Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 65


__ADS_3

sesampainya di kediaman wijaya ray pun langsung masuk kedalam rumah untuk menemui vani.


"dimana nyonya?" tanya ray kepada asisten yang berjaga.


"nyonya masih berada di dalam kamar tamu sejak tadi tuan tinggalkan" jawab asisten itu.


ray pun langsung bergegas masuk ke dalam kamar yang sebelumnya ia tinggalkan itu karena menyakini saat ini vani pasti masih sangat khawatir.


ceklek! pintu kamar terbuka.


seperti dugaannya ray pun melihat vani sedang duduk bersandar di atas tempat tidur yang sama seperti saat ia pingsan tadi.


vani hanya menangis dalam diam sambil terus memeluk foto suaminya.


vani memandang lurus ke depan dengan tatapan mata yang kosong sedangkan hana dan yuli sudah tertidur di sampingnya dengan posisi duduk bersandar sambil terus memeluk vani dari kedua sisi.


ray mendekati sisi ranjang, hatinya terenyuh melihat gadis malang di hadapannya itu menangis. tatapan mata vani yang kosong menunjukkan kesedihan yang mendalam.


"vani, kenapa kamu belum tidur? kamu harus istirahat nanti kamu bisa sakit"


ray menatap vani yang sedang tidak menatap ke arahnya.


"mas ray, dimana mas dika? dimana suamiku, kenapa kamu pulang sendirian. kenapa enggak bersamanya?"


vani tersadar dari lamunannya lalu melihat ke arah punggung ray namun tidak ada siapapun di sana.


"maaf vani, kami belum bisa menemukan dika ada kemungkinan jasadnya terbawa arus sungai yang deras"


ray dengan suara pelan mengucapkannya karena tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya.


"apa maksud kamu mas, apa aku juga enggak bisa liat suamiku meskipun untuk yang terakhir kalinya?" hiks! hiks!hiks!


tangis vani kembali pecah membuat kedua adiknya itu terbangun.


"vani kamu tenang dulu ya"


ray semakin tidak tega melihatnya.


"kak vani udah dong kamu jangan nangis terus nanti kamu bisa sakit, lebih baik sekarang kamu istirahat dulu ya aku sama hana bakal jagain kamu kok disini"


yuli mengelus lembut punggung kakaknya.


"gimana caranya aku bisa istirahat yul, gimana aku bisa tenang kalo sekarang aku enggak tau dimana keberadaan suamiku" hiks!


vani kesal pada keadaannya. ia merasa terlalu cengeng saat ini namun air matanya tidak mau berhenti mengalir.


"iya kak, aku ngerti"


"kamu enggak ngerti yuli, kamu engak tau gimana rasanya perasaan aku sekarang"


vani seakan ingin meluapkan semua kesedihan di dalam hatinya karena dadanya terasa sesak saat menahan kesedihan itu sendirian.


"iya aku tau aku enggak bisa ngerasainnya kak. maaf ya"


yuli mencoba untuk menenangkan vani dengan tidak memaksa kakaknya itu berhenti menangis.


"vani istirahatlah sekarang, semoga besok kita bisa menemukan jasad dika. aku enggak akan menghentikan pencarian sampai kita menemukan dika meski dalam keadaan apapun" ray berdiri hendak pamit.


"mas ray, aku mohon tolong cari mas dika sampe ketemu ya aku mohon" hiks!


vani memohon dengan tatapan penuh harap sambil memegang tangan ray yang hendak pergi.


dengan lembut ray pun melepaskan tangannya dari genggaman tangan istri sahabatnya itu.


"tolong jangan kaya gini vani, tanpa kamu memohon kaya gini pun aku pasti akan lakuin yang terbaik buat cari dika sampe dia ketemu. ini udah jadi tanggung jawab aku sebagai sahabatnya"


ray dengan lembut menenangkan perasaan gelisah vani.


"iya tapi tolong bawa mas dika pulang ya mas ray. aku yakin dia enggak mungkin meninggal soalnya dia udah janji sama aku kalo dia bakal pulang malam ini hikss!!"


tangisan vani membuat kondisi tubuhnya semakin lemah.

__ADS_1


"iya vani kamu yang sabar ya aku pasti akan cari dika sampai ketemu"


ray pun mengusap pundak vani untuk meyakinkannya.


"makasih"


vani mengangguk sambil menghapus air matanya.


"kalo gitu aku pamit dulu ya, tolong jaga kesehatan kamu"


ray pun melangkah keluar dari dalam kamar itu.


ray berjalan dan menghentikan langkahnya tepat di tengah ruang tamu. ia menatap para pengawal dan para asisten yang sudah berkumpul di hadapannya itu.


sebelumnya ray sudah meminta kepada kepala pelayan untuk mengumpulkan seluruh penjaga dan asisten di dalam rumah itu.


"dengar!! kalian perketat penjagaan rumah khususnya malam ini, untuk beberapa asisten wanita kalian harus bergantian menjaga pintu kamar nyonya dan pastikan nyonya baik baik saja. jika terjadi sesuatu hubungi saya"


ray menatap tajam satu persatu wajah para penjaga dan art di rumah itu.


"baiklah tuan ray, kami pasti akan selalu menjaga nyonya dengan baik"


kepala pelayan menjawab sambil menundukkan pandangannya.


"bagus dan ingat!! jangan sampai ada pengkhianatan yang terjadi di dalam rumah ini jika kalian masih tetap ingin menghirup udara segar besok pagi" ancam ray tegas sebelum ia melangkah pergi.


semua penjaga dan asisten yang mendengarnya hanya menunduk takut sambil mengangguk karena tidak ada yang berani menatap ke arah ray saat ini. ia sedang terlihat sangat ganas mungkin itu karena keadaan yang terjadi membuat ray harus serius dalam melakukan segala sesuatunya.


ray pun pergi karena masih harus terus melakukan penyelidikan dan pencariannya di lokasi itu.


keesokan paginya di kediaman wijaya, vani pun terbangun dari tidur yang tidak nyenyak itu. ia membuka matanya lalu melihat ke arah samping karena berharap jika suaminya sudah berada di sana sambil memeluk tubuhnya seperti biasanya.


'mas dika, kamu beneran enggak nepatin janji kamu hari ini' batin vani, air matanya kembali menetes saat mengingat wajah suaminya.


tidak mau terlalu larut dalam kesedihan vani memutuskan untuk melaksanakan sholat subuh bersama dengan kedua adiknya. tidak lupa vani juga mendoakan keselamatan untuk suaminya itu.


'ya Allah hamba sangat merindukannya tolong selamatkan mas dika di mana pun saat ini dia berada. lindungi dia dan jaga selalu bagaimana pun keadaannya. mohon beri kami petunjuk mu ya Rabbi. Aammiinn'


vani benar benar berharap jika ini semua hanyalah sebuah mimpi buruk yang akan segera berakhir.


setelah selesai sholat, vani kembali menangis karena mengingat biasanya dika yang setiap hari selalu menjadi imamnya ketika sholat namun hari ini vani tidak melihat sosok suaminya itu berdiri di depannya.


'mas dika, aku kangen banget sama kamu. biasanya kan kamu yang selalu ada di depanku waktu sholat' batin vani.


"kak sabar ya"


hana dan yuli selalu berada di samping kakaknya mereka berusaha untuk menguatkan vani yang terlihat rapuh.


menjelang siang yuli masih terus membujuk kakaknya agar mau makan karena vani tidak mau menyentuh makanannya sedikit pun sejak kemarin.


"kak ayo dong kamu makan dulu ya. kamu belum makan dari kemarin malam loh nanti kamu bisa sakit, kalo kamu sakit kamu enggak bakal bisa nunggu kabar dari bang dika"


yuli membujuk agar kakaknya itu mau makan walaupun sedikit.


"nanti aja yul, aku enggak pengen makan sekarang"


vani masih dengan tatapan kosongnya.


yuli pun tidak bisa berkata apa apa lagi ia hanya menatap sedih pada sang kakak.


tidak lama keluarga vani dari kampung halamannya pun datang ke kediaman wijaya setelah mendengar kabar tentang dika. mereka ingin memberikan semangat untuk adik bungsunya yang sedang berduka itu.


"vani" kak aida memanggil.


"kakak"


vani pun langsung menghambur ke dalam pelukan sang kakak lalu kembali menumpahkan kesedihannya di sana.


"hiks!! hiks!! kak, mas dika"


tangis vani kembali pecah di dalam pelukan kakaknya.

__ADS_1


"sabar ya dek semuanya pasti baik baik aja"


kak aida mengusap lembut punggung adiknya.


"aku enggak mau kehilangan dia kak"


"iya kakak tau, kita semua juga enggak mau ini terjadi sabar ya dek"


kak aida pun tak kuasa menahan air matannya melihat kesedihan pada adik bungsunya itu.


setelah tangis vani mulai redah, ia melepaskan pelukan dari kakaknya dan kembali duduk bersandar di ranjang.


"kamu yang sabar ya vani"


bibi dan juga abang serta semua keluarganya yang datang pun bergantian memeluk vani sambil memberi semangat.


"kamu jangan nangis terus ya dek. ayo makan dikit aja, nanti bisa sakit kalo kamu enggak makan"


kak aida membujuk adik bungsunya agar mau makan.


akhirnya vani mau makan sedikit karena tidak ingin keluarganya yang lain juga merasa sedih melihat keadaannya yang begitu rapuh.


"yuli, apa belum ada kabar dari mas ray tentang mas dika?"


vani bertanya pada adiknya berulang kali sejak pagi hingga menjelang sore hari ini.


"em, belum kak"


yuli juga bingung harus menjawab apa karena begitulah faktanya.


sore harinya rangga berserta keluarga wijaya yang lainnya pun sampai di kediaman wijaya. vani kembali menangis di dalam pelukan mama ratih dan mbak ranty hingga sesegukan.


"mama, papa" gumam vani saat melihat kedatangan keluarganya itu lalu ia menghambur ke dalam pelukan keluarga suaminya itu terutama mama ratih.


"vani kamu yang sabar ya dek"


ranty pun memeluk adik iparnya itu.


"ini ada apa sih sayang?"


mama dan papa mertuanya masih bingung.


papa hardi dan mama ratih yang awalnya masih bingung karena rangga tidak memberitahu kebenaran sebelumnya pun sangat syok hingga mama ratih jatuh pingsan setelah tahu kebenaran tentang putra bungsunya itu.


saat mendengar kabar tentang putra bungsunya yang telah meninggal akibat kecelakaan bahkan jasadnya belum bisa di temukan sampai sekarang membuat kondisi papa hardi drop karena penyakit jantungnya kambuh.


"mama!"


"papa!"


benar saja hal yang rangga khawatirkan sebelumnya itu terjadi ketika kedua orang tuanya tahu tentang kebenaran kecelakaan adiknya.


setelah mama dan papanya mendapatkan perawatan dari dokter di dalam rumah, rangga pun langsung melajukan mobilnya menuju ke tempat kejadian untuk menemui ray karena ray masih selalu berada disana untuk memantau keadaan sekitar.


sesampainya di dekat sungai itu rangga melihat ray yang masih berdiri di sana lalu mendekati sekretarisnya itu.


"ray gimana, apa sudah ada kabar tentang keberadaan dika?" tanya rangga.


"belum pak, kami juga bingung harus mencari kemana lagi. kami sudah menyusuri setiap lekuk sungai ini hingga ke kota lain tapi tetap tidak bisa menemukan pak dika"


ray menatap wajah rangga yang sangat sedih itu.


"apa ada kemungkinan kalau dika masih selamat?"


rangga sangat berharap jika adik semata wayangnya akan baik baik saja.


"sangat tipis kemungkinannya pak karena arus sungai ini cukup deras dan kita juga tidak tau apakah ada hewan buas di dalam sungai atau tidak. jika dalam tiga hari kita tidak berhasil menemukan pak dika maka polisi akan menghentikan pencarian karena kemungkinan besarnya pak dika sudah meninggal terbawa arus sangat jauh"


ray tertunduk sedih mengatakannya.


"tapi kenapa jasad adik ku bisa hilang! kenapa tidak ada sedikit pun yang tersisa!! ini tidak adil ray, tidak adil! jasad kedua supir itu bahkan masih sangat utuh di temukan"

__ADS_1


rangga mengepalkan kuat tangannya marah bercampur kesedihan yang mendalam mengingat adik satu satunya yang sangat ia sayangi itu.


__ADS_2