Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Terciduk


__ADS_3

saat ini dika sedang duduk di sofa ruang tamu rumah kak aida sambil menatap ke arah pintu kamar vani. ia sedang menunggu kekasihnya yang tak kunjung keluar dari dalam kamar itu.


dika hendak memanggil vani karena dirinya akan segera pamit untuk pulang. sebab hari sudah semakin petang dan besok ia harus kembali bekerja di kantor.


"ck! vani dimana sih, kok enggak muncul muncul di permukaan ya"


dika pun beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju pintu kamar vani dan mengetuknya.


tok! tok! tok!


ia mengetuk pintu namun tidak ada jawaban apapun dari dalam membuat dika semakin penasaran sebenarnya sedang apa kekasihnya itu di dalam sana.


apakah vani lupa pada dirinya yang masih berada disana begitu pikirnya.


ceklek!


akhirnya dika pun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu.


"sayang?"


dika membuka pintu lalu memasukkan sebagian kepala untuk melihat ke dalam namun ia tidak melihat vani ada di dalam kamarnya.


'loh kok enggak ada ya?' batin dika bingung.


merasa penasaran dika pun memutuskan masuk untuk melihat isi kamar kekasihnya itu.


terlihat kamar yang dominan dengan warna putih dan pink. baik gorden, sprei dan selimut berwarna pink begitu juga dengan boneka karakter yang berwarna pink.


hanya tembok dan lantai saja yang berwarna putih cream. dika tersenyum memperhatikan semua barang barang bahkan lemari pakaian yang juga berwarna pink itu.


'jadi ini warna kesukaan vani? suka sih boleh tapi masa semua warnanya jadi pink gini sih' batin dika bergidik menatapnya.


tiba tiba vani pun masuk dan kaget melihat dika yang sedang berada di dalam kamarnya.


"mas dika, kamu ngapain?"


"sayang aku pamit pulang ya, soalnya besok ada meeting penting jadi aku harus disana"


dika merengkuh kedua sisi pinggang ramping vani agar mendekat kepadanya.


"iya, ya udah kamu hati hati ya mas di jalan"


vani melangkah dan mengambil jaket di sofa lalu memakaikannya pada kekasihnya itu.


"nah sekarang udah ganteng pacar aku"


vani meletakkan kedua tangannya di bahu dika sambil mengelus lembut jaket yang sudah ia pakaikan itu di bagian dada sang kekasih.


"emang udah ganteng dari lahir sayang" dika mencubit gemas pipi vani.


"hem, iya deh"


vani hendak melepaskan tangan dari bahunya namun dika menahan dan memeluknya dengan erat semakin mendekat kepadanya.


"cium dulu dong"


dika menyatukan kening mereka.


vani tersenyum malu menundukkan wajahnya.


dengan lembut dika menegakkan pandangan vani lalu mengecup bibir manis sang kekasih.


cup!


keduanya kembali larut dalam ciuman yang mengasikkan itu sehingga tidak menyadari jika pintu kamarnya masih terbuka.


melihat pintu kamar adiknya terbuka kak aida melangkah masuk hendak menutup pintu itu namun ia terkejut dan membelalakkan mata saat melihat pemandangan di hadapannya.


"ehem..."


aida berdehem keras sambil menatap tajam kearah adiknya yang sedang bermesraan di dalam kamar bersama dengan kekasih yang belum halal baginya itu.


dika dan vani terkejut, sontak mereka saling menjauh dengan gugup karena kepergok oleh kakaknya sedang bermesraan di dalam kamar.


"ehh, kakak"


vani menunduk takut tak berani menatap wajah kakaknya.


sedangkan dika tersenyum canggung sambil mengusap tengkuknya dengan gugup melihat wajah calon kakak iparnya yang menatap tajam kepada mereka secara bergantian.


"kamu ngapain disini?"


kak aida menatap dika dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya.


"em, tadi dia enggak sengaja masuk kesini buat nyariin aku kak karena mau pamit pulang"


vani langsung menimpali untuk menjawab pertanyaan dari kakaknya.


"oh mau pamit pulang, ya udah jangan lama lama ya"


"iya kak" dika dan vani mengangguk bersamaan


kak aida langsung berbalik badan keluar dari dalam kamar.


"kamu sih..." vani kesal menarik tangan dika.


"iya maaf sayang, kalo gitu aku pamit ya. lusa aku jemput oke" dika mengusap rambut vani lalu mengelus pipinya.


vani hanya terdiam menatap dika, sebenarnya ia masih belum ingin kembali secepat itu.

__ADS_1


"kenapa, kok kamu diam aja sih sayang. kamu mau pulang kan lusa?" dika menatap vani yang hanya diam.


"aku....."


"em" akhirnya vani mengangguk pelan.


dika tersenyum karena vani tidak menolak keinginannya.


"ya udah yuk"


dika menggenggam tangan vani sambil berjalan keluar dari dalam kamar.


sesampainya di teras dika pun berpamitan kepada semua keluarga yang berada disana.


"saya pamit ya kak"


awalnya dika sedikit ragu karena tadi kak aida terlihat sangat marah namun sekarang calon kakak iparnya itu sudah kembali melunak.


"iya hati hati ya dika"


kak aida tersenyum menatapnya saat dika berpamitan.


"iya kak"


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam"


dika merasa sangat lega karena ternyata kak aida tidak marah lagi kepadanya.


setelah berpamitan dika pun masuk ke dalam mobil, tak lupa ia kembali tersenyum menatap vani sebelum benar benar menutup kaca mobilnya itu.


vani yang di tatap oleh dika hanya tersenyum tipis membalasnya.


melihat interaksi keduanya yuli pun mendekati vani lalu merangkul pundak kakaknya berniat untuk menggoda.


"sedih banget sih mukanya, kaya istri yang mau di tinggal suami merantau lama" bisik yuli terkikik geli.


"iishh, apaan sih yul " vani mencubit pelan pinggang adiknya itu.


"aww, sakit tau" yuli merintih.


tin! tin! bunyi klakson tanda mobil dika akan benar benar melaju.


"hati hati ya bang" teriak yuli sekali lagi.


akhirnya mobil dika melaju kembali pulang ke kota, hari pun sudah gelap saat dika sampai di rumahnya.


sesampainya di rumah, dika langsung berjalan menuju kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi hendak membersihkan diri.


setelah selesai mandi, dika duduk di tepi ranjang lalu menyambar ponselnya yang terletak di atas nakas kemudian langsung berbaring.


ia membuka ponsel hendak menelpon vani untuk memberi kabar bahwa dirinya sudah sampai di rumah dengan selamat.


Dika : halo sayang.


Vani: ya mas.


Dika: aku udah sampe di rumah nih sayang.


vani: oh syukur deh kalo udah sampe.


Dika: kamu dimana sih kok kayanya rame banget disana?


Vani: aku lagi di luar nih bareng yuli. udah dulu ya mas, kamu telponnya nanti aja mau tidur.


Dika: kamu ngapain keluar malam malam gini sayang?


Vani: biasalah mas nemenin yuli gatau nih mau beli sesuatu katanya.


Dika : oh ya udah deh kamu hati hati ya sayang.


Vani: iya sayang bye!!


tut!! tut!! tut!!


vani langsung mematikan telponnya sepihak sebelum dika mengucapkan kata i love you kepadanya.


"hem, sama aja kaya bang rangga suka banget matiin telpon sepihak. untung aja sayang" gerutu dika sambil meletakkan ponselnya kembali di atas nakas.


drt! drt!


tak lama ponsel dika berdering membuatnya harus kembali menatap ponsel itu.


"siapa sih yang nelpon malam malam gini. nomor enggak di kenal lagi"


dika pun menjawab telponnya karena takut bila ada sesuatu yang penting.


Dika: halo....?


Karin: halo sayang.


Dika: karin?


Karin: iya ini aku sayang.


Dika: kamu ngapain nelpon aku.


Karin: ih, kamu kok gitu sih. emangnya enggak boleh ya kalau aku telpon pacar sendiri.

__ADS_1


Dika: hem, ada apa?


Karin: sayang, kamu bisa anterin aku ke dokter enggak. aku lagi sakit nih sayang.


Dika: emangnya kamu sakit apa?


Karin: aku sakit perut sayang.


Dika: em, maaf ya karin aku enggak bisa. aku juga masih capek nih mau istirahat, soalnya aku baru aja sampe di rumah.


Karin: kamu tega banget sih sayang, perut aku sakit banget nih enggak tau kenapa. aku susah buat jalan, kamu kan tau aku enggak punya keluarga disini.


Dika: iya iya, aku kesana sekarang.


Karin: makasih sayang.


tut! dika mematikan telponnya.


"ck! karin kenapa lagi sih"


dika memakai jaket lalu mengambil kunci mobil di dalam laci. ia bergegas keluar dari rumah dan kembali melajukan mobilnya menuju apartemen karin.


sesampainya di depan pintu apartemen karin dika pun langsung menekan tombol password untuk membukanya.


tentu dika mengetahui password apartemen karin karena dirinya lah yang membelikan unit apartemen itu untuk karin.


tanpa ragu dika berjalan masuk dan mencari keberadaan karin di dalam kamarnya.


setelah masuk ke dalam kamar, dika melihat karin yang sedang terbaring lemah diatas ranjang dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya membuat pria berhati lembut itu merasa iba.


"karin?" perlahan dika mendekat dan duduk di tepi ranjang.


"sayang" karin pun menatap dika dengan mata yang sendu.


"kamu kenapa? hem,,,,"


tanya dika sambil mengusap lembut rambut karin dan menatap wajahnya yang pucat.


"aku sakit" ujar karin lemah.


"kamu sakit apa? kok bisa sampe kaya gini?"


"aku enggak tau sayang. kayanya lambung aku kambuh lagi deh" hiks! karin menangis.


"ayo aku antar kamu ke dokter ya"


dika menghapus air mata karin dengan lembut.


"tapi aku enggak sanggup buat jalan"


"ya udah, aku gendong kamu aja ya"


"em" karin mengangguk.


dika pun langsung menggendong tubuh karin hendak membawanya ke rumah sakit.


"makasih ya sayang"


karin memeluk dika yang sedang menggendongnya itu.


sesampainya di rumah sakit, dika langsung meminta dokter untuk memeriksa keadaan gadis itu. ia menunggu dokter hingga selesai memeriksa keadaan karin.


tak lama kemudian dokter keluar dari dalam ruangan dan mengatakan kepada dika bahwa asam lambung karin sedang kambuh dan ia harus di rawat inap sampai besok.


dika pun bergegas masuk ke dalam ruangan karin setelah dokter mengizinkannya.


"sayang, kamu masih disini?"


karin mengira jika dika sudah pergi meninggalkannya.


"iya, aku khawatir sama kamu"


dika duduk di kursi yang berada di samping bankar karin.


"makasih ya, kamu udah nemenin aku ke dokter" karin menggenggam tangan dika.


"kenapa asam lambung kamu bisa kambuh, kamu pasti enggak makan dengan teratur ya?"


"aku baik baik aja kok, mungkin ini karena aku terlalu mikirin kamu yang mau batalin rencana pernikahan kita sampe aku enggak bisa mikirin diriku sendiri" karin menunduk sedih.


"udahlah karin kamu jangan mikirin tentang itu dulu ya. sekarang kamu fokus sama kesehatan kamu aja. aku enggak mau kamu sampe sakit karena hal itu"


"gimana aku enggak mikirin hal itu sayang. pernikahan kita adalah impian aku buat jadi istri kamu tapi kamu malah mau batalin semuanya" hiks!


karin kembali menangis namun dika hanya diam saja menatapnya.


"udahlah karin, mungkin kita emang enggak berjodoh"


"kenapa dika? aku mohon kamu jangan batalin pernikahan kita ya sayang. aku bakal lakuin apapun demi hubungan kita sayang" karin memegang erat tangan dika.


"iya aku tahu kamu udah ngelakuin semuanya jadi sekarang, udah cukup kamu ngelakuin itu"


"sayang aku kaya gini juga karena mikirin hubungan kita"


"hem" dika memalingkan wajahnya.


"sayang, kamu percayakan sama aku"


"iya aku percaya"

__ADS_1


"hiks! hiks! hiks! tangis karin pilu.


sangat sulit bagi dika untuk kembali percaya pada karin setelah ia merasakan kekecewaan yang mendalam.


__ADS_2