
dika bergegas mengambil ponsel dan dompet di atas ranjang lalu kunci mobil di dalam laci kemudian berjalan keluar dari dalam kamar.
ia melangkah menuju kamar vani hendak mengantarnya pulang.
ceklek!!!
dika membuka pintu kamar vani tanpa mengetuknya lebih dulu namun saat masuk ia tidak melihat gadis itu berada di dalam sana.
"vani?"
dika mencari keberadaan vani di sekeliling kamar hingga memeriksa kamar mandi juga namun gadis itu tetap tidak ada.
"vani, kamu dimana?"
ia berjalan kesana kesini mencari keberadaan sekretarisnya itu.
dika mulai khawatir namun akhirnya ia melihat vani sedang berada di balkon kamar.
terlihat gadis itu sedang memandang bintang sambil menikmati dinginnya hembusan angin malam yang masuk ke dalam kulit tubuhnya.
perlahan vani memejamkan mata, menghirup udara dingin yang menyejukkan.
"kamu disini?"
kedatangan dika yang secara tiba tiba dari arah belakang mengagetkan vani.
"udara malam, kurang baik untuk kesehatan"
vani membuka mata dan langsung menghapus sisa cairan yang mengalir di sudut matanya itu lalu menatap ke arah dika yang sudah berdiri di samping kursi rodanya.
"pak dika, buat kaget aja deh"
dika berjongkok di depan kursi roda vani sambil menatap wajah sekretarisnya itu.
"kamu mau pulang ya?"
tanya dika dengan lembut melihat vani yang menunduk.
"em" vani mengangguk mengiyakan namun tidak berani membalas tatapan mata itu.
"ya sudah kalo gitu, ayo saya antar kamu"
"terima kasih pak"
dika berdiri lalu mendorong kursi roda vani masuk kedalam kamar.
sesampainya di lantai dasar, ia juga menemani vani untuk pamit kepada mama ratih dan ranty sebelum pulang.
"bu wijaya, mbak ranty makasih ya sudah mau nerima saya dengan baik disini hari ini" vani berpamitan.
"iya sayang sama sama" mama ratih tersenyum.
"sama sama vani, kita seneng kok kamu disini jadi kamu enggak usah sungkan gitu ya. nanti kamu juga sering sering main kesini dong buat nemuin rara"
ranty tersenyum sambil menatap dika.
"iya mbak" vani mengangguk.
"yahh, tante cantik kok mau pergi sih?"
rara manyun membuat vani gemas melihatnya.
"iya sayang tante pulang dulu ya. makasih loh tadi rara udah traktir es krim buat tante"
"iya tapi tante jangan pergi ya, tinggal disini aja sama rara" rengek rara memegang lengan vani.
"sayang, tante cantik harus pulang. nanti tante vani pasti main lagi kok kesini" ranty membujuk putrinya.
"iya sayang, tante cantik kan lagi sakit nanti kalo udah sembuh pasti bisa main lagi sama rara disini"
mama ratih juga membujuk rara agar tidak merengek.
"tapi ma,,,,"
"kasian tante cantik sayang"
"hem, ya udah deh tapi tante janji ya main lagi kesini kalo udah sembuh"
rara mengajukan jari kelingking yang mungil.
"iya tante janji sayang"
vani membalas dengan jari kelingkingnya juga.
"emuach"
__ADS_1
rara mengecup pipi tante cantiknya itu lalu vani pun membalas mengecup pipi rara juga.
"emuach!"
padahal sebelumnya rara tidak pernah mau mengecup pipi karin yang sering membelikan es krim untuknya namun hari ini rara justru dengan senang hati mengecup pipi tante cantik yang baru saja dikenalnya itu.
"ehem"
dika berdehem melihat rara mengecup pipi vani sedangkan dirinya yang sejak tadi sudah berdiri disana masih di abaikan.
karena biasanya rara akan mengecup pipi om kesayangannya itu sebelum pergi keluar rumah.
"om mau di cium juga ya?"
rara tersenyum jahil menahan tawanya.
dika tersenyum lalu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan rara.
"mau dong sayang disini"
dika memiringkan wajahnya dan menunjuk pipi agar di kecup oleh rara.
"kalo gitu om dika cium tante cantik dulu dong pasti nanti di cium balik kaya rara deh" hehe rara tertawa geli.
mendengar ucapan rara itu, vani langsung mengalihkan pandangannya dari mereka lalu menatap ke arah berbeda dengan canggung.
"kamu tuh ya"
dika mencubit gemas hidung rara yang kecil.
"au, sakit tau om" rara manyun.
ranty dan mama ratih pun tertawa mendengar kejahilan rara yang sedang menggoda om dan tante cantiknya itu.
"haha, kamu ada ada aja deh sayang" ranty menggeleng
dika menatap vani yang masih merasa canggung itu dengan tersenyum saja.
"ya udah ayo kita pergi" ajak dika.
akhirnya mereka masuk kedalam mobil setelah selesai berpamitan.
"dah! tante cantik!!!" rara melambaikan tangan
"dah!!! sayang" balas vani sambil tersenyum.
*
di dalam perjalanan hening tercipta karena vani dan dika hanya diam saja larut dalam pikiran masing masing hingga akhirnya dika bertanya.
"kamu beneran mau pulang ke kampung ya?"
"iya pak, saya enggak ada pilihan lain"
"setelah sembuh nanti kamu akan kembali kerja di kantor lagi kan?" tanya dika penuh harap.
"kalau boleh, mau banget pak" jawab vani ragu.
"ya pasti boleh dong vani, kamu kecelakaan juga kan di jam kerja jadi itu udah tanggung jawab dari perusahaan untuk memberi cuti dan membiayai pengobatan kamu sampe sembuh"
"iya pak, terima kasih"
'saya berharap kamu akan segera kembali vani'
dika hanya menoleh karena sedang menyetir.
sesampainya di rumah kontrakan vani, ternyata yuli sudah lama menunggu kepulangan kakak kesayangannya di ruang tamu.
mereka tidak bertemu sejak kemarin pagi membuatnya rindu pada kakak yang selalu menyayanginya itu.
yuli kaget melihat vani yang turun dari dalam mobil dengan di gendong oleh dika.
"loh, kamu kenapa kak?"
tanya yuli khawatir dan langsung menghampiri vani setelah dika mendudukkannya di atas sofa ruang tamu.
dika kembali ke mobil untuk mengambil kursi roda vani yang masih berada di dalam bagasi.
"aku enggak papa kok yul"
vani tersenyum memegang tangan yuli agar tidak perlu mengkhawatirkannya lagi.
"enggak papa gimana sih, sampe naik kursi roda segala"
"iya, enggak papa kok"
__ADS_1
setelah membawa kursi roda masuk ke dalam rumah dika pun ikut duduk di sofa bersama kedua gadis itu.
"pak dika, ini kakak saya kenapa kakinya?"
yuli menatap dika karena tidak mendapat jawaban apapun dari vani.
"jadi gini yul ceritanya...."
akhirnya dika pun menceritakan kecelakaan itu kepada yuli.
"ya ampun kak, kok semalam kamu enggak cerita sih soal ini malah bohongin aku lagi sambil marah marah enggak jelas buat orang khawatir aja tau gak" yuli mengomel.
"ya udah jangan di bahas lagi deh"
vani malas untuk membahasnya karena saat ini moodnya sedang tidak baik.
"ck! tuh kan malah marah lagi" kesal yuli.
"oh iya yul, besok aku mau pulang ke kampung deh. soalnya kalo kamu pergi kerja aku bakalan sendirian di rumah"
"hah! pulang kampung? em, jangan pulang deh kak entar aku sendirian dong" yuli bersedih.
"ya terus mau gimana, aku kan enggak bisa jalan. ngapain juga disini" keluh vani.
"hem, ya nemenin aku lah" yuli penuh harap.
"emang kamu mau libur kerja buat nemenin aku setiap hari?" tanya vani yang dia sendiri sudah tau jawabannya.
"ya enggak lah, kalo aku libur sama aja dong artinya aku minta di pecat dari tempat kerja"
"hehe. ya udah kalo gitu kamu disini aja sendiri aku mau pulang" vani memberi keputusan .
"hem, ya udah deh tapi aku kesepian dong" yuli masih dengan raut wajah sedihnya.
"iya cuma beberapa bulan aja kok sampe aku sembuh"
"lagian kenapa harus pulang kampung sih kak, kamu disini aja ya. aku bisa kok jagain kamu setiap malam. tinggal di kasih makan doang kan. hehe" yuli nyengir sambil bercanda.
"ck! enggak lucu tau" vani memalingkan wajahnya.
"aku kesepian tau" yuli masih mengeluhkan kesahnya.
"emangnya kenapa sih yul, kamu juga dulu pernah tinggal sendirian sebelum ada aku kan"
"ya bedalah"
"dimana bedanya?" tanya vani.
"ya itu kan dulu sebelum ada kamu, sekarang aku hampa tanpa kamu" hehe yuli menggoda kakaknya.
"ck! ada ada aja deh kamu" vani menggeleng.
dika yang mendengarnya pun merasa apa yang baru saja yuli ucapkan itu benar adanya karena dirinya juga akan merasakan hal yang sama seperti itu yaitu ia akan merasa hampa tanpa kehadiran vani di kantor mulai sekarang membuatnya tersenyum miris.
melihat yuli sedih bila harus berpisah dengan kakaknya tiba tiba saja ide gila muncul didalam pikiran dika. ia memberi saran agar mereka bisa tetap tinggal bersama di kota.
"hem, gimana kalo kalian pindah ke rumah perusahaan aja sekarang, jadi saya bisa bayar asisten buat jagain kamu disana" dika menatap vani.
"rumah perusahaan?" tanya vani bingung.
"iya rumah dinas dari perusahaan untuk para karyawan" dika tersenyum meyakinkan.
"nah, ide bagus tuh kak. bener yang di bilang sama pak dika" yuli menjadi bersemangat.
"ck! apaan sih yul" vani merasa tak enak.
"ih, kan serius kak"
"em, apa engga ngerepotin pak?" vani sungkan.
"ya enggak dong vani lagian kamu mengalami kecelakaan itu kan karena nolongin saya jadi anggap aja ini cara saya untuk menjaga kamu sampai sembuh nanti. bukannya itu memang udah jadi hak kamu untuk mendapat apresiasi sebagai karyawan yang baik di kantor"
dika mencoba meyakinkan vani agar tidak menolaknya apalagi usulnya itu sangat di terima baik oleh yuli yang mendukungnya.
"tapi pak,,, " vani masih ragu untuk menerimanya.
"kamu tidak usah merasa sungkan kalo kamu nolak justru saya yang akan semakin merasa bersalah karena tidak bisa merawat kamu sampai kamu sembuh" dika memelas.
yuli menatap vani dan dika secara bergantian ia berharap jika vani akan setuju untuk tetap tinggal di kota.
"kamu mau ya,,,"
dika membujuk dengan lembut untuk menyakinkan vani agar tidak menolak permintaannya.
vani kembali berpikir sambil menatap wajah adiknya yang sudah mengangguk anggukan kepala tanda setuju dengan tangan yang juga penuh harap jika dirinya akan menerima tawaran dari bosnya itu agar mereka tidak perlu pulang ke kampung halaman.
__ADS_1
'please' batin yuli berharap.