
rangga tertunduk sambil berlutut di tanah menumpahkan kesedihannya dengan air mata yang membasahi pipi.
"tenang pak, kita akan berusaha semaksimal mungkin"
ray mengusap pundak rangga mencoba menenangkannya.
"gimana ini bisa terjadi. dikaaaa!!!"
teriak rangga memanggil nama adiknya sambil menangis karena tidak dapat membendung kesedihannya.
kembali di kediaman wijaya, vani melihat mama ratih yang sedang terbaring lemah di atas ranjang dengan jarum infus yang menancap di punggung tangannya.
vani berjalan masuk ke dalam kamar mertuanya itu lalu duduk di tepi ranjang untuk menghampiri mamanya.
"mama"
"vani sini nak" panggil mama agar vani mendekat.
"ma, maafin vani ya coba aja vani tau hal ini akan terjadi, vani pasti enggak bakal biarin mas dika pergi waktu itu" hiks! hiks!
vani pun menangis sambil memeluk mama mertuanya.
"enggak sayang. ini bukan salah kamu vani kita semua juga enggak tau ini akan terjadi. ini semua udah takdir nak. kamu yang sabar ya sayang"
mama ratih juga memeluk menantunya itu.
"iya ma, mama juga yang sabar ya mama enggak boleh sakit lagi" vani mencoba untuk menghapus air matanya.
"oma, tante"
rara datang dan langsung menghambur memeluk tante kesayangannya sambil menangis. ranty pun ikut masuk kedalam kamar mama ratih.
"hiks! hiks! hiks" tangis rara di dalam pelukan vani.
"rara sayang enggak boleh nangis ya nak"
vani menghapus air mata dari keponakan kesayangan suaminya itu.
"tapi tante juga enggak boleh nangis lagi kata mama om dika hilang. rara kangen banget sama om dika tante, hiks hiks hiks" rara pun masih menangis.
"iya sayang. om kamu pasti pulang nanti jadi rara jangan sedih lagi ya" vani memeluk keponakannya.
"iya tante" rara mengangguk
waktu terus berjalan namun pencarian jasad dika masih belum membuahkan hasil apapun.
ray dan rangga semakin bingung harus melakukan upaya apa lagi untuk menemukan dika adik kesayangannya.
pagi hari ini setelah selesai melaksanakan sholat subuh sendirian di dalam kamarnya tiba tiba saja vani merasa perutnya sangat mual tidak seperti biasanya.
hoek!! hoek!! hoek!!
vani berlari masuk ke dalam kamar mandi memuntahkan sisa makanan yang bahkan sulit ia makan kemarin malam.
"em, kenapa mual banget ya"
vani membersihkan bibirnya dengan tisu lalu mengelus perutnya agar rasa mual nya dapat berkurang.
setelah itu vani pun berjalan menuju ranjangnya secara perlahan hendak kembali merebahkan diri karena merasa kepalanya juga sangat pusing saat ini.
"sshh! aw!! "
vani meringis merasakan sakit di bagian perutnya.
"aduh perut ku pasti asam lambung ku kambuh lagi karena akhir akhir ini aku jarang makan dengan teratur"
vani menatap kursi di hadapannya yang sudah berbayang karena pusing di kepalanya.
di lantai dasar saat ini keluarga wijaya sedang berkumpul dalam ruang keluarga karena keadaan mama ratih dan papa hardi sudah lebih baik dari pada sebelumnya.
"rangga hari ini papa mau ikut melihat tempat kecelakaan itu secara langsung" papa hardi menatap rangga.
"enggak usah pa, papa kan lagi sakit lebih baik papa di rumah aja ya. aku enggak mau papa kecapekan terus nanti sakit papa kambuh lagi" jawab rangga.
"tapi papa mau kesana untuk memastikannya" kekeh papanya ingin tetap ikut.
"apa lagi yang mau papa pastikan disana pa. rangga udah berulang kali pergi kesana untuk memastikannya tapi tetap aja hasilnya sama dika belum bisa di temukan. aku enggak mau papa sakit jadi pliss papa di rumah aja ya"
"tapi rangga" mata papa hardi kembali berkaca kaca.
__ADS_1
"tolong pa, rangga enggak sanggup kalo harus liat keadaan papa sama mama kaya kemaren lagi. apa papa tega liat rangga kaya orang gila sendirian?"
rangga pun tidak bisa menahan air matanya yang langsung menetes mengingat tentang adiknya.
"baiklah kalo gitu, tapi kamu harus kabari papa secepatnya apapun yang terjadi ya"
papa hardi pun mengalah karena sudah melihat putra sulungnya itu menitikkan air mata.
"hari ini adalah hari terakhir polisi dan tim SAR disana mencari keberadaan jasad dika yang hilang, kalo hari ini dika tetap enggak bisa di temukan maka mereka akan menghentikan pencarian dan menganggap kalau dika udah meninggal dan jasadnya terbawa arus yang deras atau kemungkinan dimakan hewan buas di sungai"
rangga kembali tertunduk sedih saat menjelaskannya.
"ya ampun pa, dika pa anak kita kenapa jadi gini pa" hiks!
mama ratih kembali menangis.
"sabar ma, ini berat untuk kita semua tapi kita harus tetap berusaha ikhlas"
papa hardi berusaha menguatkan istrinya padahal dirinya sendiri juga menangis.
"dika anakku kamu dimana nak mama kangen sama kamu sayang"
tangis mama ratih kembali pecah saat mengingat putra bungsunya.
sangat menyedihkan bagi mama dan papanya karena bahkan mereka tidak bisa melihat jasad putra bungsu mereka untuk yang terakhir kalinya.
"ma, udah jangan kaya gini. rangga enggak mau mama sakit lagi kita semua juga sedih ma vani juga pasti lagi sedih banget" rangga menenangkan mamanya.
"hhh!"
mama ratih mencoba untuk menghapus air matanya lalu menetralkan nafasnya yang sudah menyesakkan dada.
"oh iya dimana adek kamu vani?"
papa hardi menatap ranty menantu sulungnya itu.
"em vani,,,"
saat ranty masih bingung ingin menjawab, vani pun datang menghampiri mereka.
"vani di sini pa" vani berjalan mendekat.
"vani sayang sini nak"
"mas rangga, aku mau ikut ya liat tempat itu hari ini"
vani berdiri di samping kursi rangga dengan wajah penuh harap.
"vani kamu enggak usah ikut ya nanti kamu kecapekan. mas pasti bakal kasih kabar terus ke kamu apa pun itu"
rangga menatap adik iparnya itu.
"tapi mas aku mau kesana hari ini aku mohon izinin aku ikut hiks! hiks!"
vani memohon dan berlutut di samping abang iparnya yang sedang duduk di sofa itu.
"vani kamu jangan kaya gini. ayo berdiri"
rangga memegang tangan vani membantunya berdiri.
"enggak mau sebelum mas izinin aku ikut"
vani bersi keras dan menolak untuk berdiri.
"vani liat muka kamu pucat banget mbak enggak mau kamu kenapa kenapa di jalan. kita di rumah aja ya kamu harus banyak istirahat"
ranty mendekati vani yang sedang berlutut itu.
"enggak mbak. aku enggak papa kok aku mohon mas rangga izinin aku buat ikut ya aku mohon"
vani terus memohon sambil menangis membuat rangga tidak tega melihatnya.
"iya kamu boleh ikut tapi kamu harus janji kalo kamu enggak boleh nangis terus disana ya"
rangga menatap wajah adik iparnya. rangga tau selama tiga hari ini vani terus saja menangis membuat tubuhnya benar benar lemah.
"iya mas aku janji"
vani langsung menghapus air matanya agar ia boleh ikut dengan rangga.
__ADS_1
"yuli kamu juga ikut buat nemenin vani disana ya"
rangga menatap yuli yang juga masih berada di sana.
"em, baik pak" yuli mengangguk langsung setuju.
"kalau gitu kamu hati hati ya vani"
ranty memeluk adik ipar yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri itu.
"iya mbak"
"sayang apa kamu yakin mau ikut, mama khawatir liat muka kamu pucat banget kaya gini?"
mama ratih membelai rambut menantu bungsunya itu.
"iya ma vani yakin mau ikut kok jadi mama enggak usah khawatir ya" vani pun memeluk mama mertuanya.
"ya udah kalo gitu kalian hati hati ya. rangga tolong jaga adik kamu" pesan mama kepada putranya.
"iya rangga pasti jagain vani ma" rangga pun mengangguk
vani dan yuli pun akhirnya ikut bersama rangga dan ray menuju lokasi tempat suaminya kecelakaan itu.
sesampainya disana vani dan yuli pun keluar dari dalam mobil lalu secara perlahan berjalan mendekati tepi sungai.
vani tak kuasa menahan air mata yang lolos begitu saja saat menatap aliran sungai mengalir deras di hadapannya itu. air sungai yang telah membawa suaminya pergi entah kemana.
'mas dika, apa kamu beneran udah pergi ninggalin aku sekarang? bukannya kamu udah janji bakalan pulang buat aku, kamu bilang kamu enggak bisa hidup tanpa aku kan terus gimana sama aku mas? aku juga hancur tanpa kamu sekarang' batin vani terus menangis saat menatap sungai yang mengalir deras di hadapannya itu.
"kak vani, udah ya jangan nangis terus, kalo kamu enggak sanggup ngeliatnya ayo kita nunggu di dalam mobil aja"
yuli selalu memegangi kedua pundak vani dari belakang karena ia sangat khawatir dengan keadaan kakaknya yang sejak tadi hanya diam saja sambil menangis itu.
hiks!!! hiks!! hiks!!!
tangisan vani tidak dapat terbendung saat ini ia kembali mengingat senyuman manis di bibir suaminya.
"mas dika! jangan tinggalin aku. aku enggak bisa kaya gini"
vani berteriak dengan suara serak membuat tubuhnya pun semakin melemah.
"sabar kak. udah ya jangan nangis lagi"
"yuli tolong ajak vani masuk ke dalam mobil sekarang"
ujar rangga yang juga tidak tega melihat vani menangis.
"ayo kita nunggu di sana aja ya"
yuli pun membawa vani kembali masuk ke dalam mobil agar vani bisa duduk dan beristirahat.
rangga hanya menatap sendu ke arah adik iparnya yang sedang berjalan perlahan.
vani terlihat begitu rapuh sekarang padahal dulu ia adalah gadis yang ceria pikirnya.
di dalam mobil vani dan yuli pun hanya duduk menunggu dengan perasaan yang tidak menentu.
"yul" vani sedang duduk bersandar.
"iya?" yuli menoleh.
"apa bener mas dika udah pergi ninggalin aku?"
vani bertanya dengan tatapan kosong karena masih tidak percaya dengan kenyataannya.
"em, aku juga enggak tau kak tapi apapun kenyataannya nanti kamu harus tetap kuat ya"
yuli mengelus pundak vani dengan lembut.
"tapi apa yang harus aku lakuin tanpa dia sekarang? tanpa mas dika aku kaya kehilangan arah hidup ku"
"kamu jangan ngomong kaya gitu dong kak mungkin sekarang kamu kehilangan semangat hidup, tapi percaya deh seiring berjalannya waktu nanti kamu pasti terbiasa dan akan bisa nerima semua ini"
"entahlah yul, kayanya untuk sekarang aku belum bisa"
"bukan sekarang kak tapi nanti seenggaknya kamu tetap bertahan buat orang orang yang sayang sama kamu"
"siapa?"
__ADS_1
"keluarga kamu termasuk aku karena kami semua sayang sama kamu kak"
vani hanya terdiam namun air matanya tidak berhenti menetes saat berada di dalam pelukan adiknya itu.