Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 120


__ADS_3

sesampainya di rumah vani langsung berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat karena ia sudah merasa lelah.


vani masuk ke dalam kamar dan langsung berbaring di atas ranjang.


dika yang terus mengikuti istrinya itu pun mendekat.


"sayang sekarang kamu istirahat ya pasti jagoan papa capek kan udah keliling seharian"


dika mengelus perut istrinya namun vani hanya diam menatap suaminya tidak berniat untuk menjawab seperti biasanya lalu ia memejamkan mata dan langsung tertidur.


dika hanya tersenyum melihat istrinya yang sudah tertidur dengan lelap itu.


tok!! tok!! tok!!


pintu kamar di ketuk dari luar dika pun beranjak hendak segera membukakan pintu.


ceklek!!


dika membuka pintu dan melihat ternyata yuli yang datang.


"eh yuli ada apa?"


"bang dika itu semua barang barang perlengkapan baby yang kita beli tadi udah datang dari tokonya terus mau di taruh dimana semuanya?" tanya yuli kepada dika.


"oh ya? em, taruh di kamar sebelah aja deh yul"


dika ikut berjalan keluar hendak melihat mobil pengantar perlengkapan bayi mereka yang sudah datang.


ternyata cukup banyak yang mereka beli sehingga mobil barang yang mengantarnya pun penuh. mulai dari box bayi stroller lemari pakaian tempat mandi bayi dan lain lain.


"wah!! banyak juga ya yang mereka beli"


yuli kaget melihat barang barang yang datang begitu banyak ia pikir tadi mereka hanya membeli sedikit namun mengapa sekarang banyak sekali barang yang datang.


"pasti kerjaannya bang dika deh soalnya tadi kak vani bilang dia cuma beli perlengkapan pakaian bayi aja"


hana menanggapinya.


"hem, ya itu udah pasti lah"


yuli kembali masuk dan duduk di ruang tamunya.


"orang kaya mah bebas kak mau beli apapun, padahal barang yang di beli juga udah ada di rumah bang dika kan" hana ikut duduk di samping kakaknya.


"iya beda dong hana. itukan hadiah dari mama papa sama hadiah dari keluarga yang lain, kalo yang ini emang barang barang pilihan bang dika sendiri buat anak mereka nanti"


"bener juga sih kak tapi untung aja kak vani enggak jadi beli semua barangnya warna pink kan enggak lucu kalo nanti baby yang lahir cowok terus pake baju sama sepatu warna pink semua. hehe" tawa hana


"haha. siapa bilang enggak jadi kamu tau enggak pilihan kak vani yang tadi tuh emang warna pink semua tau cuma kebanyakan ini barang pilihannya bang dika dia milih warna netral makanya deh enggak keliatan banyak yang warna pink" yuli tertawa.


"hah! masa sih kak haha ada ada aja ya kak vani"


hana ikut tertawa menggelengkan kepala mendengarnya karena vani benar benar memilih warna kesukaannya sendiri untuk calon bayinya.


"hem, iya kamu kaya enggak tau dia aja deh. kamu liat kan kamarnya yang ada di kampung gimana. selain tembok sama lantai enggak ada warna lain selain warna pink"


yuli juga heran mengapa kakaknya itu sangat menyukai warna pink padahal dirinya sendiri sangat tidak menyukai warna itu karena terlalu feminim menurutnya.


setelah selesai merapikan semua perlengkapan bayi di dalam kamar itu dika pun berjalan keluar menuju pintu utama rumahnya.


"eh yul, nanti kalo kakak kamu bangun tolong bilangin abang keluar dulu ya sebentar"


dika pamit karena ia akan pergi keluar rumah.


"oh oke deh bang" yuli dan hana mengangguk.


"oke makasih ya" dika berjalan pergi.


menjelang sore hari setelah vani bangun dari tidurnya ia pun duduk di bangku taman belakang rumah bersama dengan kedua adiknya.


"eh kak vani, kamu udah liat belum perlengkapan baby yang kita beli tadi udah datang loh" yuli memberitahu.


"oh ya? terus dimana semua barang barangnya kok aku enggak ada liat di dalam kamar tadi" tanya vani bingung.

__ADS_1


"ya iya lah enggak ada di dalam kamar kamu, soalnya bang dika naroh semua barang baby kalian itu di dalam kamar lain yang ada di sebelah kamar kalian" yuli memberitahu.


"huh, semua barang barangnya lucu deh kak jadi gemes" hana sangat gemas melihatnya.


"oh ya, kalo gitu nanti aku lihat deh" vani menatap taman bunga di hadapannya.


"kamu emang harus liat semuanya kak tau enggak semua perlengkapan bayi kalian tuh udah komplit banget soalnya bang dika udah beli semua yang di butuhin baby nanti. dia juga beli stroller yang tadi aku tunjukin ke kamu loh"


yuli tersenyum sambil merangkul pundak kakaknya.


"hem, bener tuh kak bang dika emang calon ayah idaman banget deh dia juga suami yang siap siaga karena selalu nyiapin yang terbaik buat anak sama istrinya"


hana penuh kagum dan berharap jika dirinya akan menemukan pasangan seperti itu juga.


yuli menatap raut wajah sendu kakaknya saat mendengar ucapan hana.


selain tampan memang benar dika juga adalah pria yang baik dan wajar saja bila banyak wanita yang ingin memiliki suami seperti itu namun vani merasa dirinya lah yang kurang beruntung karena akan segera kehilangan pria baik itu dari hidupnya dalam waktu yang tidak lama lagi.


"kak vani kamu baik baik aja kan?"


yuli menatap kakaknya dan melihat mata vani yang sudah kembali berkaca kaca menahan air matanya.


"aku baik baik aja kok. em, oh ya kalian tau enggak mas dika dimana kok dari tadi aku bangun belum liat dia ya?"


"em, tadi sih bang dika bilang dia mau keluar sebentar buat nemuin seseorang tapi sampe sekarang belum balik deh"


yuli memberi tahu kepada vani jika dika sempat pamit kepadanya.


"oh gitu, ya udah deh kalo gitu aku masuk dulu ya mau liat perlengkapan bayiku" vani mencoba tersenyum.


sebenarnya vani ingin menghindar dari kedua adiknya agar mereka tidak melihat dirinya yang sedang menahan air mata.


"em" yuli dan hana hanya mengangguk.


vani berjalan menuju kamar yang berada tepat di sebelah kamarnya lalu membuka pintu kamar itu.


ceklek!!!


setelah pintu kamar terbuka vani terpaku ketika melihat ruangan di dalam kamar itu sudah tertata dengan rapi dan di hias dengan indah.


semua itu membuat air mata vani yang sudah ia tahan sejak tadi meluncur begitu saja membasahi pipinya.


vani berjalan mendekati box bayi lalu menyentuh box yang sudah di hias itu dengan sendu.


kemudian vani pun duduk di tepi ranjang sambil mengelus lembut perutnya mengamati barang barang disana.


"sayang liat deh gimana bahagianya papa mau nyambut kelahiran kamu sebentar lagi. dia udah beli banyak mainan buat kamu terus juga udah hias kamar kamu"


vani berbicara sambil mengusap perutnya dengan tersenyum namun air matanya tidak berhenti menetes.


"tapi mama bingung mama enggak tau harus gimana sekarang karena sebentar lagi papa kamu bakal nikah dan punya keluarga baru. mama enggak sanggup ngeliatnya sayang maafin mama ya, mama harap kelak kamu bisa ngerti dan nerima keputusan yang mama ambil buat pisah sama papa kamu"


vani menangis sambil bercerita pada calon bayinya.


hiks! hiks! hiks!


cukup lama vani berada di dalam kamar calon bayinya itu hingga sore hari dika pun sudah kembali pulang ke rumah.


saat ini dika sedang mencari vani di dalam kamar mereka namun tidak menemukan istrinya di sana.


dika pun akhirnya bertanya pada kedua adik iparnya yang sedang duduk di ruang tamu itu.


"yuli, kakak kamu dimana ya. kok enggak ada di dalam kamar?" tanya dika kepada yuli.


"hem,,, masa sih bang dika tapi tadi dia ada kok di dalam kamar" yuli pun ikut merasa bingung.


"kak, kamu lupa ya bukannya tadi kak vani bilang kalo dia mau liat perlengkapan bayinya?" bisik hana kepada yuli.


"oh iya bang dika maaf ya aku lupa, mungkin sekarang kak vani masih ada di dalam kamar baby deh"


"oh oke, kalo gitu makasih ya"


dika pun bergegas menuju kamar calon bayinya hendak mencari vani di sana.

__ADS_1


ceklek!!


sesampainya di depan pintu dika langsung membukanya dan melihat vani sedang melamun duduk di atas ranjang dengan mata bengkak karena sejak tadi istrinya itu menangis.


"sayang kamu disini?"


dika berjalan mendekat lalu duduk di samping istrinya sambil memegang kedua pundak vani agar tersadar dari lamunannya.


"eh mas dika, kamu udah pulang?"


vani tersentak saat sadar dari lamunan lalu mengusap sisa air mata di pipinya.


"kamu kenapa kok nangis?"


dika bertanya dengan suara yang lembut menatap vani dan mengusap kedua sisi pipi istrinya itu.


"aku enggak papa kok mas"


vani mencoba untuk tersenyum.


"liat deh aku udah hias kamar ini buat anak kita nanti, kamu suka kan sayang?"


dika tersenyum menatap sekelilingnya.


"aku suka kok mas"


vani bersandar di dada suaminya yang langsung disambut oleh dika dengan memeluk istrinya itu.


melihat vani yang memeluknya lebih dulu dika tersenyum bahagia.


"sayang, menurut kamu gimana apa masih ada sesuatu yang kurang di sini?"


"semuanya udah sempurna kok mas kamu selalu tau apa yang terbaik buat anak kita"


vani tersenyum ia tidak mau membahas perpisahan lagi karena dika selalu menolaknya.


"pasti dong sayang aku bakal lakuin apapun yang terbaik buat kamu sama anak kita" dika mengelus perut istrinya.


"anak kita pasti seneng banget deh nanti waktu dia lahir terus liat kamarnya yang seindah ini" vani memuji.


"apa kamu juga seneng sayang?" tanya dika.


"em, aku..."


"kamu juga belum jawab pertanyaan aku tadi siang"


dika kembali bertanya tentang perasaan istrinya.


"mas enggak usah mulai deh aku lagi malas debat sama kamu"


vani berdiri dari duduknya hendak pergi namun dika menahan tangannya.


"tolong jawab sayang"


dika menatap ke atas karena istrinya sudah berdiri sedangkan ia masih duduk di tepi ranjang itu.


"aku udah bilang sama kamu kan aku enggak mau bahas soal ini aku capek mas"


"sayang aku cuma mau kamu jujur aja apa kamu bahagia hidup sama aku atau enggak"


dika memang bertanya dengan suara yang lembut namun terkesan sedikit memaksa


"kalo kamu tetap maksa aku buat jawab tentang perasaan aku ke kamu sekarang oke aku bakal jawab mas, jujur aku kecewa banget sama kamu mungkin sampai kapan pun aku enggak akan bisa nerima semua ini kecuali kamu mau lepasin aku dan biarin aku pergi dari hidup kamu"


dika menatap lekat wajah vani yang sedang menangis ia tidak menyangka jika istrinya akan merasakan sakit yang mendalam karena perbuatannya.


ya tentu saja, mana ada seorang istri yang bisa menerima sebuah pengkhianatan dari suaminya apalagi sampai harus di madu.


dika memang berkata dirinya hanya akan menikahi arin hingga anak itu lahir namun vani tidak bisa percaya begitu saja kalau dika tidak akan memiliki perasaan apapun pada istrinya yang lain terlebih lagi arin juga akan menjadi ibu dari anaknya.


memang bukanlah sebuah dosa jika harus berbagi suami dengan wanita lain namun vani takut dirinya tidak akan mampu karena rasa sakit yang ia rasakan itu bisa berubah menjadi rasa benci dan iri hati yang akan mendatangkan dosa itu sendiri.


"sayang maafin aku ya. tolong kamu jangan ngomong kaya gitu lagi aku enggak mau kamu pergi dari hidupku"

__ADS_1


dika berdiri dan langsung memeluk tubuh istrinya yang sedang menangis itu.


vani pun hanya diam di dalam pelukan suaminya karena saat ini dirinya merasa sangat menyedihkan.


__ADS_2