
beberapa jam kemudian menjelang malam hari terlihat dika baru saja pulang dari kantornya.
yuli yang baru saja keluar dari dalam kamarnya pun melihat dika pulang sendirian.
"nah! itu bang dika udah pulang" yuli melihat kepulangan abang iparnya dari kejauhan.
sebenarnya yuli yang sudah menunggu kepulangan abang iparnya itu sejak tadi pun sudah tidak sabar ingin segera bertanya tentang suaminya kepada dika namun saat yuli hendak menghampiri dika dari kejauhan ia melihat vani datang untuk menyambut kepulangan suaminya.
yuli menghentikan langkahnya dan berpikir jika ia akan bertanya nanti saja.
"ck! nanti aja deh lagian bang dika juga pasti masih capek" gumamnya lalu pergi dari sana.
"mas, kamu udah pulang pasti capek banget ya sayang?" vani menyambut suaminya yang baru saja pulang bekerja.
"em, iya tadinya sih capek banget sayang tapi setelah liat senyum kamu sekarang capeknya udah hilang deh hehe" dika tersenyum menggoda istrinya.
vani yang mendengar gombalan dari suaminya itu sudah terbiasa dengan kata kata romantis yang setiap hari selalu ia dengar.
"huh gombal deh!" vani sambil berjalan berdampingan dengan suaminya menuju kamar.
mereka masuk ke dalam kamar karena dika merasa sangat lelah dan ingin segera membersihkan diri.
"sayang, aku mandi dulu ya" ucap dika setelah sampai di dalam kamar.
"iya mas" vani mengangguk lalu membantu dika untuk melepaskan dasinya.
"mau nemenin aku mandi enggak sayang?" dika tersenyum menggoda.
"enggak! kan aku udah mandi mas" jawaban vani ketus tidak termakan rayuan suaminya.
"ck! galak banget sih cantik" dika menoel dagu istrinya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"udah sana cepetan mandinya mas" vani mendorong tubuh dika pelan ke arah kamar mandi sambil tersenyum.
"yakin enggak mau nemenin aku yank?" tanya dika sekali lagi untuk menggoda istrinya.
vani hanya menggelengkan kepalanya tidak mau sambil tersenyum ke arah suaminya.
akhirnya dika pun masuk ke dalam kamar mandi sendirian.
setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya dika pun duduk di tepi ranjang sambil mengecek ponselnya.
"mas nih aku buatin teh, di minum ya" vani meletakan secangkir teh di atas nakas untuk suaminya.
"iya makasih ya sayang" dika pun tersenyum.
vani duduk di samping suaminya sambil memeluk manja lengan suaminya itu.
"em, oh ya gimana hasil check up tadi sayang?" tanya dika mengelus lembut perut buncit istrinya.
"alhamdulillah! baby kita sehat kok mas" vani tersenyum.
"kamu?" tanya dika belum puas dengan jawaban istrinya.
"iya ibu sama baby sehat dua duanya mas"
"alhamdulillah kalo gitu, aku seneng dengernya sayang" dika tersenyum sambil masih mengusap perut istrinya.
"ini, hasil USG nya mas"
__ADS_1
vani memberikan foto bayi mereka yang masih berada di dalam kandungan itu kepada suaminya.
"oh ya, terus apa kata dokter baby kita cowok atau cewek sayang?" tanya dika antusias.
"em" vani tertunduk dengan wajah murung.
"kamu kenapa, sayang apapun hasilnya kita harus tetap bahagia loh" dika menatap lembaran foto bayinya.
"iya aku bahagia kok mas, hem" vani tersenyum tipis.
"terus?" dika masih penasaran.
"kata dokter baby kita cowok lagi mas" vani dengan suara pelan kembali menunduk sambil memeluk perutnya.
bukan merasa sedih dengan hasilnya hanya saja vani sempat berharap jika hasilnya akan sesuai dengan keinginan mereka untuk memiliki seorang putri namun dokter sudah mengatakan jika bayi kedua mereka juga berjenis kelamin laki laki.
"sayang, kamu enggak boleh kaya gini dong coba deh kamu bayangin gimana kalo baby kita tau mamanya itu kecewa sama kehadirannya dia juga pasti sedih banget sayang" dika memegang kedua pundak vani agar tidak menunduk lagi.
"aku enggak kecewa kok mas, aku juga sayang banget sama baby kita" vani memeluk suaminya namun ia tidak bisa membohongi raut wajahnya yang murung.
"harus dong sayang, alhamdulillah yang penting kamu sama baby kita juga sehat di dalam sini sampai lahiran nanti" dika memeluk istrinya yang menangis.
"amin" vani mencoba tersenyum dalam pelukan suaminya.
"kamu jangan sedih ya sayang. lagian, kan kita masih bisa coba lagi tahun depan hehe" dika menghibur istrinya.
"em, iya tapi tahun depan harus cewek ya!" vani membuat dika tertegun.
"em, sayang. gimana aku bisa jawab iya kan aku juga enggak bisa nentuin tapi kita masih bisa usaha terus kan setiap tahun sampe dapat baby cewek hehe" dika bingung.
"ck! masa tiap tahun sih mas" vani hanya menepuk pelan pundak suaminya itu
"enggak papa dong sayang" hehe
ray akhirnya menemukan rumah naya yang berada di desa setelah sebelumnya ia mencari tau alamat lengkap rumah keluarga naya di kampung itu.
tok! tok! tok! ray mengetuk pintu rumah itu.
ceklek!
"iya?" naya yang melihat kedatangan ray di rumahnya pun merasa kaget. ia langsung menarik lengan ray dan membawanya kesamping rumah.
"pak ray, bapak mau ngapain kesini?" tanya naya setelah mereka berada di halaman samping rumah naya.
ray berniat ingin mengajak naya ke suatu tempat.
"ayo ikut saya naya" ray menarik lengan naya namun naya menolaknya.
"lepasin pak! saya enggak mau" naya menarik lengannya dari dalam genggaman ray namun ray lebih kuat darinya.
"tolong ikut saya sekarang naya please!" ray dengan sorot mata yang memohon.
"baik saya akan ikut dengan bapak tapi kita mau kemana?" tanya naya pada ray.
"udah ikut aja dulu"
ray menarik lengan naya dan membawanya menuju mobil dan langsung melajukan mobilnya.
sesampainya di tempat itu naya sangat terkejut karena ray justru membawanya ke kantor KUA.
__ADS_1
"bapak udah gila ya! mau ngapain kita ke sini?" naya langsung melepaskan tangannya dari genggaman ray.
"naya please kamu jangan nolak ya saya cuma mau bertanggung jawab atas anak ini dan nurutin keinginan kamu jadi saya mau nikahin kamu malam ini juga"
"iya tapi enggak kaya gini juga caranya pak, bapak kan udah punya istri" naya protes dengan suara lebih pelan.
"iya saya tau makanya kita cuma nikah siri aja dulu"
"apa!! nikah siri? saya enggak mau pak kalo sampe istri bapak tau gimana" naya heran dengan jalan pikiran ray.
"ya jangan sampe istri saya tau tentang hubungan kita dong naya. saya ngelakuin ini juga karena belakangan ini saya enggak bisa tidur mikirin tentang kamu terus. saya merasa bersalah sama kamu dan saya juga enggak bisa fokus bekerja naya" ray menjelaskan keluhannya.
"iya tapi pak" naya bingung dengan posisinya saat ini.
sebenarnya naya tidak mau merusak rumah tangga orang lain namun di sisi lain ia juga sudah hamil.
"ayolah naya kamu jangan nolak ya" bujuk ray.
"maaf pak tapi saya gak bisa"
"kamu mau saya merasa bersalah seumur hidup saya nay"
"hhh! baiklah pak saya mau tapi kalo istri bapak sampe tau tentang hal ini saya enggak bisa bantu bapak" dengan berat hati akhirnya naya setuju.
"baik saya yang akan menjaganya, asalkan kamu enggak mengatakan apapun saya yakin semuanya akan aman" ray meyakinkan naya.
"tapi kita pulang dulu ya pak ijab kabulnya besok aja soalnya saya harus izin sama ibu saya dulu" ucap naya.
"oke, saya juga akan meyakinkan ibu kamu" ray setuju.
akhirnya keduanya pulang ke rumah naya untuk memberi tahukan pernikahan mereka kepada keluarga naya.
di dalam keluarganya naya memiliki dua orang adik yang masih mengenyam pendidikan dan seorang ibu yang sudah lama menderita sakit kanker darah.
naya adalah tulang punggung di keluarganya karena ayahnya sudah tiada dari sejak naya masih duduk di bangku sekolah menengah.
tidak heran selama ini naya selalu terlihat hidup sederhana meskipun memiliki penghasilan yang besar di tempat kerjanya karena semua penghasilan yang naya dapatkan lebih besar untuk biaya hidup keluarganya terutama biaya pengobatan ibunya.
saat ini naya sudah resign dari kantor wijaya, hal itu membuat naya bingung harus bagaimana mencari uang untuk biaya hidup serta pengobatan ibunya.
beberapa hari berlalu dika yang telah berhasil mengatasi masalah di kantornya pun sudah merasa lebih tenang dari sebelumnya karena saat ini mereka telah menendang para pengkhianat itu dari dalam kantornya.
kerugian perusahaan semakin membesar karena ulah john yang licik karena selalu meretas data penting perusahaan wijaya, mencuri ide ide baru yang membuat nama baik perusahaan semakin down padahal masih dalam pasca pemulihan akibat ulang para pengkhianat itu.
bukan satu perusahaan namun dika harus menangani dua perusahaan sekaligus karena kantor miliknya juga menjadi sasaran empuk para pesaing bisnis yang tidak menyukai wijaya gruop.
di rumah vani sedang mendengarkan curahan hati adiknya yang menyedihkan. yuli menangis di hadapan kakaknya karena merasa kesal sekaligus sedih. ray pergi selama berhari hari tanpa ada kabar hingga lelah yuli mencoba untuk menghubungi suaminya namun tidak ada jawaban sama sekali.
"mas ray, kamu dimana sih aku enggak nyangka kamu tega lakuin ini sama aku. hiks! hiks! hiks!"
yuli menangis mengingat suaminya yang bahkan tidak memberinya kabar selama beberapa hari ini.
"yuli kamu sabar ya, semua pasti baik baik aja kok. aku yakin mas ray enggak mungkin ngelupain kamu sama arka disini mungkin aja dia lagi ada urusan penting lain" vani selalu berusaha untuk menyemangati adiknya.
"urusan penting apa yang kamu maksud kak? udah jelas jelas bang dika sama pak rangga juga enggak tau dia lagi ada dimana. dia pergi bukan karena ada urusan kerjaan malah dia enggak bisa di hubungin" yuli semakin kesal mengingatnya.
"iya aku ngerti tapi kan..."
"udah lah kak aku capek, aku enggak mau bahas tentang dia lagi"
__ADS_1
yuli beranjak pergi dari hadapan vani dan melanjutkan tangisannya di dalam kamar saja.
"huh!!! lagian mas ray ini sebenarnya kemana sih. kayanya enggak mungkin deh kalo mas dika enggak tau tentang mas ray ada di mana" vani berpikir sambil mencurigai suaminya sendiri.