
sesampainya di ruang keluarga vani meminta dika untuk duduk di sofa dalam ruangan itu.
"mas kamu duduk dulu ya"
"makasih ya sayang"
"dika lo kenapa?" tanya rangga saat melihat dika disana.
"enggak papa kok bang, gue cuma lagi duduk aja"
"oh kirain"
"oh ya. lo enggak ngantor bang?"
dika melihat rangga masih berada di rumah.
"ini gue baru mau berangkat"
"oh okay"
"lo baik baik aja kan?"
rangga memastikan keadaan adiknya baik baik saja.
"iya gue baik banget malah" dika tersenyum.
"ya udah gue berangkat dulu ya"
rangga melangkahkan kakinya hendak pergi.
"oh ya bang"
ucapan dika kembali menghentikan langkah rangga.
"iya?" rangga kembali menoleh.
"hem, entar sore tolong lo beliin rujak lagi ya buat gue" hehe dika tersenyum penuh harap.
"eemm,,,"
rangga menatap vani namun vani hanya tersenyum membalasnya.
"ya oke. entar gue ngantri lagi dua jam"
rangga pun melangkah pergi.
"thanks ya bang. makin ganteng lo"
dika pun tersenyum senang.
"kamu ada ada aja deh mas"
vani menggelengkan kepalanya.
"anak papa pengen makan rujak lagi kan sayang"
dika mengusap perut istrinya.
tidak terasa beberapa minggu telah berlalu kini kondisi dika sudah lebih membaik. ia sudah bisa kembali berjalan dengan normal.
rangga selalu memberikan perawatan terbaik untuk adiknya agar kondisi dika kembali pulih dengan cepat.
mama ratih sedang sibuk menyiapkan acara syukuran untuk kesembuhan putranya sekaligus syukuran atas kehamilan vani karena pada waktu itu mereka tidak mungkin melakukan syukuran di saat sedang berduka.
ingin melakukan acara empat bulanan sepertinya sudah terlambat karena saat ini usia kehamilan menantunya itu sudah berada di usia lima bulan.
kebetulan hari ini libur bekerja yuli menghampiri kakaknya yang terlihat sedang duduk di sofa sambil memandangi dekorasi rumah yang tengah di hias itu.
"kak vani"
yuli menyapa vani yang sedang duduk di sofa ruang keluarga bersama dika.
"iya yul, ada apa?"
vani menatap yuli yang baru saja duduk di sebelahnya.
"em, aku mau bilang sesuatu sama kamu kak"
yuli sedikit ragu ingin mengatakannya.
"oh ya, kamu mau bilang apa?" tanya vani penasaran.
"em, aku sama hana mau pamit pulang deh kak soalnya enggak enak kalo ngerepotin disini terus"
"loh, kok gitu sih. siapa yang bilang kalian ngerepotin?"
vani merasa sedih karena adiknya akan pindah lagi.
"iya enggak ada yang bilang sih kak, cuma kita enggak enak aja kalo tinggal disini terus lagian kan rumah kamu yang kami tempatin itu deket dari sini juga, entar kita sering main deh buat jengukin baby"
yuli mengelus perut vani dengan lembut.
"em, kamu serius?"
"iya iya, aku janji"
yuli mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
"ya udah sayang enggak papa. biarin aja kalo yuli sama hana mau pulang kesana, lagian rumah itu kan enggak pernah kosong ada yang selalu bersihin"
dika membujuk vani agar istrinya tidak terlalu khawatir.
__ADS_1
"em ya udah deh tapi nanti ya habis acara syukuran selesai kalian baru boleh pergi" vani pun setuju.
"oke deh kak" yuli pun tersenyum
malam harinya vani masuk ke dalam kamar adiknya untuk kembali memastikan keinginan mereka untuk pindah.
ceklekk! pintu kamar terbuka
yuli dan hana menoleh ke arah pintu dan melihat vani datang.
"kak vani?"
vani pun berjalan mendekati sisi ranjang lalu duduk di samping kedua adiknya.
"yuli hana kalian serius mau pindah?" vani menatap keduanya.
"iya kak emangnya kenapa?" tanya yuli.
"hem, entar aku enggak punya temen lagi dong buat curhat tiap malam" vani memasang wajah murung.
"iya ada dong kan sekarang udah ada bang dika yang nemenin kamu lagi setiap malam dia juga pasti bakalan dengerin curhat kamu deh"
"iya kak. udah jangan sedih gitu dong harusnya kakak bahagia terus karena sekarang bang dika udah pulang" sambung hana.
"iya selamat ya kak" yuli dan hana memeluk vani.
"makasih ya adik adik ku"
vani pun membalas pelukan dari kedua adiknya.
keesokan harinya di sore yang indah itu vani sedang duduk bersama suaminya di dalam ruang keluarga.
saat ini vani sedang bersandar dan bergelayut manja di lengan suaminya itu.
"mas liat deh lucu ya"
vani menunjukkan beberapa foto bayi lucu di dalam layar ponselnya kepada dika.
"iya sayang, lucu banget deh nanti kalo anak kita udah lahir pasti selucu ini"
dika menunjuk salah satu foto anak bayi di ponsel.
"em, pasti lebih lucu deh mas" vani tersenyum.
"eh iya juga sih sayang. pastinya baby kita lebih lucu deh"
"iya dong mas"
"lucu banget kaya kamu ini"
dika mencubit gemas pipi istrinya.
"kamu nih yang lucu banget kaya bayi bayi gede tau gak"
"gemes banget ya hem" cup!
dika menarik tubuh vani agar duduk di atas pangkuannya lalu mengecup bibir mungil istrinya.
"emh!"
"mas, kamu apa apaan sih, gimana kalo ada yang..."
ucapan vani terputus karena dika langsung melahap bibir cerewet istrinya itu.
"emuvh!" vani pun ikut larut menikmatinya.
saat arin hendak berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman dingin tidak sengaja ia justru melihat vani dan dika yang sedang bermesraan di sana.
"hem, mereka keliatan mesra banget deh. iya vani emang cantik pantesan mas dika cinta banget sama dia" gumam arin sambil menatap pasangan suami istri yang sedang bermesraan itu.
"hh! kenapa sih kok perasaan aku...?" gumam arin memegang dadanya yang merasa aneh.
tidak ingin perasaan anehnya itu menjadi semakin aneh, arin pun memutuskan untuk pergi melanjutkan langkahnya menuju dapur.
"emuvh!"
"mas kamu kebiasaan banget deh enggak liat tempat dulu"
vani menepuk pelan dada bidang suaminya setelah dika melepaskan ciumannya.
"kenapa sih sayang ku?"
"gimana kalo ada yang liat kita?"
vani menatap ke arah sekelilingnya untuk memastikan jika tidak ada orang lain yang melihat kelakuan suaminya itu.
"iya enggak papa dong sayang, lagian kita kan suami istri jadi sah sah aja dong"
dika menenangkan istrinya yang terlihat gelisah.
"iya mas, tapi kan enggak sopan tau kalo di liat orang lain apalagi kalo sampe ada mama atau papa"
"enggak sopan gimana sih sayang, ya kalo ada yang enggak suka liatnya. ya udah mereka tinggal pergi aja enggak usah di liat lagi gampangkan" dika hanya cuek.
"terserah kamu deh mas"
vani pun berdiri hendak berjalan ke taman belakang rumahnya karena malas berdebat dengan suaminya itu.
"kamu mau kemana sayang?"
tanya dika yang melihat istrinya beranjak.
__ADS_1
"aku mau jalan jalan ke taman belakang aja mas, pengen petik bunga"
vani melangkah hendak meninggalkan dika yang masih duduk di sana.
"hati hati ya" dika kembali menatap ponselnya.
"hem" vani mengangguk tanpa menoleh.
sesampainya di taman belakang rumah itu vani melihat arin yang sedang duduk sendirian di sebuah ayunan kursi panjang sambil melamun.
"itu kan arin" gumam vani lalu berjalan mendekati arin untuk menyapanya.
"hai arin, boleh enggak aku duduk di sini juga?"
"oh hai juga, boleh kok silahkan"
"makasih" vani pun duduk di sana.
"iya" arin mengangguk canggung.
"oh ya arin, kenapa kamu melamun sendirian disini?"
"em, aku enggak papa kok. aku cuma bingung karena aku enggak punya kegiatan apapun disini"
"oh jadi kamu bosan di rumah terus, apa kamu mau kerja?"
"em, iya. padahal waktu itu mas rangga udah janji bakal ngasih aku kerjaan disini tapi sampe sekarang gak ada"
"mungkin itu karena mas rangga masih sibuk di kantor. em, gimana kalo kamu kerja di butik aja bareng yuli sama hana mereka berdua itu adek sepupu aku"
"memangnya boleh?" arin ragu.
"iya pasti boleh dong" vani tersenyum.
"tapi aku cuma lulusan SMA di kampung" arin menunduk
"enggak papa arin. aku juga dulu dari kampung kok, kapan kapan aku bakal ajak kamu ke kampung halaman aku ya"
"em, makasih ya vani. kamu baik banget deh"
"iya sama sama. aku juga waktu itu bosen di rumah terus makannya deh mas dika bukain butik itu buat aku"
"oh ya, terus kenapa kamu enggak ikut ke butik sekarang?"
"em, karena aku lagi hamil jadi mas dika ngelarang aku buat kerja katanya dia takut aku kecapekan"
"oh keliatannya mas dika sayang banget ya sama kamu"
"iya, aku beruntung banget karena punya dia"
vani tersenyum sambil mengelus lembut perutnya.
"hem, iya"
arin tersenyum canggung menatap vani dengan perut buncitnya.
"ya udah arin. aku kesana dulu ya, aku pengen banget metik bunga itu terus naruh di dalam kamar aku"
"hem iya hati hati"
arin memegangi tangan vani yang sedikit kesulitan untuk bangkit dari duduknya karena perutnya mulai membuncit.
"makasih ya"
vani pun berjalan menuju rumpunan bunga mawar disana lalu ia memetik beberapa tangkai bunga mawar dengan warna yang berbeda beda.
ada bunga mawar berwarna merah, putih, pink dan kuning
vani bawa untuk di letakkan ke dalam vas bunga yang berada di dalam kamarnya.
"wah!! cantik banget semuanya"
vani menatap bunga bunga yang sudah di petiknya itu lalu ia berjalan kembali menuju kamarnya.
setelah sampai di dalam kamarnya. vani langsung menata bunga bunganya ke dalam vas kaca yang sangat cantik.
sudah ada beberapa vas yang terisi dengan bunga mawar indah lalu vani letakkan di beberapa bagian atas nakas dan meja yang berada di dalam kamarnya.
saat vani masih asik menata bunga yang lainnya tiba tiba saja dika muncul entah dari mana dan langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat dari arah belakang.
"sayang, i love you" bisik dika tepat di telinga vani.
"mas dika?"
vani pun tersenyum mendengar ucapan manis yang hampir setiap saat selalu iya dengar dari suaminya itu.
"i love you"
dika mengulang ucapannya karena vani belum membalasnya.
"kamu buat aku kaget aja deh mas"
jawaban vani yang tidak sesuai dengan keinginan dika
"i love you sayang"
ulang dika sekali lagi namun vani hanya diam saja sambil terus memilih bunga bunganya.
tidak mendapat jawaban sayang dari sang istri tidak membuat dika pergi begitu saja, ia pun mengecupi bagian telinga hingga ke tengkuk istrinya dengan lembut membuat vani merasa geli sekaligus melenguh saat merasakannya.
"emhh!!"
__ADS_1
melihat vani yang tidak menolak dan bahkan sedang merespon perbuatannya itu membuat dika semakin bersemangat melanjutkan aksinya. menghirup aroma tubuh istrinya membuat dika semakin bergairah.