Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Perasaan aneh


__ADS_3

tidak lama pria tampan yang sedang mereka bicarakan itu pun muncul dari arah belakang.


"selamat sore para bidadari bidadari ku"


dika menyapa para wanita yang disayanginya itu sambil memeluk mama ratih dari belakang.


"selamat sore juga sayang" mama ratih tersenyum.


"nah, ini dia orangnya panjang umur baru aja di omongin" ucap ranty saat melihat dika datang.


"loh ada apa nih, kok pada ngomongin aku sih? pantesan aja ya dari tadi tuh kuping aku panas ternyata ada yang lagi gibahin disini" ujar dika.


"siapa juga yang lagi gibahin kamu dika, kaya enggak ada topik menarik lain aja deh" balas ranty.


"masa sih? terus tadi tuh apa hayo bilangin aku panjang umur karena baru di omongin" dika tersenyum.


"oh iya, tadi vani yang gibahin kamu nih"


ranty sengaja melirik vani karena ingin melihat reaksi dari adik iparnya itu.


"em,,,"


vani yang namanya disebut malah menunduk malu saat dika menatap ke arahnya. rasanya ia masih sangat malu mengingat hal yang sudah terjadi sebelumnya hingga tak berani menatap mata dika lagi.


melihat vani menunduk karena godaan dari kakak iparnya itu, dika pun langsung berlutut di depan kursi rodanya dan tanpa ragu memegang dagu vani membuat pandangan mereka bertemu.


"oh, jadi kamu yang dari tadi ngomongin aku?"


dika tersenyum menatap vani yang malu hingga membuat wajahnya memerah.


"hem"


dengan cepat vani menggelengkan kepalanya membuat dika semakin gemas dengan tingkah sekretarisnya itu.


mama ratih dan ranty yang melihat cara dika bersikap manis kepada vani seperti itu di hadapan mereka tersenyum saling pandang.


"haha, kamu jangan buat vani takut deh dika"


ranty tertawa melihat ekspresi lucu vani yang malu malu.


"iya nih, kasian tau vani jadi malu gitu" ucap mama ratih.


akhirnya dika beralih duduk di kursi sebelah ranty dan mamanya karena vani merasa tidak nyaman.


"oh ya vani, gimana kalo nanti kamu telpon yuli aja. minta dia untuk pulang kesini" ujar dika.


"em, buat apa ya pak?" tanya vani bingung.


"ada yang mau saya bicarakan sama dia" dika menatap ponselnya.


"tapi nanti sore saya akan pulang kok pak"


vani memberanikan diri menatap dika.


"iya tapi kalo kamu pulang siapa yang akan merawat kamu disana vani? setiap hari kan yuli selalu pergi pagi dan pulang larut malam" dika merasa khawatir.


"loh, emangnya keluarga vani ada dimana?" tanya ranty.


"keluarga saya ada di kampung mbak"


"oh, jadi kamu tinggal di kota bareng siapa?"


"saya disini tinggal di rumah kontrakan bareng adek sepupu saya mbak"


"em, terus gimana dong? bener juga yang di bilang sama dika kan, kalo nanti adek kamu pergi kerja kamu bakal sendirian dong di rumah kalian" ranty juga ikut khawatir.


"mungkin saya akan pulang ke kampung halaman aja mbak sampe nanti kaki saya sembuh"


vani merasa sedih kemungkinan ia harus resign dari kantor karena belum tau kapan kakinya akan sembuh.


mendengar kata pulang kampung dari vani dika tertegun, seakan ia tidak menerima keputusan gadis itu yang hendak pergi jauh darinya dan membuat mereka tidak akan bisa bertemu lagi dalam jangka waktu lama.


"iya jangan dong vani, kalo kamu pulang kampung nanti gimana saya bisa nemenin kamu kontrol ke dokternya?" dika mencari alasan.


'kalau kamu pulang kampung nanti gimana sama aku disini'


mungkin begitulah kata tepat yang seharusnya dika ucapkan namun ia tidak mengatakannya secara langsung.


"disana juga ada rumah sakit kok pak walaupun agak jauh tapi kalo buat check up masih bisa" jawab vani polos.


"iya bener yang di bilang vani dika, keluarga vani juga berhak tau tentang kondisinya" mama ratih menimpali.


"iya tapi kan ma" dika berusaha untuk menyangkal.


"kalo vani di rawat sama keluarganya pasti vani bakal lebih cepat sembuh dari pada di rawat sama orang lain"


mama ratih tersenyum seakan tidak mengerti tentang perasaan putra bungsunya itu.

__ADS_1


'ck! mama enggak peka banget sih' batin dika menatap ibunya.


"tapi ma kesembuhan vani kan tanggung jawab dika" dika masih mencoba mencari alasan.


"iya, kamu emang harus tetap tanggung jawab dika. kamu biayain dong semua pengobatan vani sampe sembuh"


mama ratih tak habis pikir dengan ucapan putranya itu.


'haissh, emang deh mama benar benar enggak peka banget' batin dika malas.


"hem, terserah mama deh"


akhirnya dika pun berhenti mencari alasan karena merasa akan percuma juga.


dika langsung berdiri dari duduknya lalu pergi dari sana meninggalkan ketiga wanita yang sedang bingung melihat sikapnya itu.


vani hanya terdiam menatap kepergian dika sampai tubuhnya menghilang di balik dinding.


'maafin saya pak dika, tapi kayanya kita memang harus saling menjauh' batin vani.


"dika kenapa ya ma?"


tanya ranty kepada mama mertuanya karena melihat sikap adik iparnya yang aneh itu.


"mama juga enggak tau tuh"


mama ratih hanya mengendikkan bahu menanggapinya.


namun tiba tiba saja ranty menemukan sebuah jawaban atas pertanyaan di dalam hatinya.


'atau jangan jangan dika...?' batin ranty memikirkan sesuatu sambil menatap vani.


brakk!!!


dika menutup pintu kamarnya dengan keras, ia masuk dengan perasaan tidak menentu lalu duduk di atas ranjang dengan gelisah entah mengapa hatinya merasa kesal.


"ck!! gue kenapa sih?" tanyanya pada diri sendiri.


"kenapa gue kaya enggak suka kalo vani sampe pergi?"


"hhh!!!" dika menghembuskan nafas berat.


lalu mengambil ponselnya hendak menelpon rangga yang masih belum kembali dari luar kota.


mungkin rangga masih sibuk dengan pekerjaan disana namun dika tidak punya pilihan selain harus mengganggu waktu rangga sekarang.


telpon sudah tersambung, rangga pun langsung menjawabnya.


Rangga: iya halo, ada apa dik?


Dika: lo kapan pulang bang?


Rangga: mungkin dua hari lagi sih, emangnya kenapa?


Dika: gue mau cerita bang. lo sibuk gak?


Rangga: gue lagi kosong sih. ya udah cerita aja.


setelah mendapat persetujuan curhatnya dari rangga, dika langsung menceritakan tentang semua kejadian yang di alami oleh vani hingga keputusannya pulang ke kampung halaman dan kemungkinan juga akan resign dari kantor.


setelah mendengar cerita dari sang adik rangga pun mulai menanggapinya.


Rangga: lah, terus letak masalahnya ada dimana sih dika? ya bener kan yang di bilang sama mama tadi. lo tinggal tanggung semua biaya pengobatan sampe vani sembuh. terus masalah resign itu gampang lah entar kalo vani masih mau kerja di perusahaan kita setelah dia sembuh kita bisa tetep terima dia lagi.


rangga menjawab dengan mudahnya.


Dika: ck! tapi masalahnya enggak semudah itu bang.


dika menjawab dengan suara lemas.


Rangga: ya terus masalahnya dimana?


Dika: masalahnya disini.


dika dengan tatapan kosong menatap dinding kamarnya.


Rangga: hem, kayanya gue ngerti nih masalah yang lo maksud. ya itu sih namanya lo sendiri yang udah buat masalahnya jadi rumit dika.


rangga yang mengerti maksud sang adik.


Dika : terus gue harus gimana dong bang?


Rangga: ck, masa gitu aja elo enggak tau sih! ya lo ungkapin lah perasaan lo ke dia. tinggal bilang kalo lo enggak bisa hidup tanpa dia haha


rangga tertawa menggoda adik semata wayangnya itu.


Dika: maksud lo?

__ADS_1


Rangga: ya lo bilang lah ke dia kalo lo itu cinta sama dia jadi elo enggak mau dia pergi karena lo enggak sanggup hidup jauh dari dia haish lemot banget sih lo.


Dika: tapi,,,


Rangga: tapi apalagi sih dika, lo masih mikirin karin? emangnya lo cinta sama dia?


Dika: gue enggak mau nyakitin perasaan orang lain bang.


Rangga: tapi kalo lo tetap maksain diri buat hidup sama karin itu namanya elo nyakitin diri lo sendiri kan? karena menurut gue lo itu enggak pernah bahagia sama karin.


Dika: gue bingung bang terus gimana hubungan gue sama karin nantinya?


Rangga: ya ampun dika, ngapain sih lo masih mikirin hubungan sama karin sedangkan karin sendiri aja enggak pernah mikirin hubungan kalian. dia happy bareng orang lain di negara jauh dan enggak peduli sama pernikahan kalian.


dika hanya diam tidak tau harus mengatakan apa karena memang benar apa yang rangga katakan.


karin yang selalu ia tunggu kepulangannya itu tak kunjung memberi kabar.


Rangga: gue mau nanya deh, emang lo pernah ngungkapin perasaan sama karin?


dika tetap diam dan tidak menjawab apapun karena sebenarnya hubungan mereka tidak seperti itu.


Rangga: enggak kan? jadi menurut gue sih, lo enggak perlu ngerasa bersalah ke dia karena dia bukan pacar lo. oke.


Dika: hem!!


Rangga: tapi ya gimana pun juga semua terserah lo dika semua keputusan ada di tangan lo sendiri. gue cuma bisa kasih saran yang baik buat adek gue jadi jangan sampe lo nyesel di akhir" bye!


tutt!!!


rangga pun menutup telponnya secara sepihak. ya memang sudah menjadi kebiasaan rangga.


"hah! kenapa semuanya jadi rumit kaya gini sih" dika merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


hari sudah berubah menjadi gelap namun dika masih bimbang dengan perasaannya.


setelah makan malam bersama keluarga wijaya vani kembali masuk ke dalam kamar di bantu oleh ranty.


"mbak, pak dika dimana ya?" tanya vani.


"hem kayanya ada di dalam kamarnya deh, emangnya ada apa vani?"


"saya harus pulang mbak, nanti adik saya pasti khawatir"


"oh kamu mau pulang? ya udah sebentar ya, mbak panggil dika dulu biar dia anterin kamu" ranty tersenyum.


"makasih ya mbak" vani pun tersenyum.


"iya"


ranty langsung berjalan ke arah pintu kamar dika disana.


di dalam kamarnya dika masih bingung dengan perasaannya sendiri. ia bahkan tidak percaya jika dirinya sudah jatuh cinta kepada gadis itu dalam waktu yang singkat.


pasalnya karin yang sudah bertahun tahun hadir di dalam hidupnya saja tidak mampu untuk masuk ke dalam hatinya, bagaimana mungkin gadis aneh yang baru hitungan bulan di kenalnya itu bisa menduduki posisi terbaik di hatinya.


"akhh!! enggak mungkin"


dika merasa kesal pada dirinya sendiri bahkan semua orang juga tidak mengerti tentang perasaannya.


tok! tok! tok! ranty mengetuk pintu kamar dika.


dari dalam kamar dika yang mendengar suara ketukan pintu langsung bangkit dari tidurnya dan berjalan hendak membukanya.


ceklek...!!!


pintu terbuka dan dika melihat kakak iparnya sudah berada di hadapannya.


"eh mbak ranty, ada apa ya mbak?"


"vani mau pulang tuh, kamu anterin ya"


mendengar kata pulang, dika terdiam sejenak dengan raut wajah berpikir.


melihat dika yang hanya diam ranty kembali bertanya.


"ada apa dika, kok malah bengong?"


ranty melambaikan tangan di hadapan wajah dika.


"eh, enggak papa kok mbak. iya nanti aku anterin" dika tersenyum canggung.


"ya udah kalo gitu, mbak turun dulu ya" ranty pun pergi.


"em"


dika hanya mengangguk melihat kepergian ranty.

__ADS_1


__ADS_2