
beberapa hari berlalu kebetulan hari ini vani dan arin tidak pergi ke butik karena arin sedang tidak enak badan.
di siang hari cuaca terasa sangat gerah bagi vani ia sedang berjalan secara perlahan menuruni anak tangga dengan hati hati hendak menuju dapur.
namun saat vani masih berada di tangga bagian atas tiba tiba saja kepalanya terasa pusing hingga ia berpegangan kuat pada tiang pembatas tangga itu.
melihat vani yang sedang berjalan dengan sempoyongan arin pun segera mendekatinya karena merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada vani.
"vani, ya ampun" arin berjalan cepat menuju tangga.
saat hendak menolong vani justru arin sendiri terpleset karena jalan terburu buru hingga ia terjatuh dari tangga.
"aakhh!!!" teriak arin terpleset.
bruk!!
"aw! shh!"
vani yang tubuhnya ikut terdorong ke sisi lain pun meringis kesakitan.
karena saat arin terjatuh itu tidak sengaja ia mendorong tubuh vani kearah samping hingga bagian perut vani membentur pembatas tangga.
"aakkhh!!!"
bruk! bruk!!
"sshh! mbak arinnn! "
vani berteriak menatap tubuh arin yang sudah terjatuh dengan berguling guling sampai ke lantai dasar.
melihat arin yang jatuh dari tangga tepat di hadapannya membuat tubuh vani bergetar karena merasa syok.
vani ingin menolong namun tidak bisa karena arin sudah berguling ke bawah sampai di lantai dasar dengan luka di bagian kepalanya yang mengeluarkan banyak darah.
sedangkan vani sendiri tidak sanggup melihat banyak darah karena ia bisa pingsan jika menatapnya.
dengan hati hati vani kembali menuruni anak tangga untuk mendekati tubuh arin yang sudah tergeletak di lantai.
saat melihat darah itu dari jarak yang dekat vani langsung kembali menjauh karena ia merasa tidak tahan melihat darah segar itu mengalir di hadapannya.
"mbak arin mbak!"
"tolong, tolong!!!"
vani berteriak memanggil pelayan untuk membantunya.
mendengar teriakan majikan mereka para pelayan pun datang berkumpul.
"ya ampun nyonya apa yang sudah terjadi?" bik nani menghampiri mereka.
"bik nani tolong cepat panggil ambulan"
vani dengan gemetar karena merasa takut dan syok melihat keadaan arin
padahal sebenarnya vani juga merasakan sakit di bagian perutnya karena terdorong oleh tubuh arin saat akan terjatuh tadi hingga membuat perut vani membentur tiang pembatas tangga itu.
"baik nyonya" bik nani segera menelpon ambulans.
wiu! wiu! wiu!
setelah ambulan datang para petugas pun langsung mengangkat tubuh arin masuk kedalam ambulan.
"mbak arin harus kuat ya"
vani ikut menemani arin di dalam ambulan itu lalu mobil ambulan pun melaju menuju rumah sakit terdekat.
"mas dika, aku harus telpon dia" vani dalam ketakutannya.
tut!! tut!!
saat telpon sudah tersambung dika merasa sangat terkejut karena mendengar suara sirine ambulan dari dalam ponselnya saat vani menelpon dirinya.
Dika: halo sayang, kamu dimana kok ada suara ambulan?
Vani: halo mas dika, mas aku takut.
Dika: sayang kamu takut kenapa. kamu baik baik aja kan?
dika sangat khawatir karena vani berbicara dengan suara gemetar.
Vani: mbak arin mas, mbak arin jatuh dari tangga sekarang kita lagi menuju rumah sakit.
Dika: apa! kok bisa sayang. ya udah sayang kamu jangan takut ya aku kesana sekarang sayang sebentar ya.
dika langsung mematikan ponselnya lalu berjalan keluar dari dalam ruangannya dan bergegas menuju rumah sakit.
__ADS_1
"ray tolong lo handle kerjaan gue dulu ya"
dika terus berjalan dengan terburu buru meninggalkan ray yang kebingungan di meja kerjanya.
"bos dika kenapa ya kok kayanya buru buru banget"
ray bertanya tanya namun akhirnya ia menepis pikiran anehnya dan berpikir mungkin dika sedang ada masalah rumah tangga biasa saja dengan istrinya.
ray pun kembali melanjutkan pekerjaan saja tanpa memikirkan hal yang aneh aneh lagi tentang bosnya itu.
dika melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena merasa sangat khawatir pada istrinya yang tadi sepertinya sangat ketakutan. apalagi mengingat kalau vani juga tidak sanggup jika melihat banyak darah.
sesampainya ambulan itu di rumah sakit arin langsung di tangani oleh dokter di dalam ruang icu sedangkan vani menunggunya di luar dan duduk di kursi tunggu.
vani duduk menunggu dengan sangat khawatir namun perutnya kembali terasa sakit membuat vani harus berdiri dari duduknya dan kembali duduk lagi dengan gelisah.
"sshh!! aduh perut aku kenapa sakit lagi ya. sayang kamu baik baik aja kan di dalam?"
vani khawatir pada bayinya sambil mengusap perutnya.
tak lama dika pun datang dan langsung menghampiri vani yang sedang berdiri di depan ruangan itu.
"sayang gimana keadaan kamu? kamu baik baik aja kan?"
dika khawatir karena melihat vani meringis kesakitan dengan wajah pucatnya.
"mas, mbak arin" vani memeluk suaminya.
"kamu tenang ya jangan takut lagi. kamu baik baik aja kan"
dika pun langsung memeluk istrinya agar vani tidak merasa takut lagi.
"enggak tau nih mas, perut aku sakit banget soalnya tadi sempat terbentur waktu mbak arin jatuh"
ucapan vani membuat mata dika melotot.
"apa sayang!! terbentur, dimana?" tanya dika khawatir.
"di tangga mas aduh, sakit banget" vani kembali merasa kesakitan.
"kita periksa sekalian ya sayang?"
vani pun mengangguk setuju namun saat mereka hendak berjalan masuk ke dalam ruang pemeriksaan dika melihat darah mengalir di kaki istrinya.
"sayang, kamu pendarahan"
"sayang kamu tahan ya"
dika menggendong vani dan langsung merebahkannya di atas bankar agar istrinya segera di periksa oleh dokter.
vani pun di bawa masuk ke salah satu ruang pemeriksaan kandungan untuk diperiksa.
dika menunggu dengan sangat khawatir, karena kedua wanita itu sangat berharga baginya. yang satu adalah wanita yang sudah menolongnya dan yang satunya lagi adalah wanita yang sangat dicintainya.
cukup lama dika menunggu hingga akhirnya dokter keluar dari dalam ruangan vani dan mengatakan jika keadaan vani dengan bayinya sangat lemah membuat dika merasa sangat khawatir kepada anak dan istrinya itu.
"pasien butuh istirahat yang banyak agar kondisinya kembali stabil"
dika masih menunggu dokter yang memeriksa keadaan arin untuk keluar dari dalam ruangannya. ia bahkan sampai lupa untuk memberi tahu rangga karena tadi ia merasa sangat panik dan langsung pulang sendirian.
dika pun segera menelpon rangga untuk memberi kabar agar dirinya juga tidak sendirian harus menjaga dua orang sekaligus pikirnya.
setelah telpon tersambung.
Dika: bang tolong lo ke rumah sakit permata sekarang ya.
Rangga: apa!! siapa yang sakit dika?
Dika: arin bang nanti gue jelasin sekarang lo cepat datang
Rangga: oke deh.
setelah mendapat kabar dari adiknya rangga pun langsung bergegas menuju rumah sakit.
rangga datang bersama dengan ray, sesampainya di rumah sakit rangga dan sekretarisnya itu pun langsung menghampiri dika yang sedang menunggu di luar icu.
"gimana keadaannya dik?"
rangga memegang pundak adiknya.
"lo berdua tungguin arin ya. gue mau liat keadaan vani dulu"
dika meminta rangga dan ray untuk menunggu arin di depan pintu ruangannya karena ia ingin masuk kedalam ruangan vani untuk menemani istrinya yang kemungkinan belum sadar juga.
"apa! vani juga sakit?" rangga masih bingung.
__ADS_1
"iya bang arin jatuh dari tangga terus perut vani terbentur"
"hah!! kok bisa?"
"gue juga enggak tau bang. tolong ya"
dika pun segera melangkah pergi menuju ruangan istrinya.
"oke deh" rangga pun mengangguk.
setelah dika masuk ke dalam ruangan vani tak berselang lama dokter yang memeriksa arin pun keluar dari dalam ruangan
"bagaimana dengan keadaan arin dok?" tanya rangga.
"kondisi pasien cukup serius terutama di bagian kaki dan kepalanya. ada keretakan di tulang kaki hingga membuat pasien tidak bisa berjalan sampai kakinya benar benar sembuh" dokter menjelaskan.
"baiklah dok, apa ada masalah lain?" rangga memastikan.
"sejauh ini tidak ada pak, kita akan melihat kondisi pasien setelah ia sadar nanti"
"baik dokter terima kasih"
setelah menjelaskan kepada rangga dokter pun pergi.
"gimana kondisi vani ya. lebih baik kita liat dia dulu lagian arin juga belum sadar"
rangga mengajak ray untuk menyusul dika masuk kedalam ruangan vani sedangkan ray tetap menunggu di luar untuk menjaga arin dari luar ruangan.
sesampainya di dalam ruangan vani, rangga melihat vani yang sepertinya baru saja sadar. karena melihat vani yang baru saja membuka matanya secara perlahan.
rangga mendekati kursi tempat duduk dika yang tepat berada di samping bankar vani.
"mas, dika" vani perlahan memanggil nama suaminya.
"ya sayang aku di sini, kamu haus ya?"
"em" vani mengangguk pelan
"minum dulu sayang"
vani pun minum dengan bantuan dika yang memegangi gelasnya.
dika dan rangga setia menunggu dan menemani vani di dalam sana hingga keadaan vani membaik.
"gimana kondisi kamu sekarang vani?"
rangga bertanya vani karena sudah melihat vani lebih tenang dari sebelumnya.
"Alhamdulilah mas, kami baik baik aja"
"syukurlah kalo begitu"
rangga menatap adiknya yang terlihat hanya diam saja.
"em gimana keadaan arin bang apa dokter udah keluar dari dalam ruangannya?" dika menatap rangga.
"iya udah, dokter bilang untuk sementara arin enggak akan bisa berjalan karena tulang kakinya retak"
"ya ampun kasian banget mbak arin pasti dia bakal sedih banget"
vani dapat merasakan kesedihan arin karena dirinya juga pernah merasakan hal yang sama.
hingga menjelang sore hari di dalam ruangannya vani masih merasa khawatir dan merasa bersalah kepada arin.
"mas, aku mau liat keadaan mbak arin ya" minta vani kepada dika.
"iya sayang nanti ya, lagian arin belum sadar nanti kalo dia udah sadar kamu boleh liat keadaannya"
"vani, sebenarnya apa yang terjadi sih kenapa kalian bisa ada di tangga dalam waktu yang bersamaan?" rangga merasa penasaran.
"em, itu tadi waktu aku mau turun dari tangga tiba tiba kepala aku pusing mas. terus aku juga enggak tau kalo ternyata mbak arin mau nolongin aku dari arah belakang tapi mbak arin jalan buru buru jadi dia malah kepleset"
vani pun mengingat ingat kejadian yang sudah ia lalui.
"aku kan udah bilang sayang, kamu jangan naik turun dari tangga kalo tadi kamu yang jatuh gimana?"
dika sangat khawatir namun ia juga sedikit kesal karena vani selalu saja mendekati tangga padahal ia sudah melarangnya.
"maafin aku ya mas" vani memegang tangan dika.
seperti biasanya dika memang tidak akan bisa marah kepada istrinya itu. dika menggenggam tangan vani lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut.
"aku khawatir banget sama kamu sayang" dika mengusap lembut pipi vani.
"makasih ya mas kamu udah selalu ada buat aku"
__ADS_1
vani menunduk juga mengecup tangan suaminya.