
Sialnya momen itu di lihat oleh mata vani secara langsung tepat di hadapannya yang membuat air matanya kembali menetes saat melihat tubuh suaminya sedang berbaring dengan memeluk tubuh wanita lain di atas ranjang.
"mas dika"
vani dengan air mata yang sudah mengalir di pipi tertegun menatap suaminya itu.
"sayang"
dika kaget saat melihat istrinya dan menyadari posisi dirinya yang sedang memeluk tubuh arin di sana.
vani berbalik badan dan langsung melangkah keluar dari dalam kamar arin sambil menangis.
"sayang aku bisa jelasin ini enggak kaya yang kamu liat"
dika menggeser tubuh arin ke samping langsung berdiri dan berlari mengejar istrinya yang sedang salah faham itu.
vani terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan dika, ia masuk ke dalam kamarnya dan langsung menutup pintu
brak!!
vani mengunci pintu dari dalam karena tidak mau di ganggu.
tok!! tok!!! tok!!
"sayang, buka pintunya aku bisa jelasin semuanya enggak kaya yang kamu liat tadi itu cuma salah faham sayang"
dika terus mengetuk pintu kamarnya karena vani mengunci diri di dalam kamar mereka.
vani sedang berada di dalam kamar menangis sambil bersandar di balik pintu yang sudah tertutup itu.
"hiks!! hiks!! hiks!! kamu jahat banget mas" tangis vani.
"sayang, tolong buka pintunya sayang"
dika terus mengetuk pintu namun tidak mendapat respon apapun dari istrinya.
dika merasa khawatir dengan keadaan vani karena istrinya itu terus menangis namun ia juga tidak bisa memaksa agar vani membuka pintu kamarnya meskipun hal itu mudah untuk dika lakukan.
akhirnya dika membiarkan saja istrinya menenangkan diri sendiri di dalam kamar.
sudah beberapa hari ini vani masih kesal kepada dika karena suaminya itu tetap saja memperlihatkan perhatiannya kepada arin.
vani hanya diam saja dan berusaha untuk tidak memperdulikan dika dan arin di sana.
sejak jatuh dari tangga dan mengalami retak tulang di kakinya sampai sekarang kaki arin masih belum juga bisa di gerakkan apalagi untuk berjalan.
hal itu membuat vani merasa curiga karena sebelumnya dokter mengatakan jika tulang kaki arin sebenarnya sudah membaik namun entah mengapa arin tetap masih belum bisa berjalan.
vani pun merasa jika arin itu sebenarnya sudah sembuh namun ia tetap berpura pura sakit demi mendapatkan perhatian dari dika.
saat vani mengutarakan pendapatnya itu kepada suaminya justru membuat dika merasa kesal kepada istrinya karena vani tidak mempercayai arin
suatu hari tidak sengaja vani melihat arin sedang berjalan dengan tertatih di dalam kamarnya. arin berjalan hendak mengambil ponselnya di atas nakas.
vani yang melihat arin bisa berjalan pun akhirnya meyakini jika apa yang ia pikirkan selama ini itu benar adanya.
"arin udah bisa jalan? ternyata bener kalo selama ini arin emang sengaja nyembunyiin kesembuhan kakinya karena dia terlalu senang dapet banyak perhatian dari mas dika" gumam vani dengan raut wajah marahnya.
vani merasa yakin jika arin memang sengaja melakukan hal itu karena arin memiliki sebuah perasaan istimewa kepada suaminya.
malam harinya ketika dika baru saja pulang bekerja dari lemburnya dengan wajah yang sangat lelah vani datang menghampirinya karena ingin segera mengadukan apa yang ia lihat siang tadi kepada suaminya itu namun dika justru menolak dan mengatakan nanti saja karena masih sangat lelah.
__ADS_1
"mas aku pengen ngomong sesuatu deh boleh gak?"
vani duduk di samping suaminya.
"boleh sayang tapi nanti ya, aku capek banget nih mau mandi dulu biar bisa istirahat"
dika melangkah menuju kamar mandi dan meninggalkan vani begitu saja.
vani akhirnya menunggu hingga mereka selesai makan malam.
akhir akhir ini arin juga sudah tidak malu malu untuk menunjukkan perhatiannya kepada dika di hadapan vani sendiri membuat vani merasa kesal.
lama lama vani merasa seperti hidup bersama dengan seorang madu di rumahnya. seperti dika yang memiliki dua istri pikirnya kesal.
saat ini ketika mereka sedang berada di meja makan vani melihat arin terus saja mencari perhatian dari suaminya itu di hadapannya.
"mas, ini buat kamu"
arin meletakkan lauk di dalam piring dika dengan senyum manis tepat di hadapan vani.
"makasih ya arin" dika tersenyum menerimanya.
sedangkan vani hanya diam saja fokus menatap makanannya sambil menunduk menahan air matanya.
'dasar suamiku genit' batin vani kesal namun juga sedih.
setelah selesai makan malam mereka hendak kembali ke dalam kamar masing masing namun sebelum itu dika harus mengantar arin terlebih dahulu ke dalam kamarnya.
malam ini vani terus mengikuti dika sampai di dalam kamar arin tidak seperti biasanya vani tidak karena tau dirinya pasti akan sakit hati melihatnya.
saat dika hendak mengangkat tubuh arin dari atas kursi roda ke tempat tidur vani menghentikannya dan berkata jika arin sudah mulai bisa berjalan namun dika tidak percaya karena belum pernah melihat secara langsung sebelumnya.
"tunggu mas"
"ada apa sayang?" tanya dika.
"mulai sekarang kamu enggak perlu gendong arin lagi buat istirahat mas soalnya arin itu udah bisa jalan sendiri"
ucapan vani membuat arin kaget dan membelalakkan matanya.
"sayang kamu ini ngomong apa sih, kamu kan tau arin masih sakit" dika tidak percaya.
"mas kamu harus percaya sama aku tadi aku liat mbak arin udah bisa jalan kok, iya kan mbak arin?"
vani menatap arin namun arin hanya menggelengkan kepalanya karena tidak mau mengakuinya.
arin takut jika mengaku dika tidak akan perhatian lagi kepadanya saat dika tau dirinya sudah sembuh.
"sayang, udahlah kamu jangan mikir yang aneh aneh dong ke arin. enggak mungkinlah dia bohong, arin juga pasti enggak mau duduk di kursi roda terus kalo emang dia udah bisa jalan kaya yang kamu bilang. dia juga pasti pengen cepat sembuh" ucap dika.
"tapi mas, aku liat sendiri pake mata aku ini kalo tadi siang mbak arin itu bisa jalan. kamu enggak percaya sama aku atau kamu mau bilang kalo aku bohong gitu?"
vani tak percaya karena suaminya menganggap dirinya telah berbohong.
"bukan gitu, tapi apa maksud kamu arin yang bohong?"
"iya mungkin aja dia bohong biar bisa dapet perhatian terus dari kamu, dia itu suka sama kamu mas. suka sama suami orang!"
"vani cukup!!!"
dika mengangkat tangannya di depan wajah vani dengan suara yang keras.
__ADS_1
suara itu sangat berbeda dari biasanya karena selama ini dika selalu berbicara lembut kepada istrinya namun kali ini ia membentak vani dengan suara yang kasar demi untuk membela wanita lain.
vani tertegun mendengarnya dengan mata berkaca kaca.
"kenapa berhenti? ayo tampar! ayo pukul aku mas. pukul sekarang biar kamu puas" hikss!!
vani menarik tangan dika agar menampar wajahnya namun dika langsung menahan tangan yang sedang di tarik oleh istrinya itu agar ia tidak menyakitinya.
"sayang dengerin aku dulu,,,"
dika berusaha untuk memeluk vani yang sedang memberontak namun vani langsung menolaknya.
"lepas!"
vani mendorong tubuh dika lalu menatap suaminya dengan air mata yang sudah membasahi pipi.
vani melangkah pergi keluar dari dalam kamar arin meninggalkan suaminya itu karena ia merasa sangat kecewa dengan sikap dika.
melihat air mata mengalir di wajah istrinya karena perbuatannya sendiri dika pun langsung mengejar vani karena sadar jika dirinya bersalah sudah menyakiti hati lembut istrinya itu.
"vani tunggu!"
dika membuat vani berjalan semakin cepat setengah berlari karena ia tidak memanggil istrinya dengan sebutan sayang lagi seperti biasanya.
dika pergi meninggalkan arin yang masih berada di atas kursi rodanya tanpa memindahkan gadis itu terlebih dahulu ke atas ranjang seperti biasanya.
"mas,,,"
arin hanya terdiam tidak mampu mengucapkan apapun melihat dika pergi.
brak!!
vani masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu dengan keras dan langsung merebahkan diri di atas ranjang tanpa mendengar ucapan dika lagi.
sesampainya di dalam kamar mereka dika pun mendekat dan duduk disisi ranjang yang dekat dengan istrinya hendak meminta maaf dan membujuk vani agar tidak marah lagi.
"sayang, maafin aku ya. aku enggak bermaksud buat nyakitin hati kamu. aku bukannya enggak percaya sama kamu tapi...."
"cukup mas, aku enggak mau dengar apapun lagi. mulai sekarang aku enggak peduli kamu mau percaya atau enggak sama aku. aku juga enggak akan larang larang kamu lagi buat perhatian sama arin terus karena aku udah enggak peduli lagi sama kamu"
vani tidak ingin mendengar ucapan dika lalu menutup telinga dengan kedua tangannya.
"sayang kamu jangan ngomong kaya gitu dong, aku ngelakuin itu cuma karena aku mau balas semua kebaikan arin selama ini yang udah nolongin kita cuma itu kok" dika berusaha membela diri.
"ya udah kamu balas budi aja sana sama dia, terus kamu kasih dia perhatian dan kasih sayang yang selama ini belum pernah dia rasain biar dia nyaman sama kamu atau kalo perlu kamu nikahin aja dia sekalian biar dia jadi istri kamu"
"sayang kamu kok ngomongnya kaya gitu sih. istriku itu cuma kamu enggak akan ada yang lain"
"iya tapi selama ini kamu udah buat aku ngerasa kalo aku lagi tinggal serumah sama madu aku mas. selama ini sehabis pulang kerja kamu cuma perhatian sama dia, kamu lupa sama aku bahkan kamu juga enggak pernah perhatian lagi sama anak kamu sendiri. kapan terakhir kamu pegang perut aku terus ngajak anak kamu ngobrol kaya biasanya mas? kamu jahat tau gak" hiks! hiks!
vani mengeluarkan semua kekesalan di dalam hatinya karena dika yang tidak pernah lagi menunjukkan perhatian kepada anaknya sendiri.
"sayang aku minta maaf ya kalo itu udah buat kamu sedih dan enggak nyaman selama ini, aku janji mulai sekarang aku bakal lebih perhatian lagi sama kamu dan anak kita"
dika menyesali perbuatannya yang tidak sadar jika selama ini hal itu telah menyakiti anak dan istrinya.
"jangan janji terus aku bosen dengernya" hiks! hiks!
vani tetap pada posisi sejak awal berbaring membelakangi suaminya sambil menutup kedua telinga berbicara tanpa menatap ke arah suaminya itu.
"sayang pliss kasih aku kesempatan dong" bujuk dika namun vani tetap tidak mau menoleh.
__ADS_1
sebenarnya selama ini dika selalu mengecup lembut perut istrinya itu untuk mengajak calon bayi mereka ngobrol namun ia melakukannya saat vani sudah tertidur sehingga vani tidak menyadarinya.
vani hanya terdiam lalu memejamkan matanya tidak mau mendengar ucapan dika yang sedang meminta maaf.