
vani ragu dengan sikap manis suaminya itu karena terlihat berbanding terbalik dengan tatapan matanya yang tajam. ia langsung mengiyakan ucapan dika dan memutuskan untuk ikut pulang.
"em, iya mas" angguk vani.
"mas diki kami pulang dulu ya, makasih buat makanannya"
"iya sama sama"
diki membalas senyuman vani dengan tersenyum manis pula membuat dika semakin ingin meninju wajah sok manis pria itu.
"ayo mas kita pulang" vani tersenyum lalu menggandeng lengan suaminya hendak berjalan keluar namun dika menahan tangannya dan tetap berdiri di tempatnya.
dika menatap sinis ke arahnya membuat diki mengalihkan pandangan darinya.
"bayar semua makanan yang udah kamu makan" ujar dika tetap berdiri di sana sambil terus menatap tajam pada diki.
"enggak usah pak. saya hanya...." ucapan diki terputus karena dika tidak mau mendengarkannya.
"bayar sekarang!!!" dika tidak perduli dengan tatapan banyak orang di dalam sana.
"mas" vani membujuk dika untuk segera pergi namun dika terus menatapnya.
"aku bilang bayar sekarang!!!" ujar dika dengan suara geramnya.
"iya mas" vani pun mengangguk karena melihat tatapan suaminya yang juga tajam ke arahnya.
"ini makasih ya"
vani dengan tangan sedikit gemetar langsung mengeluarkan uang cash dari dalam tas kecilnya lalu meletakkannya di atas meja agar mereka dapat pergi dengan cepat dari sana.
"ayo mas kita pulang ya" vani memeluk lengan suaminya dan mereka langsung berjalan menuju pintu keluar.
diki yang melihat vani membayar makanan itu hanya bisa terdiam sambil menatap kepergian vani dengan suaminya.
karena bagaimana pun diki tidak bisa melakukan apa apa terlebih lagi ia sudah tau siapa pria yang menjadi suami dari temannya itu.
sesampainya di parkiran, dika langsung menarik lengannya dari pelukan vani lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya tanpa membukakan pintu mobil seperti biasa untuk istri tercintanya itu.
vani yang tahu jika suaminya sedang marah langsung ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di samping dika.
dika melajukan mobil menuju rumahnya dengan kecepatan yang sangat tinggi hendak menyalurkan emosinya saat ini.
hal itu membuat vani merasa takut dan dengan tangan gemetar ia berpegangan pada tempat duduknya.
sepanjang perjalanan vani hanya diam dan memejamkan matanya. ia merasa takut suaminya itu akan semakin bertambah marah bila membahas mengenai diki saat ini.
vani yang merasa takut hanya bisa memejamkan matanya namun karena laju mobil yang sangat kencang membuat tubuhnya terasa hampir melayang sehingga vani merasa mual namun ia masih berusaha untuk menahannya.
"hoekkk!! hoekkk!!!" vani menutup mulutnya mencoba untuk menahan rasa mualnya.
dika yang menyadari jika istrinya hampir muntah itu pun akhirnya memperlambat laju mobilnya.
sesampainya di depan rumah vani turun dari dalam mobil dengan pusing di kepalannya.
dika menarik tangan vani dengan cepat melangkah masuk ke dalam kamar mereka.
__ADS_1
"mas, sakit! kamu apa apaan sih. lepasin!" vani menarik lengannya yang sakit.
"kamu yang apa apaan hah!! ngapain kamu jalan sama laki laki lain di belakang aku. kamu juga enggak angkat telpon dari aku apalagi minta izin buat jalan sama mantan kamu itu" ujar dika dengan marah.
"mantan apa sih mas. aku sama mas diki itu enggak ada hubungan apa apa, kami cuma temenan"
"temen? temen apa hah!" dika menatap istrinya tidak seperti biasanya.
"iya temen lah mas, kaya kamu sama rissa juga temenan kan?" vani masih mengingat jelas bagaimana rissa dan dika bergandengan mesra di hadapannya.
"enggak usah nyari kesalahan orang lain vani, kamu tau kan aku sama rissa itu karena aku lagi lupa ingatan" dika membela diri.
"iya kamu memang lupa ingatan mas, tapi kamu masih punya hati yang harusnya ingat sama aku kan. tapi apa kamu cuma nganggep aku orang asing selama ini" vani kembali mengingat rasa sakitnya yang telah lalu.
"terus apa yang kamu mau dari laki laki itu hah! apa kamu mau ngelakuin hal kaya gitu sama dia karena tadi aku nolak kamu iya?" dika menatap vani dengan tatapan yang sangat marah.
"ya enggak lah mas, kamu udah gila ya! aku enggak mungkin ngelakuin itu sama cowok lain yang bukan suamiku"
"hhh! oh ya" dika tersenyum mengejek seakan tidak mempercayai istrinya.
"mas aku tau kamu sibuk tapi aku cuma mau kamu kasih waktu kamu buat aku juga" vani dengan air mata di pipinya
"oke, hari ini aku bakal habisin waktu buat kamu" dika mendorong tubuh vani hingga terjatuh di atas ranjang.
"mas kamu mau ngapain?" vani bergerak mundur menjauh dari suaminya karena melihat tatapan maut disana.
"mau ngelakuin apa yang kamu inginkan!!" ujar dika penuh penekanan sambil tersenyum ia melepaskan jas lalu membuangnya dengan kasar.
"jangan mas! kamu lagi emosi sekarang, aku mohon"
vani ketakutan karena mengingat kejadian beberapa bulan lalu saat dika melakukannya dengan kasar tanpa ampun membuat seluruh tubuhnya terasa sakit namun sepertinya tidak ada pilihan lain ia juga tidak bisa menghindar dari kemarahan suaminya itu.
dika langsung beranjak dari atas ranjang lalu melangkah keluar dari dalam kamar mereka.
brakk!!! dika menutup pintu kamar dengan sangat keras meninggalkan vani di dalamnya.
vani hanya bisa menangis melihat kemarahan sang suami yang selama ini tidak pernah marah kepada dirinya.
beberapa hari berlalu sejak hari itu dika terlihat masih bersikap dingin kepada istrinya. ia sering marah namun tidak tau kepada siapa harus melampiaskannya.
dika juga tidak dapat mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya itu kepada vani karena takut akan menyakiti perasaan istrinya namun ia juga tidak ingin jika vani masih berhubungan dengan diki yang disebut sebagai seorang sahabat oleh istrinya itu.
kerap kali dika tidak dapat mengontrol emosinya namun vani selalu mencoba untuk memakluminya. mengingat dokter pernah mengatakan jika kondisi dika sekarang tidak menentu seperti dulu lagi.
vani harus bisa menyikapi jika sewaktu waktu suaminya itu akan memiliki sikap yang berubah ubah karena kecelakaan yang pernah dialami dika sudah mengganggu beberapa saraf di otaknya.
dika juga di sarankan untuk tidak memikirkan tentang hal hal berat dan memicu stress yang berlebihan.
saat ini vani sedang merasa sedih, beberapa hari berlalu namun dika masih saja cuek kepadanya. ia juga merasa kesepian karena dika jarang memberi perhatian seperti biasanya.
terlihat vani sedang menemani putranya di dalam ruang keluarga setelah mereka selesai makan malam.
hana ikut duduk melihat keponakannya yang sedang belajar menulis di meja dekat sofa itu sambil bermain ponselnya.
dika yang sebelumnya juga sedang duduk di samping mereka pun langsung beranjak menuju ruang kerjanya karena belakangan ini dika memang sangat sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
vani yang sedang merasa tidak enak badan pun meminta hana untuk menemani raffa karena dirinya akan segera beristirahat di dalam kamar.
"hana kakak capek banget nih kayanya lagi enggak enak badan. kamu bisa tolong temenin afa belajar kan nanti kalian langsung tidur aja kalo udah siap belajarnya. kakak mau istirahat duluan ya" vani beranjak dari duduknya.
"oh ya udah kak" hana mengangguk setuju sedangkan raffa hanya fokus dengan belajarnya saja.
saat vani hendak masuk ke dalam kamarnya ia kembali teringat dengan suaminya yang masih sibuk bekerja. akhirnya vani memutuskan akan membawakan secangkir teh hangat ke dalam ruang kerja suaminya itu.
tokk!!! tokk!!! tokk!!!
vani mengetuk pintunya sebelum masuk, meskipun dika tidak menoleh kearahnya namun vani tetap berjalan masuk mendekati meja kerja suaminya.
"mas, ini aku udah buatin teh buat kamu di minum ya" vani tersenyum sambil meletakkan secangkir teh yang ia bawa di atas meja kerja suaminya.
bruk! namun tidak sengaja teh itu justru tumpah di atas tumpukan kertas yang sedang di kerjakan oleh suaminya dan membuat emosi dika kembali memuncak.
"ck!!! kamu apa apaan sih vani, punya mata enggak sih! liat nih berkas aku jadi rusak semuanya. aku udah capek kerjain ini seharian tapi kamu datang dan buat semuanya jadi berantakan dalam sekejap" dika merasa kesal.
"maaf ya mas aku enggak sengaja" vani menunduk takut.
"enggak sengaja kmu bilang, hem!!!! sini kamu..."
dika menarik tangan istrinya dengan kasar hingga vani merasa kesakitan.
dika membawa vani masuk ke dalam kamar mereka lalu mendorong tubuh istrinya hingga terduduk di atas ranjang.
"aw!! sakit mas!" vani meringis dengan wajah yang sudah basah oleh air mata.
"denger ya sayang, sekarang kamu diam di sini dan jangan keluar lagi! apalagi sampe ganggu aku kerja"
dika memperingati vani dengan nada suara yang sangat menakutkan di dekat telinganya.
"mas, maafin aku ya aku kan enggak sengaja kenapa kamu semarah ini sama aku sih hikss!!! hikss!!!" vani menatap dika sambil menangis.
"diam!!! kamu bisa enggak sih ngertiin aku sekarang aku lagi pusing vani" hhh!!!
dika berbalik badan lalu melangkah keluar dari dalam kamar mengunci pintu dari luar agar vani tidak menganggu pekerjaannya lagi.
"mas tunggu"
vani langsung mengejarnya namun belum sempat tangannya menggapai daun pintu. pintu itu sudah tertutup dengan keras.
brakkk!!!!!
vani hanya bisa bersandar pada daun pintu yang sudah tertutup sambil mengetuk agar dika kembali membukakan pintunya.
"mas dika!! buka pintunya mas!" teriak vani dari dalam namun tidak di hiraukan oleh dika yang sudah berjalan menuju ruang kerjanya.
dika kembali duduk di atas kursi kerjanya sambil menatap berkas yang sudah berantakan.
"ck!! gue harus print ulang deh" gerutunya kesal.
di dalam kamarnya vani masih berusaha untuk membuka pintu meskipun tidak ada yang mendengarnya.
"sshh!!! aw!!! akh sakit!" vani merasa keram di bagian bawah perutnya. tubuhnya merosot hingga terduduk di atas lantai untuk menahan rasa sakitnya.
__ADS_1
"mas dika, bukain pintunya..." vani melemah namun masih mencoba untuk menggedor pintu dengan satu tangannya.
tak kunjung mendapat respon dari dika akhirnya vani pun menyerah dan dengan perlahan ia berjalan tertatih menuju ranjangnya lalu berbaring memejamkan mata untuk segera beristirahat.