
dika hanya terdiam menatap punggung istrinya yang tidur membelakangi dirinya itu. ia tertunduk dengan posisi yang masih sama dan benar benar akan menunggu hingga vani memaafkan dirinya.
'aku bakal tetap disini sampe kamu balik badan manggil aku sayang' batin dika yang yakin jika istrinya itu tidak akan tega membiarkan dirinya seperti itu hingga besok.
"mas sini" panggil vani kembali berbalik badan.
dika kembali menegakkan pandangannya saat mendengar suara istrinya, benar saja vani tidak akan tega kepada dirinya pikir dika.
"sini sayang kamu ngapain sih di situ" vani menarik lengan suaminya agar ikut naik ke atas ranjang.
"kamu serius, udah maafin aku sayang?" dika kembali tersenyum menatap istrinya.
"belum sih, tapi aku enggak mau aja kalo kamu sampe sakit entar aku juga yang repot" vani meninggikan egonya.
"hem, masa sih? kamu ngajak aku naik karena pengen di peluk kaya gini kan sayang" dika memeluk tubuh istrinya.
"enggak tuh" elak vani.
"masa sih! ngaku aja deh anget kan aku peluk" dika tersenyum menggoda.
"shh! aduh dada aku sakit mas kayanya bengkak deh" keluh vani memegangi dadanya.
"kenapa sayang asi kamu penuh ya?"
"em" vani mengangguk.
"ya udah biar aku jemput raja ya, biar dia bisa nen"
dika keluar dari dalam kamarnya lalu kembali masuk dengan menggendong raja di pelukannya.
"sayang, raja udah bobok nih tadi udah di kasih susu formula soalnya"
dika menoel pipi raja agar bangun namun putranya itu tetap tidur
"ya udah deh mas, kasian kalo di bangunin" sshh!!
"aku taruh di box aja ya"
"em, tolong ambilin pompa asi aku ya mas"
"iya sayang"
dika meletakkan bayinya dalam box lalu membawakan alat pompa asi kepada istrinya.
"nih sayang"
"makasih ya mas"
"aku yang pompain ya?"
"emangnya kamu mau"
"mau banget sayang" dika memelas.
"enggak ah! mending aku pompa terus masukin di kulkas terus nanti bisa di minum raja deh" ujar vani.
"ck! sayang palingan entar udah full lagi isinya"
"tapikan mendingan raja yang minum asi dari pada kamu mas, kan kamu udah gede gak butuh asi lagi"
"butuh sayang, biar lebih gede lagi hehe"
"ck! apanya yang gede?" pertanyaan vani membuat dika membelalakkan matanya.
"hem apa aja deh yang kamu mau, yang penting kamu suka sayang" bisik dika.
"ishh! dasar mesum" vani menepuk dada suaminya.
"aku gak mikir kesana kok, kamu aja yang mikirnya ke dia"
"dia siapa?" vani bingung.
"dia dong sayang" dika tersenyum menggoda sambil menatap bagian bawahnya.
"dasar suami mesum"
"boleh ya. please!" dika memeluk istrinya.
"em, tapi bentar aja ya jangan di abisin" peringat vani.
"siap sayang, asik" dika tersenyum senang.
"ck! tapi kan aku masih marah sama kamu mas" vani kembali berubah pikiran.
"nanti aja marahnya sayang di pending ya"
"aduh! kepala aku pusing mas" keluh vani.
__ADS_1
"hah! pusing? kamu enggak papa kan sayang atau raja beneran udah mau punya adek lagi ya" dika tersenyum.
"ish! apaan sih mas umur raja masi empat bulan masa mau punya adek lagi sih" kesal vani.
"iya siapa tau namanya juga rejeki sayang enggak boleh di tolak kan" dika tersenyum jahil.
"ck! tau ah" vani pusing dengan permasalahan yang sedang terjadi.
"sabar ya sayang, kita harus tetap temenin yuli di masa sulitnya ini" dika memeluk istrinya.
"iya sih mas tapi kamu tau kan mereka gimana sikapnya. aku kasian sama baby arka"
"sayang baby arka pasti baik baik aja, percaya deh sama aku kalo pun sekarang yuli lagi benci sama ray pasti suatu hari nanti perlahan semua akan membaik"
"iya sih mudah mudahan mas"
"kita doain aja yang terbaik buat mereka ya sayang"dika memeluk istrinya.
"em" vani mengangguk di dalam pelukan suaminya.
'sorry ya ray, gue enggak bisa biarin masalah ini berlarut larut lebih lama lagi' batin dika.
dika memang sengaja tidak memberi tahu ray tentang kedatangan yuli agar semua kebohongan ray terbongkar dan masalah ini akan membaik seiring berjalannya waktu.
"ya udah mas, aku mau liat anak anak dulu ya" vani hendak beranjak.
"iya sayang tapi dada kamu?"
"em, masih sakit sih"
"sini aku pompain dulu sebentar sayang" semirk dika.
dika menarik tubuh istrinya lalu membantu vani untuk mengurangi rasa nyeri di bagian dadanya akibat asi yang full namun bayinya sudah terlelap pulas.
keesokan harinya yuli memutuskan akan membawa baby arka untuk kembali pulang ke rumahnya.
"kak aku pamit pulang dulu ya"
"kamu yakin mau pulang ke rumah mas ray hari ini yul?"
vani kembali meyakinkan adiknya karena merasa takut jika mereka akan bertengkar lagi.
"iya kak, aku mau selesain masalah aku sama mas ray dulu lebih cepat lebih baik kan" yuli merasa yakin.
"ya udah kalo itu udah jadi keputusan kamu" vani pun menyetujui keinginan adiknya.
"makasih ya kak udah jagain baby arka dari kemaren"
"ya udah aku pamit ya kak" yuli tersenyum lalu berjalan menuju mobil.
vani menemani yuli hingga masuk ke dalam mobilnya sedangkan dika sudah pergi ke kantor dan raffa juga sudah berangkat ke sekolah bersama hana.
"kamu hati hati ya yul, kalo ada apa apa langsung telpon kakak ya"
"iya iya kak. bye!!!"
mobil yuli pun akhirnya melaju menuju pulang ke rumahnya.
"bye yul! semoga semuanya baik baik aja"
vani melambaikan tangannya sambil menatap kepergian mobil itu.
di rumahnya ray yang merasa bosan pun hendak berangkat ke kantor untuk mengisi waktu luangnya hari ini namun ia mengurungkan niatnya pergi karena melihat mobil istrinya yang sudah pulang.
ray berjalan mendekati mobil yang akan terbuka pintunya itu lalu melihat istri dan anaknya turun dari dalam mobil. ia tak menyangka mereka benar benar pulang.
"sayang, kamu udah pulang? makasih ya aku senang banget liat kalian pulang" ray tersenyum menatap istrinya.
yuli hanya diam sambil terus berjalan menuju kamarnya mengabaikan ray yang berusaha untuk berbicara kepada dirinya itu.
"arka sayang mau di gendong papa kan? papa kangen banget sayang" ray menatap putranya.
yuli langsung mengalihkan gendongan putranya itu kepada ray tanpa mengucapkan satu kata apapun lalu ia kembali berjalan menuju pintu kamarnya.
brakk!!!
yuli masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan cukup keras.
"sayang?"
ray hanya terdiam melihat sikap dingin istrinya yang selama ini selalu tersenyum di hadapannya itu.
semuanya berubah, yuli yang sangat mencintainya kini seakan sangat membenci dirinya.
"sayang papa kangen banget sama arka, maafin papa ya nak" ray mengecup kening putranya.
di kantor dika melihat meja kerja ray kosong lalu kembali teringat kepada sahabatnya yang sedang berada dalam masalah rumah tangga itu.
__ADS_1
"ck! semoga semua cepat membaik ray" gumam dika lalu berjalan menuju ruang meeting seorang diri.
bukan hanya meeting sendirian dika juga harus melakukan segala pekerjaannya seorang diri hingga makan siang pun sendiri karena rangga juga sudah kembali ke london sejak minggu lalu.
siang hari ray masih bermain dengan putranya. ia sama sekali tidak melihat istrinya keluar dari dalam kamar.
tok! tok! tok!
"sayang, buka pintunya baby arka laper nih kayanya dia juga udah ngantuk pengen bobok"
ray mengetuk pintu kamarnya namun tidak ada jawaban dari dalam.
"sayang please bukain pintunya dong aku tau kamu lagi marah tapi kita bisa omongin lagi baik baik kan"
ray mengetuk pintu lebih keras karena merasa khawatir jika istrinya nekad melakukan sesuatu di dalam sana.
"sayang" tok! tok! tok!
"tolong buka pintunya sayang, kamu baik baik aja kan di dalam sana?"
"sayang aku khawatir banget nih sama kamu"
ceklek!!! pintu kamar terbuka.
terlihat yuli keluar dari dalam kamarnya lalu menggendong putranya dan mengajak arka untuk makan di dapur namun ia masih mengabaikan keberadaan ray di sana seperti tak kasat mata.
tanpa mau bicara sepatah katapun dengan suaminya yuli menyuapi putranya dengan telaten sambil terus tersenyum kepada baby arka.
ray merasa benar benar bingung bagaimana caranya untuk meminta maaf kepada yuli karena istrinya itu hanya diam saja tidak mau berbicara kepadanya.
menjelang sore hari naya yang masih merasa bersalah itu pun memutuskan untuk pergi menemui ray dan yuli di rumah mereka. ia hendak meluruskan permasalahan yang terjadi dan meminta maaf atas kesalahannya terutama kepada yuli.
"kak kakak yakin mau pergi sendirian? aku temenin ya" ucap dila kepada kakaknya.
"enggak usah dila kamu kerjain aja kerjaan kamu. kakak bisa seleseiin masalah kakak sendiri kok"
"kakak yakin?"
"em, ya udah kakak pergi dulu ya"
"hati hati ya kak"
naya pergi menaiki taksi yang sudah ia pesan sebelumnya.
di rumahnya ray sedang mengejar istrinya yang hendak pergi meninggalkan dirinya itu.
yuli hendak pulang ke kampung untuk menenangkan pikirannya yang sedang sangat kacau itu.
"sayang jangan pergi dong, jangan tinggalin aku please"
"kalo aku pergi kamu bisa bahagia sama keluarga kecil kamu yang baru mas"
"enggak sayang, tolong kamu percaya sama aku ya" ray menghentikan langkah istrinya.
"percaya sama kamu setelah semua kebohongan yang kamu buat mas? hhh!"
yuli menggelengkan kepalanya jengah lalu berjalan terus menuju pintu keluar.
"sayang tunggu!"
ray terus mengejar istrinya hingga di depan gerbang rumah.
"apalagi sih mas"
"kalo gitu aku antar kamu ya"
"enggak usah aku bisa pergi sendiri"
"tapi sayang aku khawatir sama kalian kalo pergi berdua aja sama arka"
"sebentar ya sayang mama mau nyari handphone mama dulu dimana yah"
yuli menurunkan putranya dari dalam gendongan hendak mencari ponsel di dalam tasnya karena ingin mengecek taksi yang sudah ia pesan.
"sayang please dong" ray masih membujuk.
"kamu ngapain sih sibuk banget ngurusin kami berdua sekarang. biasanya juga kamu sibuk ngurusin istri kamu yang lain" omel yuli sambil fokus pada tasnya.
"sayang aku minta maaf aku tau aku salah, tapi tolong kamu kasih aku kesempatan kedua ya please!!"
ray memegang kedua pundak istrinya sambil menatap mata yuli agar mau memaafkan dirinya.
yuli hanya diam mematung menatapnya dan benar benar bingung dengan keadaan merasa jika ray ini aneh sekali pikirnya.
"lepasin jangan egois mas" yuli menepis tangan ray.
"aku cinta sama kamu please kamu harus percaya sayang, aku enggak mau kehilangan kamu" ray meneteskan air matanya.
__ADS_1
"kalo aku kasih kamu kesempatan kedua, apa kamu bersedia ngelupain dia dan anak kalian?" yuli menatap mata ray.
ray terdiam mematung tak tau harus menjawab apa membuat yuli semakin yakin jika suaminya tidak akan bisa menjauh dari naya.