
saat dika sedang berjalan masuk ke dalam rumah ia berpapasan dengan ray yang baru saja datang dan akan menghampiri mereka di taman belakang.
"eh dika lo mau kemana. liat bos rangga enggak?" tanya ray kepada sahabatnya itu.
"tuh dia lagi ada di belakang nungguin elo. sana gih lo temuin aja langsung" dika terus berjalan.
"oke deh" ray pun terus berjalan menuju tempat dimana rangga berada.
sesampainya di sana terlihat rangga sedang duduk termenung. ray memanggil hendak menyadarkan bosnya dari lamunan.
"bos" ray menepuk pelan bahu rangga.
"eh ray. lo udah datang?" rangga menatap ray yang sudah berada di hadapannya.
"bos, gue mau bicara sesuatu sama lo" ujar ray menatap rangga yang sedang menatapnya juga.
"ada apa?"
"ini tentang karin, dia mengalami gangguan jiwa karena enggak mau ada di dalam penjara" ray duduk di samping rangga.
"kalau gitu masukin aja dia ke rumah sakit jiwa"
"tapi bos,,," ucapan ray terhenti karena melihat tatapan rangga yang melirik tajam kepadanya.
"baik bos" ray langsung saja mengangguk menyetujui ucapan rangga. ia berpikir jika saat ini rangga sedang tidak ingin membahas tentang hal itu.
"ayo kita makan malam bareng" rangga berdiri dari duduknya lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
"baik bos" ray pun mengikuti langkah bosnya untuk masuk ke dalam rumah.
di tengah perjalanan masuknya rangga kembali bercerita kepada ray yang sudah berjalan di sampingnya.
"lo tau gak. hari ini dika sama arin udah damai tadi mereka saling bermaafan hhh" rangga terus berjalan dengan senyum semirknya.
"oh gitu, syukurlah" ray menanggapi.
"iya tapi aneh banget. dika keliatan kaya orang asing sama arin padahal lo tau kan sedekat apa mereka selama ini" sambung rangga.
"iya mungkin dika beneran udah sadar kesalahannya ke vani bos"
"iya bagus lah kalo gitu" rangga terus melanjutkan jalannya.
di dalam kamar terlihat dika sedang berbaring di samping bayinya yang tidur di atas ranjang. sambil tersenyum dika menatap dan memperhatikan wajah polos putranya yang sedang tertidur pulas itu.
"sayang kamu lucu banget sih kaya mama kamu, gemesin tau gak" dika mencubit gemas pipi raffa lalu memeluk tubuh putranya dari samping ia memejamkan mata hendak tidur bersama di atas ranjang.
beberapa kemudian vani baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan tersenyum melihat dua laki laki kesayangannya sedang tertidur disana.
vani berjalan mendekati suami dan bayinya lalu duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponsel.
saat vani masih asik memainkan ponsel tiba tiba saja dika memeluk tubuhnya dari belakang, ternyata suaminya itu hanya berpura pura tidur saja.
"kamu lama banget sih sayang" ujar dika.
vani kaget karena awalnya ia berpikir suaminya sedang tidur namun ternyata itu hanya modus saja.
dika memeluk tubuh istrinya sambil mengecup tengkuk leher vani yang harumnya sangat memabukkan baginya.
__ADS_1
kebetulan vani juga sedang mengikat rambut hingga membuat leher putihnya terlihat jelas menggoda iman suaminya itu. tangan dika berkeliaran nakal di bagian depan tubuh istrinya.
perbuatan dika itu berhasil membuat tubuh vani bereaksi namun kali ini tidak berusaha untuk menolak keinginan suaminya.
dika yang merasa tidak mendapat penolakan dari istrinya pun langsung menarik tubuh vani ke dalam pelukannya.
dengan lembut dika ******* bibir mungil istrinya begitu juga vani yang membalas ciuman hangat dari suaminya itu namun saat hasrat keduanya sudah mulai menguasai kesadaran diri. tiba tiba saja suara ketukan pintu dari luar kamarnya pun menggagalkan segalanya.
tok!! tok!!! tok!!
"mas, ada yang datang" vani langsung menarik diri.
"ck...!! siapa sih ganggu aja deh"
dika kesal namun ia tetap bangkit dari atas ranjang dan berjalan menuju pintu hendak membukanya. sedangkan vani langsung duduk dan kembali merapikan pakaiannya yang sudah berantakan itu.
"pasti bang rangga nih yang kerjaannya selalu gangguin orang mulu" omel dika sambil menarik gagang pintu.
ceklek...! dika membuka pintu kamarnya hendak memarahi rangga yang datang mengganggu aktivitasnya.
"apaan sih lo bang ganggu aja... eh arin, kamu ngapain disini?" ujarnya dengan canggung.
dika kaget karena ternyata bukan rangga melainkan arin yang datang membuatnya langsung meralat kembali ucapan sebelumnya.
"em, maaf ya mas kalo aku udah ganggu. tadi aku disuruh tante buat ngajak kalian makan malam bareng di meja makan" ujar arin canggung dan merasa tidak enak.
"oh enggak kok arin, ini kami emang udah siap mau makan malam bareng. iya kan sayang?" dika tersenyum menatap vani yang keluar dari dalam kamar sambil menggendong raffa meskipun bayinya masih tertidur.
"iya mbak arin, ayo kita makan malam sekarang aja ya" vani mengajak keduanya.
"em" arin tersenyum sambil mengangguk lalu ia berbalik badan dan berjalan lebih dulu menuruni tangga menuju meja makan di lantai bawah. di ikuti oleh dika dan vani yang berjalan di belakang sambil menggendong raffa.
"iya kan aku enggak tau sayang kalo yang datang arin" balas dika berbisik.
sesampainya di meja makan mereka pun duduk di kursi masing masing dan mulai makan malam bersama.
mama ratih dan papa hardi memang sengaja mengajak makan malam bersama di rumah utama sebagai bentuk rasa syukur atas kesembuhan arin sekaligus selesainya masalah yang terjadi di antara putra putri mereka.
papa hardi juga mengundang dokter radit dalam acara makan malam itu, karena berkat bantuan dokter radit arin bisa cepat pulih seperti sekarang.
yuli dan hana pun turut datang menghadiri acara makan malam itu karena sebelumnya dika sudah menelpon mereka untuk datang agar ikut makan malam bersama di rumah utama.
setelah selesai makan malam bersama mereka kembali berkumpul di ruang keluarga sambil bercerita dan saling bersenda gurau satu sama lainnya.
"eh liat deh pipi baby makin chuby ya, jadi pengen cubit deh" yuli menoel noel pipi keponakannya yang sedang berada di dalam gendongan ibunya itu.
"iya jangan dong aunty yuli baby raffa jangan di cubit ya kan sakit tau. kalau gemes aunty boleh cubit papanya aja gimana" vani pun menggoda adiknya.
"ck" yuli hanya terdiam mendengar jawaban random dari kakaknya yang aneh itu.
"haha,,, bener tuh kak yul sana kalo kamu berani cubit papanya raffa aja" hana tertawa saat mendengar jawaban vani lalu ikut menggoda yuli yang terlihat kesal.
"ih gaya banget deh lo kak entar kalo gue cubit papanya terus dia baper sama gue, lo nangis lagi haha" yuli tak mau kalah menggoda balik kakaknya.
"berani lo" vani mengajukan tinjunya di hadapan yuli.
"haha emangnya kamu berani kak?" hana menatap yuli.
__ADS_1
"hhh, ya enggaklah"
yuli menggelengkan kepala sambil menatap dika yang sedang berbincang dengan ketiga pria lain di sana.
sebenarnya ucapan mereka cukup terdengar jelas satu sama lain karena berada di dalam ruangan yang sama. namun para pria di sana hanya mengabaikan ucapan random para wanita di sebelahnya karena mereka juga sedang asik dengan perbincangan mereka tentang pekerjaan.
"huh! dasar tuyul" vani hanya memutar bola matanya.
"ppfftt, kak yuli ada ada aja deh" hana menggelengkan kepalanya.
rara yang melihat tiga tante cantik di sana sedang asik tertawa pun mendekati vani yang sedang menggendong raffa dalam pangkuannya.
"ma, kenapa adek raffa tidur terus sih. emangnya enggak mau main bareng rara ya?" tanya rara kepada mamanya karena melihat adiknya itu selalu tidur di dalam gendongan saat mereka bertemu.
"iya sayang adek raffa kan masih bayi jadi harus banyak istirahat biar cepat besar dan bisa main sama mbak rara" ujar ranty menjelaskan.
"oh gitu ya ma" rara mengangguk anggukan kepalanya.
"iya sayang nanti kalo adek raffa udah besar pasti bakalan main bareng mbak rara" vani tersenyum gemas pada rara yang selalu menggemaskan di matanya itu.
"iya deh tante cantik" rara tersenyum manis.
"emangnya mbak rara mau main apa bareng adek raffa?" tanya yuli tersenyum kepada rara.
"rara mau main sepeda bareng sama adek raffa tante" jawab rara polos.
"oohhh main sepeda ya sayang. gimana kalo mainnya bareng tante aja" sambung hana menawarkan diri.
"enggak mau deh entar sepeda rara rusak dong kalo tante yang naikin hehe" rara tertawa geli.
"kok gitu sih"
"haha bener tuh sayang jangan mau deh entar sepeda rara rusak lagi" yuli ikut meledek adiknya.
hana yang di ledek pun hanya memanyunkan bibirnya namun tetap tersenyum melihat rara yang menggemaskan.
sedangkan arin terlihat hanya diam saja memperhatikan yang lain bercanda.
setelah lelah bercanda bersama malam pun semakin larut. satu persatu dari mereka sudah kembali masuk ke dalam kamar masing masing untuk beristirahat.
hanya tersisa empat pria tampan yang berbeda wajah itu. siapa lagi kalau bukan rangga, dika dan ray serta dokter radit yang masih duduk sambil menikmati beberapa botol minuman yang tersedia di atas meja.
melihat vani berjalan kembali menuju kamar mereka dika pun berdiri hendak mengikuti langkah istrinya itu namun langkahnya harus berhenti saat mendengar ucapan rangga.
"dika mau kemana lo?" tanya rangga menatap dika yang hendak pergi juga.
"gue ngantuk mau tidur" ujar dika kembali melangkah.
"tidur jam segini? ayolah dika jangan nyari alasan kita duduk sambil minum dikit disini. enggak enak dong sama dokter radit masa jam segini udah pulang" rangga merayu adiknya agar tetap disana.
"em, iya sebentar aja entar gue balik lagi kesini" dika masih mencari alasan untuk kabur.
"enggak! gue enggak percaya sama lo, mana mungkin cuma sebentar gue yakin pasti lo mainnya lama kan pokonya lo stay disini" ujar rangga tak mau di bantah.
"hhh, dika bisa aja lo ngeles" ray menggelengkan kepala mendengar jawaban dari sahabatnya itu.
"main apa sih. gue cuma mau ke toilet juga" gerutu dika lalu kembali duduk di tempatnya.
__ADS_1
dokter radit yang mengamati perdebatan kedua abang beradik di hadapannya itu pun hanya tersenyum sama seperti ray.
mau tak mau dika mengikuti keinginan abangnya untuk tetap berada disana dengan kesal. setelah kembali duduk dika langsung meminum cukup banyak hingga membuat kepalanya pusing.