Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 77


__ADS_3

melihat dika dan vani yang berjalan menuju meja makan dengan bergandengan tangan yuli hampir saja tersedak minumannya.


"uhuk! uhuk! uhuk! bang dika?" gumam yuli melihat abang iparnya dengan tidak percaya.


"hantu bang dika kak" bisik hana menutup matanya di bahu yuli.


"eh, kamu ngomong apa sih"


yuli pun menepuk pundak hana pelan.


"terus itu siapa kak?" tanya hana.


"Alhamdulillah bang dika udah pulang" bisiknya.


"kakak serius" hana masih terlihat ragu.


"em kayanya iya"


sesampainya di meja makan dika pun menyapa kedua adik iparnya yang terlihat masih ragu itu.


"hai yuli hana apa kabar kalian?"


"em baik bang" hana hanya mengangguk bingung.


"hai juga bang dika aku baik. gimana kabar abang?"


yuli tersenyum meskipun sedikit ragu.


"iya begini lah yul, kaya yang kamu liat"


dika duduk di kursinya secara perlahan di bantu istrinya.


"pelan pelan mas"


"iya sayang"


"semoga cepat pulih ya bang"


yuli menatap tubuh dika yang masih terdapat banyak perban di sana.


"iya makasih ya yul" dika pun tersenyum.


yuli dan hana tidak ingin banyak bertanya lebih dulu tentang kapan dan bagaimana dika bisa kembali karena yang terpenting untuk mereka saat ini adalah mereka bersyukur jika dika benar benar sudah kembali untuk vani agar kakak mereka tidak bersedih lagi.


tidak lama arin datang dan ikut bergabung di meja makan sambil tersenyum pada semua orang termasuk dika.


"arin kamu udah datang ayo sini duduk"


mama ratih menepuk kursi yang ada di sampingnya itu padahal biasanya kursi itu selalu menjadi tempat duduk salah satu di antara kedua menantu kesayangannya.


ranty tersenyum kecut lalu menghentikan langkahnya untuk duduk disana karena melihat arin sudah duduk lebih dulu. akhirnya ia kembali duduk di sisi lain suaminya dan mendudukkan rara di sebelahnya juga.


"vani kenalin sayang ini arin dia adalah gadis yang udah nolongin dan merawat dika selama ini"


mama ratih membelai lembut rambut arin sambil memperkenalkannya kepada menantu bungsunya itu


"oh ya, jadi kamu yang udah nyelamatin mas dika ya. makasih banyak ya arin kamu baik banget"


vani menghampiri tempat duduk arin lalu memeluknya.


"iya sama sama"


arin masih bingung siapa wanita yang sedang memeluknya itu.


"oh ya arin ini vani istri aku"


dika memperkenalkan istrinya dengan tersenyum.


"oh iya" arin menatap vani yang sedang tersenyum.


"ya udah, ayo sayang kita mulai makan malamnya"


mama ratih menggandeng tangan vani lalu membawa menantunya itu untuk kembali duduk di samping dika dengan hati hati.


"makasih ya ma"


mereka pun makan malam dengan tenang dan khidmat namun mata arin terus saja memperhatikan vani yang sedang berada di samping dika.


setelah selesai makan malam bersama keluarga wijaya kembali berkumpul di dalam ruang keluarga untuk saling bercerita dan mengenal arin lebih banyak lagi.


arin pun menceritakan tentang kehidupan sederhananya yang cukup menyedihkan kepada seluruh keluarga yang berkumpul di sana. hal itu membuat hati mama ratih semakin tersentuh saat mendengar cerita dari gadis itu.


tentang kedua orang tuanya yang sudah tiada lalu arin hanya tinggal bersama dengan neneknya dan akhirnya neneknya pun meninggal.


vani juga ikut tersentuh dengan cerita kehidupan arin yang tidak terlalu jauh berbeda dengan kehidupannya sebelum dirinya masuk ke dalam keluarga wijaya.


vani juga tinggal bersama dengan neneknya pada waktu itu namun yang membuatnya berbeda adalah vani masih beruntung karena ia memiliki kakak dan abang yang sangat menyayanginya dan bahkan mau membiayai semua kebutuhannya hingga dirinya mendapatkan pekerjaannya sendiri sedangkan arin hanya sendirian.


setelah selesai saling bercerita tentang kehidupan arin, kini mereka sibuk dengan cerita masing masing.

__ADS_1


terlihat ranty bertanya kepada yuli dan hana tentang perkembangan butik yang sedang mereka kelola.


sedangkan rangga dan papa hardi pun sibuk dengan pembahasan pekerjaan.


saat ini arin kembali memperhatikan vani yang selalu berada di samping dika itu.


'jadi ini istri mas dika, dia emang cantik dan baik' batin arin menatap vani yang sedang duduk di hadapannya.


sepanjang duduk di sana arin terus memperhatikan semua orang sambil mendengarkan cerita masing masing.


malam semakin larut akhirnya mereka pun kembali ke dalam kamar masing masing untuk beristirahat.


saat ini di dalam kamar dika tengah merebahkan kepala di pangkuan istrinya yang sedang duduk bersandar di atas ranjang.


sepertinya itu adalah posisi ternyaman untuk dika ketika bersama dengan istrinya. vani pun selalu membelai rambut suaminya itu dengan lembut hingga biasanya dika terlelap.


"sayang udah berapa bulan sih umurnya sekarang?"


dika sedang memiringkan kepalanya menghadap ke arah perut vani lalu mengusap perut istrinya itu dengan lembut.


"em, bukanya ini anak kamu ya mas masa kamu enggak tahu sih berapa umurnya sekarang"


vani tersenyum jail sambil terus mengusap rambut dika.


"hem, iya sih tapi aku enggak inget sayang soalnya waktu itu kan kita ngelakuinnya tiap hari, tiap malam dan tiap saat hehe"


dika tersenyum mengingat setiap momen indah mereka saat menjadi pengantin baru.


"ih kamu tuh ya mas waktu buatnya dong yang inget"


vani tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"hehe iya dong sayang kan enak" nyengir dika.


"hem, aku juga enggak tau sih mas umurnya berapa soalnya waktu itu aku baru tau kalo dia udah ada di dalam sini pas aku dengar kabar kepergian kamu"


"oh ya, kok bisa kamu baru tau sih sayang ceritain dong"


dika sangat antusias ingin mendengarkan cerita dari istrinya.


"waktu itu aku pingsan terus pas aku sadar, aku udah ada di rumah sakit. nah di situ aku baru tau kalo aku lagi hamil dokter bilang umurnya masih lima minggu"


vani kembali mengingat kejadian paling menyedihkan dalam hidupnya saat itu.


karena disaat vani mengetahui dirinya sedang hamil justru ia harus menerima kenyataan kepergian suaminya tercinta.


"maafin aku ya sayang aku enggak ada buat kamu waktu itu padahal harusnya kan aku ada di samping kamu saat awal awal kehamilan. pasti kamu benar benar lagi butuh aku waktu itu" dika merasa bersalah.


"makasih ya sayang. oh iya apa waktu itu kamu ngerasain mual tiap pagi sama kaya wanita hamil pada umumnya?"


dika penasaran karena dirinya merasa cukup banyak kehilangan momen indah bersama istrinya itu terutama pada saat awal kehamilan istrinya.


"em, awalnya aku emang sering mual tiap pagi mas. tapi lama kelamaan mual nya makin berkurang terus sekarang udah enggak mual lagi deh"


"kamu pasti ngerasa susah banget waktu itu karena mual muntah buat kamu enggak bisa makan teratur sayang"


dika menatap tubuh istrinya yang terlihat kurus akibat mual dan muntah hingga pasti sulit untuk makan pikirnya.


"aku enggak ngerasa susah kok mas, justru waktu itu aku bersyukur banget karena ada baby kita di dalam sini. aku ngerasa dia jadi satu satunya alasan buat aku bertahan"


"syukurlah kalo gitu sayang, mungkin kamu sama baby juga satu satunya alasan aku bertahan hidup waktu itu makanya aku masih bisa pulang sekarang"


dika pun kembali menerawang ingatannya saat dirinya seperti berada di ambang kematian.


"Alhamdulilah aku bersyukur banget kamu udah pulang sekarang mas, soalnya waktu itu aku beneran bingung enggak ada kamu. makasih ya sayang kamu udah pulang demi aku sama baby kita" emuchh!


vani tersenyum mengecup kening suaminya.


"aku yang bersyukur punya kamu sayang, makasih ya karena kamu udah mau bertahan buat aku" emuach


"eitss!! udah dong jangan keterusan"


vani menahan tubuh dika yang memperdalam ciumannya.


"kenapa sih kangen banget nih" bisik dika.


"kamu masih sakit sayang"


"udah sembuh tau"


"belum. oh ya kamu tau enggak mas"


"enggak tuh"


"ih kok gitu sih"


"hehe. iya ada apa sayang aku enggak tau loh"


"terakhir kali aku cek up minggu lalu kata dokter umur baby kita udah tujuh belas minggu liat deh ini foto baby kita"

__ADS_1


vani pun mengambil amplop di atas nakas yang berisi hasil USG terakhirnya lalu memberikannya kepada dika.


"oh ya. coba liat, wah ini anak papa ya pasti ganteng banget kaya papa deh" dika tersenyum dengan pedenya.


"ya ampun papa pede banget sih sayang. lagian kan kita belum tau baby kita tuh cowok atau cewek"


vani menggelengkan kepala mendengar ucapan suaminya.


"iya pastilah ganteng sayang kalo cewek berarti cantik dong kaya mamanya ini"


"amin"


"em, papa udah enggak sabar deh pengen gendong kamu sayang"


dika tersenyum sambil memandangi foto calon bayinya.


"sabar ya papa. enggak lama lagi kok"


"berapa lama lagi sayang papa boleh gendong kamu"


dika kembali mengecup perut buncit istrinya sambil mengajak berbicara bayinya yang masih berada di dalam kandungan istrinya itu.


"hem, mungkin lima bulan lagi kita bakal ketemu papa"


vani menirukan suara bayi yang sedang menjawab pertanyaan dari papanya itu.


"oke deh sayang. kamu sehat sehat terus di dalam sini ya jangan buat mama ngerasain sakit lagi"


dika memeluk pinggang vani dan menyembunyikan wajahnya di bagian perut istrinya.


hari ini arin sedang berada di dapur ia melihat dika yang juga berada di sana.


"mas dika" sapa arin kepada dika.


"oh hai arin kamu lagi ngapain?" dika tersenyum.


"aku lagi ambil minum aja mas kamu sendiri lagi ngapain?"


"oh ini aku mau ambilin buah buat vani"


dika sedang memilih buah di atas meja.


"oh, em ya udah mas. aku bantu kamu ya"


arin melihat dika yang sedang kesulitan untuk membawa piring buah di tangannya karena harus jalan perlahan.


"enggak usah aku bisa sendiri kok"


dika menolak halus tawaran dari arin.


"enggak papa aku bantuin mas"


"enggak usah arin" dika tetap menolak.


namun saat dika kembali melangkah ia hampir terjatuh karena kakinya yang tidak seimbang.


"akh!"


"mas dika hati hati"


arin dengan cepat memegangi lengan dika hingga membuat tatapan mereka bertemu.


piring berisi buah itu pun akhirnya terjatuh dan berserakan di lantai sedangkan dika dan arin masih saling bertatapan.


vani yang merasa suaminya kembali terlalu lama pun memutuskan untuk mencari keberadaan dika.


"mas dika?"


vani datang membuat dika langsung mengalihkan pandangannya begitu juga dengan arin yang langsung menarik tangannya.


"sayang"


dika menatap istrinya yang sudah berada di hadapannya.


"kamu kenapa mas ada yang sakit?" tanya vani khawatir.


"em aku enggak papa kok sayang enggak ada yang sakit juga ini enggak sengaja tadi jatuh dari tangan aku"


dika menatap buah yang berserakan di lantai.


"oh ya udah enggak papa mas kan tadi aku udah bilang kamu enggak usah lakuin ini sayang aku khawatir"


vani pun mengajak dika pergi dari sana.


"iya sayang aku enggak papa kok kan aku cuma pengen ambil buah buat kamu aja"


dika ikut melangkah bersama vani dan meninggalkan arin begitu saja.


pelayan pun datang dan segera membersihkan buah yang jatuh di lantai.

__ADS_1


arin pun pergi dari sana setelah menatap kepergian vani dan dika.


__ADS_2