
Waktu berlalu tidak terasa sudah dua minggu lebih usia bayi tampan yang mungil itu.
hari ini dika akan melangsungkan pernikahannya dengan arin di dalam ruang perawatan vani karena ia tidak ingin meninggalkan anak dan istrinya yang masih berada di rumah sakit itu.
akad nikah hanya di saksikan oleh keluarga wijaya serta hana dan yuli yang juga terpaksa hadir di sana. meskipun dengan berat hati namun mau tidak mau yuli dna hana harus tetap datang untuk menemani kakaknya dan menjaga keponakan mereka yang masih bayi itu.
beberapa anak buah ray juga ikut menjadi saksi serta seorang penghulu yang akan menikahkan mereka sudah hadir di dalam ruangan vani.
dika melihat tatapan yang berbeda dari kedua adik iparnya yang sedang berdiri di dekat box bayi sambil menggendong keponakan mereka itu.
yuli melirik dengan tatapan tajam kearah dika yang hanya tertunduk diam. ia mengerti jika apa yang dilakukannya itu sangat membuat kedua adik iparnya itu kecewa namun dika juga tidak punya pilihan lain.
mereka sudah berkumpul di dalam ruangan vani hendak segera melangsungkan acara ijab kabul dika dengan arin.
saat melihat rangga, ray pun berjalan mendekat kepada bosnya itu untuk membisikkan sesuatu.
"bos, pelaku penculikan vani sudah tertangkap kemarin" bisik ray kepada rangga.
"oh ya, siapa pelakunya?" tanya rangga dengan wajah yang tetap tenang agar tidak ada yang curiga.
"ternyata pelakunya adalah karin dan raka bos" jawab ray dengan masih berbisik.
"apa!!!"
kaget rangga dengan nada suara yang tinggi dan keras membuat semua orang yang berada di sana pun menoleh ke arah mereka berdua termasuk dika yang menatap kedua saudaranya yang aneh itu.
"ya biasa aja dong bos kagetnya, kan semua orang jadi liatin kita" ray masih bersuara pelan di samping rangga.
"sorry sorry gue kelepasan"
"kelepasan lebay nya ya bos?" ray tersenyum geli.
"hem, karin sama siapa tadi lo bilang?" tanya rangga yang tidak mengenal nama raka.
"raka bos, mereka berdua berasal dari gua hantu. eh maksudnya berasal dari masa lalu bos dika sama vani"
"eh buset dari gua hantu lagi. em maksud lo, mantannya vani ya?"
"iya bos, lo ingat kan. calon suami vani yang pernah melakukan pelecehan dulu. nah itu yang namanya raka"
"oh oke kalo gitu, lo jaga baik baik jangan sampe lepas lagi. besok gue sama dika langsung yang bakal datangin mereka dan ngasih pelajaran berharga"
"yah si bos bercanda aja deh. ya enggak bisa besok dong bos" ucapan ray membuat rangga bingung.
"lah emang kenapa?" tanya rangga penasaran.
"iya kan hari ini bos dika nikah, belum juga mereka pergi honeymoon selama tiga bulan kaya pernikahan pertama" jawaban ray yang membuat rangga geram sambil menahan tawanya.
"hhhh, bener juga ya lo ray. ya udah kalo gitu entar gue tanya dika deh kapan dia punya waktu" rangga mencoba tetap tersenyum di hadapan yang lainnya.
"oke bos"
__ADS_1
rangga dan ray menatap dika yang hanya termenung di dekat bankar istrinya. wajah dika terlihat sedih dan bingung sepertinya dika merasa sangat tertekan dengan keputusan ini namun mau tidak mau ia harus tetap bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri.
"oh ya bos, enggak tau kenapa ya filing gue mengatakan kalo masalah yang terjadi di antara bos dika sama arin itu ada hubungannya juga deh sama karin dan raka" ucap ray yang sudah berpikir sejak kemarin.
"iya itu karena otak lo terlalu pintar ray, makanya semua masalah bisa lo hubungkan"
"ya bukan gitu bos. ini kan pendapat gue doang." ujar ray akhirnya diam.
"ya habis pendapat lo aneh sih. apa hubungannya coba" gerutu rangga.
"eh liat deh bos yuli lagi gendong anak kakaknya tuh. udah cocok juga ya dia punya anak hehe" ray melihat kearah yuli dan hana.
"iya mereka kan emang seumuran. lagian kalo emang udah cocok, ya lo lamar deh sana biar kalian juga punya bayi kaya gitu"
"yee, kok jadi gue sih bos" protes ray kesal.
"iya elo lah, kan kalian sama sama jomblo. ya enggak mungkin juga kan gue yang ngelamar dia. entar gue di panggil om lagi sama dia" rangga tesenyum miris.
"ppfftt,,, ya mana mungkin sih dia mau sama om om. em, tapi mungkin juga sih bos kalo om omnya kaya bos ini om tajir yang banyak duit plus ganteng pula jadi enggak bakal ada yang nolak" ray menahan tawanya.
"hem, bener juga ya" rangga berpikir dan tersenyum smirk.
"jangan macam macam deh bos, entar di sunat habis loh sama bu bos. emang mau?" ray memberi peringatan.
"eh, gue masih mau hidup kali" rangga melirik ray kesal.
"hem. tuh tau" ray mengakhiri perdebatan.
setelah semuanya berkumpul dan duduk di posisi masing masing akad pun segera di mulai.
"sudah pak" jawab papa hardi yang diangguki oleh dika juga.
dika dan arin duduk bersebelahan tepat di hadapan pak penghulu dan juga papa hardi. mereka sudah duduk di lantai yang beralaskan sebuah karpet mewah dengan meja kecil di tengahnya.
rangga dan ray pun duduk tepat di samping dan belakang punggung dika untuk menemaninya sama seperti saat dika melakukan ijab kabul pertamanya dulu namun bukannya menyemangati rangga justru terus menggoda adiknya itu hingga dika merasa kesal.
"tenang dika, lo jangan gugup gitu dong. inikan bukan yang pertama kalinya elo ijab kabul dulu udah pernah cuma beda nama cewek doang jadi santai aja" bisik rangga di dekat telinga adiknya membuat dika meliriknya tajam.
melihat tatapan maut dari sang adik rangga pun terdiam sambil menahan tawanya.
"baiklah apa kedua mempelai sudah siap?" tanya pak penghulu yang diangguki cepat oleh arin dengan menjawab siap namun dika hanya diam saja dengan wajah dinginnya.
"baik, pak dika ikuti ucapan saya dan sambung kalimat kabulnya dengan satu nafas ya" ucapan pak penghulu diangguki oleh dika dengan ragu ragu.
"baik pak" jawab dika sambil melirik mamanya seakan hendak meminta pertolongan kepada mamanya agar membatalkan pernikahan itu. namun dika tersadar bahwa mamanya adalah orang pertama yang meminta dirinya untuk menikahi arin.
"saya nikahkan engkau saudara radika wijaya bin rahardian wijaya dengan saudari arindita binti ridwan dengan mas kawin uang tunai sebesar seratus juta rupiah di bayar tunai" pak penghulu melafazkan kan ijab dengan baik namun tidak di sambut dengan cepat oleh dika.
"s-saya,,,,, sa-ya ter-ima..." dika ragu dan gugup sehingga ia tidak bisa menjawab kabul dengan tepat.
rangga yang berada di samping adiknya itu pun semakin meledeknya.
__ADS_1
"ya ampun dika, harusnya kan lo jawab saya terima" bisik rangga kepada adiknya yang sedang gugup itu.
"gue mau jawab saya enggak terima..." bisik dika balik dengan bercanda.
"ppfftt... ga boleh gitu dik" rangga dan ray menahan tawa mereka dengan susah payah karena mendengar balasan bisikan dari dika.
"dulu yang pertama aja lo bisa satu nafas masa sekarang malah gugup sih dika, apa karena calon istri kedua lo ini cantik banget ya?" bisik rangga lanjut kepada adiknya.
"diem lo bang!!" kesal dika lalu melirik dengan malas wajah calon istri keduanya yang berada di samping itu.
"konsentrasi ya pak dika. baiklah kita ulangi ya" pak penghulu dengan sabar dan kembali melafalkan ijabnya seperti yang tadi.
tidak sengaja ranty yang berdiri di samping bankar vani pun melihat tangan adik iparnya mulai bergerak dan membuka mata secara perlahan. sepertinya vani juga ingin menyaksikan pernikahan suaminya itu.
"vani!! kamu udah sadar dek?" tanya ranty mengusap pucuk kepala adik iparnya itu.
"m-mas,,,di-ka...." panggil vani terbata dengan suara lemah.
seperti biasanya ketika vani baru tersadar dari pingsan maka ia akan menyebut nama suaminya itu.
"dika,,, dika!!! vani udah sadar" ranty berteriak memanggil dika dengan suara yang keras agar dika mendengarnya lalu ia memencet tombol untuk segera memanggil dokter.
semua orang yang mendengar suara ranty pun langsung berdiri dari duduknya untuk melihat keadaan vani yang baru sadar dari koma, terutama dika yang langsung berdiri dan berjalan cepat mendekati bankar istrinya.
"sayang, aku disini. alhamdulilah kamu udah sadar" dika mendekat lalu mengecup kening istrinya.
"a-ku ha-us mas. to-long...." ucapan vani terputus saat ia melihat semua orang berkumpul di dalam ruangan itu dengan menggunakan pakaian rapi termasuk arin yang memakai kebaya pengantin.
vani pun beralih menatap suaminya yang juga sedang memakai kemeja dan jas putih senada dengan kebaya pengantin arin.
"kamu haus kan sayang, ini minum dulu ya" dika langsung mengambilkan gelas berisi air putih di atas nakas lalu membantu vani duduk bersandar agar bisa minum.
glek! glek!
setelah minum vani pun kembali berbaring karena masih merasa pusing. tidak lama dokter masuk kedalam ruangan vani hendak memeriksa keadaannya yang baru saja sadar dari koma setelah lebih dari dua minggu terbaring lemah tidak berdaya pasca melahirkan putra pertamanya.
"syukurlah kondisi bu vani sudah stabil sekarang. tolong jangan biarkan dia terlalu banyak bergerak atau berbicara lebih dulu karena kondisinya masih lemah dan syarafnya belum berfungsi dengan baik. ini menjaga agar kondisi pasien tidak kembali drop karena merasa kelelahan atau tertekan" dokter menjelaskan langsung diangguki oleh dika dan yang lainnya juga.
setelah selesai memeriksa keadaan vani dokter pun keluar dari dalam ruangan itu.
suasana dalam ruangan pun menjadi hening karena semua orang terdiam menatap vani yang sedang memperhatikan penampilan rapi mereka serta ada seorang penghulu juga di sana.
"dimana anak ku?" tanya vani menatap dika sambil berusaha untuk duduk bersandar.
melihat vani kesulitan duduk dika pun langsung membantu dengan meletakkan bantal di bagian punggung istrinya itu agar vani merasa nyaman saat bersandar.
vani langsung menarik tangannya yang di pegang oleh dika karena mengira jika suaminya itu benar benar sudah menikah dengan arin.
"ini anak kamu kak, dia udah sehat sekarang" yuli pun menyerahkan bayi mungil itu ke dalam gendongan kakaknya sambil tersenyum.
"makasih ya" vani tersenyum ketika menerima bayinya dari dalam gendongan yuli. ia mengecup seluruh wajah mungil putranya dan memeluk tubuh malaikat kecilnya itu dengan lembut.
__ADS_1
"sayang, maafin mama ya. makasih kamu udah lahir dengan sehat"
dika tersenyum menatap haru pada anak dan istrinya yang merupakan sumber kebahagiaan dirinya itu. meskipun mungkin sebentar lagi kebahagiaan itu akan segera pergi dari dalam hidupnya namun dika tetap sangat bersyukur melihat vani sudah sadar dan kembali sehat.