
sore ini vani dan dika kedatangan seorang tamu yang tidak asing bagi mereka yaitu dimas adik sepupu dari dika sendiri.
vani yang melihat adik iparnya datang pun langsung menyambutnya dengan hangat.
"assalamualaikum" salam dimas sambil berjalan masuk ke dalam rumah dika.
"walaikumsalam" dika dan vani serentak menoleh.
"loh dimas? ayo masuk" dika duduk di atas sofa ruang tamu sambil mempersilahkan dimas untuk duduk juga.
"iya makasih bang" dimas mengangguk.
"dimas mbak buatin minum dulu ya sebentar"
"iya mbak makasih" dimas pun duduk di atas sofa berhadapan dengan dika.
vani pergi ke dapur untuk membuatkan minuman di bantu oleh asisten disana.
"oh ya dimas ada apa nih lo datang tumben banget" dika menatap dimas.
"em, biasalah bang gue kesini mau PDKT sama adek ipar lo" dimas tersenyum sambil setengah berbisik.
"hah! serius lo suka sama adek ipar gue? kenapa enggak bilang dari dulu kalo lo naksir sama dia. sekarang sih dia udah nikah plus udah punya anak juga"
"hah! udah nikah, maksud lo?" dimas merasa bingung.
"iya elo juga datang kok ke pernikahannya. kebetulan dia udah nikah sama temen gue ray"
"elah bang buset dah! bukan kak yuli yang gue maksud kalo dia gue juga udah tau" dimas menatap dengan raut wajah malas karena dika selalu bercanda.
"lah, terus siapa?" dika berpura pura tidak tau.
"iya hana dong bang, emang adek ipar lo ada berapa lagi sih" tanya dimas dengan wajah menahan kesalnya.
"oh si hana. wah! bagus dong kalo lo sama dia jadi judul ceritanya adalah dunia ini terlalu sempit. hhh! iya kali dua saudara gue nikah sama dua saudarinya istri gue sendiri" dika tertawa kecil dengan wajah datar.
"hehe kan bagus jadi satu keluarga semua bang" dimas nyengir menanggapinya.
"iya sih, tapi kalo bisa jangan hana deh lo cari cewek yang lain aja"
"loh emangnya kenapa bang? emangnya salah ya kalo gue sukanya sama hana"
"bukan"
"terus, apa karena lo enggak setuju kalo sodara lo ini nikah sama sodara kakak ipar gitu" dimas memelas.
"enggak juga sih, gue cuma enggak mau aja lo dekat dekat sama adek ipar gue karena hana itu cewek baik baik dan lo si playboy kelas vip jadi gue enggak mau lo sampe nyakitin dia nanti"
"astaga bang gue udah tobat dan karena dia juga gue bisa berubah sekarang" dimas merasa optimis.
"masa sih lo udah tobat? gue enggak percaya tuh seorang dimas beneran tobat" dika tertawa menganggap dimas hanya bercanda.
"gue serius! gue udah berubah bang masa elo enggak percaya sih sama gue" dimas berusaha untuk meyakinkan.
"nih ya dimas justru karena lo itu adek gue jadi gue tau banget gimana elo"
"bang tega banget sih lo gue beneran serius ini"
"gue yakin enggak semudah itu lo bisa ngerubah sikap playboy yang selama ini lo suka mainin hati perempuan. gue enggak mau ambil resiko apa pun karena gue udah nganggep hana kaya adek gue sendiri jadi gue enggak mau dia sampai di sakiti sama cowok kaya lo"
dika to the point dan menolak keras keinginan dari adik sepupunya itu.
"yah!! bang dika gue serius tau sama dia plisss lah bang lo bantu gue buat deket sama hana ya"
dimas memohon dengan harapan yang besar dan mata yang berbinar menatap dika.
"huhhh!"
dika menghembuskan nafasnya dengan kasar karena merasa ragu pada dimas adiknya sendiri.
tak lama vani datang membawa nampan berisi tiga cangkir teh serta cemilan di bantu oleh asistennya.
"mas kamu kenapa sih kok mukanya kaya orang yang lagi frustasi gitu?"
vani tersenyum melihat raut wajah suaminya memelas lalu ia pun ikut duduk bergabung dengan dua pria di dalam ruang tamu itu.
__ADS_1
"mbak vani" dimas tersenyum menatap vani yang baru saja bergabung.
"dimas ayo di minum tehnya" vani menawarkan.
"iya mbak makasih"
"em, sorry ya dimas tapi lebih baik lo lupain hana aja deh soalnya dia udah punya calon suami sekarang" u dika serius menatap dimas.
"lo serius bang" raut wajah dimas seketika meredup mendengar kata calon suami hana yang dika ucapkan.
vani yang melihat reaksi keduanya pun di buat bingung apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan sehingga nama adiknya hana pun ikut serta dalam perbincangan itu.
"ini ada apa sih mas kok bawa bawa nama hana juga emang kenapa sama hana mas?" tanya vani bingung.
"em enggak papa sayang ini tentang..." dika ragu harus mengatakannya atau tidak.
"tentang??" vani masih bertanya.
"dimas suka sama hana mbak" dimas memelas.
"em, oh ya?"
vani yang mendengarnya juga menjadi bingung harus berkata apa karena saat ini hana sudah punya pacar jadi mereka tidak bisa mendukung dimas begitu pikirnya.
"tapi bang dika bilang hana udah punya pacar"
"bukannya waktu itu lo pernah deket sama hana ya terus kenapa lo enggak perjuangin sendiri kenapa baru sekarang lo minta bantuan dari gue" tatap dika
"iya, waktu itu gue udah deket sama hana bang tapi dia tau kalo gue punya cewek yang lain" dimas semakin memelas.
"nah kan, apa juga gue bilang belum apa apa aja lo udah nyakitin dia gimana gue bisa dukung elo sama hana dimas" dika geleng geleng kepala.
"iya tapi setelah itu gue baru sadar bang kalo gue beneran suka sama dia dan gue nyesel banget" dimas menunduk.
"hhh! menyedihkan!!" dika tersenyum miring mengejek adik sepupunya yang malang itu.
"ck!! mas kamu juga dulu kaya gitu udah aku tinggalin baru nyesel dan sadar kalo kamu cinta sama aku kalo enggak terlalu gengsi" vani mengingatkan suaminya.
"ck! kok jadi aku sih sayang" dika ikut memelas.
"ppfftt!" dimas menahan tawanya.
"iya mbak"
"mungkin juga kamu yang bakal jadi jodoh hana tapi saran mbak sekarang kamu jangan ganggu hubungan mereka dulu ya kalo kalian emang jodoh pasti bakal ketemu di waktu yang tepat"
"lo telat dimas! pilihannya cuma ada dua sekarang elo perjuangin atau lo lupain" ujar dika.
"huh"
dimas menghela nafas kasar setelah mendengar ternyata hana sudah punya pacar yang serius akan menikahinya.
"iya mbak, aku bakal nunggu waktu yang tepat kalo kami berjodoh pasti ketemu lagi"
"gaya banget lo, palingan juga besok lo udah punya pacar baru" dika tidak percaya dengan ucapan dimas.
"mas" vani geleng geleng menatap suaminya meminta dika untuk tidak mengejek dimas lagi.
"jangan percaya sama dimas sayang" dika menatap istrinya.
"ya udah kamu jangan sedih lagi ya dimas, ayo diminum lagi tehnya" vani menyemangati adik iparnya itu.
"makasih ya mbak" dimas tersenyum kepada vani dan melirik malas kepada dika sambil meminum tehnya.
vani pun membalas senyum kepada adik iparnya sambil meminum tehnya juga sedangkan dika minum teh dengan wajah datarnya.
"wah! manis banget mbak tehnya kaya yang buat gitu manisnya" dimas menggombal kepada kakak iparnya.
"masa sih" vani menanggapi dengan tersenyum.
"heh! apa maksud lo godain istri gue di depan suaminya langsung kaya gitu" kesal dika menatap dimas.
"hehe, iya siapa tau enggak dapat adeknya bisa dapat kakaknya bang" dimas nyengir.
"brengsek lo! sayang kamu liat kan playboy kelas vip ini lagi beraksi, aku bilang juga apa kamu jangan percaya sama dia" dika mengadu kepada istrinya.
__ADS_1
"mas udah dong dimas kan cuma bercanda" vani menatap suaminya yang mengadu seperti bocah itu.
"hhh! maklum aja mbak bang dika kan emang cemburuan orangnya" ucap dimas.
"bukan urusan lo ya" kesal dika karena vani selalu membela dimas.
"udah udah mas"
"iya mbak?" tanya dimas.
"apa?" vani bingung menatap dimas.
"tadi mbak manggil nama aku kan?" dimas tersenyum.
"em, kayanya enggak ada deh" vani tersenyum bingung.
"heh!! istri gue bilang mas ke gue bukan manggil nama lo" dika melempar wajah dimas dengan cemilan di tangannya.
"hehe!!!! gue tau kok tapi sengaja pengen aja dipanggil mas dimas sama mbak vani" dimas tersenyum jahil.
"ck!!! enggak ada akhlak lo" dika semakin kesal.
"dimas dimas kamu lucu banget ya" vani gemas.
"semua cewek emang bilang gitu sih mbak" pede dimas menunduk malu.
"huhhh! parah emang lo udah enggak wajar!" dika menatap dimas.
"hehe canda bang" dimas mengusap tengkuknya.
"oh ya dimas emangnya lo beneran mau nungguin hana sampe putus sama pacarnya?"
dika iseng bertanya sekaligus penasaran karena ia tidak yakin seorang dimas yang biasa memiliki banyak wanita itu harus setia menunggu satu wanita yaitu hana.
"em, iya bang gue mau berjuang demi cinta"
"gue curiga, lo ini pasti lagi kena karma ya soalnya kan biasanya elo tuh yang selalu nyakitin hati cewek cewek tapi hari ini elo yang tersakiti karena cinta dari seorang cewek"ppfftt!!
dika menahan tawa menggoda adik sepupunya itu.
"hus!!! mas kamu ini ngomong apa sih ke dimas enggak boleh tau, kalau kita bilang dimas itu kena karma" vani melotot karena ucapan suaminya.
"iya kan emang bener sayang" dika menahan tawa.
"em, mungkin sih bang soalnya gue juga bingung kenapa gue jadi bucin gini" dimas merasa aneh.
"haha!!" vani dan dika pun tertawa mendengarnya.
menjelang malam hari akhirnya dimas pun memutuskan hendak segera kembali pulang.
"ya udah deh bang dika, mbak vani dimas mau pamit dulu ya kalo gitu udah malam juga" ujar dimas.
"iya dari tadi kek, gue udah bosen liat muka lo" dika masih saja bercanda sedangkan dimas hanya tersenyum menanggapinya.
"mas dika!!" vani kembali menggeleng mendengar jawaban suaminya yang selalu bercanda itu.
"iya hati hati ya dimas" vani tersenyum.
"iya iya hati hati ya. sorry abang cuma bercanda"
"iya bang enggak papa"
"iya mbak aku maklum kok bang dika emang suka gitu tapi aku sih mikirnya simpel aja yang waras ngalah lah" ujar dimas sebelum benar benar melangkah pergi.
"haha!!!" vani hanya tertawa.
"brengsek lo dimas" teriak dika karena dimas sudah keluar dari dalam rumahnya.
"haha!!!" vani masih tertawa renyah.
"seneng banget ya kamu suaminya di katain enggak waras sama dimas" dika melihat tawa renyah istrinya.
"maaf mas" vani langsung berhenti tertawa.
di depan rumah dika, dimas yang hendak masuk ke dalam mobilnya pun berpapasan dengan hana yang akan masuk ke dalam karena ia baru saja pulang dari butik. hana pulang di antar oleh farel dengan menggunakan sepeda motor seperti biasanya.
__ADS_1
dimas hanya menatap hana bersama pacarnya sambil tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk menyapa keduanya lalu ia masuk ke dalam mobilnya.
hana juga hanya membalas senyum kepada dimas lalu menggandeng tangan farel mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.