Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 235


__ADS_3

malam ini ray mengajak naya untuk pergi ke sebuah mall, ia sengaja pergi di malam hari untuk meminimalisir kemungkinan bertemu dengan istrinya atau orang orang yang ada di sekitarnya.


setelah selesai berbelanja mereka memutuskan untuk makan malam bersama di sebuah cafe out door yang menyuguhkan suasana damainya malam.


"di sini nyaman ya" ray menatap sekelilingnya.


"iya pak, walaupun di out door tapi tetap hangat suasananya" naya juga tersenyum.


"iya kamu bener" jawab ray tersenyum sambil mengalihkan pandangannya.


"pak ray makasih ya. bapak udah mau nurutin keinginan baby hari ini"


"iya sama sama naya lagian ini kan juga udah jadi salah satu tanggung jawab saya sebagai ayahnya"


"em, maaf pak. apa saya boleh nanya sesuatu?" naya sedikit ragu.


"iya boleh, mau nanya apa?"


"kenapa bapak keliatan santai banget jalan sama saya?"


"memangnya kenapa, apa saya jalannya harus buru buru" ray sambil tertawa ringan.


"em, bukan maksudnya bapak enggak gugup gitu atau takut ketahuan"


bisik naya dengan suara yang pelan saat mengatakan takut ketahuan.


"hhh! kamu ini lucu banget sih. emangnya ketahuan sama siapa kita kan lagi di tempat yang, yah lumayan jauh lah dari rumah saya"


"em, tapi saya takut pak" naya menunduk.


"kamu takut apa?" ray tetap tersenyum.


"saya takut..." ucapan naya menggantung namun ia menyambung kalimat itu di dalam hati.


'saya takut semakin jatuh cinta sama bapak, bapak terlalu baik. wanita mana yang bisa nolak kebaikan selembut ini. tapi bapak udah jadi milik wanita lain seandainya aja dulu saya enggak nolak lamaran dari bapak pasti sekarang saya enggak harus takut buat jatuh cinta sama pria setulus bapak' ucap kata hati naya.


"ck! udah kamu enggak usah takut kita hadapin sama sama ya" ray menggenggam tangan naya sambil tersenyum menatapnya.


naya menatap tangannya yang saat ini sedang menyatu dengan tangan ray karena ray sedang menggenggam tangannya dengan menyatukan setiap sela jari mereka di antara jari jari yang lain.


naya hanya tersenyum tipis, saat makanan yang mereka pesan datang naya langsung menarik tangannya untuk melepaskan dari genggaman tangan ray.


"ayo kita makan"


"em" naya mengangguk.


setelah selesai makan malam ray kembali mengantar naya pulang ke rumahnya.


di rumahnya dika dan vani masih harus bergantian bangun ketika putra mereka menangis di malam hari.


"mas gantian dong, aku ngantuk banget nih" vani yang sedang menggendong raja di pelukannya.


"emh! aku juga ngantuk banget sayang minta luna aja ya yang jagain raja malam ini. besok aku harus pergi ke kantor lebih awal" dika masih memejamkan matanya.


"em, ya udah deh" vani pasrah namu ia kembali mengurungkan niatnya.


"ck! tapi aku enggak tega mas"


"enggak papa sayang, kan luna emang baby sitter yang tugasnya jagain baby. lagian aku udah gaji doble loh biar kamu enggak capek" dika mengingatkan.


"tapi ini anak kita mas" vani tidak mau memberikan bayinya di malam hari kepada orang lain.


"iya siapa bilang raja tuh anaknya luna kan dia cuma bantu jagain doang sayang" dika masih memejamkan mata.


"ih kamu tuh ya mas, waktu buatnya aja bisa tahan begadang sampe enggak tidur. giliran udah lahir enggak tahan jagain" omel vani.


"aduh sayang bukan gitu, kan cuma malam ini doang" dika membela diri.


"ck!!! sayang cup! cup! cup! raja sayang mama. anak baik jangan nangis lagi ya sayang"


vani terus berusaha untuk membuat raja terdiam sambil berdebat dengan suaminya.

__ADS_1


sesampainya di rumah naya, ray hendak segera pulang ke rumahnya namun hujan deras turun membuat ray harus mengurungkan niatnya untuk pulang dalam keadaan malam yang gelap gulita di tambah guyuran hujan yang deras. akhirnya ray pun memutuskan untuk menginap saja di rumah naya.


"ck! hujannya deras banget" ray menatap langit yang tidak terlihat akibat derasnya air hujan yang turun.


"pak ray, gimana kalo malam ini nginap di sini aja? iya kalo bapak enggak keberatan"


naya melihat ray yang hanya berdiri di dekat jendela kaca.


"hem, iya kayanya emang harus gitu" jawab ray tanpa menoleh.


"baiklah pak, kalo gitu saya permisi" naya pun berjalan masuk ke dalam kamarnya.


ray kembali berpikir bagaimana dirinya harus mengatakan ini kepada istrinya. ia harus menghubungi istrinya untuk mengatakan bahwa dirinya tidak bisa pulang malam ini.


tidak, ray hanya harus menghubungi dika sahabatnya.


drtt! drtt! drtt!


di rumahnya sudah sejak tadi dika terlelap dan berada di alam mimpi yang indah.


vani yang mendengar ponsel suaminya berbunyi itu pun langsung menjawabnya agar bunyi ponsel yang berisik tidak akan membangunkan lagi putranya yang baru saja terlelap setelah ia sulit mendiamkan tangisan putranya.


"ya halo mas ray ada apa?" vani yang menjawabnya.


"vani, em dika dimana?" tanya ray dari seberang sana.


"maaf ya mas ray, tapi mas dika udah tidur dari tadi katanya ngantuk banget"


"oh gitu. ya udah makasih, maaf ya kalo aku udah ganggu"


"hem, iya mas ray enggak papa kok"


vani pun mematikan sambungan telponnya dan kembali tidur sambil memeluk tubuh suaminya.


"ck!!! hhh!" ray benar benar merasa lelah dan mengantuk.


akhirnya ray berjalan masuk ke dalam kamarnya dan tidur tanpa memberi kabar kepada istrinya terlebih dahulu.


di rumahnya yuli merasa sangat kesal atas perbuatan suaminya yang selalu saja melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.


yuli menatap ponselnya yang tidak memiliki notice apa pun dari suaminya.


keesokan harinya ray menyempatkan diri untuk pulang ke rumahnya sebelum ia harus kembali pergi ke kantor untuk bekerja.


sesampainya di rumah ray masuk ke dalam kamarnya dan melihat baby arka yang masih tertidur.


ray mendekati putranya yang sedang tidur di atas ranjang lalu mengecup kening baby arka dengan lembut.


cup!


"maafin papa ya sayang, aka nungguin papa ya kemaren?" ray menatap putranya yang masih tertidur itu.


tidak lama yuli pun masuk ke dalam kamar hendak melihat putranya apakah sudah bangun atau belum, namun justru melihat suaminya yang sudah berada disana.


"mas ray, kamu baru pulang?" tanya yuli datar.


"em, sayang maafin aku ya semalam tuh hujannya deras banget aku enggak bisa pulang dari kantor terus aku juga ketiduran di sana"


ray menatap istrinya yang sedang tidak menatap dirinya.


"oh gitu, ya udah" yuli hanya cuek karena merasa bosan dengan semua alasan yang diberikan oleh suaminya.


"kamu percaya kan?" tanya ray ragu.


"iya" jawabnya lebih singkat.


"please sayang kamu jangan marah ya" ray memegang kedua pundak istrinya.


"ck! aku enggak marah kok" yuli menghindari suaminya lalu berjalan mendekati putranya.


"em, oh iya aku harus ngantor lagi sayang" ray hendak segera mandi agar ia bisa kembali pergi bekerja.

__ADS_1


"iya" yuli hanya mengangguk.


ray langsung masuk ke dalam kamar mandi, setelah itu ia mengganti pakaian dengan baju kerja yang rapi dan hendak berangkat ke kantor.


"sayang, aku berangkat sekarang ya" cup! ray mengecup kening istrinya sebelum pergi.


"hati hati ya mas"


"iya sayang"


yuli hanya menatap kepergian suaminya begitu saja.


sesampainya di kantor ray bertemu dengan dika yang hendak masuk ke dalam ruangannya.


"pagi bos" sapa ray berdiri dari duduknya.


"pagi ray" dika membalas sapaannya dengan tersenyum.


"em, oh ya ray gue denger tadi malam lo nyariin gue ya?sorry ya gue udah ketiduran" ucap dika kepada ray.


"oh iya maaf bos kalo saya udah ganggu jam istirahat" ray merasa tak enak.


"hhh! santai aja, ya udah gue masuk dulu ya"


dika menepuk pundak ray pelan lalu berjalan masuk ke dalam ruangannya.


menjelang sore hari ray mendapat kabar jika naya sedang sakit. ia pun segera bergegas untuk pulang meskipun pekerjaannya di kantor belum selesai.


sesampainya di rumah naya, ray langsung mencari keberadaan istrinya itu di dalam kamar. ia melihat naya yang sedang terbaring lemah di atas ranjang.


"naya, gimana keadaan kamu?" ray mendekat dan duduk di tepi ranjang.


"saya baik baik aja kok pak"


suara naya lemah dan wajahnya terlihat sangat pucat dengan suhu tubuh yang panas sepertinya naya sedang mengalami demam.


"kita ke rumah sakit ya" ray merasa khawatir.


"em" naya pun hanya mengangguk setuju.


"ayo pelan pelan, saya gendong kamu aja ya biar lebih cepat" ray pun mengangkat tubuh naya setelah naya mengangguk setuju.


akhirnya ray menggendong tubuh naya berjalan keluar menuju mobil lalu membawanya ke rumah sakit.


di rumah sakit bukan hanya naya yang harus menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan namun juga penting bagi mereka mengetahui keadaan kesehatan calon bayi di dalam kandungannya.


saat dokter memeriksa kandungan naya menggunakan alat pemeriksa detak jantung bayi serta melakukan usg untuk melihat pergerakan dan perkembangan bayi di dalam kandungan, ray pun menatapnya dengan haru.


dengan tersenyum ray menatap layar di hadapannya yang memperlihatkan bentuk tubuh calon bayinya serta suara dari detak jantung bayi mungilnya juga.


"bagaimana dokter apa keadaannya baik baik saja?" ray menatap dokter yang sedang memeriksa naya.


"semua baik pak, hanya saja karena saat ini istri bapak sedang demam dan kondisi tubuhnya lemah, hal itu menyebabkan detak jantung bayi juga menjadi sedikit lemah tapi bapak jangan terlalu khawatir semoga keadaan bu naya semakin membaik secepatnya agar kondisi bayi juga kembali stabil" dokter menjelaskannya.


"oh ya dok, apa kami sudah bisa melihat jenis kelamin calon bayi kami ini?" naya tersenyum.


"oh, iya tentu saja sudah terlihat bu, sebentar ya" dokter kembali memeriksa.


ray dan naya saling bertatapan dengan senyuman manis menghiasi bibir keduanya. mereka tidak sabar ingin segera mengetahui jenis kelamin calon bayi mereka.


"nah bisa kita lihat bersama kalo calon bayi bapak dan ibu berjenis kelamin perempuan pak, bu"


dokter menjelaskan sambil tersenyum, senyuman di bibir ray semakin mengembang mendengarnya saat dokter mengatakan jika calon bayi keduanya itu adalah bayi perempuan.


"Alhamdullilah"


ray dengan lembut mengecup kening naya membuat naya merasa canggung apalagi saat itu mereka sedang berada di hadapan dokter.


"selamat ya pak bu, semoga semuanya berjalan lancar sampai hari lahirannya tiba"


dokter memberikan ucapan selamat kepada ray dan naya.

__ADS_1


"terima kasih dokter" ray dan naya bergantian menjabat uluran tangan dari dokter.


"baik saya permisi dulu"


__ADS_2