengapa suaminya itu masih memberikan harapan kepada wanita lain pikirnya.


hari ini vani sedang merasa sangat bosan berada di dalam kamarnya namun ia melihat sebuah foto makanan yang terlihat lezat di dalam ponselnya.


bukan makanan yang mahal hanya sekotak martabak manis rasa jagung yang bahkan di jual di pinggir jalan.


"ya ampun kayanya martabak ini enak banget deh"


vani menelan saliva saat melihat foto martabak manis di dalam ponselnya itu karena rasanya saat ini ia sangat ingin memakannya.


"sabar ya sayang"


tangan vani bergerak mengusap usap perutnya.


karena kegabutannya itu vani pun mengunggah foto martabak manis di dalam stori salah satu akun media sosial miliknya.


vani tidak berniat untuk memesan makanan itu agar ia bisa langsung menikmatinya sekarang juga karena vani sangat ingin makan martabak yang di jual dengan menggunakan gerobak di pinggir jalan dari pada harus memesan online.


"pengen deh yang di jual di pinggir jalan itu. em, entar sore beli deh bareng yuli"

__ADS_1


vani tersenyum lalu ia mencari nama kontak yuli di dalam ponselnya lalu menghubungi nomor tersebut.


setelah telpon terhubung vani langsung mengutarakan keinginannya itu kepada adiknya.


yuli: ya halo kak, ada apa?


vani: yul, entar sore temenin aku ya buat beli martabak.


yuli: apa!!! martabak.


vani: iya martabak yul.


yuli: em, maksudnya kamu lagi ngidam martabak ya?


Vani: iya emangnya kenapa?


yuli: iya enggak papa sih, tapi kenapa harus beli sendiri kamu kan bisa pesen aja delivery makanan.


Vani: iya tapi aku pengennya yang di pinggir jalan yang di jual pake gerobak gitu.


yuli: ya ampun apa bedanya sih?


Vani: beda tau, udah deh kamu temenin aku ya.


yuli: hem, ya udah deh kamu ke butik aja entar sore disini deket ada kok penjual martabak pake gerobak yang kamu pengen itu.


vani: oke deh bye!


yuli: bye!


setelah telpon terputus yuli masih saja mengomentari keinginan kakaknya.


"ih apa bedanya sih rasanya sama aja tetap rasa martabak juga, malah pasti lebih enak dan higienis yang ada di resto kan?" omel yuli berbicara sendiri.


"eh kak yuli kamu ngapain ngomel sendiri disini?" tanya hana bingung.


"ini nih kak vani lagi ngidam martabak tapi harus belinya yang di jual pake gerobak di pinggir jalan itu, enggak mau yang di pesan aja" yuli pun menceritakannya kepada hana.


"oh ya wajar sih kak namanya juga lagi ngidam kadang suka aneh aneh" hana hanya memakluminya.


"hem iya sih. oh ya han kamu punya pacar enggak?"


yuli tiba tiba saja membuat hana tersedak minuman yang sedang diminumnya.


"uhuk! uhuk! hah!!! pacar? em,, enggak punya sih emang kenapa kak?" tanya hana bingung.


"em, enggak papa sih mau pinjem pacar kamu kalo ada soalnya gue bosen jomblo terus"


yuli tersenyum jahil lalu meninggalkan hana begitu saja.


"apa katanya pinjem pacar? udah geser kali ya otak kak yuli karena kelamaan jomblo"


hana merasa aneh pada kakaknya itu namun akhirnya ia mengabaikannya saja.


di tempat yang berbeda terlihat karin dan raka sedang duduk santai diatas kursi sebuah taman.


"raka, kenapa aku belum ada dapat kabar kalo dika bakal nikahin gadis kampung itu ya?"


karin bingung menatap raka yang bahkan tidak peduli dengan rencana anehnya itu.


"ya mana aku tau, lagian aku enggak peduli sama mereka yang terpenting buat aku sekarang kamu harus singkirin semua bukti tentang sandiwara kita. aku enggak mau sampe mereka tau yang sebenarnya dan laporin kita ke polisi tau enggak"


raka merasa kesal karena ternyata rencana karin itu tidak berhasil untuk membuat dika dan vani berpisah.


"kamu tenang aja sayang aku udah ngatur semuanya kok, jadi kita aman karena aku udah nyapu bersih semua jejak yang mengarah ke kita. enggak akan ada bukti yang bakal memberatkan kita kecuali, kalo si cewek kampung itu buka suara tentang kita berdua. tapi aku yakin dia pasti ada di pihak kita karena pengen dika sama vani pisah"


"jangan terlalu yakin dulu karin, gimana kalo sampe cewek itu cerita tentang dia yang kita culik waktu itu"


"ah udah lah raka, aku pusing tau enggak"


karin beranjak lalu pergi meninggalkan raka.


"hh! dasar cewek gila" raka mengumpat karin.

__ADS_1


__ADS_2