Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Dinner


__ADS_3

hari hari berlalu, saat ini vani sudah mulai bisa berjalan meskipun masih tertatih namun ia terus berusaha untuk berjalan dengan lebih baik agar kakinya segera sembuh dan bisa berjalan normal lagi.


vani benar benar sudah merasa bosan berada di tempat tidur dan kursi rodanya seharian.


sore ini di ruang tamu vani hendak berjalan untuk melatih tulang kakinya namun seperti biasa kedua kaki gadis itu masih belum kuat untuk menopang tubuhnya dengan baik.


"aakkhh"


vani kehilangan keseimbangan hingga hampir terjatuh.


"hati hati"


beruntung ada dika yang datang langsung memeluknya


"pak dika!" gumam vani kaget.


pasalnya tadi dirinya hanya sendirian di dalam ruangan itu namun entah dari mana datangnya tiba tiba saja dika sudah memeluk tubuhnya agar tidak terjatuh.


sadar jika dirinya sedang berada di dalam pelukan bosnya bukannya menghindar vani justru menikmati dekapan hangat dari pria yang dicintainya itu.


vani membalas pelukannya dengan merangkul pundak dika menyembunyikan wajahnya di pangkal leher pria itu.


keduanya larut dalam pelukan hangat yang mereka lakukan dengan sadar.


setelah lama saling berpelukan dika pun melepaskan pelukannya dari gadis cantik itu.


"jangan terlalu maksain kaki kamu buat jalan kaya gini. kamu harus istirahat kalo capek"


dika membantu vani untuk duduk di sofa.


"terima kasih pak"


vani merasa canggung setelah kembali duduk.


"kaki kamu pasti akan sembuh sebentar lagi jadi jangan terlalu di paksa ya"


dika berlutut di hadapan vani yang sedang duduk di atas sofa sambil menatap gadis itu.


"iya pak. em, bapak habis dari mana kok tiba tiba ada disini?" tanya vani bingung.


"saya baru pulang dari kantor, saya kesini karena mau ngomong sesuatu sama kamu"


"oh ya? em, bapak mau ngomong apa ya?"


vani penasaran dengan apa yang ingin dika katakan karena melihat tatapan yang begitu serius.


"saya,,,, em, saya mau bilang kalo saya... saya ci... em, saya...."


dika merasa gugup, ia bingung harus mulai dari mana untuk mengungkapkan perasaannya.


"saya, apa ya pak?" vani semakin penasaran.


"saya,,, saya, cuma mau ngajak kamu dinner besok malam. kamu mau kan?" tanya dika akhirnya.


"oh gitu. em, tapi kaki saya kan belum bisa jalan normal pak. apa bapak enggak malu buat ngajak saya jalan dengan kaki seperti ini?" vani merasa ragu melihat kakinya.


"iya enggak dong, kenapa harus malu? kalau saya malu ngapain juga saya ngajak kamu"


"em,, ya sudah kalo gitu saya mau pak" vani tersenyum.


"ya sudah, besok malam saya jemput kamu ya"


dika tersenyum senang karena vani mau menerima ajakan darinya.


"baik pak" vani pun mengangguk.


"kalau gitu saya pulang dulu ya. kamu jaga diri baik baik"


"iya pak, hati hati ya"


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam"


dika melangkah keluar hendak segera pulang.


saat keluar dari dalam rumah, dika berpapasan dengan yuli yang baru saja pulang bekerja.


tin! tin!


mereka hanya saling berbalas bunyi klakson dari kendaraan masing masing.


setelah turun dari motornya yuli pun langsung masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum"


yuli masuk namun tidak mendapat jawaban salam dari kakaknya. ia melihat wajah vani yang sedang tersenyum sangat bahagia sambil melamun.


"ehem"


yuli berdehem untuk menyadarkan lamunan vani namun kakaknya itu tetap tidak menyadari kepulangannya.


"kak vani, kak!!!"


yuli melambaikan tangan di hadapan vani karena melihat kakaknya melamun sambil senyum senyum sendiri.


"eh yuli" vani tersadar dari lamunannya.


"ye, melamun aja sih. pake senyum senyum sendiri lagi"


yuli duduk di sofa bersebelahan dengan vani.


"iya enggak papa dong, dari pada aku nangis sendiri"

__ADS_1


"oh ya kak, tadi aku liat pak dika baru keluar dari rumah ini. dia kesini lagi ya?"


"iya" vani hanya mengangguk.


"kenapa pak dika dateng setiap hari ya kak?"


"iya biarin ajalah yul, lagian ini kan juga rumahnya pak dika"


"iya sih, tapikan..."


"udah deh enggak usah terlalu di pikirin"


"hem"


"oh ya yul besok pak dika mau ngajak aku makan malam berdua gitu katanya"


"oh ya? bagus dong, besok kamu pergi aja sekalian jalan jalan kamu juga kan bosen di rumah terus"


"iya sih tapi kamu bantuin aku siap siap ya"


"itu udah pasti kak" yuli merangkul pundak vani.


"makasih adek ku" vani memeluk adiknya.


keesokan harinya vani sudah sibuk memilih gaun yang akan di pakai untuk nanti malam namun ia bahkan tidak memiliki gaun yang bagus.


"ck! masa harus pake baju yang sama kaya ke kantor sih"


vani frustasi menatapnya.


"enggak ada gaun yang bagus, udahlah males banget deh"


vani memang tidak suka ribet orangnya.


siang harinya datang seorang kurir mengantar sebuah paket ke rumah vani.


"paket!" teriak kurir dari depan pintu rumah.


"iya"


salah satu asisten rumah tangga pun membuka pintu dan keluar untuk melihatnya.


"paket buk, atas nama pak radika untuk bu vani" ujar kurir kepada asisten yang sudah membuka pintu.


"oh, baiklah terima kasih ya pak" asisten itu menerimanya.


"baik buk, kalo gitu saya permisi"


kurir pun pergi setelah menyerahkan paket.


setelah menerima paket dari kurir asisten pun membawanya menuju kamar vani.


tok! tok! tok! suara ketukan pintu di kamar vani.


vani membuka pintu setelah berjalan tertatih menggapai daun pintu kamarnya.


"iya ada apa ya mbak?"


"permisi non, ini ada paket baru sampai"


asisten itu menyerahkan kotak yang masih bersegel kepada vani.


"oh iya bik dari siapa ya?" tanya vani bingung. pasalnya ia tidak pernah memesan barang apapun secara online.


"kata kurirnya atas nama pak dika non"


"oh gitu, makasih ya bik" vani tersenyum menerimanya.


"baik non, saya permisi dulu"


"em"


vani mengangguk lalu asisten kembali pergi.


merasa penasaran dengan isi paket itu, vani pun langsung mengambil gunting hendak membukanya.


"kira kira apa ya isinya?"


setelah membuka kotak vani pun tertegun melihat isinya.


"wah!! gaunnya bagus banget"


vani menatap sebuah gaun indah yang dika berikan.


tidak hanya gaun ada juga kotak sepatu di dalamnya.


"kok pak dika beliin aku sepatu sama gaun ya, emangnya dia tau apa ukuran badan sama kaki aku? aneh banget"


vani merasa bingung lalu mencoba gaun dan sepatu flat baru itu.


"loh! kok bisa sih, ukurannya pas banget di badan sama kaki aku?" vani merasa takjub.


"ya udah deh biarin aja pak dika tau dari mana juga, yang penting nanti malam aku bisa pakai gaun bagus yang baru"


vani tidak ingin memikirkan hal itu lalu tersenyum bahagia menerimanya.


*


malam harinya vani sedang bersiap untuk pergi. ia pun berdandan di bantu oleh yuli adik sepupunya di dalam kamar mereka.


vani terlihat sangat cantik dan anggun menggunakan gaun yang dika berikan itu. gaun 👗 sepanjang lutut berwarna navy yang sangat cocok dengan kulit putihnya.


rambut vani lurus panjangnya hanya seukuran setengah punggung ia biarkan terurai dengan jepitan rambut kecil untuk menghiasi rambut indahnya.

__ADS_1


tak lupa ia memakai sepatu flat yang berwarna senada dengan gaunnya menambah sempurna penampilannya.


selesai bersiap vani pun memperhatikan penampilannya dengan menatap pantulan dirinya di dalam cermin sambil tersenyum.


"wah!! kakak aku cantik banget kaya cinderella deh" yuli memeluk vani dari belakang.


"kamu bisa aja deh yul" vani berbalik menatap adiknya.


"jadi aku mau di tinggal sendirian nih?" yuli manyun menggoda kakaknya.


"aku cuma pergi sebentar kok yul, kan makan malam doang bukan mau pergi jauh"


"iya deh iya. oh ya, kira kira ada acara apa ya pak dika tumben ngajak kamu dinner?"


"em, apa ya? aku juga enggak tau yul"


"apa jangan jangan dia mau...."


"mau apa?"


"mau itu.." yuli mengedipkan sebelah matanya.


"mungkin aja pak dika cuma mau berterima kasih karena aku udah nolongin dia waktu itu"


"masa sih hem?" yuli mencolek dagu vani


"ih, apa sih kamu" vani tersenyum malu.


tin! tin! suara klakson terdengar, mobil dika berhenti tepat di depan pintu rumah mereka.


"nah, itu mobil pak dika udah sampe" ucap yuli.


"oh iya deh kayanya..."


"ayo kita keluar"


yuli memegang tangan vani yang masih berjalan tertatih.


vani mengambil tas selempang yang berisi dompet dan ponsel di atas meja lalu berjalan dengan perlahan menuju ruang tamu.


terlihat dika sedang duduk menunggu sambil memainkan ponselnya disana.


"pak dika, saya sudah siap ayo kita pergi"


vani tersenyum sambil berdiri di samping sofa.


"hem" dika mengalihkan pandangannya saat mendengar suara gadis cantik itu.


ketika menoleh, ia merasa terpesona hingga lupa berkedip melihat penampilan gadis yang telah mencuri hatinya itu.


"ehem!" deheman yuli menyadarkan dika.


"em, kamu sudah siap? ayo kita pergi"


dika tersenyum canggung lalu bangkit dari duduknya. ia mengulurkan tangan hendak menggenggam tangan vani agar bisa membantunya berjalan menuju mobil.


vani mengangguk lalu menyambut tangan dika yang ingin menggenggam tangannya.


"yuli, aku pergi dulu ya. kamu baik baik di rumah"


vani berjalan di antara dika dan yuli juga.


"iya, kamu hati hati ya kak. pak dika tolong jagain kak vani ya" yuli menatap dika.


"pasti yul, saya akan selalu jagain vani"


"oke deh kalo gitu" yuli tersenyum.


dika membukakan pintu mobilnya lalu vani pun masuk dengan perlahan.


"bye! have fun ya kalian" yuli melambaikan tangannya.


"iya, bye" vani membalas lambaian tangan yuli.


sebenarnya vani masih bingung mereka akan pergi kemana.


hingga mobil dika berhenti tepat di parkiran sebuah gedung yang familiar baginya.


setelah memperhatikan gedung tinggi itu, ia pun menyadari jika ternyata mereka sedang berada di kantor wijaya.


vani turun dari dalam mobil setelah dika membukakan pintunya.


"pak kita ngapain ke kantor? katanya mau dinner"


"iya, kita kan mau dinner disini"


"em, maksud bapak?"


"udah kamu tenang aja. pokoknya saya enggak akan macam macam kok entar juga kamu tau, ayo..." dika menggandeng tangan vani.


mereka berjalan hendak menuju lantai teratas gedung dengan menggunakan lift.


sesampainya di lantai teratas keduanya hendak menaiki tangga agar sampai keatap gedung yang merupakan sebuah helipad.


"pak, kita ngapain sih naik ke atas? kaki saya kan masih sakit gimana mau naik tangga"


ujar vani menatap tangga di hadapannya.


"ya udah, sini saya bantu"


dika langsung mengangkat tubuh vani lalu menaiki tangga menuju atap gedung.


"akh!"

__ADS_1


vani yang kaget karena dika menggendongnya pun langsung memejamkan matanya.


__ADS_2